Sistem Pendekar Terkuat

Sistem Pendekar Terkuat
Dewa Jue


__ADS_3

Dewi terdiam sembari melihat langit dengan penuh arti.


Kenapa pemuda ini mati-matian mau mengatakan hal ini padanya? Apa susahnya pergi dari sini setelah menyelesaikan urusannya?


Liu terdiam, tak bisa dipungkiri ia memang agak meremehkan dewi ketika pertama kali tahu identitasnya.


Liu sudah berusaha minta maaf karena memang tak ada niatan menjelekkan apapun. Dan sampai sekarang dewi tetap kelihatan bad mood.


[GIMANA NIH SISTEM?]


[Semoga berhasil Tuan]


"...." NGGAK NGASIH SOLUSI YA.


Tak disangka hal kecil berpengaruh besar begini, tapi yah apa yang terjadi tak bisa diulang lagi sih.


Dewi tidak habis pikir pemuda ini mau tetap bersamanya dan menyakinkannya, padahal jelas dia masih punya perjalanan panjang yang menantinya.


"Indah ya." Liu terkesan dengan pemandangan yang dilihatnya ini.


"...." Dewi menoleh perlahan. Itu kan kata-katanya di awal....


Dewi terdiam dan perlahan senyum terukir di wajahnya. "Iya."


Akhirnya dewi menerima pengakuan pemuda ini padanya. Mau sejauh apapun dipikir ia tetaplah dewi yang tinggal di alam dewa.


Kenapa harus membandingkan diri dengan yang lain? Kenyataannya ia masih punya tugas yang harus dilakukannya di sini.


Liu tak mendengar ocehan apapun dari dewi, yah itu pertanda bagus.


"OKE, AYO SEMANGAT LAGI DEWI!" Liu langsung lompat dengan penuh gairah masa muda!


"OIII!" Sang dewi melompat juga dengan mengangkat tangannya.


"HEH ITU MEMALUKAN!"


"Ow." Dewi langsung memukulinya.


"EHM." Dewi berlagak batuk, kini ia sudah lebih tenang dan tak lagi menganggap dirinya rendah.


Liu tersenyum kecil, ia tak menyangka dewi pun bisa mengalami hal begini. Itu berarti memang tak ada yang benar-benar sempurna.


Dewi agak tertunduk dan memainkan kedua tangannya dibelakang, dan langsung mendekat begitu saja.


"Terima kasih."


CUP.


"!"


"Itu bukan apa-apa lho ya!~"


SWUSH!


Sang dewi menghilang bersamaan dengan rerumputan yang tertiup angin.


Liu terdiam, ia memegang pipinya dan tak menyangka.


"HM???" Kenapa dewi tiba-tiba melakukan hal itu ya? Liu heran sekaligus bingung. Tapi tak bisa bertanya juga, toh dewi sudah pergi meninggalkannya.


Liu tersenyum kecil, kalau dewi sudah kembali lagi seperti biasa itu sudah lebih dari cukup.


Liu melihat benda yang dicarinya, dan tampaklah sebuah kacamata hitam elegan dan keren.


Seperti yang sudah-sudah aksesoris dewa satu ini memancarkan aura kekuatan yang sulit dijelaskan.


Dewi tak menjelaskan apapun soal kacamata ini sih.


'....' Liu hanya diam dan memegang kacamatanya saja.


[Tunggu apa lagi Tuan?] Sistem tidak sabar melihat tuannya memakainnya.


'Eh cobain sekarang?'


[Terserah Tuan sih, mau tahun depan juga boleh]


KELAMAAN DONG.


Bukan tanpa alasan Liu agak ragu soal benda ini. Yah kini kacamata hitam ini memancarkan aura kekuatan yangg lebih kuat dibanding yang sebelumnya.


Apa bakal baik-baik saja nambah banyak aksesoris dewanya?


Liu tak mau gegabah dan mengabaikan risiko.


Bisa saja ada efek mengejutkan dari penggunaan kacamata ini kan?


[Jangan overthingking dulu Tuan]


'Oh.' Benar kata sistemnya, lagipula tujuannya kan mengumpulkan aksesoris dewa. Risiko akan selalu ada, entah itu dalam perjalanan, berhadapan dengan makhluk lain dan pula berhadapan dengan aksesoris dewa sendiri.


Liu mengumpulkan niatnya, mengambil nafas panjang, meyakinkan dirinya.


'KALAU TAK DICOBA TAK AKAN TAHU!'


SRET.


Liu langsung memakai kacamata itu, dan seketika itu juga langsung kelihatan keren.


"...." GELAP SIH.


