
Cahaya sangat terang langsung menutupi seluruh area lautan, bahkan sampai jauh sekali.
Siapapun pasti sulit melihat kalau silau begini.
Termasuk dewa sekalipun, sinar dan energi miliknya mengaburkan pandangannya. Inilah keindahan mengeluakan kekuatannya yang sebenarnya.
Untuk pertama kali setelah sekian lama Long sedikit menyesal tidak melakukan ini dari awal.
Bersenang-senang dengan target dewa kematian bukanlah ide bagus. Buktinya kedua wajahnya jadi korban. Bahkan setelah menunjukkan wujudnya yang asli, luka yang diterimanya belum juga pulih.
Sret.
Dewa Long melakukan peregangan, bersiap untuk mengambil jasad pemuda itu ... itu juga kalau masih utuh. Kalau tidak, ia bisa mengambil roh-nya saja.
"HWEHEHE." Sisi lain dewa makin terlihat jelas. Tidak peduli penampilannya senior begini. Tidak ada yang melarangnya mengekpresikan perasaannya.
SRING.
Perlahan namun pasti sinar terang mulai menghilang, dan ekpresi dewa makin liar saja.
KREK.
Terdengarlah suara tulang yang tak asing.
"Wah, mantap juga pemanasannya." Seorang pemuda memainkan kepalanya.
"...." Dewa terdiam, raut wajahnya perlahan berubah. Dari sangat percaya diri jadi insecure ekstrim.
Dewa mengangkat kepalanya, ia tak melihat apapun, dan semua yang disekitarnya pun tak ada yang berubah.
SRET.
Belum sempat dewa menurunkan kepalanya, pemuda targetnya sudah ada di depan mukanya, dengan aura kekuatan yang sulit dijelaskan.
'Kenapa?'
"BUKAN SAATNYA DRAMATIS, AYO PULIHKAN DEWI, ATAU...." Liu geram. Ia tak mau menghabiskan waktu lagi.
"HI!" Dengan cepat dewa menarik kekuatannya dan bersujud.
Liu terdiam, ia masih dikelilingi aura kehijauan, dan tak lama kemudian sang dewi datang di sisinya.
Sementara itu dewa hanya menundukan kepalanya di tanah dari tadi.
Hai Tian tidak menyangka melihat dewa laut yang seperti ini. Sebelumnya dirinya dibully habis-habisan sih.
"Syukurlah dewa sudah sadar." Dewi tersenyum kecil.
Tak ada gerak-gerik mencurigakan apapun. Memang benar dewa sudah tak berniat melanjutkan pertarungan ini.
Liu terdiam, ia berusaha menahan dirinya.
Perlahan namun pasti kekuatan aura hijaunya menghilang dari tubuhnya.
Kini yang terdengar hanyalah suara erangan dewa.
Suaranya menandakan ketakutan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Dewi terdiam, ia tidak menyangka akan melihat sisi lain dewa yang sudah menghajarnya habis-habisan.
Dan sang dewi pun berjalan ke depan, melihat seksama dewa laut yang bersujud brutal begitu.
Liu terdiam, ia melihat dewi tak bersimpati sama sekali. Inilah saatnya membalas perbuatan sang dewa.
Tap.
Hai Tian memegang bahu Dewa Long yang bergetar itu.
Tidak ada kekerasan sejauh ini. Malahan terlihat sang dewi berusaha menenangkan dewa.
'Nggak ada balas dendam?' Liu terdiam, ia pikir dewi mau membalas perbuatan jahat dewa.
[Tidak semua dewa sama Tuan]
"...." Liu mengerti, sang dewi pantai memang punya hati yang lembut.
Dewi berdiri kembali. Menenangkannya cukup sulit juga ternyata.
Dewi terdiam, seberapa kuat pemuda ini bahkan sampai dewa pun kena mental begini?
Dan akhirnya Liu tak punya pilihan selain menunggu dewa tenang dulu. Dan akhirnya mereka bisa mengobrol juga.
Inilah saat yang tepat untuk menggali informasi.
Dan tak disangka sang dewa laut cukup kooperatif dan akhirnya urusannya selesai sudah di sini.
Liu bersiap untuk melanjutkan perjalanannya kembali. Liu dan dewi akhirnya meninggalkan dewa yang tersungkur seolah tak punya kekuatan lagi.
"Tunggu...." Terdengar suara dewa yang begitu kecil.
"Hm?" Liu menoleh. Ya kali tetep jalan. Ia tak mau sedingin itu sih.
Dengan cepat dewa menyampaikan urusannya. Yah, intinya ia masih penasaran akan kekalahannya tadi.
Coba pikir, kenapa ada makhluk yang bisa menahan serangan pamungkas dewa yang bahkan bisa menghancurkan apapun dibawahnya?
Itu nggak makes sense bukan?
Liu terdiam. Meninggalkan dewa tanpa jawaban rasanya kejam juga sih.
"Aku hanya beruntung." Liu tersenyum kecil. Dan akhirnya ia dan dewi meninggalkan tempat ini, mereka diselimuti aura kehijauan terang.
