Sistem Pendekar Terkuat

Sistem Pendekar Terkuat
Sebuah Kebenaran


__ADS_3

Bahkan keributan pun tak terhindarkan, orang-orang di bar keluar dan bersiaga, tapi kabur setelah melihat monster raksasa ini.


‘OKE INI NGGAK BAIK-BAIK SAJA.” Liu pikir kekacauan sudah mereda dan orang-orang di bar bisa santai-santai, namun ternyata tidak begitu!


HUP!


Seorang perempuan berjubah merah turun dari atas monster anjing berkepala tiga itu.


‘MUSUH!?’ Liu mengerahkan kuda-kudanya, bersiap untuk apapun yang terjadi.


[Itulah Tuan]


‘ITULAH APANYA?’


[Monster terkuat dari Alam Monster]


‘OH!?’ Jadi anjing berkepala tiga mengerikan itu!?


Tak disangka ia akhirnya beremu salah satu monster terkuat itu!


[Bukan salah satu Tuan, tapi dialah yang Tuan cari]


‘BUKAN SALAH SATU!?’


[Dialah ‘The Big Three’ Tuan]


“HAAAAH!?” Liu tak bisa menahan kekagetannya.


“Hei, nak kau baik?” Kakek An langsung menunjukan kepeduliannya.


“Ah, maaf, kadang aku suka kaget sendiri Kek.” Liu tersenyum kecil.


Kakek An terdiam, yah tidak heran anaknya sendiri kaget. Soalnya dihadapannya ada monster mengerikan sih.


‘YANG BENER KAMU SISTEM!?’


[Benar Tuan, makhluk besar itulah yang berjaga di alam monster tingkat 3—1]


‘….’ Jadi begitu ya. Liu paham sekarang.


‘JADI YANG DIHITUNGNYA KEPALANYA!?’ Kepalanya tiga sih.


[Benar Tuan. Berhati-hatilah]


Bahkan sistem sampai memberi peringatan begitu. Artinya memang ini serius sih.


Kesimpulan yang sederhana. Liu pikir ‘The Big Three’ adalah tiga monster kuat, tapi malah satu monster dengan tiga kepala.


“Kaisar Cina,” gumam Kakek An.


“KAKEK TAHU?”


‘Hmph, jangan remehkan orang tua nak, aku tidak kudet.” Kakek An masih up-to-date kalau soal berita yang terjadi di dunia.


Siapa lagi dalang yang bisa disalahkan atas kejadian ini? Kakek An, seorang pendekar tingkat langit yang tua pun tahu soal ini.


“Kupikir dia orang baik,” komentar Tetua Api. Yah selama kepemimpinan kaisar, kondisinya damai sejahtera.


“Gara-gara sekte sesat.” Ying membuka mulutnya, perkataan yang pedas dan menusuk.


“Kau benar.” Tetua Api tak menyangkalnya, kenyataannya begitu sih.


‘TAPI SEKTE API NGGAK MEMIHAK MONSTER ATAU KAISAR.” Liu malah bingung sendiri. Yah anggak saja tak semua sekte sesat berpihak pada sekte belati merah, daripada pusing mikirnya.

__ADS_1


TAP!


“Kalian membicarakanku?” Suara wanita terdengar, dan muncullah seorang berjubah merah dari atas.


“….” Liu terdiam, musuh mereka bukan hanya ‘The Big Three!?’


“!” Yin terdiam, tubuhnya gemetaran dan raut wajahnya berubah pucat.


“Kenapa kalian tidak berpihak padaku sekte api?” Siara wanita dibalik jubah merah itu terdengar serius.


“Aku mengikuti apa kata pimpinan,” jawab Tetua Api.


“Bukankah harusnya kalian tunduk padaku?” Suara seorang berjubah merah itu makin serius, entah kenapa situasi jadi memanas.


“BICARA SESUKAMU SEKTE BELATI MERAH!” Shuwan menunjuk ke depan, tak tahan dengan semua ini.


Shuwan bukan tipe orang yang taat peraturan, ia akan melakukan apa yang menurutnya benar! (meski berlawanan dengan prinsip sekte sesat sih).


‘SEKTE BELATI MERAH!? SEKTE PUNCAK ALIRAN SESAT!?’ Liu terdiam, berarti dia itu!?


“Akhirnya aku menemukanmu.” Seorang berjubah merah itu mengganti topik pembicaraan.


‘Menemukan?’ Liu terdiam, sementara dari analisisnya, entah kenapa seorang berjubah merah iu seolah mencari seseorang.


[Memang dia membicarakan seseorang Tuan]


NAH KAN BENAR.


Pertanyaaannya siapa yang dimaksudnya?


Srett.


“Sudah lama Yin.”


“Yin-jie?” Ada hubungan apa rekannya dengan sekte sesat puncak?


Fang Yin terdiam, ia makin bergetar, tubuhnya keringat dingin dan ia merasa banyak pasang mata melihatnya.


“Beruntung sekali, Pendekar An juga ada di sini.”


‘KAKEK AN!?’ Kenapa sekte sesat puncak juga menyebutkannya!?


Apa jangan-jangan ini kemampuan sekte sesat puncak? Mereka bisa tahu identitas lawan bicaranya!?


“Serahkan kitab itu dan senjata belati merah.” Wanita berjubah merah itu mulai berjalan mendekat.


