Sistem Pendekar Terkuat

Sistem Pendekar Terkuat
Dewi Hua


__ADS_3

[Tenang saja Tuan]


'Lha?' Kok gitu?


[Dewi Xinmu bukan dewa lemah Tuan]


'....' Liu paham. Dewa Racun sekarang begitu peduli padanya bahkan sampai memberinya nasihat begini.


Namun lebih percaya sama sistem.


Akhirnya Liu menghabiskan waktu mengobrol ringan dengan sang dew. Ternyata dewa racun sosok pendengar yang baik juga.


Liu pikir akan sulit mengobrol dengannya, mengingat awalnya dewa hemat sekali menggunakan kata-katanya.


Namun impresi awalnya tak bertahan lama, siapa sangka sang dewa racun bisa sepeduli ini?


Akhirnya dewa pun pamit setelah memberikan beberapa informasi, ia tidak menyangka pemuda ini mau mengampuni perbuatannya.


Kini Liu saja yang sendirian, ia melakukan urusannya, membuka peta dan melihat sekarang ada ikon dan lambang, seperti peta versi sebelumnya.


Ini jadi starter pack yang lumayan oke.


Sistem terkesan tuannya tidak menghukum dewa, padahal dewa layak mendapatkannya.


Dengan begitu dewa bisa jera akan perbuatannya, namun sistem yakin tuannya sudah mengambil pilihan yang tepat.


Tanpa terasa sang surya mulai menampakkan dirinya, dan kini area penuh bunga ini kembali terlihat cantik.


Dan ngomong-ngomong efek pertarungan tadi sudah hilang. Tidak ada lagi kerusakan atau apapun.


Blugh.


Liu membaringkan dirinya diantara bebungaan indah. Ia masih bisa mencium bau menyengat, namun tak perlu khawatir soal racun lagi.


Kok malas-malasan? Sistem pikir tuannya bakal siap-siap melanjutkan perjalanan lagi.


Liu berbaring dan melihat langit. Tatapannya mengisyaratkan ia butuh ketenangan.


Memikirkan tujuan besar membuatnya gugup dan terkadang takut. Kini ia berusaha menjernihkan pikirannya.


Lebih mudah untuk pesimis dibanding optimis. Namun kenyataannya tidak selamanya hal yang mudah baik.


Kenyataannya Liu ingin buru-buru dan tak mau menghabiskan waktunya, namun yang ia lakukan berlawanan dengan keinginannya.


Ini seolah ia sedang menghindari tanggung jawabnya dan malah enak-enakan santai menikmati langit.


'Sistem.'


[Ya Tuan?]


'Apa kita bisa bertemu dewi?'


[....] Sistem tidak menyangka tuannya menanyakan hal ini. Pasalnya ini baru pertama kalinya juga sih.


[Ada apa Tuan?] Tidak biasanya tuannya meragukan diri begini.


'Ah, aku hanya takut berekspektasi ketinggian.' Liu sadar ia hanyalah makhluk asing dengan tujuan yang begitu tinggi. Ia hanya sedang melihat ini dari sisi realistis saja.


Tuannya kena mental? Entah kenapa sistem bisa merasakannya begitu. Apa mungkin perkataan dewa tadi menghantuinya?


Kenyataannya memang benar begitu. Meski sudah diyakinkan sistem, entah kenapa Liu merasa ada bagian dirinya yang menganggap semua ini sia-sia belaka.


Kenapa ia berjuang untuk sesuatu yang sangat tinggi begini?


[Tidak ada yang sia-sia Tuan]


"...."


[Akan ada jalan selama Tuan percaya] Sistem terdengar bijak, namun apa yang dikatakannya tidak salah juga.


Kenapa ia meragukan dirinya? Apalagi setelah mengalami semua yang terjadi ini? Bukankah lebih baik makin percaya dan maju demi mewujudkan tujuannya?


Sorot mata Liu tidak terlihat lemah lagi sekarang. Tekadnya menguat kembali.


HUP.


Liu meloncat dan berdiri kembali, ia sudah lebih tenang sekarang.


'OKE.' Sudah cukup merenungnya, saatnya beraksi kembali!


Sret.


Liu membuka peta lagi dan melihat kemana ia harus pergi sekarang.


Shhhh....


Udara kencang tiba-tiba menerpanya, Liu jadi agak kesulitan melihat petanya....


"Hm?" Ada salah satu bunga yang tiba-tiba mendekatinya.


Liu mengantongi kembali petanya dan melihat bunga itu, entah kenapa yang satu ini beda dari yang lain.


Liu memegang bunga itu dan seketika itu juga tubuhnya bersinar. Mungkin saatnya panik, namun Liu memilih untuk tetap tenang dan seketika itu juga ia menghilang, meninggalkan tempat ini.


