
[Jangan lupakan sistem Tuan]
'Eh kamu bisa bantu sistem?'
[Tentu saja Tuan] Sistem terdengar percaya diri.
'Nonton pertarungan ini sampe selesai?'
[Bukan Tuan, terlalu lama]
Liu terdiaml, ia ingat sistemnya kadang nggak sabaran juga sih.
Dan ia teringat pula insiden masa lalu yang membuatnya menjadi pembunuh berdarah dingin.
Tapi saat itu ia tidak punya pilihan, dan akhirnya mengambil risikonya juga.
Semua itu terjadi karena ia membiarkan sistem melampaui batas... tapi kali ini....
Ia harus pastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya!
[Kenyataan tidak selalu indah, ayo bangun, kerja Tuan] Sistem tegas sekali.
Dengan cepat Liu beranjak dari kursinya, ia menuruti perintah sistemnya, sementara gadis merah yang disebelahnya tidak sadar dan terbawa keseruan yang ditawarkan di tempat ini.
Tak lama kemudian Liu akhirnya sampai di tempat dimana sistem sudah menyuruhnya.
Yahuan terdiam, ia melihat seorang yang dikenalnya ada di area gladiator.
Ia pun mengucek matanya karena barangkali salah lihat, yah terkadang pandangan mata bisa menipu juga.
Namun apa yang dilihatnya tidak berubah juga.
Tapi mana mungkin juga pemuda itu turun sih, mengingat peraturan gladiator sudah jelas, siapapun yang turun maka akan dihukum mati.
Yah pertandingan antar makhluk setengah dewa di alam dewa awal ini bukanlah pertaruangn biasa, melainkan jadi jembatan khusus bagi mereka untuk dinilai oleh dewa.
Sret.
Ia pun melihat ke sampingnya, dan tidak ada siapapun.
"Lho Tuan!?" Dan sadar sosok pemuda yang dibawah itu memang benar-benar kenalannya.
'Tunggu sistem kenapa kita turun ke sini!?' Liu belum terbiasa jadi pusat perhatian!
[Tuan mau menunggu 364 hari lagi?]
'NGGAK.' Jelas-jelas kelamaan sih.
[Nurut saja dulu ya Tuan] Sistemnya terdengar lembut, atau mungkin menahan amarah?
"Hei siapa dia?"
"Makhluk asing? Kenapa dia ke tengah?"
"Hmph, tidak sayang nyawa."
Berbagai komentar terdengar seketika itu juga.
'KOK BISA KEDENGERAN JELAS YA?' Liu terdiam, padahal situasi makin riuh namun omongan orang malah jelas terdengar.
Mungkinkah pendengarannya juga non-telanjang?
[Tidak seperti itu Tuan]
'Oh.' Liu pikir begitu, sistemnya suka aneh-aneh sih.
Jadi pendengarannya juga makin tajam? Mantap sih.
Tapi kenapa yang didengernya hal negatif semua ya?
Liu termenung, yah terkadang manusia lebih fokus sama hal negatif dibanding positif.
SRUNK.
Kedua makhluk yang sangat kecil tadi berubah jadi normal, dan mereka benar-benar mirip.
Dua pria besar berkaos putih dan hitam, raut wajahnya benar-benar tegas dan terkesan menakutkan.
'JADI BIG MAN SEKARANG?' Liu terdiam tak disangka makhluk setengah dewa yang kecil sekarang jadi besar.
Tapi yah setidaknya tidak sampai jadi raksasa juga sih.
Liu terdiam, wajar saja mereka menatapnya begitu, ia sudah mengganggu pertarungan yang kompetitif sih.
"Selamat siang tuan-tuan?" Liu menggaruk kepalanya, yah ia perlu basa-basi sedikit sih.
Kedua Little Man terdiam, mereka hanya menyebarkan aura intimidasi yang kuat.
Seolah tahu apa yang akan terjadi pada pemuda ini, mereka berdua tidak repot-repot membuka mulutnya sama sekali.
Liu terdiam. Jadi selanjutnya apa? Tatapan banyak makhluk ini makin menusuk sih
"SIAPA YANG BERANI MENGGANGGU PERTANDINGAN?"
Tiba-tiba terdengarlah suara berat nan mengerikan dari langit! Tidak lupa seluruh bangunan super besar ini pun dibuat bergetar juga!
'Oh inikah?' Jadi rencana sistemnya buat mancing dewa?
[Persiapkan diri Tuan, dewa mulai mengamuk]
Drrrrtttt....
