Sistem Pendekar Terkuat

Sistem Pendekar Terkuat
Masih Berjalan


__ADS_3

Liu sudah mengatakan semuanya pada dewi. Tidak ada lagi yang ia sembunyikan.


Padahal dewi tak ada hubungan apapun dengan misinya, namun entah kenapa dewi seolah begitu peduli dengan masalahnya.


[Itu bukti dewi benar-benar percaya Tuan]


Benar juga. Dari awal pun dewi konsisten dengan sikapnya.


Tapi apa untungnya membantu seorang buronan sepertinya? Mau dipikir sejauh apapun Liu belum kunjung paham juga.


[Dewa sudah mengakui kekuatan Tuan] Akhirnya sistem mengatakannya juga.


'OH?' Liu baru tahu.


Sret.


Dewi memberikan sesuatu padanya.


Sesuatu yang bersinar yang sulit dijelaskan dengan kata-kata dan pula itu sangat dingin sekali.


'APAAN?' Liu tak tahu bola bersinar dingin itu. Tapi keknya agak bahaya juga sih.


"Anggap saja hadiah dariku." Dewi tersenyum kecil.


Liu terdiam, ia sama sekali tak melakukan apapun malah dapat hadiah. Padahal jelas-jelas ia bisa bertahan karena kekuatan dewi di alam ini yang dipinjamnya.


"TERIMA SAJA." Dengan cepat dewi memegang tangannya dan memaksanya menerimanya.


SRING.


"WOW." Dan tiba-tiba benda bola kecil itu bersinar terang! Ini aneh sih!


Cahaya itu perlahan menghilang dan Liu terdiam. "Buku?"


"Kau suka baca bukan?" Dewi tersenyum lagi, ia harap pemberiannya itu bisa bermanfaat untuk pemuda ini.


'Tips Dan Trik Mempesona Dewa...?'


'WHAT THE HELL?' Liu tak paham. Kenapa dewi ngasih buku beginian?


Liu membalikkan bukunya, dan memerhatikannya.


^Jadilah berkharisma di antara para dewa! Dan buatlah semuanya takluk! Cetakan terbatas^


"...." Oh masih ada tulisan lagi dibawahnya.


^Note: jangan lupa kasih review bagus di TokDe ya!^


Liu terdiam, ekspresinya datar brutal. Bingung dan heran bercampur jadi satu.


"Oh TokDe? Itu singkatan dari Toko Dewa. Sudah pasti di duniamu juga ada yang begituan bukan?" Dewi berinisiatif menjelaskan.


Tapi entah kenapa pemuda ini tidak terlihat puas dengan penjelasannya. Seperti 'bodo amat, aku tidak peduli.'


"Maaf dewi...." Liu berbalik badan dan berjalan.


"?" Dewi es terdiam, ia penasaran kok pemuda itu tiba-tiba berpaling begitu ya?


Liu menarik nafas panjang, dan melepaskannya.


"UWWWOOOGHHH!" Dan tiba-tiba teriak brutal.


"...." Dewi terdiam, ia tak paham apa maksudnya. Namun bisa tahu pemuda itu mencurahkan segenap emosi dan perasaannya.


Sret.


Liu kembali lagi ke hadapan sang dewi.


"Hm?" Dewi tersenyum sembari agak memiringkan wajahnya.


"Dewi, ini maksudnya apa?" Dengan super tenang Liu menanyakan soal hadiah yang diterimanya.


Yah bukannya ia tak bersyukur dan berterima kasih, hanya saja kenapa hadiahnya jauh dari apa yang ia pikirkan?


"Oh?"


"Kau tidak membutuhkannya?" Dewi terdiam, ia pikir pemuda ini bakal senang dengan hadiah yang diberikannya.


Biasa anak muda ingin tampil out of the box. Buku ini bisa sangat membantunya jadi lebih cemerlang di alam dewa ini.


Ya bukannya tak butuh atau gimana sih, hanya saja buku ini tak ada hubungannya dengan misi yang tengah diembannya.


Lagipula dasarnya ia sudah buronan, jelas kebanyakan dewa lain mencap-nya sebagai musuh.


"Yah buku itu bisa berguna di alam lain juga sih." Tidak hanya di alam dewa saja. Barangkali pemuda itu seret jodoh.


"SERET JODOH?" Liu terdiam, ia tak percaya dewi mikir ke sana.


"Eh?" Dewi agak terkejut, pemuda ini bisa tahu apa yang ada dipikirannya?


Yah karena meminjam kekuatan dingin di alam ini, Liu jadinya bisa lebih dekat dengan kekuatan dewi, dan bahkan bisa sampai tahu apa yang dewi es pikirkan.


