
Yang pasti jadi dewa tidaklah semudah yang dibayangkan.
Ia pun tak bisa langsung masuk alam dewa sih.
"Ah kita sampai."
Liu akhirnya tiba di sebuah desa kecil nan asri, mereka masuk dan penduduk desa menyambutnya ramah.
Ia dijamu dan diperlakukan dengan baik. Padahal ia pendatang baru dan sebagian besar penduduk statusnya berstatus 'setengah dewa'.
Kenapa bisa begitu ya?
Haripun beranjak sore, Yahuan mengajaknya kembali berkeliling di luar.
"Itu karena kedudukanmu lebih tinggi daripada kami," jelas Yahuan.
'Lebih tinggi?' Padahal agak aneh sedari tadi pikirannya terus dibaca sama semua orang.
BUM!
Belum sempat gadis berambut merah itu menjelaskan, ledakan keras tiba-tiba terdengar tak jauh dari area padang rumput tempat mereka sedang berjalan-jalan ini.
***
Akhirnya mereka sampai di tempat ledakan, hari sudah beranjak malam.
Sebuah lubang besar tercipta dihadapan mereka, lengkap dengan asap yang masih mengepul.
"Oh, meteor," ujar Yahuan.
'Meteor?' Liu pikir di alam ini tidak ada bencana alam.
"Oh, alam pertengahan juga rentan terkena bencana kok, jadi mau buat permohonan?" Yahuan melipat tangan dan menutup matanya.
HARUSNYA PAS METEORNYA MASIH DI ATAS 'KAN?
Liu terdiam, alam setengah dewa begitu mirip dunia nyata sampai-sampai ada bencana alam segala.
Ada batu di tengah cekungan bekas ledakan itu, sisanya meteornya kah?
KRAK.
Batu yang cukup besar itu perlahan pecah....
Ada sesuatu yang gerak-gerak.
SRING!
Dan kemudian bercahaya terang sekali!
'!' Liu menutup matanya tidak kuat dengan cahaya seterang ini!
Tapi ia memaksakan diri jugam dan akhirny hasiul
"...." Liu membuka matanya tepat ketika cahaya terang itu berhenti.
'Apa yang....?' Liu terdiam, tiba-tiba terlihatlah sesosok bercahaya berdiri saja di sana.
[Menganalisis... bahaya terdeteksi....]
[Akselerasi Qi... peningkatan fisik... peningkatakan teknik... menyiapkan serangan balasan....]
Sosok bercahaya itu pun makin terlihat, dan kini mirip seperti seorang pria dewasa dengan pakaian serba hitam.
Liu tak tahu apakah batu bisa berubah jadi manusia itu normal, tapi yang pasti ini alam pertengahan.
Sama layaknya dengan alam monster, bisa saja hal tak terduga terjadi di sini.
"Apa Nona...." Belum selesai dengan perkataannya, Liu terdiam melihat ekspresi Nona Yahuan yang terlihat terkejut.
'Bukannya hal ini biasa ya?' Liu pikir Nona Yahuan tak akan terkejut sih.
"...." Ekspresi wajahnya menunjukkan kekagetan yang amat sangat, bahkan sampai tidak bisa berkata-kata.
Liu menoleh lagi, kini terlihat jelas memang seorang pria tiba-tiba muncul tepat setelah ledakan yang terjadi tadi.
HUSH!
Tanpa pikir panjang sosok pria serba hitam tak dikenal itu melompat ke atas dan kini berhadapan langsung dengan Liu.
"Selamat malam Tuan, malam yang indah ya? Ahaha." Liu tersenyum kecil. Yah ia bukan tipe orang yang langsung beradaptasi ketemu orang baru sih, kadang ia suka sedikit canggung.
Entah kenapa melihat orang atau makhluk lain dengan baju hitam membuatnya teringat sekte sesat.
"Xiao Liu?" Suara pria itu terdengar jelas, sekaligus berat sementara sorot matanya menatap tajam.
"...." Liu terdiam. Kok orang ini bisa tahu namanya ya?
"Dewa kematian mencarimu," lanjutnya.
"Waah." Liu tersenyum kecil. Apa ia sebegitu pentingnya sampai di cari dewa ya?
TUNGGU... APA?
Tap.
Pria itu memegang bahunya, entah kenapa perasaannya jadi tidak enak.
Sret.
"Tuan Liu tidak ada urusan dengan anda Tuan."
Seketika itu juga Nona Yahuan maju dan menghalangi pria asing tak dikenal itu!
"Hmph, menyingkirlah makhluk rendahan."