"HII! HUKUMAN DEWA!" Alhasil kepanikan-lah yang terjadi saat itu juga.
Yahuan terdiam. Ia memang tidak salah lihat.
'Kenapa Tuan ke situ?'
'Apa mungkin?' Yahuan sama sekali tidak terpikirkan kemungkinan ini.
BLAAAAARR!
Kilat dan dentuman keras di siang bolong!
Fenomena yang tidak diinginkan oleh makhluk setengah dewa manapun!
"Tuan...." Bahkan Yahuan pun sampai bergetar, kenapa ia tidak diberi tahu soal rencananya ini?
Shhhh.....
Asap putih tebal mengepul ke seluruh area gladiator. Bersamaan dengan itu muncullah aura kekuatan fantastis di luar nalar.
Yah bukan pertama kali Liu melihat kejadian aneh begini sih. Ia bahkan sudah liat kaki seribu yang tinggal dilaut!
Yah meski dewa sih yang datang, rasanya agak gugup. Namun Liu tidak mau berbawa perasaan.
[Dewa mau menghukum mati Tuan]
'MENGHUKUM MATI!?' Kok serem gitu sih!?
HUSSSSSHHHHH!
__ADS_1
Seketika itu juga hempasan angin brutal tercipta membuat Liu sedikit terhempas, padahal ia sudah mengumpulkan kekuatan sejak awal.
Liu terdiam, tak menyangka perbuatan sepele begini mendatangkan masalah yang besar.
Tapi apa boleh buat, inilah cara yang tersisa selain menunggu selama setahun.
"HMMPP.... HUHHHH...." Liu mengambil nafas panjang, di saat begini ia harus ekstra hati-hati dan tidak boleh gegabah.
Tak lama kemudian terlihatlah sesosok pria tua berjanggut tebal!
Penampilannya sederhana, ia memakai jubah putih panjang sampai ke kaki.
'Beliau?' Liu merasa tak asing, penampilannya kurang lebih sama seperti kakeknya!
***
Di sisi lain....
"HACHI!" Kakek An bersin brutal di bumi, entah kenapa ia merasa ada yang membicarakannya
***
Alam dewa awal, area gladiator, waktu kini....
'EH TAPI BEDA!' Aura bijaksana pria tua jubah putih itu lebih besar dari makhluk apapun yang pernah ditemuinya!
Inikah sosok dewa yang sesungguhnya?
'Kakek tua yang bijaksana?' Liu pikir yang dateng itu pria berotot berwajah tagas dan menakutkan.
Yah itulah yang dalam bayangannya. Para dewa seharusnya punya penampilan gagah bukan?
Tapi kenapa yang muncul kakek tua berjanggut lebat?
"Berani sekali berpikir begitu anak muda," kata pria tua berjanggut tebal. Terlepas dari penampilannya yang kalem, suaranya nge-bass dan agak seram.
Jadi yang menakutkan adalah suaranya, bukan penampilannya. Jadi karakteristik dewa juga ada macam-macam ya? Liu mengerti.
TAPI TUNGGU DULU ... TADI....?
'Beliau bisa baca pikiran!?'
[Dia 'kan dewa Tuan]
'Oh.' Bener juga kata sistem sih.
'EH KITA HARUS MENUJUKKAN HORMAT SISTEM!' Masa dewa dipanggil 'dia'!
Itu tidak sopan!
[....] Sistem tidak merespon seolah tidak peduli
Oke inilah kesempatannya!
Kesempatan buat minta bantuan sang dewa!
Sebelum itu harus minta maaf dulu!
Dengan cepat Liu menundukkan badannya. 'Eh?'
Entah kenapa tubuhnya terasa kaku.
'BEGINI LAGI!?' Ini pasti ulah sistem!
[Tuan tidak perlu memberi hormat] Sistem tidak setuju.
'Lho nggak perlu gimana!?' Sudah tidak sopan tentu harus minta maaf!
Lu menelan ludahnya, ia tidak mau menghabiskan waktunya buat marah-marah. Tapi di sisi lain tubuhnya jadi kaku.
Alhasil tatapan dewa pria tua itu pun makin tajam.
"Gah." Akhirnya tubuhnya melemas lagi, sontak langsung Liu coba buat menunduk, masih tetap nggak bisa sih.
Sistem bener-bener nggak ngijinin biar menunduk hormat dan minta maaf.
"Kau tidak punya kesopanan dihadapan dewa." Dewa pria tua berjubah putih itu makin menatap tajam, ia benar-benar terlihat kesal.
Tidak banyak makhluk yang berani membuat dewa marah, dan jikalau ada maka makhluk itu sudah tidak sayang nyawa lagi.