Liu tak bisa melihat jelas, pandangannya malah jadi semu kehitaman. Yah wajar mengingat ini kacamata hitam sih.


Liu berjalan-jalan dan sesekali terantuk tanah, ia belum biasa pakai kacamata begini.


Dan waktu pun terus berjalan, dan Liu tak menemukan adanya hal menarik sih.


INI MAH KACAMATA GAYA YA!?


Liu bolak-balik pake pun nggak ada perubahan sama sekali.


MUNGKIN INI PENIPUAN?


Bisa jadi benda ini hanya palsu saja!


[Sepertinya tidak begitu Tuan] Sistem tidak setuju. Ia percaya kacamata ini adalah aksesoris dewa asli.


'TAPI KOK?' Liu menuntut bukti yang tak ditunjukkan benda ini.


Dengan cepat sistem menjelaskan bahwa kacamata itu belum menunjukkan kekuatannya yang sesungguhnya.


"...." Oh itu bisa jadi sih. Liu pikir aksesoris dewa akan langsung bereaksi saat dipakai, namun ternyata tidak selalu begitu ya.


Dengan cepat Liu mengecek lagi petanya, tanda 'penting' di petangnya sudah hilang beriringan dengan kepergian dewi.


Itu jadi bukti kuat juga bahwa dewi memang memberinya aksesoris asli.


Liu terdiam dan berniat menyimpan kacamatanya saja, toh belum ada reaksi apapun kok.


"...."


'LHO?' KACAMATANYA NGGAK BISA DILEPAS!


Liu berusaha dengan sekuat tenaganya namun tak kunjung bisa juga!

__ADS_1


'EH NGGAK BISA LEPAS OM!'


[Sistem bukan om-om Tuan] Tidak biasanya tuannya salah sebut begitu.


Padahal tadi bisa! KENAPA SEKARANG NGGAK!?


[Tunggu diam dulu Tuan] Sistem merasakan suatu energi.


"...." Liu diam meski masih panik, tak bisa dipungkiri ia pun merasakan hal yang sama.


Liu memegang kepalanya, entah kenapa rasanya pusing.


"UKH."


Blugh.


Liu tersungkur tak tahan dengan apa yang dirasakannya. Jelas ini bukan sembarang pusing sih.


APA JANGAN-JANGAN....?


Efek pake kacamata ini?


Liu terdiam, sementara kepusingannya tambah brutal namun senyum mulai tergurat diwajahnya.


Ekpresi yang tak disangka untuk ukuran makhluk yang sedang tersiksa.


Mungkinkah sang karakter utama ini menikmati rasa sakitnya?


Kurang lebih begitulah yang terjadi.


Liu sudah menanti ini dari awal. Akhirnya muncul juga reaksi aksesoris dewa ini.


BLISZT!


"!"


Liu terdiam, dalam satu kedipan mata ia tak lagi berada di hamparan padang rumput indah, melainkan area lava yang begitu panas.


Langit cerah indah pun berubah jadi langit keabu-abuan, kelam, dan menimbulkan kesan yang tidak menyenangkan.


SRING!


Aura kebiruan langsung tercipta daripadanya, jelas karena situasi berubah lebih aneh dari yang dikira.


"OI." Liu tak menyangka dengan apa yang dilihatnya sekarang.


Kenapa bisa-bisanya pemandangan indah jadi mengerikan begini?


Liu melihat sekitarnya, mengedipkan matanya brutal, namun tetap saja apa yang dilihatnya tak berubah.


'SISTEM?'


[Ya Tuan?]


"WOH." Liu bernafas lega, ia pikir sistem menghilang.


Dengan cepat Liu menanyakan apa yang terjadi di sini, namun sistem tak memberi jawaban yang memuaskan.


Sistem pun belum paham apa yang terjadi. Yang pasti ada hubungannya dengan kekuatan aneh yang tiba-tiba terasa tadi.


'BISA KEBAKAR DONG.' Liu tak nyaman dengan pemandangan ini. Yah siapa sangka hamparan rumput luas jadi hamparan lava begini?


[Tenang saja Tuan] Sistem sudah memastikan tuannya bisa bertahan di tempat ekstrim. Dibuktikan dengan aura kebiruan yang sangat kuat yang terpancar sekarang.


Harusnya lava begini adanya di gunung kan? Lah kok bisa ada di sini sih?


[Sepertinya inilah yang harus Tuan pecahkan]


'....' Akhir-akhir ini sistem sering mengatakan itu deh.


Liu menenangkan dirinya dan menutup matanya. Memang paling enak kalau khawatir dan takut soal apa yang terjadi sekarang. Namun ia tahu kedua hal itu tak berguna sama sekali.


