
"Silahkan tuan", ucap Rea sembari membukakan pintu mobil setiba nya mereka kembali ke rumah.
Dengan tatapan heran, Rea terus mengamati tuan Danu yang begitu nampak berbeda setelah kepulangan mereka dari rumah Bos besar.
Dengan senandung kecil dan senyum merekah di setiap langkah nya, tuan Danu berjalan memasuki rumah tanpa memperhatikan hal lain di sekitar nya.
Rencana hari ini telah gagal, tapi dia begitu nampak senang seakan baru saja ketiban bulan, apa otak nya sudah sakit?, batin Rea tanpa bertanya langsung apa yang sebenar nya telah terjadi kepada tuan Danu.
Tiba tiba tanpa sengaja, Rea menemukan sebuah foto seorang gadis yang baru saja terjatuh dari saku jas milik tuan Danu.
"Tu- ", ucap Rea kembali ia urungkan saat rasa penasaran nya muncul sesaat setelah melihat sosok gadis di foto itu.
Seketika mata Rea langsung membulat sempurna saat mengamati foto itu.
Ingatan nya di saat pernikahan Bos besar dan Fatimah pun kembali muncul.
Hari di mana dia tak sengaja melihat cadar Fatimah terbuka dan menampakkan wajah cantik milik Fatimah.
"Sekarang aku tahu kenapa dia begitu senang hari ini," ucap Rea tersenyum dengan licik nya sembari terus menatap foto Fatimah yang tengah tersenyum begitu cantik nya tanpa tertutup sebuah cadar seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Kembalikan!," seru tuan Danu langsung merampas foto itu dari tangan Rea, hingga membuat Rea begitu terkejut saat itu.
"Ma- maaf tuan," ucap Rea masih terus mengalah di depan tuan Danu.
"Untung suasana hati ku sedang baik hari ini," ucap tuan Danu kembali bergegas masuk ke dalam rumah nya.
Sekarang aku tahu kelemahan mu, tunggu pembalasan dari ku!, batin Rea sembari berjalan menuju kamar nya.
...***...
"Kau tak apa?," tanya dokter Malik masih mencoba menenangkan Fatimah yang masih nampak begitu syok saat itu.
"Tenanglah Fatimah, kau aman sekarang. Yang ayah heran, kenapa kalian bisa berurusan dengan nya?," seru dokter Malik membuat Mira langsung gugup seketika.
Pasal nya, dokter Malik begitu mengenal siapa sosok tuan Danu selama ini.
"Dia hanya rekan bisnis lama kak Ummar dokter," sahut Mira mencoba mencari alasan yang tepat.
Sedangkan Fatimah hanya terdiam membisu di tempat nya.
__ADS_1
Ia begitu berat untuk mengatakan hal bohong kepada orang tua nya sendiri.
"Itu tak penting lagi ayah. Yang terpenting sekarang, tolong jangan ceritakan hal ini pada bunda, berjanjilah ayah," ucap Fatimah dengan nada memohon.
"Tenanglah nak, ayah juga tak akan menyampaikan hal apapun yang bisa membebani pikiran bunda mu, kasihan dia," ucap dokter Malik membuat Fatimah begitu bersyukur karna sang bunda telah mendapatkan pengganti ayah Burhan yang begitu baik seperti dokter Malik.
"Sekarang coba jelaskan, kenapa kau bisa sampai kesini?," tanya Aqly masih bersikap tak sopan pada ayah sambung nya itu.
"Jika kau tak bisa sopan, sebaik nya jangan bertanya dik," keluh Fatimah membuat Aqly mendengus pelan.
"Terserah lah," seru Aqly memilih pergi begitu saja kembali ke kamar nya yang damai tanpa orang orang munafik seperti sang kakak, kurang lebih itulah yang ada di otak Aqly saat itu.
"Biarkan saja adik mu itu, ayah kesini cuma ingin memulai terapi suami mu," ucap dokter Malik begitu membuat Bos besar bahagia saat mendengar nya.
Setidak nya ada setitik harapan ia akan bisa kembali pulih.
Walaupun mungkin ia tidak bisa kembali normal seperti dahulu lagi.
Setidak nya aku harus bisa sembuh untuk sekedar tak lagi menyusahkan Fatimah dan yang lain nya. Sudah cukup mereka menderita karna aku, batin Bos besar memiliki tekad begitu besar untuk sembuh.
__ADS_1