
Liu terdiam, ia bisa merasakan energi dewa di seluruh tempat ini.
Yah Liu sendiri tak tahu apa yang akan terjadi kalau tempat ini hancur.
Dan sejujurnya baru tahu juga alam dewa bisa mengalami kerusakan parah yang bahkan dewa sendiri yang turun tangan.
Sudah menjadi kewajiban bagi dewa untuk menjaga wilayah yang dipercayakan padanya. Itulah alasan kenapa sangg dewa tengkorak rela men-delay kemenangannya.
Padahal di satu kesempatan tadi ia bisa menyelesaikan misi dari dewa kematian, namun itu jadi tidak berarti karena ia kehilangan apa yang dipercayakan padanya.
Bisa jadi dewa dilema karena hal ini.
[....] Sistem sama sekali tidak ambil pusing soal kehancuran tempat, namun tak bisa dipungkiri kekuatan dewa memang sudah jauh diatasnya dan bisa membuat tuannya kalah begitu saja.
Namun untunglah tidak terjadi hal itu.
Rasanya seperti penghinaan bagi sistem. Namun apa daya sistem tidak bisa seenaknya mengumpulkan kekuatan bagi tuannya, atau hal yang tidak diinginkan bisa terjadi.
Kini situasi jadi hening setelah saling bertukar serangan tadi.
Dewa tengkorak menghabiskan banyak energi akibat perbuatannya tadi, yang tentunya ia tidak bisa langsung pulih begitu saja.
Bahkan untuk ukuran dewa sekalipun, kekuatan pemuda ini juga berkontribusi besar memperlambat pemulihan kekuatannya.
Beberapa pukulan pemuda itu masuk padanya dan lagi-lagi mengacaukan energi dalam tubuhnya.
Liu terdiam, meski tidak terlihat, ia tahu sang dewa kelelahan dengan apa yang terjadi tadi.
"Dewa...." Liu membuka mulutnya lagi.
"Biarkan aku lewat." Dan langsung pada intinya.
Perlahan jubah aura biru Liu juga menghilang, sebagai tanda energinya terkuras juga.
Namun sorot mata dan keseriusannya tidak memudar sama sekali.
Ghost Radar terdiam, pemulihan kekuatannya berjalan jauh lebih lambat dari sebelumnya, berbanding terbalik dengan pemuda itu.
"Kau...." Pemuda itu pasti melakukan sesuatu dari tekniknya sebelumnya.
Liu terdiam, sang dewa lagi-lagi tidak meresponnya dengan serius. Apa memang ia bener-bener nggak bisa ngobrol sama dewa ya?
Pemuda itu bisa saja menyerang dadakan, dan kemungkinan besar itulah yang terjadi.
Insting dewa lebih tajam dari kebanyakan makhluk alam lain. Semakin tinggi tingkatannya semakin mantap juga instingnya.
HUSH!
Tanpa pikir panjang Liu melesat begitu saja
Liu bersiap melancarkan pukulannya. Bukan tidak mungkin ini bisa jadi akhir yang tidak diinginkan oleh pihak lawan!
Ghost Radar terdiam, benarlah instingnya itu.
Semunya sudah berakhir. Dengan kekuatannya yang sekarang ia tak bisa menghindar, apalagi menahannya.
Pemuda itu unggul dalam kecepatan pemulihan tenaga, dia benar-benar makhluk yang aneh.
HUSH!
Pukulannya terhenti tepat di depan wajah sang dewa!
Tidak ada hempasan angin kuat ataupun dentuman dashyat. Hanya ada hembusan udara kecil saja!
Sang dewa terdiam, ia tidak menyangka pemuda itu menghentikan serangannya.
__ADS_1
Padahal dia sama sekali tidak punya alasan untuk melakukannya. Dia sudah menang dan punya hak mengakhiri semua ini.
Namun dia tidak melakukannya.
'MASIH SEMPAT." Batinnya jadi gugup!
Kenyataannya Liu memang greget ingin menghajar dewa, namun keputusannya berubah.
Kalau saja terlambat sedikit, pasti semuanya berakhir berbeda. Liu tak mau menyesali keputusannya.
Dewa terdiam, Liu pun terdiam, situasi begitu hening, tidak ada yang tahu apa yang akan mereka lakukan.
Apakah dewa tengkorak akan comeback dan menyerang Liu? Ataukah Liu akan melanjutkan urusannya?
Kalau mau dewa bisa saja melakukannya, mengingat kini kekuatannya mulai mengalir, tidak mampet lagi.
[Hati-hati Tuan] Sistem tidak percaya dengan dewa satu ini, dia tentu bisa memanfaatkan kesempatan besar dari apa yang dilakukan tuannya ini.
Liu terdiam, ia berusaha tenang. Di saat begini ia harus bisa mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.