Bahkan di alam dewa ada soal percintaan segala? Liu baru tahu sih.


PLAK!


"Ah!" Dewi tiba-tiba menepuk tangannya seolah ingat sesuatu.


Yah lebih ke sadar saja sih. Sebelumnya dewi pikir karena ada kekuatan monster maka pemuda ini tak akan bisa berjodoh, namun siapa yang tahu masa depan juga?


Bahkan dewa tidak tahu segalanya, dan hanya melakukan tugasnya masing-masing.


"Kalau mau buang nanti saja ya...." Entah kenapa dewi terdengar sedih. Pasalnya ia tidak punya hadiah lain selain itu.


"...." Liu terdiam, kalau melakukan itu rasanya kejam juga ya. Seketika itu juga buku itu bersinar biru (Liu menyimpannya).


Dewi tersenyum kecil, untunglah pemberiannya diterima, meski harus dipaksa juga sih.


"Aku sama sekali tidak membantu." Dewi sedikit menundukkan kepalanya.


"DEWI SANGAT MEMBANTU." Liu tak mau ada yang sad di sini.


"BENARKAH?" Dewi merasa tidak melakukan apapun, namun ia senang mendengar hal itu.


"Jadi inilah akhirnya." Dewi akhirnya mengatakan kalimat pamungkasnya.


Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Dewi sudah puas mengobrol.


'NGGAK ADA PETA ATAU PETUNJUK APAPUN?' Dari awal Liu menunggu apa yang harus dilakukan selanjutnya sih.


"NGIKH!"


"HAH!?" Tiba-tiba ada suara kuda!


"Speedy!?" Liu tak menyangka sahabat lamanya datang ke sini! Padahal ia sudah lupa!


Liu tak tahu gimana caranya kudanya itu datang ke sini, namun ia tak peduli, yang penting ia bener-bener nggak sendirian di sini!


Sret.


Dewi menyerahkan sesuatu lagi. Sebuah kertas besar dengan gambar yang besar juga.


"Kau membutuhkannya." Dewi tersenyum, kertas itu tak lain tak bukan adalah peta Alam Dewa Menengah Tingkat Tengah.


'YES!' Akhirnya petunjuk untuk melanjutkan perjalanan!


‘Kok kek kelipet.’ Liu perlahan membuka lipatan peta itu, bahkan sampai meregangkan tangannya lebar-lebar.


‘WOW.’ Liu melotot, gambaran dunia- eh alam yang begitu besar sih ini.


Seperti biasa peta yang dipegangnya bersinar biru, ia sudah menyimpannya.


“Selamat jalan.” Dewi tersenyum kecil.


“Terima kasih dewi.” Liu menunduk memberi hormat.


TUNGGU SEBENTAR….


Baru saja mau naik kuda Liu keinget sesuatu.


“De-dewi rasanya sudah sudah cukup.”


“Hm?” Dewi terdiam, ia belum paham apa maksudnya, namun yang pasti pemuda itu menatap balok es.


“Aaaah….” Dewi mengerti.


“Sepertinya Dewa Zao masih ingin istirahat.” Hal begini tidak perlu dikhawatirkan.


‘Owalah.’ Liu dewa juga bisa istirahat ya?


“Sa- sampai kapan?” Liu tahu ini bukan urusannya, tapi entah kenapa ia ingin tahu.


Kalau sekiranya istirahat pasti ada akhirnya bukan?


“Selamanya.” Dewi tersenyum.


“Aaaah…..” Liu mengerti.


TUNGGU DULU.


MASA SELAMANYA!?

__ADS_1


Sama saja hidupnya berakhir dong!


Kok dewi bisa setenang itu sih?


“Dewa akan baik-baik saja kok.” Dewi terlihat meyakinkan.


Liu tak meragukan itu sih, hanya saja kalau terjebak selamanya di peti es selamanya itu kek berlebihan saja.


Dengan cepat Liu meminta dewi agar melepaskannya.


“Aku tidak bisa.”


‘Lho?’ Kan dewi es spesialis es, kok nggak bisa sih?


“Aura peti es ini terlalu kuat.” Dewi menyadari kemampuannya. Bahkan ia tidak bisa jadi spesialis di momen sekarang.


Emangnya sekuat itu ya?


Dewi meyakinkan lagi bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Itu kesalahan dewa api sendiri yang tidak mau mendengar peringatannya.


Anggap saja ini sebagai balasan atas perlakuannya tadi.


Liu terdiam, ia tak menghendaki ini sih.


