
“KAISAR?” Sang kaisar terjatuh dan bertempu dengan lututnya. Raut wajahnya benar-benar tidak mencerminkan seorang pemimpin. Kenapa dia tiba-tiba kena mental begini!?
‘UKGH.’ Liu tak menyangka akting orang hebat sampai begini.
Kaisar melepas makhkota emas kebesarannya dan juga pakaian emasnya. Dia kini berpenampilan biasa saja tanpa ada kemewahan sedikitpun.
‘APA SAATNYA MANDI?’ Liu jadi ingat insiden Ibu Sheaper.
Apa-apaan dengan kaisar yang melucuti pakaiannya begini? Padahal tidak ada yang menyuruh lho.
“Ini semua salahku.” Kaisar tertunduk, sementara nada suaranya memang terdengar beda. Tak ada suara kuat yang biasa berasal dari seorang pemimpin. Hanya tipikal suara penyesalan orang pada umumnya.
Liu terdiam, memang sudah sepatutnya kaisar menyadari kesalahannya.
Jadi unek-unek dan komplainnya tidak sia-sia huh? Liu tak perlu mengulangnya lagi dari awal.
“Aku sudah menelantarkanmu.”
“Be- tunggu apa?” Liu terdiam, kenapa skenario ‘saling mengenal’ masih berlangsung?
“Aku tidak pantas jadi orang tuamu.” Kaisar bersujud dengan nada sedih, ia terisak dan menumpahkan emosinya.
“Yang Mulia Kaisar. Kita baru pertama kali bertemu….” Liu panik, ia berusaha membangunkan orang hebat yang mukanya sampai tertempel ke tanah itu.
“Huah! OUHU!” Kaisar terisak, tak bisa dipungkiri tangisannya bukanlah air mata buaya. Entah kenapa Liu bisa merasakan emosi yang dalam dari sang kaisar ini.
Mungkinkah ada yang mirip namanya dan wajah sepertinya? Mengingat dia memakai kata ‘nak’ tadi.’
Salah paham dengan orang biasa sudah biasa, tapi salah paham dengan orang hebat? Liu tak berencana ikut skenario begini.
“Sa… lah…ku….” Kaisar memegang kaki Liu dan menciuminya.
Apa ini akibat beban yang selama ini ia tanggung menjadi penguasa dataran Cina? Bahkan sampai salah orang begini.
[Kaisar tidak salah orang Tuan]
‘.. Begitu ya.. TUNGGU APA?’
[Orang yang dimaksudkannya itu Tuan]
‘….’ Liu terdiam. Lagi-lagi ini terlihat seperti panel komik dimana protagonis dikelilingi latar hitam, tak percaya apa yang didengarnya.
‘Kamu jangan bercanda sistem….’ Liu terdiam, ia tahu sistemnya jarang bercanda, namun tidak menutup kemungkinan dia sedang bercanda sekarang ini.
[Tidak Tuan, sistem tidak mendeteksi kesalahpahaman dan kebohongan. Tuan bisa memastikannya lebih lanjut] Sistem memberi kebebasan apakah tuannya mau percaya atau tidak.
Setelah tenang Liu akhirnya meminta Kaisar bangkit lagi dan mulai menatapnya dengan seksama. “Apa yang anda maksud Kaisar?” Liu berusha seformal mungkin, maklum, ia belum terbiasa bicara dengan orang hebat.
“Aku meninggalkanmu di hutan belasan tahun lalu…. Karena keegoisanku sendiri.” Mata merah dan raut penyelasan terlihat jelas dari wajahnya. Dan sejujurnya Liu tak merasakan ada sandiwara apapun di sini.
__ADS_1
Apa yang dikatakn sistem benar?
Tapi bagaimana mungkin?
“Saya tahu ini tidak sopan, tapi saya anak seorang pendekar.” Liu mengatakan apa yang ia tahu.
Kaisar terdiam. “Aku mempersembahkanmu pada Dewa Kematian dengan imbalan menjadi penguasa Cina.”
“….” Entah kenapa Liu makin merasa apa yang dikatakan kaisar adalah kenyataan.
‘Mempersembahkan?’ Liu merenung.
“Itulah sebabnya ada tanda tengkorak di tubuhmu. Tanda kutukan Lugu, kutukan langit.” Kaisar tertunduk seolah tak punya kekuatan untuk menatap pemuda ini lagi.
‘Mempersembahkan… dewa kematian… kutukan tengkorak….?’ Liu makin merenung. Di tahap ini ia sudah merenung brutal.
Kenapa ia bisa seyakin ini? Padahal ia benar-benar dirawat Kakek An selama ini.
Dan Kakek An pun tak pernah mengatakan apapun.