***


SWWWUUSHH!


Liu membuka matanya, dan terdiam melihat dimana dirinya sedang berada sekarang.


Ia berada di depan toko bunga. Itu jelas terukir dari tulisan dan gambar yang ada di pintu masuk.


Liu melihat ke sekitarannya, ada area bebungaan yang sama tak jauh dari sini. Sepertinya ia sudah berteleportasi dan tiba di tempat ini.


'FASILITAS YANG BAGUS SIH INI.' Liu tak menyangka ia dapat akses cepat meninggalkan area dewa racun. Mengingat areanya sangat luas sih.


Dan sekarang kenapa ia berakhir di depan toko ini?


Liu tak melihat bangunan lain di sini. Cukup aneh juga ya.


Ia masih di area rerumputan hijau.


Mungkinkah ini dewa racun tinggal di sini?


Hanya ada satu cara untuk memastikannya.


Liu mengetuk pintu toko itu.


Namun setelah beberapa saat belum ada tanda-tanda yang akan membukakan pintu.


'LIBUR?' Liu tak tahu jadwal bukanya juga sih.


Klek.


"!" Pintunya dibuka!


"Selamat pa-"


"Aaah!" Sosok perempuan berambut pink terlihat terkejut. Beliau memakai pakaian pelayan.


'LHO.' Kok bukan dewa racun?


"Ma- masuklah!" Dengan sopan dan semangat perempuan cantik itu mempersilahkan customernya masuk.


'....' Liu heran dan penuh pertanyaan, mungkinkah ia salah toko?


Tapi bagaimana pun hanya ada satu bangunan di antara padang rumput dan areal bebungaan sih. Nggak mungkin salah juga.


"Maaf...." Kalau begitu ia tak ada urusan di tempat ini dong ya.


"Ayo masuk."

__ADS_1


GREB!


"Eh!?" Perempuan itu malah narik tangannya, memaksanya masuk.


*


Liu terdiam, ia terkesan melihat betapa banyaknya koleksi bunga indah di tempat ini, ruangannya luas, bersih, dan nyaman, bahkan ada musik latar belakang yang menunjang kenyamanan pengunjung.


Rasanya agak kasar juga pergi begitu saja setelah berniat mengunjungi tempat ini.


Yah nggak salah juga kan berkunjung ke sebuah toko? Liu bisa mengapresiasi keindahan yang sayang dilewatkan mata ini.


"Silahkan duduk!" Perempuan cantik itu dengan sigap menyiapkan kursi.


Liu baru sadar ada kursi dan meja. Kok kek tempat nongkrong ya?


Jangan-jangan toko rangkap tempat nyantai?


Yah meski begitu tak bisa dipungkiri suasana tempat ini nyaman dan bikin betah.


Liu duduk di kursi yang disediakan dan kembali melihat sekelilingnya.


'YANG LAIN MANA?' Kok cuman dirinya seorang sih?


"Ini susu hangat dan roti untuk memulai hari!"


"!" Dengan sigap perempuan itu menaruh makanan di meja, begitu gesit dan malah terkesan tergesa-gesa.


'Kok jadi merepotkan begini ya?' Padahal tujuannya datang ke sini buat lihat-lihat aja.


Liu terdiam, dengan sigap menyeruput susu dan rotinya. Dalam sekejap mata sudah habis lagi.


Liu memakai tisu yang disediakan. Pelayanan toko ini sungguhlah ramah.


"Tuan menikmatinya?" Perempuan cantik itu kembali lagi.


Liu tersenyum dan mengapresiasi pelayanan yang hebat ini.


Dan di saat yang bersamaan pula menanyakan soal tempat ini.


Dengan cepat perempuan cantik ini menjelaskannya bahwa ini toko bunga.


'....' Itu sudah jelas sih.


"Tuan hebat sekali tadi!" Perempuan cantik itu melipat tangannya dan tersenyum.


'Hebat?' Satu-satunya yang ia lakukan hanyalah makan roti dan minum susu sih.


[Maksudnya bukan itu Tuan]


"Ngomong-ngomong dimana staff yang lain?" Tak mungkin tempat ini hanya dikelola satu orang saja kan?


"Hm? Hanya ada aku Tuan."


"...." SENDIRI?


Liu terkesan sih bagaimana wanita cantik ini mengelola bisnisnya sendiri, sulit dipercaya namun  beliau tak kelihatan bercanda.


Kalau begitu pasti ada bos-nya yang bertanggung jawab kan?


"Aku pemiliknya Tuan." Suaranya ramah dan lembut.


'Begitu ya.' Liu mengangguk-angguk kecil.