[Ada kemungkinan Dewa Api berontak lagi Tuan]


Liu terdiam. Sistem tahu apa yang dipikirkannya.


Tap.


Liu maju dan memegang peti es itu, dan seketika itu juga meleleh.


“….” Dewi bersiaga, ia jadi sedikit serius.


Ia tidak menyangka pemuda ini memilih pilihan ini.


SSHH….


BLUGH.


Dewa Zao terbaring, sepertinya belum sadar. Diperkuat dengan aura kekuatannya yang memang lemah.


“Dewi akrab dengan dewa?” Barangkali Liu bisa menyerahkan urusan ini pada dewi.


“Musuh bebuyutan.” Dewa tersenyum kecil.


Waduh, bahaya dibiarin gitu aja dong.


‘OKE SISTEM.’ Liu memegang tubuh dewa api dan seketika itu juga muncul cahaya hijau terang.


Tak lama kemudian Dewa Zao pun membuka matanya, dan ia menatap dingin kedua makhluk yang menyambutnya.


Dan langsung menutup matanya lagi.


‘LHO.’ Liu heran, teknik pemulihannya gagal?


[Sepertinya tidak begitu Tuan] Sistem tidak mendeteksi adanya kesalahan apapun.


“Waah.” Dewi terdiam dan bersuara seolah terpukau.


Yah, dewi pikir dewa api mau meneruskan urusannya, namun ternyata tidak begitu.


Akhirnya Liu tahu dewa sudah menerima kekalahannya dan tidak lagi berniat melanjutkan semua ini.


Padahal dewa api adalah salah satu dari sekian banyak dewa yang keras dan berpatokan pada tujuannya.


Namun akhirnya dewa api yang dingin ini pun sadar diri dan benar-benar takluk.


“Baiklah jaga diri ya dewi-dewa!” Liu menungganggi kuda apinya dan dengan gagah dan pergi dari sini.


Meninggalkan dewa yang sedang terbaring dan dewi yang menatap kepergiaannya dengan bangga.


"Apa kubilang." Dewi Es tidak bosan-bosannya mengomentari kelakuan Dewa Api.


Dewa Zao tetap terbaring, tidak menggubris apa-apa. Memang seharusnya dari awal ia menuruti apa kata dewi lemah ini.


***


HUUSH!


"WUUHUUU!" Liu membebaskan dirinya melesat ditengah hamparan es luas. Tak disangka ini cukup menyenangkan!


Speedy meninggalkan jejak kaki api keren yang tak akan mudah padam.


Tanpa sadar kini luka yang ada pada wajah, tubuh, dan kakinya berangsur-angsur pulih. Dan itu adalah hal yang bagus.


Sret.


PLAK!


"HWAH!" Liu akhirnya bisa melihat keseluruhan peta setelah melebarkan tangannya.


'HM.' Liu terdiam, ia bahkan tak tahu sedang berada di wilayah bagian mana.


'KENAPA NGGAK TANYA DEWI DULU YA TADI?' Ia telat sadar.


[Yah anggap saja Tuan lagi eksplore]


'Ah iya.'


'TAPI KAN HARUS JELAS TUJUANNYA MAU KEMANA.' Liu kekeh pengen tahu spot selanjutnya yang harus dikunjunginya.


~Tenanglah Xiao Liu~


"WA!" Liu denger suara aneh!


'Apa sistem?' Tidak biasanya sistemnya ngagetin begini.


[Bukan sistem Tuan]


'Oh?' Eh iya, suara barusan lebih lembut, kek-nya bukan TBT atau sistem deh.


~Ini aku Bing~


Ah, ternyata Dewi Bing Toh.


'LHO?' Kenapa bisa-bisanya suara dewi terdengar? Beliau pakai toa atau apa?


~Aku bicara melaluimu hehe~


Begitu ya.


'KOK BISA?'


~Itu tidak penting, kau lupa sesuatu. Semoga beruntung~


BLIZT.


Suara dewi menghilang. Dan Liu heran kenapa bisa terjadi hal seperti ini.


[Sepertinya dewi menghubungi Tuan lewat kekuatannya]


'....' Liu paham, karena kekuatan keduanya tercampur maka ia bisa mendengar apa kata dewi, dan itu berlaku sebaliknya.


Toh seluruh dataran es ini juga adalah daerah kekuasaannya. Menghubunginya dari jauh tidak akan terlalu sulit.


Sring!


Petanya bersinar! Dan Liu terdiam melihat perubahan yang terjadi.


"ALL RIGHT." Liu tersenyum kecil, kini ia nggak buta map lagi.