DIA JUGA TAHU SOAL KITAB DAN SENJATA BELATI MERAH!?


Liu terdiam, inilah sosok mengerikan dari sekte sesat puncak. Tanpa basa-basi ia meminta apa yang diinginkannya dan kekuatan Qi jahat pun langsung terkumpul saat ini juga!


Sret.


Fang Yin maju ke depan, memegang belati merah itu.


“YIN-JIE!?” Apa yang direncanakannya!? Kenapa dia terihat tidak tegar dan seolah tidak tahan dengan semua ini!?


Liu paham situasi memang panas dan aura negatif benar-benar tidak menyenangkan, tapi bukan berarti harus menyerah di sini juga!


“Bagus nak, kemarilah.” Wanita berjubah merah terdengar senang.


‘NAK!?’ Apa Liu tak salah dengar!?


Yah, itu sebutan biasa bagi orang tua pada yang muda, tapi musuh tidak seharusnya menggunaka panggilan yang dekat begitu!

__ADS_1


GREP.


Dengan sigap Liu memegang tangan rekannya, terlalu bahaya maju seorang diri.


“Liu-ke.” Yin menatap dengan penuh arti.


Liu tak mengerti apa arti tatapan itu, namun yang pasti ada suatu hal yang menunggu dungkap.


“Yin, apa kau mau melawan ibumu?” Nada mengancam kembali terdengar.


“IBU!?” Liu tak bisa menahan rasa kagetnya.


Fang Yin tertunduk, ia tak pernah menceritakan ini sebelumnya.


‘Pendekar sekte sesat puncak itu… ibunya!?’


Sebuah kenyataan mengejutkan bagi siapapun yang mendengarnya.


‘Kenapa?’ Bukannya mendramatisir, tapi Liu sama sekali tidak menyangka akan hal ini.


Kakek An terdiam, dari ekspresi anaknya, sepertinya memang dia baru pertama kali tahu akan hal ini.


“Maaf Liu-ke,” lirih gadis berambut coklat itu. Ia tidak berniat terus menyembunyikan identitasnya, tapi pada kenyataannya memang sulit membuka dirinya sendiri.


Hidup dengan fakta ia adalah putri sekte belati merah, sekte sesat paling berbahaya bukanlah hal yang mudah.


Bukannya ia mendapat hormat dari sekte besar lain, namun yang terjadi sebaliknya. Di masa kecilnya ia harus berlatih keras dan memenuhi ekspektasi orang terhadapnya.


Tidak menutup kemungkinan pendekar aliran murni memburunya dan berusaha memusnahkannya. Fang Yin hidup di bawah ketakutan dan rasa tertekan.


Namun ibunya, pemimpin sekte sesat puncak, memberinya kebebasan dan akhirnya Ying pun hidup diluar sekte berbekal belati merah pemberian ibunya. Dan kemudian takdir mempertemukannya dengan seoang pendekar tingkat langit yang sedang dalam pelarian, Pendekar An.


Dari sejak kecilnya, Fang Yin berguru dengan Pendekar An. Ia menemukan lagi tujuan hidupnya, bukan untuk mengikuti jejak ibunya, melainkan jalan yang benar-benar berbeda.


Fang Yin sudah tahu rasa sakit dan penderitaan yang diakibatkan oleh perselisihan sekte, terlalu banyak hal yang direnggut dan tidak ada yang menunggu selain kesedihan yang mendalam.


Yin bertekad jadi seorang yang bisa berguna, seorang yang bisa berdiri dan menolong orang lain ditengah penderitaan dan rasa sakit. Itulah tujuan hidupnya.


Pendekar An sudah mengajarinya banyak hal. Dan di sisi lain, meski An tahu muridnya adalah putri sekte paling bahaya yang ada di dunia, ia tetap senantiasa mengajarinya sepenuh hatinya bahkan menganggapnya sebagai anak sendiri.


Melihat Yin, membuatnya teringat pada Liu, sikap mereka memang berbeda, Yin pendiam dan lembut, sebagaimana gadis biasanya, dan Liu berisik dan penuh semangat, sebagaimana laki-laki biasanya.


Pasca kehilangan Liu, Pendekar An kehilangan tujuan hidupnya juga. Ia merasa hampa dan hidup dalam penyesalan karena tak bisa menyelamatkannya.


Bertemu dengan Yin membuatnya tergugah, ia masih bisa jadi orang tua yang berguna, di sela-sela waktu, An berharap ia bisa memutar kembali waktu agar bisa bertemu dengan anaknya lagi.


Dan sekarang tak perlu repot-repot memutar waktu. Keajaiban terjadi dan ia bisa bertemu kembali dengan anaknya.


Kehadiran Yin, adalah anugerah juga untuknya, ia bisa kembali berharap dan melihat dunia. “Yin.” Suara orang tua itu terdengar berat.


Pendekar An sudah mendengar rencana gadis itu dari awal, ia tidak akan kembali pada orang tuanya.


Berkaca dari apa yang dia lakukan, jelas-jelas dia menyerahkan dirinya karena tak mau orang lain ikut campur urusan ini.


“Yin-jie, kenapa?” Liu terdiam, Ia tak percaya dengan semua ini.


“A- aku….” Yin tak meneruskan perkataannya.


Sret.


“!” Dengan sigap Ying mengarahkan pedang es ke leher Yin.


“NONA YING!?”

__ADS_1


__ADS_2