Melawan dewa adalah keputusan terburuk yang bisa dibuat.
Liu terdiam, baru saja mendengar sepatah dua patah kata dari dewa, ia sudah kena mental duluan.
KALAU BEGITU MEMANG HARUS MINTA MAAF!
"Maa-"
"MMM!" Mulutnya malah kekunci!
[Jangan Tuan] Sistem memberi peringatan lagi.
"...." Liu terdiam, duh sistemnya bener-bener tegas.
Kenapa nggak pakai cara halus aja sih?
Kenapa sampai harus membuat dewa kesal?
Liu bukan tipe orang yang suka melawan orang tua (meski kadang begitu sih) dan terlebih lagi dewa!
[....] Sistem lagi-lagi tidak merespon. Entah kenapa Liu merasakan keseriusan yang luar biasa di sini.
Tidak biasanya ia merasa serius begini, dan perasaan ini memberinya kekuatan bahkan mengalahkan ketakutannya!
Sistem sudah mencapai tahap dimana ia bisa mempengaruhi perasaan tuannya, yang tentunya demi kebaikan tuannya juga.
Ini bukan perasaan palsu, Liu tahu ia punya keberanian, hanya saja begitu kecil dan terkesan terombang ambing oleh angin kehidupan, sistem membantunya fokus pada perasaannya yang sebenarnya.
Liu menutup matanya, tidak ada gunanya lari terus dari rencana sistem
Kalau memang begini rencananya maka terjadilah.
Liu perlahan membuka matanya dengan sorot mata penuh tekad yang baru.
"Tuan dewa, ada yang ingin kubicarakan."
"HAA!?" Semua pasang mata tertegun melihat apa yang terjadi.
Ada pemuda asing yang tiba-tiba ingin bicara dengan dewa, bahkan sebelum membuktikan dirinya? Bagaimana mungkin!?
"JANGAN-JANGAN PAKAI JALUR ORANG DALAM!?" Salah seorang penonton terdiam tak percaya.
'....' Yahuan yang duduk dekat dengan yang berkomentar begitu terdiam. Memang kejadian begini tidak biasa terjadi sih.
Meski baru pertama kali datang ke alam ini secara langsung, Yahuan tidak pernah mendengar ada yang berani berhadapan dengan dewa seperti ini.
Konsekuensinya adalah mati, sesederhana itu.
Bahkan makhluk setengah dewa manapun sejauh ini menjunjung tinggi peraturan, tentu mereka berpikir beribu kali, kenapa harus menyia-nyiakan hidup dengan melanggar peraturan.
Yahuan terdiam, pikirannya tidak sampai untuk memikirkan hal itu, dan lagipula ia bukanlah makhluk setengah dewa yang sangat pintar juga.
__ADS_1
Rasanya ingin ke bawah dan berada di sisinya, tidak ada ketakutan sama sekali padanya.
Yahuan masih terdiam, tubuhnya hampir beranjak dari kursinya, namun ia masih belum bergerak seolah ada yang mengehentikannya.
Padahal ia hanya seorang diri di sini.
Lantas kenapa ia masih belum mendampingi pemuda itu juga?
'Aku ... tidak bisa.' Yahuan menelisik batinnya yang terdalam. Dan itulah keputusannya.
Ia tidak bertindak dari instingnya, sadar betul apa yang terjadi di bawah adalah diluar kemampuannya.
Kalaupun ia pergi ke bawah lalu apa? Ia tidak bisa membantunya, melawan dewa sudah diluar ranahnya.
Memang kalau terus berada disisinya untuk membantunya adalah wajar dan keren. Menunjukan seberapa kuat rasa percayanya.
Namun ia tidak bisa melakukannya.
Kalaupun memaksakan diri, bukannya membantu malah nantinya malah jadi beban yang akan merepotkannya.
'Aku percaya padanya.' Yahuan menatap penuh tekad, satu-satunya hal yang bsia dilakukannya adalah menunggu dan percaya.
Setelah mendengar maksud dan tujuan pemuda ini, sang dewa pria tua terdiam. Ia tidak terlihat mengerti dan paham. Malahan raut wajah kesalnya makin menjadi-jadi.
Membuat keseriusan yang dibangunnya jadi tidak begitu berguna.
Tapi yah setidaknya ia sudah mengatakan maksud dan tujuannya.
Situasi masih hening, tidak ada yang berani bersuara.
Liu terdiam, di situasi begini mudah baginya untuk merenungkan apa yang harus direnungkan.