BUM!
Ledakan energi tiba-tiba tercipta, dan Yahuan pun terpental jauh!
"Nona!"
Sret.
"Jangan buat ini jadi sulit." Pria asing itu menatap tajam, namun Liu hanya terdiam.
Tak disangka baru sampai di alam pertengahan juga sudah ada yang mengincarnya juga.
Yah, memang hal begini wajar sih. Sekarang ia bukan buronan manusia lagi, namun dewa.
Liu sudah paham dengan kondisinya sekarang. Dewa kematian mengincarnya karena kutukan tingkat langit ini.
'Aku sudah merepotkan Dewi Xinmu.' Ia hidup karena berkah dewi, dan sekarang yang menolongnya malah dalam bahaya.
"Maaf Tuan, aku punya urusan lain."
__ADS_1
SRING!
Seketika itu juga tanda tengkoraknya bersinar biru terang! Dan dalam sekejap mata Liu berhasil menjaga jarak.
Liu melihat sekitarnya, tak terlihat tanda-tanda Nona Yahuan. Kok bisa menghilang begitu ya?
[Sistem sudah memperingatkannya agar menjauh agar Tuan bisa fokus pada pertarungan ini]
'....' Begitu ya, senyum kecil tergurat dari wajahnya, sekarang ia tidak perlu takut terdistraksi lagi. Terkadang melihat wajah gadis cantik bisa jadi kelemahannya juga!
Kini ia tak perlu takut hilang fokus, lawannya bukan gadis kucing, atau ibu muda cantik, tapi seorang pria tulen!
"Kau milik dewa kematian." Pria asing dengan baju serba hitam itu menatapnya tajam.
"...." Liu terdiam. Tidak ada gunana berargumen. Memang kenyataannya begitu, meski tak mengerti kenapa bisa selamat. Tapi yang pasti ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan kedua ini!
Dewa mengambil hidupnya dan pula dewi memberinya kesempatan kedua.
Memang terdengar aneh. Liu pun masih tak menyangka dewa-dewi bisa berselisih paham begini.
Liu tak pernah minta dikutuk dan dihidupkan lagi, semua ini diluar kendalinya.
"Nanti juga ketemu kok." Liu terlihat santai.
Bertemu dewa adalah hal yang tidak terelakkan, toh ia sendiri juga mau ke alam dewa juga.
"Aku titip salam saja ya Tuan." Liu tersenyum kecil. Tak perlu ada pertumpahan apapun di sini.
"Jadi kau pilih mode sulit." Pria serba hitam itu menatap tajam.
'EH BISA PILIH MODE?' Kek permainan aja sih.
[Kalau Tuan pilih mode mudah, berarti Tuan menyerahkan diri padanya]
"!" Liu akhirnya paham.
"Benar Tuan, hidupku sudah mode sulit secara default." Pengalaman hidup yang sulit membuatnya jadi pribadi yang lebih kuat dan siap untuk menjalani tantangan apapun!
Bersantai bersama gadis cantik di alam lain memanglah impian semua orang, tapi kenyataan tidak selalu seindah itu!
"Keren." Terdengar suara perempuan disebelahnya!
"Nona Yahuan!?" Lah kok nona ini malah ada di sampingnya!?
Yahuan memainkan kepalanya dan melakukan peregakan kecil.
"Aku lengah tadi, setelah ini mari bersantai bersama Tuan." Yahuan tersenyum.
"...." Liu terdiam. Ia pikir bakal menghadapi musuhnya sendirian.
[Hebat juga Nona Yahuan] Bahkan sistem sampai memujinya. Nyatanya ia sudah memberi peringatan padanya, namun tak disangka gadis berambut merah ini mengabaikannya.
"...." Pria berpakaian serba hitam itu tidak senang melihat ini.
HUSH!
Dan akhirnya dia pun maju!
Liu memasang pose bertarung dan bersiap akan kemungkinan apapun!
HUSH!
"!" Dan malah Nona Yahuan sendiri yang maju ke depan!
BRAGH!
Adu serangan fisik tak terelakkan, cepat dan kuatnya diluar nalar!
Liu berusaha tak terhempas. Tak heran bisa sekuat ini, makhluk setengah dewa sih!
BUAAAGHH!
SREEEET....
Yahuan terhempas ke belakang namun berhasil bertahan dengan menyilangkan kedua tangannya.
"...." Liu terdiam, KOK IA CUMAN JADI SPECTATOR AJA SIH?
IA HARUSNYA BERHADAPAN LANGSUNG DENGAN ORANG YANG MENCARINYA DAN BUKAN MALAH MENONTON SAJA DONG.