TUNGGU DULU....


Apa itu berarti....


Perempuan cantik berpakaian pelayan ini....


"DEWI!?" Liu terdiam dengan dugaan dugaan kuat.


Liu tak menyangka sang dewi berpakaian pelayan begini!


Terlebih lagi ia lupa pastilah kebanyakan makhluk yang ia temui kalau bukan dewa ya dewi. Atau bisa juga naga!


[....] Sebenarnya masih banyak variasi makhluk di alam ini. Namun yah seiring dengan berjalanannya waktu tuannya pasti akan mengetahuinya juga.


"Aku Hua. Senang bertemu denganmu Tuan Liu." Sang dewi menundukkan badannya dalam.


"...." Ini tak seperti dugaannya. Bukannya dirinya yang harus menghormati dewi, lah kenapa ini sebaliknya?


Bahkan beliau tak segan memanggilnya tuan dari awal.


TIDAK MASUK AKAL.


[Tuan tidak suka?]


Bukan begitu juga sih. Lu tak masalah dengan panggilan biasa, namun panggilan hormat? Rasanya berlebihan.


"Panggil saja nama." Liu agak keberatan.


"Tidak mau, Tuan Liu kan dewa hebat!" Dewi Hua menggelengkan kepalanya bersikeras ingin tetap memanggilnya seperti itu.


KOK NGEYEL.


Yah kalau begitu apa boleh buat.


Meski agak aneh dan tak layak, Liu harus membiasakan dirinya.


TAPI TUNGGU DULU.


Tadi dewi bilang apa?


[Dewi Hua memuji Tuan, Tuan] Sistem menjelaskan.


Memuji? Liu ingat jelas ada kalimat 'dewa' di perkataannya dewi tadi.


[?] Sistem terheran, itu memang bentuk pujian dewi pada tuannya.


Menyamakan dirinya dengan dewa itu terlalu berlebihan deh. Liu senyam-senyum sendiri tak enak.


Sistem gatal ingin memberitahu tuannya soal kenyataan. Tapi yah biarlah tuannya yang sadar sendiri.


Tuannya sudah bisa dianggap dewa bahkan melebihi dewa sekalipun.


Tapi sejujurnya Liu tak melihat dan merasakan keberadaan dewi satu ini tadi.


Lantas kenapa sang dewi bisa tahu ia sedang bertarung dengan dewa racun?


"Aku kan dewi bunga." Dewi Hua tersenyum kecil.


"Dewi bunga?" Jadi itulah kenapa dewi punya toko bunga?


Yah ini masih masuk akal sih daripada dewi cinta yang buka toko.


Emangnya lagi tren dewa-dewi buka toko begini?


[Sepertinya tidak begitu Tuan]


Hanya saja kebetulan Dewi Hao membuka tempat untuk menunjukkan keahliannya di bidang per-bungaan.


"Tempat penuh bunga yang Tuan lihat itu hasil karyaku lho."


"...."


"WAH!?" Liu tak bisa menahan kekagetannya. Bukannya itu markas khusus dewa racun ya?


"Kami hanya bekerja sama saja." Dewi menjelaskan.


'Kerja sama?' Dewa-dewi bisa kerja sama juga?

__ADS_1


Dengan cepat dewi menjelaskan kerja sama bagaimana yang terjalin diantara mereka berdua.


'Waah, begitu.' Liu jadi paham sekarang.


Ternyata kerja sama demi membuat alam dewa menengah tingkat akhir lebih aman.


Dewa racun butuh bantuan dewi bunga, yang akhirnya jadilah padang bunga beracun mematikan.


Dewi bunga tak bisa berkontribusi banyak kalau hanya mengandalkan kekuatannya sendiri, jadilah dibuat kesepakatan seperti ini.


Liu terkesan bagaimana dedikasi dewa demi menjaga wilayahnya tetap aman.


Liu pikir dewa adalah sosok individualis yang beraksi sendirian, namun ternyata tak seperti itu.


Jadi itu alasannya kenapa ia bisa berpindah ke tempat ini? Karena kekuatan dewi?


"Yap." Dewi tersenyum mengiyakan. Dewi sendiri yang memanggilnya ke tempatnya.


"Akhir-akhir ini tokoku sepi." Dewi menyenderkan kepalanya di tangan. Terlihat jelas beban ada dipundaknya.


KEKNYA MASALAHNYA SAMA.


Pasalnya dewi cinta juga mengeluhkan hal yang sama.


"Y- yah mungkin dewa lain sibuk ya." Liu tak tahu alasan sebenarnya juga.


Tak mungkin dewa terus santai-santai dan mengabaikan tugasnya.


"Haaah." Dewi Hua menghela nafas.