Yah anggap saja sebagai mengisi pikiran sebelum sang dewa mengatakan jawabannya.
Liu tidak mau membiarkan pikirannya kosong, sistem memang ada bersamanya, namun ia tidak bisa meremehkan kekuatan dewa.
Bukan hal yang sulit bagi dewa melakukan apapun yang dikehendakinya, termasuk mencabut nyawa seseorang.
[Tidak begitu juga TUan]
'Eh?' Bukannya dewa makhluk yang sangat berkuasa ya? Mereka mampu melkaukan apapun 'kan?
[Tidak semua dewa seperti yang Tuan pikiran]
'Tidak semua?' Maksudnya?
[Tuan belum tahu?]
'Aku bisa marah lho sistem.' Liu bergetar, kalau sistem berwujud padat, ingin ia timpuk rasanya.
[Dewa juga punya tingkat kekuatannya masing-masing Tuan]
'Oh?' Liu baru tahu, ia pikir semua dewa sama kuatnya, mengingat mereka menyandang status 'dewa'.
MASA ADA DEWA YANG NGGAK KUAT SIH?
[Begitulah Tuan] Terkadang selalu ada fakta mengejutkan di dunia ini, atau di di kasusnya, di alam dewa.
Semenjak pertemuannya dengan dewa pria tua ini. Ingatan sistem mulai terbuka dan bisa mengumpulkan informasi soal alam dewa, meski sedikit demi sedikit.
Yah sedikit demi sedikit lebih baik ketimbang tidak sama sekali. Sistem belajar sabar di sini.
Perkataan sistem tak membuat Liu lega, malahan bisa jadi sistemnya terlalu menganggap gampang situasi ini.
Padahal jelas-jelas ia harus berhati-hati dalam melangkah, atau perjalanannya berakhir di sini.
'Jadi namanya siapa sistem?'
Liu ingin tahu nama dewa perdana yang ditemuinya, yah dengan tahu namanya pasti bisa membuat obrolan jadi agak ringan bukan?
[Tidak bisa Tuan]
Liu terdiam, yah benar juga, menganalisis identitas makhluk biasa saja suka salah apalagi menganalisis dewa?
[Bukan, tapi dia tidak penting Tuan]
'Begitu ya.'
'TUNGGU APA!?' Masa nggak penting!?
Sistem pun menjelaskan.
Liu dengan tenang mendengarkan, sistemn ya benar-benar ngegampangin situasi sih ini.
"Buktikan kelayakanmu." Akhirnya dewa pria tua pengawas gladiator di alam dewa awal itu membuka mulutnya.
'Kelayakan....' Tanpa perlu diulangi Liu tahu apa maksudnya. Yang pasti bukan obrolan hangat sembari minum teh tentunya.
Melainkan sebaliknya!
'NAH KAH DITANTANG DEWA.'
[Sesuai rencana Tuan]
Liu tak mengerti tapi yah apa ia punya pilihan lain?
SYUT!
Seketika itu juga seluruh makhluk setengah dewa yang jadi penonton menghilang begitu saja.
'HILANG?' Liu terdiam, melihat orang, ah makhluk yang hilang itu mengherankan!
[Tenang saja Tuan, mereka hanya dipindahkan]
'O-OH.' Liu jadi tenang lagi. Tapi kenapa dipindahin ya?
SSSSRRRR....
Tiba-tiba energi misterius berwarna putih transparan menyelimuti seluruh bangunan gladiator.
Liu merasakannya juga, jelas-jelas sang dewa sedang melakukan sesuatu.
'Inikah kekuatan dewa?' Liu terpukau, ia tidak pernah merasakan energi Qi yang semurni ini sebelumnya, bahkan bisa dibilang kekuatannya itu benar-benar natural dan sulit dijelaskan dengan kata-kata!
Yah tak heran juga, beliau dewa sih.
Jadi sudah pasti kekuatannya juga diluar nalar sih.
[Bersiaplah Tuan]
Adrenalinnya memuncak, entah kenapa ia ingin serahkan situasi ini pada sistem.
'Sistem ambil alih aja lah!' Liu malah tak tahan dengan situasi mendesak begini.
[Tidak, Tuan harus mandiri]
'LHO!?' Liu pikir sistemnya senang bisa beraksi dengan bebas!
Yah sistem tidak bisa membiarkan tuannya manja terus, pada akhirnya tuannya adalah tokoh utama yang tidak tergantikan.
Liu terdiam, kalau begini berarti ia tak punya pilihan lain.
__ADS_1
Ia harus melawan sang dewa!