"Tenang saja." Yahuan memberi jempol dan mengedipkan matanya.
Sudah tidak ada lagi privasi.... semuanya bisa diketahui nona itu.
'TUNGGU DULU.' Liu penasaran akan suatu hal!
'Sistem apa semua makhluk setengah dewa bisa melihat pikiran makhluk lain?'
[Begitulah Tuan]
'WADUH!' Kalau begitu mau merencanakan strategi apapun tetep bisa ketahuan musuhnya dong?
[Pengecualian pada sesama makhluk setengah dewa. Mereka tidak bisa melihat isi pikiran satu sama lain]
Liu terdiam, unik juga sih ini.
Tentu tidak mudah bertarung di saat lawan sudah tahu apa yang akan dilakukan.
Yahuan membersihkan debu di pakaiannya. Dirinya saja sudah cukup untuk menangani siapapun yang menghalangi pemuda ini.
"Kau produk gagal Yahuan." Prier bersetelan hitam itu menatap tajam.
"!" Liu terdiam, kata-katanya sungguhlah tidak ramah!
Yahuan terdiam, ekspresi seriusnya tak berubah dan dia tidak terlihat terpancang.
"Pantas saja kakakmu terpilih lebih dulu darimu. Kau terlalu lemah." Kata-kata pedas terus terucap dari pria ini.
"TUAN TOLLONG JANGAN UCAPKAN KATA-KATA SAMPAH ITU!" Liu menunjuk tak tahan. Ia tak bisa diam saja setelah mendengarnya.
"Tapi itu kenyataannya." Pria itu tak mengalah.
'Yah, kalau kenyataan gimana lagi sih....' Liu terdiam.
"Hmp." Yahuan melihat sembari menggembungkan pipinya, nampak tak senang.
'OH IYA PRIVASIKU BOCOR.' Liu ingat lagi, nggak ada gunanya bicara dalam hati juga.
"Kau tidak akan bisa mengikuti jejak kakakmu." Pria berpakaian hitam itu melanjutkan komentarnya.
INI SEMACAM ADU MENTAL ATAU APA?
Sedari tadi Liu tak melihat adanya pertarungan apapun kecuali kata-lata pedas yang terlontar.
Yahuan menutup matanya, meresapi setiap perkataan lawannya. "Jangan ganggu Tuan ini." Lalu membuka matanya dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
Tak ada gunanya mencoba menjatuhkan mentalnya. Yahuan bukan seorang yang baperan juga.
Liu terdiam, sungguhlah kekuatan mental yang mantap.
Menguasai diri kedengarannya sederhana, namun kenyataannya tidak semudah membalikkan telapak kaki.
Entah mengapa Nona Yahuan membelanya sampai seperti ini, apa mungkin ada hubungannya dengan 'tingkat' yang disebutkan tadi?
Sistemnya tak bisa menganalisis identitas pria berpakaian hitam ini.
[Yang pasti dia musuh Tuan]
'Terima kasih infonya.' Meski itu sudah jelas sih.
Tidak ada kawan yang menyerang bukan?
Ini ada hubungannya dengan tanda kutukan yang ada di tangannya. Dewa sampai repot-repot mencari keberadaannya sampai ke alam ini.
PADAHAL ADA ANCAMAN DARI IBU SESAT ITU.
Tidakkah lebih baik kalau para dewa fokus menangani ibu sesat saja dan tidak usah mengejarnya?
Yah, terkadang harapan tidak sesuai dengan kenyataan.
[....] Sistem terdiam, tuannya sudah mengerti dasar kehidupan dan maknanya lebih dalam. Jadi lebih tabah dengan keadaannya yang sekarang.
Pria setelan hitam itu terdiam. Tak berhasil membuat lawannya kena mental tidak membuatnya kehilangan pilihan. Sorot matanya yang tajam makin tajam menatap pada Liu.
HUSH!
Tanpa pikir panjang pria hitam itu maju ke depan dan langsung mengarah pada targetnya!
Liu terdiam, berusaha tak memikirkan apapun.
Lawannya bisa dengan mudah tahu apa yang akan dilakukannya, jadi ia harus membuatnya sedikit sulit!
DBUMMMM!
Ledakan dan hempasan angin yang kuat tercipta saat itu juga.
"!?" Liu terdiam, bahkan ia belum menyentuh lawannya sama sekali!
KRET.
"KAU...." Pria pakaian hitam menatap tajam, smentara dihadapannya ada gadis cantik yang tak lain tak bukan adalah Nona Yahuan sendiri.