Dengan cepat Liu menjelaskan maksudnya.
Bahkan setelah tahu respon dewa benar-benar minim, Liu tetap mencobanya.
Sang dewa tengkorak terdiam, sejauh ini tidak terlihat aneh dan hanya mendengarkan apa yang Liu katakan.
"...." Namun belum ada respon sama sekali dari dewa satu ini.
Liu terdiam, ia sudah menjelaskan tujuannya dan meminta dewa mengerti. Namun kalau dewa tak mau mengerti ya mau gimana lagi.
Kemungkinan pertarungan akan berlanjut. Liu tak menyesal sudah melewatkan kesempatan tadi.
Kini sang dewa sepertinya sudah bugar kembali.
Shh....
Liu paham, itu berarti hanya ada satu-satunya jalan....
"Kau ... akan butuh ini." Dewa mengangkat satu tangannya.
"Eh?" Akhirnya dewa mengatakan hal lain!
Swush.
Muncul api kebiruan dari tanngan dewa.
'Api?' Jangan-jangan dewa mau membakarnya ya?
[Sepertinya begitu Tuan]
'YANG BENER!?' Bisa mati dong?
Dengan singkat dewa menjelaskan apa maksud kelakuannya ini.
'Ohh.' Liu akhirnya paham.
Inilah syarat untuk maju ke alam dewa tingkat selanjutnya.
'KITA BISA MATI DONG SISTEM.' Liu baru tahu ia harus dibakar alias 'dibersihkan' dulu biar bisa lanjut.
[Tidak ada bedanya sama mandi lava ya Tuan] Sistem membandingkan.
'Jadi maksudmu mending mandi duluan? Sopan kah begitu?' Liu kurang setuju sih.
Tapi tidak bisa dipungkiri, lava dan api keunguan sang dewa punya panas yang sama.
__ADS_1
Yah bisa dibilang beda sedikit sih.
Yang pasti kekuatan api dewa lebih panas tentunya.
Liu terdiam, dewa ternyata tidak menyerang dan malahan menawarkan kekuatan apinya untuk 'membersihkannya'.
Tapi bukannya itu agak mencurigakan ya?
Yah, sang dewa yang mengalah? Rasanya terlalu indah untuk jadi kenyataan.
Apa mungkin ini cara terselubung dewa demi menumbangkannya?
Yah siapa juga yang tak curiga sama syarat yang harus dijalani ini?
Bisa jadi semua ini hanya taktik dewa saja!
Dewa menggunakan cara lain demi mencapai tujuannya dan strategi menjebak lawan adalah cara yang efektif.
Liu mengambil nafas pendek, hampir saja ia terbuai dengan tawaran dewa.
"Maaf dewa, tapi aku tak berencana mati di sini." Liu menatap penuh keseriusan.
Ghost Radar terdiam, pemuda itu terlihat tidak percaya. Apakah dirinya semencurigakan itu?
"Kau tidak bisa melanjutkan perjalananmu, sebelum di 'bersihkan'." Sang dewa menatap serius juga.
Nada suaranya agak berbeda, dan sulit menganalisis apakah dewa serius atau tidak.
'....' Sial, godaannya makin besar. Liu berusaha mengendalikan dirinya.
Entah kenapa perkataan dewa terdengar begitu menyakinkan.
Kemampuan persuasifnya benar-benar hebat!
'Sistem.' Liu tak bisa memutuskannya sendiri.
[Aman Tuan]
'TADI KEKNYA KAMU CURIGA.'
[Itu hanya bercanda saja Tuan]
'....' Liu terdiam, sistem bisa bercanda juga ternyata ya.
Dari awal sistem susah percaya pada dewa, namun sekarang semuanya berubah.
Sistem tidak merasa adanya bahaya darinya. Akhirnya dia sadar juga.
Liu terdiam, bahkan sistemnya pun percaya, jadi ya begitulah.
'Oke.' Liu tak curiga lagi sekarang.
Yah kalaupun ia bener-bener kebakar dan bertemu dewi langsung ya salahin saja sistem.
[....] Entah sistem merasa dibicarakan.
Pada akhirnya Liu memang mau bertemu dewai, namun bukan dengan cara instan, alias meninggal juga sih.
[Tenang saja Tuan] Sistem berani jamin, tuannya akan baik-baik saja.
"Mohon bantuannya Dewa." Liu menunduk.
Bahkan setelah membuat dewa bertekuk lutut ia masih memberi hormat.
Pemuda aneh kalau kau tanya dewa tengkorak.
__ADS_1
Sang dewa sudah sadar akan kekalahannya dan tidak berniat melanjutkan pertarungan. Pada akhirnya pemuda satu ini memang lebih kuat darinya.
Sang dewa mendekat dan akhirnya mengarahkan tangannya pada bahu Liu, seketika itu juga api biru panas langsung tercipta.