Jadi kenapa ia harus percaya? Liu terdiam. Ini bisa saja kebetulan yang terjadi. Ini tidak masuk akal.
Memang benar Kakek An tidak jujur soal tanda tengkorak ini, dan soal cerita dewa-dewi adalah benar adanya, setidaknya di dunianya.
Yah ia hidup berkat pertolongan dewi juga sih.
[Orang lain pun sama ada kalanya tidak ingat masa kecil Tuan] Sistem mengingatkan.
Sistem benar, kebanyakan orang tidak ingat sebagian besar masa kecilnya, meski mungkin ada yang ingat sih.
Tapi Liu masuk ke dalam golongan yang tidak ingat jelas masa kecilnya.
Yang ia tahu ia hidup bersama Kakek An dengan damai dengan mimpi jadi pendekar terkuat dan semuanya berubah ketika takdir menjemputnya namun ia diberikann kesempatan kedua dan mengejar mimpi dan melakukan apa yang harus dilkaukan.
Cukup banyak yang terjadi dalam hidupnya, huh?
Liu tak menyangka ia akhirnya sampai di tahap bertemu orang terhebat yang malah menceritakan hal tidak masuk akal begini.
“Mungkin Yang Mulia salah orang.” Liu menegaskan lagi. Meski ia tidak ingat masa kecilnya, namun tidak berarti ia bisa langsung percaya dengan cerita sang kaisar ini.
“Tidak ada yang punya tanda itu, kecuali putraku….” Kaisar tertunduk lemah, nada penyesalan masih saja ada pada dirinya.
‘EH?’
‘EMANGNYA CUMAN AKU YANG PUNYA TANDA BEGINI SISTEM?’
[Benar Tuan]
‘WADUH!’ Liu baru tahu fakta yang begini!
__ADS_1
APA MUNGKIN BENAR KAISAR PUNYA KEMAMPUAN MELIHAT IDENTITAS RAHASIA ORANG LAIN?
[Sepertinya Tuan terlalu curiga] Sistem tidak setuju.
Tidak mungkin orang asing seperti kaisar bisa tahu sampai detil kecil begini. Bahkan sesuai sama kenyataan sistem!
Yah selama ini Liu tak menganggap tanda ini spesial. Toh mungkin orang lain juga punya.
TERNYATA HANYA DIRINYA SENDIRI.
[Yah, orang lain tidak mau terkena kutukan tingkat langit yang berasal dari dewa Tuan] Entah kenapa sistem terdengar santai dan agak menyebalkan.
“Kenapa Yang Mulia bisa tahu??? Apa buktinya!?” Liu hampir percaya. Tapi butuh lebih dari sekedar perkataan!
Kaisar menunjukkan lengan kanannya, dan seketika itu juga terlihatlah tanda tengkorak yang mengerikan, mirip dan bahkan sama sepertinya!
‘KENAPA? KENAPA KAISAR PUNYA TANDA YANG SAMA?’
[Dia menunjukkan buktinya Tuan] Sistem membuat semuanya jelas.
“Tanda tengkorak ini yang menjadi tanda perjanjianku dengan dewa kematian.”
Kemudian kaisar menjelaskan bahwa tanda miliknya itu spontan muncul ketika berada di dekat putranya sendiri.
Liu terdiam. Ia sama sekali tidak melihat foreshadowing atau petunjuk apapun ketika kecil.
Apa ini bukti kuat yang ia minta?
[Menganalisis… mendeteksi tanda kutukan tingkat langit]
“Itu berarti Kaisar juga?” Liu terdiam.
“Tidak nak, ini hanyalah tanda saja. Kamu yang benar-benar terkena kutungan itu.”
Dan benar, Liu sendiri tidak merasakan kekuatan apapun dari tanda yang tiba-tiba muncul itu.
Jadi semua yang dikatakannya benar?
“Akulah yang mengambil hidupmu sejak awal nak….” Kaisar tidak tahan dengan perasaannya. Air matanya mengucur deras. Tidak ada sikap kuat dan gagah, yang ada hanyalah kesedihan yang mendalam saja.
Setelah pembicaraan yang panjang, Liu tak bisa menahan peasaannya juga.
‘Aku dipersembahkan….’ Dan semua itu demi kejayaan ayahnya sendiri?
‘Kenapa Kakek An tidak pernah membahasnya?’ Liu terdiam. Mendengar kenyataan tiba-tiba ini membuatnya pusing.
“Kenapa… kenapa ayah setega itu?” Untuk pertama kalinya Liu membuka hatinya. Mau terus tidak percaya juga tidak ada gunanya. Sudah cukup bukti dan cerita yang didengarnya.
Ini adalah kenyataan….
__ADS_1