Mereka saling berpengangan tangan (bukan romantis) melainkan seperti seorang yang beradu sumo. Mengerahkan segenap kekuatan tenaga dalam mereka.
SSSSHHHHHHH!
Hempasan angin kencang tercipta gara-gara aduan tenaga mereka. Liu lagi-lagi berusaha agar tidak terhempas!
'Kenapa Nona Yahuan!?' Liu tahu energi nona itu sudah terkuras sebelumnya, adalah lebih baik baginya untuk diam dan istirahat!
[Tenang saja Tuan, Nona Yahuan itu setengah dewa]
Ya bukannya ia lupa juga sih, tapi tetap saja melihat seorang yang bertarung untuknya dan tak melakukan apapun sama sekali tidak menyenangkan.
Sampai kapan mau jadi penonton terus?
[Sistem setuju dengan rencana Nona Yahuan Tuan]
'Rencana?' Oh sistemnya memang bisa berkomunikasi bebas dengannya ya.
'BERSANTAI AJA!? KAMU BERCANDA SISTEM!?' Liu tak terima rencana nona cantik itu!
[Tapi itulah cara yang terbaik Tuan]
Bagaimana munin ia membiarkan orang atau makhluk yang baru saja ditemuinya melindunginya sampai sebegitunya?
DEG!
Liu memegang kepalanya, entah kenapa terasa berat.
[Menstabilkan Qi... menormalkan Qi....]
Jadi sistemnya belum siap bertarung? Lah pemberitahuan keren tadi apaan dong?
DI AWAL AJA BILANG 'MENYIAPKAN QI... SERANGAN BALASAN DAN LAIN-LAIN'.
[Itu hanya penyemangat saja Tuan]
Tak disangka sistem bisa nge-prank juga ternyata.
Liu terdiam, tanpa sistem ia bukanlah apa-apa, memang agak menyedihkan tapi itulah kenyataannya.
Dan memang sistem masih perlu waktu untuk beradaptasi dengan alam pertengahan. Tanpa tuannya tahu, tidak mungkin makhluk biasa bisa berkeliaran dengan bebas di sini.
Tidak peduli statusnya dewa sekalipun, sistem tak bisa memaksa tuannya mengeluarkan kekuatan sekaligus. Yang ada malah berabe nantinya.
"Kau tidak usah melindunginya." Pria bersetelan hitam itu menatap tajam.
"...." Yahuan tak mengatakan apapun selain menguatkan tenaga dalamnya. Ia tidak akan berpaling dari tujuannya.
Ia punya alasan kuat untuk melindungi pemuda ini. Dia adalah aset berharga dari dewa demi menghentikan kejahatan.
Pria serba hitam itu terdiam, pada akhirnya gadis payah satu ini terus saja menghalanginya.
Ia mengarahkan tangan kanannya ke depan, sementara kekuatan tenaga dalamnya berkumpul pesat.
Entah apa tujuannya tapi gerak-geriknya mencurigakan.
Sret.
Yahuan bersiaga, lawannya sudah pasti mengumpulkan tenaga dalam. Ia pun melakukan hal yang sama, namun tak pamer begitu.
Liu sendiri terdiam, tanpa sadar ia sudah berada di jarak aman.
'SISTEM KAMU NGEBAJAK TUBUHKU YA!?'
[Demi keamanan Tuan] Sistem tak bisa fokus memulihkan kekuatan kalau situasinya tegang begini.
Lagipula perbuatannya itu memang demi tuannya agar terhindar dari bahaya pertarungan antar kedua makhluk ini.
'Nona Yahuan....' Liu hanya bisa menatap dari jauh, nona itu seharusnya tak ikut campur masalah ini, namun entah mengapa beliau sampai seperti ini.
Kenapa? Liu pikir makhluk setengah dewa tak punya waktu dan sibuk sama urusan masing-masing. Berkaca dari Tuan Sun sih.
Sret.
Pria serba hitam itu terdiam dan menurunkan tangannya, aura kekuatan Qi-nya benar-benar diluar nalar.
"NONA COBA ANGKAT TANGANNYA!" Liu menyemangati dari jauh.
"Cara kerjaku bukan begitu...." Yahuan tersenyum kecil. Yah bagus juga dapat dukungan seperti ini.
__ADS_1
"Eh?" Liu pikir kalau mengangkat tangan otomatis dapat kekuatan tenaga dalam yang besar.
"Hm. Bodoh." Pria serba hitam itu terhibur dengan apa yang dilihatnya.