
"Aku tunggu di sini, kau masuklah," acuh Aqly setelah menurunkan Bos besar dari dalam mobil.
"Apa kau yakin?, apa yang harus ku katakan jika kakek menanyakan tentang mu?," tanya Fatimah mencoba membujuk sang adik untuk bertemu dengan kakek Bram.
"Sudahlah kak!, biarkan aku tidur dengan tenang sebentar saja, simpan ceramah mu itu untuk besok," keluh Aqly sembari kembali masuk ke dalam mobil nya begitu saja.
Kau akan merasa kesepian saat semua nya telah pergi Aqly, batin Fatimah sembari mendorong kursi roda Bos besar hingga tepat berhenti di depan pintu rumah sang kakek.
Sejenak, Fatimah terdiam dengan tangan yang masih ragu untuk menekan bel di hadapan nya.
Sudah cukup lama ia meninggalkan rumah itu.
Kakek pasti khawatir dengan kepergian ku yang tanpa pamit waktu itu, dia pasti juga akan marah jika mengetahui alasan di balik kepergian ku. Aku harus pastikan entah kakek ataupun bunda dan juga ayah tidak mengetahui bahwa Aqly lah penyebab aku pergi, batin Fatimah sembari menghela nafas panjang.
Perlahan ia mulai menekan bel rumah itu.
Ada perasaan bahagia di dalam hati nya karna akhir nya ia bisa kembali lagi ke rumah sang kakek.
Tak berselang lama, pintu itu mulai terbuka dan seketika membuyarkan lamunan Fatimah.
Dalam beberapa saat, mereka saling berhadapan.
__ADS_1
Dengan segera, sebuah pelukan erat nan lembut langsung merangkul tubuh Fatimah saat itu juga.
Sebuah tangisan mulai terdengar di antara kedua nya.
Membuat Bos besar pun tak kuasa menahan air mata nya saat itu juga.
Satu hal yang tak bisa dia elak kan adalah, bahwa kepedihan Fatimah saat ini adalah akibat dari perbuatan nya juga.
Jika aku tidak menghasut Aqly untuk membawa mu kehadapan ku, pasti kau tak akan pernah berpisah dengan keluarga mu Fatimah, batin Bos besar dengan penuh rasa penyesalan di setiap saat nya.
"Kau kembali nak," ucap kakek Bram tak kuasa menahan rasa syukur nya karna telah melihat sang cucu kembali setelah sekian lama.
"Iya kek, aku pulang," ucap Fatimah dengan tersedu sedu.
"Kemana pun aku selama ini itu tak penting lagi kek, yang terpenting aku telah kembali sekarang, kakek senang bukan?," ucap Fatimah sembari menyeka air mata nya.
"Kau tidak tahu betapa senang nya kakek hari ini, melihat mu kembali seakan membuat semangat hidup kakek kembali lagi," seru kakek Bram sembari mengusap lembut jilbab Fatimah.
Membuat Fatimah hanya bisa menatap nya tanpa berkata apapun lagi.
Aku bukanlah cucu kakek yang sebenar nya selayak nya Aqly, darah ku bukan lah berasal dari darah nya, tapi kasih sayang kakek pada ku begitu membuat ku benar benar bersyukur telah mengenal nya, batin Fatimah sembari mensyukuri salah satu kemurahan dari Allah untuk nya di dunia ini.
__ADS_1
Setelah puas menatap sang cucu tercinta.
Perlahan perhatian kakek Bram mulai tertuju pada seorang lelaki yang tak lain ialah Bos besar yang masih begitu tampak menyedihkan di atas kursi roda nya.
Namun tatapan nya saat itu seakan sang kakek bukan tuk pertama kali nya melihat sosok dari Bos besar.
Ia terus menatap nya dengan tajam sembari mengelilingi nya beberapa kali.
"Kakek, aku bisa jelaskan. Aku akan ceritakan siapa dia kepada kakek setelah ini," ucap Fatimah namun tak membuat kakek Bram berhenti memandang ke arah Bos besar.
"Kau memang harus jelaskan kepada kakek, kenapa dia bisa datang dengan mu Fatimah," sahut sang kakek membuat hati Fatimah sedikit khawatir tanpa alasan yang pasti.
"Dia mas Ummar, dan dia adalah..," ucap Fatimah segera di sela oleh kakek Bram saat itu.
"Ummar?, kau yakin itu nama nya?," seru sang kakek membuat Bos besar serta Fatimah di buat tercengang saat mendengar nya.
"A- apa maksud kakek?," tanya Fatimah begitu penasaran akan arti dari ucapan sang kakek saat itu.
"Dengar anak muda. Aku mengenal mu, aku mengenal mu lebih dari orang lain," seru kakek Bram sembari menatap tajam ke arah Bos besar, membuat Fatimah langsung membisu seketika.
Ti- tidak mungkin kakek tahu tentang Bos besar, batin Fatimah mencoba menepis tebakan nya sendiri.
__ADS_1
Sementara Bos besar terus mencoba mencerna apa yang ingin di sampaikan sang kakek pada mereka berdua sembari mencoba mengingat dengan keras siapa sebenar nya lelaki yang kini tengah berada di hadapan nya kini.
Namun begitu keras nya dia mencoba, Bos besar tetap tak bisa mengingat sosok kakek Bram sedikitpun juga.