
Liu terdiam, tak menyangka yang datang adalah tetua sekte pendekar api.
“BR.” Entah kenapa jadi dingin. Liu memengangi tubuhnya, sementara setiap hembusan nafasnya membuat uap putih.
“NONA YING!?” Ada apakah dengan putri pendekar es!?
“Bukan aku.” Ying menatap serius, Liu langsung percaya.
‘Terus siapa dong?’ Mana mungkin hawa sedingin ini muncul tiba-tiba.
“Nona Ying.” Tak ada angin tak ada hujan terdengar suara pria dingin.
Terdengar familiar sampai-sampai Liu langsung tahu siapa dibalik suara yang keren ini….
“TUAN ICE?”
Seketika itu juga pemuda tampan muncul disertai dengan udara dingin yang membuat siapapun ingin segera masuk rumah dan tidur memeluk bantal guling.
SOALNYA DINGINNYA BUKAN MAIN SIH!
“Kak.” Ying terdiam melihat saudaranya yang menatapnya serius.
“Darimana saja kamu dik? Kami mengkhawatirkanmu.” Ice terlihat kecewa. Sorot matanya menandakan ia sudah berupaya mencarinya kemana-mana.
“Aku sudah besar.” Ying tak terpengaruh tatapan saudaranya. Sebuah sikap bodo amat level tinggi.
“….” Liu terdiam. Jadi kedua pendekar ini dicari sama sektenya masing-masing? Yah bukan hal mengejutkan juga mengingat mereka pendekar kuat yang sangat penting.
Ying dan saudaranya menghabiskan waktu, begitupula Shuwan dengan tetua-nya.
Liu tersenyum melihat ini. Yah tidak ada yang bisa menggantikan kehangatan keluarga.
Entah kenapa ia bisa merasakan Kakek An berada di dekatnya.
Perasaannya sendiri kah? Liu tak keberatan. Ingin rasanya menceritakan semua yang telah dilaluinya padanya.
“Aku disini.” Entah kenapa terdengar suara pria tua lain. Yang pasti bukan tetua sekte api. Toh Liu lagi memerhatikannya kok.
Suara selembut air mengalir, sehalus belaian udara lembut. Berpadu jadi harmoni indah ditelinganya.
Bukannya berlebihan, tapi Liu sangat suka suara orang tuanya.
“Aku disini Liu.” Suara itu terdengar lagi.
Liu mengorek kupingnya barangkali salah dengar. Apa halusinasi tingkat tingginya kambuh, jadinya berkhayal mendengar suara Kakek An?
“AKU DISINI BODOH!”
BUAHJ!
“ADUH!” Ada yang benar-benar memukulnya! Bukan halusinasi!
“AH!” Yin terdiam melihat seorang pria tua dengan tongkat. Matanya terbuka lebar tak percaya.
“Hm, sedang ada reuni keluarga kah?”
__ADS_1
Liu perlahan berbalik melihat sosok dibalik suara yang begitu menenangkan. Tidak ada yang bisa menyamainya....
“Sepertinya aku datang di saat yang tepat.” Sosok pria tua itu tersenyum. Liu masih terdiam, ia terpaku di tempatnya berdiri. Tak menyangka dengan apa yang dilihatnya.
“BEGITUKAH SIKAPMU SETELAH LAMA BERPISAH HAH!?” Pria tua itu mengacak-ngacak rambut Liu.
“....” Dari tingkah lakunya dan suaranya... tidak mungkin salah....
“Ka... kek An?”
“Akhirnya kita bertemu lagi nak.” Kakek An tersenyum kecil, jelas penampilannya agak berbeda dari yang terakhir kali ia lihat.
Keriput wajah terlihat jelas dan rambutnya putih, tetap terlihat bersih seperti biasanya.
“KAU MASIH BELUM PERCAYA!? JANGAN LIHAT WAJAHKU, YA PASTI SUDAH TUA.” Kakek An sepertinya punya masalah temperamen di masa tuanya.
Liu menggosok matanya yang berair, ia tak percaya bisa bertemu lagi dengan satu-satunya keluarga yang ia punya.
Tapi bagaimana mungkin? Apa yang sebenarnya terjadi?
Pluk.
Liu tak bisa mengendalikan tubuhnya, langsung mendekap pria tua itu. Sebuah perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
An, pendekar tingkat langit memeluk balik pemuda itu. Ia bisa merasakan kekuatan hebat yang terpancar dari anaknya.
“KAKEEEKKK! HUAAAAAHHH!”
“Aku di sini nak.”
Sebuah sikap tak laki pun tak terbendung. Liu tak peduli, ia hanya ingin meluapkan perasaannya saja.
Pada akhirnya An membiarkan anaknya meluapkan perasaannya sepenuhnya. Ia juga menikmati momen ini.