Yang perlu ia lakukan sederhana saja, tak lain tak bukan adalah memecahkan apa yang sebenarnya terjadi di sini.


Kini kacamata Liu terlihat bercahaya putih, namun tidak mengurangi kadar kekerenannya sama sekali.


Aura kebiruan yang kuat melindunginya dari panasnya lava yang bisa membakarnya dengan instan.


Liu menanggalkan keraguannya dan mulai berjalan diantara hamparan lava yang tak berujung ini.


'HM.' Liu belum merasakan aura misterius yang sebelumnya.


Perubahan tempat drastis ini pasti ada sebab yang jelas.


Mungkinkah ia berpindah ke tempat baru dengan instan alias berteleportasi? Itu kemungkinan yang bisa terjadi sih.


"...." Tapi bisa juga bukan, mengingat biasanya kalau berteleportasi biasanya ia akan dikelilingi dulu cahaya putih menyilaukan, yang tak ditemuinya sama sekali tadi.


JADI KENAPA IA BISA TIBA-TIBA ADA DI SINI YA?


Liu tak bisa menjawab hanya dari dugaan saja. Ia harus cari bukti yang bersangkutan akan hal ini!


Liu menguatkan kekuatannya dan berusaha menarik perhatian siapapun yang ada di sini.


Hempasan aura kuat langsung tercipta namun tak membuat lava merah dibawahnya beranjak.


Ini berati ia bukan ada di sembarang tempat, melainkan tempat khusus yang memancarkan aura kekuatan juga.


Alis Liu menurun tajam, akhirnya terungkap sudah fakta tentang tempat ini.


Perlahan namun pasti sesosok berjubah merah datang dari bawah lava.


"...." Itu dia. Akhirnya muncul juga.


Sosok berjubah merah itu membelakanginya, aura kekuatan yang sama di awal langsung tercium. Sosok satu inilah alasan kenapa ia bisa berada di tempat ini.


Sret.


Sosok itu menoleh perlahan dan sorot mata tajam merah terlihat daripadanya.


Liu tak terpengaruh sedikitpun dengan tatapan itu.


Ia sudah banyak melihat tatapan tajam dan yang satu ini tidaklah beda dibanding yang lain.


"Dewa?" Liu tak bisa melihat jelas wajah sosok berjubah merah itu, namun dari postur tubuhnya yang besar dan kekar, kemungkinan besar bukan dewi.


Sret.


Sosok berjubah itu berbalik dan menyingkapkan tudung jubahnya.


Benar saja dugaannya, terlihatlah raut wajah tampan dengan sorot mata tajam dan dingin.


Sekilas penampilannya mirip Xiao Ice namun lebih besar.


"...." Liu tak menyangka dugaannya kali ini benar. Yah sebelum-sebelumnya dugaannya kadang meleset.


Siapa beliau ini? Dewa Api kah?


Melihat dari penampilannya yang serba merah, mungkin bisa jadi juga.


[Menganalisis....]


[ Dewa Cio Jue

__ADS_1


Jenis: Dewa Ilusi


Status:  Dewa Alam Menengah Tingkat Akhir


Deteksi Elemen: Sensitif


Kesehatan: ???


Kekayaaan: ???


Level kekuatan: 2499


Tingkat bahaya: Sangat Luas


Kemampuan Khusus: Ahli Memanipulasi Tempat Dan Kekuatan


Catatan: Bersiaplah untuk banyak hal yang tidak terduga]


"...." LHO?


DEWA ILUSI? Dugaannya salah ya.


'WADUH.' Liu tak bisa menyembunyikan kakagetannya melihat level setinggi itu.


[Kan Tuan sudah melihat status dewi bulan]


'Oh iya.' Dewi bulan lebih kuat sih.


TAPI BEDA SATU LEVEL MANA KERASA!


[Terasa Tuan] Dengan cepat sistem menjelaskan bahwa sistem level akan semakin kompleks, semakin tinggi levelnya maka, perbedaan satu level saja bisa sangat berarti.


'Owh.' Liu baru tahu soal ini.


Tapi tetap saja kini dihadapannya adalah dewa level tinggi, dan jauh parah kalau dibandingkan dengan dirinya!


[Tenang saja, kan Tuan sudah level 60]


'....' Apa itu pujian atau yang lain???


Dah lah, Liu tak mau terlalu memikirkannya. Kini yang terpenting adalah jangan putus asa dulu di awal melihat status super sang dewa ilusi ini.


Oke, dia besar dan tampan lalu apa?


HUSH!


Dewa Jue langsung nyerang!


Ia melesat cepat dan langsung melancarkan serangan fisik!