Sekarang banyak ikon, lambang, dan penjelasan memenuhi peta ini.


KALO BEGINI KAN ENAK.


Liu terdiam, saking banyaknya ikon dan dan tanda ia jadi agak pusing.


'KOK BANYAK BANGET SIH?' Ini petanya rame banget.


[COBA BERSYUKUR TUAN] Sistem kebawa suasana.


Tadi tuannya protes map-nya sepi, lah sekarang protes lagi pas udah rame.


"...." Ah, benar apa kata sistemnya. Liu menarik nafas panjang dan menenangkan dirinya.


Berbeda dari tempatnya sebelumnya. Kini Liu jelas harus menjelajah tempat di alam dewa menengah tingkat tengah ini.


Pertanyaannya kemana dulu ia harus pergi?


[Menganalisis....]


[Target ditemukan.... Perhentian selanjutnya ... TokDe]


"YEAH!" Akhirnya ada tujuan juga! Hidupnya langsung jadi bermakna!


TAPI TUNGGU DULU.... KOK MALAH TOKDE!?


Swush!

__ADS_1


Speedy langsung melesat lebih cepat, tidak membiarkan siapapun untuk bertanya-tanya lagi.


***


SSSH.....


TAP... TAP....


"UH." Liu melihat ke atas, panas teriknya matahari langsung menyambutnya.


Yah Liu sendiri tak tahu bintang, atau hal apa yang menyinari alam dewa. Namun jelas-jelas situasi ini kebalikan dari yang sebelumnya.


Srrr....


Suara pasir tertiup angin terdengar. Hempasan angin yang menerpanya sama sekali tidak berefek. Tetap saja ia merasakan panas.


"EHEM." Liu memegang tenggorokkannya, entah kenapa terasa seret. Padahal sebelumnya ia tak haus sama sekali.


Mungkinkah karena kelelahan? Yah Liu bukan makhluk super yang bisa melakukan sesuatu non-stop sih.


Haus dan panas terik, kombinasi yang cocok.


'KENAPA KITA DI SINI?' Liu akhirnya butuh penjelasan.


Kenapa mereka tiba-tiba ada di padang gurun yang sangat panas begini?


[Tuan tidak suka]


'....'


'BUKAN BEGITU SIH.' Liu senang mereka pindah tempat, tapi ia belum paham kenapa ke tempat ini dan tujuannya apa pula!?


Liu melihat lagi peta alam dewa ini, dan ternyata mereka memang sudah berjalan cukup jauh.


Liu lupa tadi ngapain saja diperjalanan. Tidur kali ya?


Dugaannya benar. Di sepanjang perjalanan sistem men-shutdown dulu tuannya untuk mengisi energi. Supaya di saat begini tak kewalahan.


[Kita sudah hampir sampai Tuan]


'Tu- tunggu dulu, pengen minum.' Liu mengecek ke saku baju dan celananya, mencari sesuatu yang cair-cair....


"PYUH." Liu mengelap keringatnya. Sayang sekali ia tak menemukan apa yang dicarinya.


'SISTEM INI BUKAN SAATNYA BERCANDA LHO.' Sebelumnya mereka sudah super kedinginan, dan sekarang super kepanasan!


[Tidak ada candaan apapun Tuan] Memang benar tujuan mereka di sini.


Liu terdiam, bahkan dengan aura kekuatan sistem, masih belum cukup untuk meredam panas brutal yang ada di tempat ini.


Yang pada kenyataannya sistem memang mendeteksi kekuatan panas ini jauh lebih kuat dari kediaman dewi es yang tuannya kunjungi sebelumnya.


"Heh." Liu tersenyum kecil, tak masalah banjir keringat. Ia tak mau kalah oleh situasi yang seperti ini!


Ia sudah pengalaman sama kedinginan. Kepanasan juga adalah hal yang tak terpisahkan juga, bukan masalah!


Liu akhirnya berjalan, awalnya sih gagah dan kuat, tapi lama-lama sempoyongan juga.


Semangatnya yang barusan seolah menguap begitu saja, hilang tak bertahan lama.


Tap.


Tap.


Liu melayangkan pandangannya ke area penuh pasir itu.


NGGAK ADA APAPUN JUGA SIH.


Kata sistem sedikit lagi sampe tujuan, tapi buktinya?


Yang ada malahan ia makin matang di sinari panas tak masuk akal begini.


Liu berjongkok dan mulai menggali pasir di bawahnya.


[Tuan?] Sistem penasaran dengan kelakuan tuannya.


Kok tuannya berhenti mencari tempatnya sih?