Akhirnya mereka berdua tenang.
“Kakek An?” Yin bingung. Bukannya mau mengganggu momen haru, tapi ia heran dengan nama itu.
“Eh? Ada apa Yin-jie?” Apa dia juga mau kenalan sama keluarganya juga? Ia tak keberatan sih.
“Bukannya Guru Un ya?” Yin memicingkan matanya, ia yakin tidak salah.
“GURU UN?” SIAPA ITU?
“Wahaha! Takdir mempertemukan kita lagi Yin!”
KAKEK KENAL!?" Liu kaget, makin banyak pertanyaan dibenaknya!
“Karena beliaulah aku ingin jadi tabib hebat Liu-ke,” jelas Yin.
“A- apa?” Liu belum paham kalau dijelasin sesingkat itu.
“Yah singkatnya dia adalah muridku. Dan Yin, dia adalah anakku.” Sungguhlah penjelasan yang singkat, padat dan jelas.
"APA!?"
__ADS_1
"LI-LIU-KE!?"
Liu dan Yin bertatapan satu sama lain, tidak menyangka ada fakta mengejutkan seperti ini!
‘YIN-JIE MURID KAKEK AN!?’
‘Gu- guru Un, kakeknya Liu-ke?’
“Ahaha, tak usah kaget begitu.”
“HA!?” Liu dan Yin mendekat, secara tidak langsung meminta penjelasan.
Kakek An menarik nafas dalam,ini bagian penting, ia berusaha menjelaskan dengan segenap kemampuannya.
"Sebelumnya maaf Yin, namaku An, bukan Un. Aku sengaja menyamarkan namaku agar bisa berbaur dengan yang lain.”
“....” Yin terdiam, selama ini ia percaya beliau ini adalah Kakek Un.
“Kakek bertemu Yin lima belas tahun lalu ketika desa tempat tinggal kami hancur.”
“Ka... kakek masih hidup?” Bukannya tidak sopan atau apa, namun Liu tahu ia tidak menemukan siapapun ditengah kehancuran desanya di masa lalu.
Kakek An terdiam, ia sedikit tertunduk, memang tidak mudah mengingat masa lalu yang buruk. “Kami para penduduk desa berhasil kabur sebelum desa dihancurkan.”
“!” Jadi begitu!
“Namun sayangnya banyak yang terpecah dan berpisah satu sama lain. Kakek tidak bisa mempertahankan kepercayaan mereka.”
“Kakek dengar sebagian dari anak-anak bahkan berpindah pihak ke aliran sekte sesat.”
“!” Liu terdiam. Jadi pendekar sesat yang menguntitnya dan memegang dahinya itu....?
“Sepertinya kau sudah bertemu salah satunya.” Kakek An memandang lemah, terlihat jelas tidak senang membicarakan ini. Tapi apa boleh buat kebenaran harus diungkap.
“Kenapa kakek bisa tahu aku....?”
“Aku merasakan energimu nak. Maaf aku terlambat lima belas tahun.” Kakek An tak menyangka ia bisa bertemu kembali dengan anaknya, meski harus menjalani belasan tahun lamanya.
‘KAKEK NGGAK SALAH SIH.’ Mau bilang 'tenang saja Kek, 15 tahun ini aku cuman tidur kok.' Rasanya memalukan.
“Kakek juga sudah mengistirahatkanmu. Untunglah dewa masih berpihak padamu.” An tak tahu bagaimana anaknya bisa bangkit kembali, namun ia yakin semua itu tidak jauh dari campur tangan dewa.
Yang pada kenyataannya memang benar.
“TAPI TANDA TATOMU MASIH ADA JUGA YA.” Pendekar An melotot tajam melihat tanda tengkorak yang terpaut di tangan kanan anaknya itu, mengingatkannya pada masa lalu yang kelam.
“Oh iya kek, lihat nambah satu lagi sekarang.” Liu menunjukkan tangan kirinya, ada tato yang mengerikan juga di sana.
“BERTAMBAH!?” Kakek An tak percaya. Dari yang ia tahu itu bukan hal yang bagus!
“Ahaha, tenang saja kek, sejauh ini belum ada hal buruk.” Liu tersenyum kecil.
“CEPAT HAPUS SEBELUM TERLAMBAT!” An menganggap serius masalah ini, sebuah keajaiban anaknya masih bisa hidup, dan tanda tengkorak adalah tanda yang tidak menyenangkan!
“INI BUKAN TATO KEK!”
__ADS_1
“HAH!?” Liu ternyata sudah sadar!
Pendekar An pikir karena kemurahan dewa, anaknya terlahir kembali tanpa tanda mengerikan itu, tapi kenapa malah masih ada? Dan MALAH ADA DUA!?