Dewa laut terdiam. Ia tidak menyangka bakal mendengar jawaban sesederhana itu.
Seolah jawaban yang sama sekali tidak serius.
Namun pada akhirnya ia tidak mungkin memaksa pemuda itu mengatakan yang sebenarnya. Mana ada yang kalah meminta sesuatu pada yang menang?
Sang dewa laut tertunduk, bukannya sok mendramatisir. Namun pada kenyataannya ia sedang merenung sekarang.
Sekarang ia menyesal sudah berurusan dengan target dewa kematian. Bukannya tujuannya tercapai, malah sebaliknya.
***
__ADS_1
SRING.
Cahaya hijau bersinar terang....
Seketika itu juga Liu dan sang dewi kembali ke bibir pantai.
"Maaf soal ini dewi...." Liu menunduk kecil. Tempat yang indah tadi berubah jadi cukup mengerikan.
Tidak ada lagi lautan indah dengan segala keindahan dari luar maupun dalam. Kini yang ada hanyalah cekungan tanah dipenuhi dengan kehancuran.
Liu bahkan sampai sulit menjabarkannya dalam kata-kata.
[Nanti yang lain tidak mengerti Tuan] Sistem ingin dijelaskan dengan detail.
'Bayangin sendiri aja lah.' Liu nggak mood ngejelasin sih.
"Ah, jangan begitu." Dewi keberatan dengan sikap terlalu sopan begini.
Dewi mengerti dan menjelaskan bahwa yang terpenting adalah bisa selamat setelah mengalami kejadian tadi.
Yah cukup mengejutkan juga sih tadi. Liu tak menduganya, tapi syukurlah semua berjalan baik.
"Semuanya berkat pertolongan dewi." Liu tersenyum kecil.
"Eh?" Dewi terdiam, pemuda ini terlalu banyak memuji deh.
Dan pada kenyataannya ada benarnya juga sih.
Dengan bantuan kekuatan dewi Liu bisa lebih baik mengendalikan kekuatannya.
Lagi-lagi ini sulit dijelaskan sih.
[Nanti yang lain tidak mengerti Tuan]
'Maksa banget sih.' Liu agak risih mendengar sistemnya.
Alasan kenapa ia bisa menghentikan serangann pamungkas dewa tadi....
Ia sudah mengatakannya pada dewa tadi....
'SISTEM KAMU KAN LEBIH NGERTI, KENAPA NGGAK JELASIN AJA SENDIRI?' Akhirnya ide cemerlang muncul.
[Oh iya]
[Tuan bisa mengalahkan kekuatan tadi dengan kombinasi kekuatan sistem dan dewi. Sistem menipu tubuh Tuan agar bisa mengeluarkan kekuatan yang melebihi batas. Dan kekuatan dewi bereaksi lebih kuat lagi dengan meregenerasi cepat luka akibat kekuatan yang Tuan keluarkan. Jadi karena itulah Tuan bisa mengatasi serangan dewa tadi]
'....' Liu baru tahu soal ini, ia bener-bener beruntung sih. Coba kalau nggak ada kekuatan dewi? Ngeri sih itu.
Liu menatap ke depan. Ia tidak bisa terus diam di antara kehancuran ini. Ia harus bangkit!
Dewi terdiam melihat apa yang terjadi. Hal ini terjadi karena ketidakmampuannya menghadapi ancaman, namun apa yang ada dimatanya sekarang bukanlah hal itu.
Menyalahkan diri sendiri adalah jalan termudah, namun tidak ada gunanya sama sekali selain hanya melemahkan saja. Dewi beruntung masih bisa menginjakkan kakinya di alam yang telah dipercayakan padanya.
Memperbaiki semua ini akan jadi PR besar baginya.
Liu terdiam, tidak enak meninggalkan dewi ditengah semua kekacauan yang ia buat ini.
Dengan lembut dewi menjelaskan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Semua yang terjadi ini bukan salah siapapun.
Lagipula tidak sulit bagi dewa memperbaiki kembali alam yang rusak, selama belum musnah sepenuhnya saja.
Liu mengerti. "Semangat ya dewi!" Ia tersenyum lebar.
"Hehehm." Dewi tersenyum lembut juga dan seketika itu juga Liu dipenuhi sinar kebiruan.
"Semoga keberuntungan ada padamu ... Xiao Liu."
Dan ia menghilang seketika itu juga.
***
Shhh....
Liu menutup matanya. Ia dipenuhi oleh kekuatan sang dewa laut.
Sebagai permintaan maafnya, sang dewa memberinya cara agar bisa pindah ke alam dewa dengan lebih mudah.
SHUSH!
Liu membuka matanya. Entah kenapa ia melihat yang putih-putih.
'LHO?' Ia tak menyangka bakal berakhir di sini sih.
Bukannya ini alam pertengahan ya? Liu nggak asing sama tempat ini sih.
JANGAN-JANGAN DEWA BOHONG?
Liu terdiam, bisa saja dewa malah menjebaknya dengan kedok membantunya?
[Tidak begitu Tuan] Sistem tidak setuju. Ia sudah memverifikasi kekuatan dewa dan tidak ada penipuan apapun.