Liu tak menggubris ia tetap menggali tanah dan ia pun masuk ke dalamnya dan perlahan mengubur dirinya.


[TUAN!?] Sistem terdengar kaget sih.


Tuannya malah menggali tanah begitu!


SWUSH!


Tubuh Liu bersinar biru dan menyingkirkan semua tanah yang menutupi tubuhnya.


[TUAN SADARLAH!] Tuannya jelas bertingkah aneh di sini!


Liu terdiam ia masih terbaring dengan pandangan kosong yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.


Momen dimana hanya ada hempasan angin, bunyi pasir, dan kehangatan yang tidak diinginkan siapapun.


Yah Liu hanya sarkas saja sih, soalnya ia sudah habis akal menghadapi jenis panas yang begini.


Omongan sistemnya tak lagi terdengar jelas. Aura kekuatan sama sekali tak berpengaruh dan melindunginya dari situasinya sekarang.


'AAAAH.' Liu menutup matanya, tubuhnya perlahan mengeluarkan asap.


Sadar-sadar tiba-tiba dibawa ke padang gurun, yang kebetulannya lagi jadi kuburannya sendiri.


Kalau bisa milih, ia lebih suka sadar di rumah besar dengan perapian hangat, makanan enak, dan bertemu seseorang yang baik.


Salahkan berharap?


Namun yah, lagi-lagi kenyataan tak seindah ekspekstasi.


Kenyataan terkadang menggamparnya ketika ia mulai berharap.


Yah tak buruk juga berharap. Namun ia tak mau hidup di harapan palsu.


Saatnya menghadapi sesuatu yang nyata.


[Tuan....]


Liu tidak beranjak dari tidurnya, ia tak punya kekuatan lagi.


Yah, sepertinya enak kalau istirahat di sini....


***


Krt.....


Terdengar suara kayu terbakar di suatu tempat, yang tak lain tak bukan adalah sebuah rumah dengan ukuran luas.


Terlihat seorang pemuda dibaringkan berasalkan kain lembut, dahinya dikompres dan seluruh badannya terselimuti kain hangat.


Dan terlihat pula tangan seseorang yang putih bersih mengganti kain dan menempelkannya kembali pada pemuda itu.


"...." Suasana hangat yang menenangkan, perempuan itu terlihat beranjak dari sana, dan meninggalkan pemuda ini sendirian.


Perlahan namun pasti pemuda itu membuka matanya....


"UH." Pandangannya kabur dan seluruh badannya terasa lemas.


'A- aku....?'


[Memulai sistem ... menetralkan Qi....]


Pemuda yang tak lain tak bukan adalah Liu melihat ke atas. Raut wajahnya menandakan ia masih tidak berdaya.


Ia merasa tak melihat langit cerah dan panas brutal. Sebaliknya rasanya ia seperti melihat langit-langit ruangan.


Tak lama kemudian Liu mulai bisa melihat dengan jelas. Dan dugaannya itu terbukti.


Memang ia tak ada lagi ditengah padang gurun antah berantah. Namun di sebuah ruangan misterius yang nyaman.


Tak ada lagi hal menyiksa, namun kehangatan dan ketenangan.


'Sistem kita....?'


[Sistem tidak sadarkan diri bersama Tuan] Biasanya sistem bisa tetap bertahan meski tuannya kehilangan kesadaran, namun kali ini berbeda.


Sistem ternyata butuh lebih banyak istirahat. Istirahat di perjalanan saja belumlah cukup.


"...." Liu terdiam, bahkan sistem pun tak tahu. Pasti ada alasannya ia tiba-tiba bisa sampai di ruang luas dengan perapian hangat ini.


Nggak mungkin ujug-ujug ada di sini juga sih.


Liu beranjak bangun, dan duduk tenang. Ia dikompres dan dipakaikan selimut hangat. Jelas ada dalang dibalik semua ini.


Liu melihat ke sekitarnya, benar-benar ruangan yang luas. Mungkin ruang tengah? Liu tak melihat ada orang lain di sini.


"HM." Liu memegang dagunya berpikir. Orang baik mana yang mau merepotkan dirinya untuk menolong buronan sepertinya?


'Jalan-jalan ah.' Liu menyingkirkan selimut hangatnya. Dan entah kenapa rasanya angin langsung masuk ke tubuhnya.


SET.


Liu terdiam dan memproses apa yang dilihatnya, jelas ia sedang melihat tubuhnya sih.

__ADS_1


'KOK BEGINI!?' Semua pakaiannya tiba-tiba menghilang!


__ADS_2