Seperti pertarungan klasik lainnya, Liu berusaha bertahan dari serangan sang dewa, yang harus diakui memang benar-bena tak biasa.


KEDEBUMMM!!!


Ledakan energi besar langsung tercipta seketika itu juga.


SREEET....


Liu terhempas ke bagian sisi lain dan dewa diam tak melanjutkan serangannya lagi.


Liu berusaha berhenti terseret, sampai menggunakan kedua tangannya juga.


Namun tetap saja ia masih terseret dan berhenti dengan jarak yang cukup jauh.


Liu mengeluarkan asap bak sedang terbakar, namun sebenarnya tidaklah bgitu.


Itu efek adu baku hantam tadi. Aura pertahanannya sudah banyak terkikis.


Sekilas jual beli serangan yang singkat tadi terlihat bukan masalah. Liu tak kesulitan membaca arah serangan dewa dan bahkan bisa bertahan beberapa saat sebelum terhempas.


Namun kenyataannya tidak begitu juga.


Liu bisa merasa efek serangan fisik sang dewa sekarang. Yagn pastinya bukan hal yang meng-enakkan, namun menyakitkan.


Rasa nyeri dan perih mulai terasa di sekujur tubuhnya, yang menandakan ia memang tak baik-baik saja.


Dari luar aura kebiruannya masih terlihat membara dan minim luka luar pula. Namun lagi-lagi kenyataan yang sebenarnya tak bisa diubah juga.


Liu mengabaikan apa yang dirasanya dan mempertahankan ekpresi seriusnya.


Entah kenapa sang dewa tak terus menyerangnya, padahal dengan begitu beliau bisa lebih memojokkannya lagi.


"...." Liu bisa melihat ekpresi tajam dewa yang seolah tak mau membiarkannya berakhir cepat.


Yah lagi-lagi Liu sudah terbiasa melihat tatapan meremehkan begini.


Sebuah sikap yang wajar saja dari makhluk kuat.


OKE DEWA SANGAT OVER POWER.


Apa lagi yang bisa ia buat sekarang?


Dari adu kekuatan fisik saja sudah kewalahan begini, apalagi merambah ke teknik dan proses pertarungan selanjutnya?


[Jangan rendah diri Tuan] Tuannya harus lebih percaya diri di situasi seperti ini.


Yah Liu hanya memikirkan kenyataan saja. Inilah fakta dan tak bisa disangkal lagi.


[....] Sistem tidak mengira menampilkan status lawan malah membuat tuannya kena mental begini.


Sistem pikir tuannya akan butub info soal siapa yang dilawannya, dan tidak bisa dipungkiri tahu info lawan adalah keuntungan tersendiri.


Sang dewa tentunya sudah tahu banyak tentangnya dan sistem tidak mungkin membiarkan tuannya kebingungan dengan lawannya sendiri.


[Waktunya PD Tuan, mindernya nanti saja] Sistem berusaha menyakinkannya.


"!" Liu terdiam dan tercerahkan dengan kata sistemnya.


Benar juga! Tak ada gunanya ngeluh dan lari dari kenyataan!


Kalau begitu sama saja ngasih lawan untung!


Liu terdiam, sorot matanya makin tajam dan kini tak hanya raut wajahnya saja yang serius....


SHH....


Liu mulai dipenuhi aura kebiruan lagi, ia lupa akan rasa sakitnya dan satu-satunya yang ia pikirkan hanyalah bertahan dari dewa yang sedang mengincarnya ini.


"Xiao Liu ... Xiao Liu...." Suara dingin sang dewa terdengar jelas.


Tak disangka Liu bakal ketemu banyak dewa good-looking kek Xiao Ice, tapi yah mau gimana lagi ia nggak bisa ngatur penampilan lawannya sih.


Tak hanya wajahnya yang sebelas dua belas, namun suara dinginnya pun tak jauh beda.


Liu terdiam, ia tak merasa harus menjawab apapun dari ucapan sang dewa.


"Jangan buat sulit pekerjaanku." Dewa menatapnya tajam.


'Oh boy.' Permintaan yang mustahil diwujudkan.


Mau bagaimanapun juga ia tak akan memberi kemenangan dengan mudah di sini.


"Heh." Liu tersenyum kecil, ia tak peduli dengan omongan receh dewa. Tak akan didengarnya sedikitpun.

__ADS_1


"...." Dewa Jue kelihatan tidak senang. Yah ia sudah bersikap baik eh malah ditolak mentah-mentah begini.


Asal tahu saja ya sang dewa ilusi ini jarang sekali bersikap baik pada yang lain.


__ADS_2