Kalau ada tentu sistem tidak akan membiarkan dewa menolong tuannya.
"HM." Liu memegang dagunya, tipikal orang mikir.
Sebelumnya ia ada di alam dewa menengah awal. Dan kini ia ada di alam pertengahan....
Mungkin bug?
[Ini bukan game atau semacamnya Tuan]
'Oh iya.' Kalau begitu kenapa dong?
Seharusnya ia pindah ke alam dewa selanjutnya kan? Lah kenapa malah ke tempat beginian?
SRING.
Kantong pakaian Liu biru terang, itu bukan ulah sistemnya.
"?" Liu memegang miniatur senjata tombak tiga tusuk dewa laut. Beliau memberikan ini juga sih tadi.
__ADS_1
SRING.
Seketika itu juga bersinarlah cahaya biru terang.
"EH!?" Liu terdiam, kok tiba-tiba ada pintu!?
Sh...
Senjata tombak mini yang dipegangnya menghilang perlahan....
"...." Entah kenpa pintu yang tiba-tiba muncul itu agak mencurigakan.
[Benar Tuan] Bahkan sistem sampai setuju.
Sejauh ini tak ada makhluk apapun yang muncul.
Nggak ada kera sakti ataupun dewa....
Diam saja curiga juga nggak bener sih.
Liu melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Melihat seksama pintu yang tiba-tiba muncul itu.
Pintunya nggak jauh beda sama yang pernah ia lihat sih.
SHHH.
"!" Hawa kekuatan mencurigakan tiba-tiba terasa....
Ini bukan kali pertamanya merasakan hawa kekuatan di depan pintu, namun tetap saja ia auto waspada.
Dewa tak menjelaskan semuanya dengan rinci, jadi ya ia harus mencari tahu sendiri sih.
[Kalau sudah tahu jadinya tidak seru Tuan]
Begitu ya. Liu jadi paham maksud dewa.
TAPI LEBIH BAIK INFO YANG DETIL JUGA SIH.
Dengan begitu ia tak perlu ekstra waspada begini.
Namun pada akhirnya ekstra waspada adalah keharusan juga sih. Apapun bisa terjadi di alam dewa.
Liu mengambil nafas panjang, tak ada gunanya terus ragu.
Menunggu dan menghadapi ketidakpastian memang tak mudah, namun ia harus tetap maju ke depan.
Liu akhirnya memegang gagang pintu itu dan cahaya terang pun seolah menelannya.
***
[Alam Dewa Menengah Tingkat Tengah]
SHHHH!
"HI!" Liu membuka matanya, rasanya dingin sekali
"HAH!?" Dan seketika itu juga ia terdiam melihat sekitarnya.
Hamparan es dimana-mana. Tak ada angin tak ada hujan kini ia berada di tempat antah berantah.
'Sistem kita dimana?'
[Alam Dewa Menengah Tingkat Tengah Tuan] Sistem mengulang lagi pemberitahuannya.
Liu terdiam, jadi pintu tadi semacam 'jembatan' saja menuju tempat ini?
[Membuka pintu saja sampai dramatis begitu]
'KAMU KAN SAMA.' Sistemnya curiga juga tadi!
SSSHHH....
Udara dingin langsung menyapanya. Liu baru pertama kali ke tempat seperti ini.
'Duh.' Kebetulan Liu tak bawa baju dingin.
Liu menggosokkan kedua tangannya sembari berjalan melihat keadaan sekitar.
Sejauh ini hanya ada es yang ia lihat. Ia berpijak pada es dan medan ada cukup sulit dilewati.
Tadi laut sekarang es? Liu tidak mau protes lagi.
"Huuuh...." Hanya bernafas sedikit saja sudah membuat banyak asap. Ini tempat terdingin yang pernah dikunjunginya Tuan.
'Sistem?' Rasanya Liu butuh bantuan sistem deh.
[Ya Tuan?]
'Kok dingin banget sih?'
[Memang begitu Tuan] Sistem tidak bisa mengatur alam dewa sesuai dengan keinginan Tuannya. Semua yang Tuannya lihat sudah fix seperti ini.
Liu tahu sudah sepantasnya tempat dimana dataran es ada adalah tempat yang dingin. Namun ia tak habis pikir kenapa bisa sampai sedingin ini.
[Alam ini yang terdingin di alam dewa tingkat menengah Tuan]
Liu mengangguk kecil. Setelah berada di sekitaran lava panas, kini di tengah es?
Liu menutup matanya, berusaha fokus.
Tidak lucu kalau ia beku sebelum melakukan apapun.
SH....
Perlahan namun pasti tubuh Liu mulai berasap.
Ia mengerahkan kekuatannya, bahkan sampai area sekitarnya bergetar.
Faktanya sistem sudah melakukan ini dari awal, namun ternyata masih belum cukup, tuannya tetapa saja kedinginan.
KRRKK.
Muncul retakan disekitar pijakannya. Liu perlahan membuka matanya, dan seketika itu juga ia merasakan hawa kehadiran seseorang.
__ADS_1