"Yah, setidaknya aku punya tamu spesial kali ini." Dewi tersenyum kecil, ia langsung semangat lagi.


"Maaf dewi, tapi saya tak bisa lama-lama di sini." Liu senang bisa melihat macam-macam bunga indah dan dijamu hangat begini. Namun ada hal penting yang harus dilakukannya.


"...." Dewi bunga terdiam, ia bisa melihat sorot mata penuh tekad dan kedisplinan dari pemuda ini. Ia sudah melihat semua yang terjadi sebelumnya.


Dewi melipat tangannya di meja dan menatapnya seksama, situasi mendadak jadi serius. "Ada hal yang harus diketahui Tuan."


"...." Liu melakukan hal yang sama dan menatap serius juga. "Apa itu Dewi?"


"Keadaan Dewi Xinmu tidak terlalu bagus Tuan."


'....'


ITU SIH SAMA AJA KAYAK YANG DIKATAKAN DEWA RACUN.


"W- wah." Liu berusaha terlihat peduli, meski kenyataannya tidak mudah sih.


[Tuan jangan kena mental lagi]


'IYA SISTEM.' Sesi merenungnya sudah selesai kok.


Akhirnya Liu tak punya pilihan lain selain mendengarkan wejangan dewi, tips dan trik, strategi bertarung dan topik lainnya.


Liu diam dan mendengarkannya dengan seksama. Ia dengan senang hati membuka pikirannya untuk info yang berguna.


Dengan semua kebaikan dewi ini Liu bisa yakin dewi satu ini tak mengincar nyawanya. Jadi nggak perlu curiga apapun.


Sret.


Dewi memberikan sesuatu. "Tuan akan butuh ini."


"?" Liu terdiam. 'Cincin?' kenapa dewi memberikan benda ini?


"Cincin ini akan membantu Tuan menghadapi tantangan yang akan datang."


[Cie-cie....]


'CIE APAAAN?' Liu tak mengerti apa yang dimaksud sistemnya.


"D- dan pastikan untuk menjaganya ya Tuan." Nada suaranya jadi rendah seolah malu.


'KOK JADI MERAH.' Kok raut wajah dewi bisa berubah secepat itu ya? Mengingatkannya pada sang putri es.


"Baiklah. Semoga perjalananmu berhasil Tuan!" Dewi mengakhiri perbincangan ini dengan semangat.


Liu tersenyum kecil dan berterima kasih.


Sementara ia masih heran dan penasaran kenapa Dewi Hua berdandan seperti ini? Biasanya kan para dewi tampil elegan dengan gaun dan pakaian terhormat lainnya.


[Dewa-dewi punya kebiasaannya masing-masing Tuan.]


Begitu ya.


Memang sosok hebat tak selalu harus terlihat mewah. Mereka bisa juga tampil sederhana dan apa adanya.


"Pakai dong." Dewi Hua ingin melihat pemuda itu memakainya.


"Eh?" Harus dipake sekarang?


[Sepertinya begitu Tuan]


Padahal Liu hanya mau menganggapnya sebagai oleh-oleh saja, namun karena dewi yang minta, ia akan melakukannya.


SRING!


Tiba-tiba cincin itu bersinar terang! Ini cukup mengejutkan!


"DEWI?" Liu butuh penjelasan, dewi tak mengatakan apapun soal cincin yang bersinar!


Sang dewi bunga hanya tersenyum kecil, sementara cahay putih makin bersinar terang seolah menelannya....


***


"HAH!" Liu membuka matanya, ia masih kaget apa yang terjadi tadi.


Liu terdiam, ia melihat sekitarnya. Banyak pepohonan yang besar di sekelilingnya.


'Hu ... tan?" Kenapa ia berakhir di tempat ini sekarang?


Sring.


Sementara itu cincin yang dipakainya masih bersinar, namun tak seterang sebelumnya.


Sret.


Liu melihat sekelilingnya dengan seksama.


[Menganalisis ... Tuan ada di hutan sekarang]


"...."


'Terima kasih?' Liu senang sistemnya memastikan mereka benar-benar di hutan sekarang.


Sudah lumayan lama sejak ia menginjakkan kaki di hutan.


Yah pemandangan alam memang tak ada bosan-bosannya untuk dinikmati.


[Tuan pecinta alam?]


'Hanya penikmat alam saja.'


[Apa bedanya Tuan?]


'OKE, sekarang kenapa kita ada di sini dan kenapa cincinnya bersinar?' Liu langsung ke poin pentingnya.


[Inilah misteri yang harus Tuan pecahkan]


"...." Bener juga sih.


NGGAK ADA CLUE ATAU APA DARI SISTEMNYA NIH?

__ADS_1


__ADS_2