
HUSH!
Tanpa pikir panjang sang dewa melesat lagi, kini dengan aura kekuatan yang diupgrade.
Kekuatannya sudah diupgrade lebih besar lagi!
'DATANG!' Liu menatap tajam, dewa cepat sekali!
DBUMMM!!!
Ledakan dan hempasan aura keras lagi-lagi terjadi.
SSHHH....
Terlihat jelas Liu memfokuskan kekuataannya pada lengannya. Tak lagi melindungi bagian tubuh yang lain.
"...." Sang dewa terdiam, tidak menyangka lawannya melakukan hal ini.
HHSSHH!
BRAAAGHHH!!!
Dewa berkelit dan langsung menyerang membabi buta!
Bola mata Liu yang bersinar kebiaruan itu bergerak amat cepat melihat rangkaian serangan sang dewa.
Tangannya meliuk-liuk lihai menahan serangan cepat dewa yang ternyata lebih efektif dari caranya sebelumnya.
DRRRR....
Getaran hebat mulai terasa seiring dengan berjalannya waktu, aura kekuatan dewa makin menjadi-jadi.
'DEWA ILUSI APAAN!?' Beliau lebih cocok disebut dewa baku hantam!
Yah berkaca dari serangan fisiknya yang brutal dan kuat begini sih.
[Terkadang ekspektasi tidak sesuai realita Tuan]
'....' Oke, itu benar sekali.
"HAH!" Dewa mengerahkan tenaganya dan berhasil meninju perut Liu!
"UGHH!!!" Tangannya tak cukup cepat untuk mengatasinya, aura kekuatan dewa meningkat jauh!
Slow-motion pun terjadi, terlihat jelas bagaimana Liu kesakitan, sebuah ekspresi yang benar-benar menandakan kesengsaraan dan pula ketidakpercayaan.
SSWWUUSHHH!!!
Gelombang kejut pun tercipta, Liu langsung terhempas ke atas.
Kebetulan sang dewa meninju perut bagian bawah dan mengarahkannya ke atas, itulah sebabnya sang karakter utama melesat ke langit.
"!" Liu berusaha menguatkan tubuhnya, sekilas melihat pada aksesoris dewa yang dipakainya.
'KOK PADA TIDUR SIH!?' Dan protes.
Liu tak teriam dibiarkan berjuang sendiri di sini.
[Kan ada sistem Tuan]
'Oh iya.'
MAKSUDNYA ia butuh lebih banyak kekuatan demi bertahan sih.
Bukannya meragukan kekuatan sistem. Namun punya lebih banyak ini kekuatan tidaklah buruk kan?
Sebelum-sebelumnya aksesoris dewa membantunya, namun kenapa sekarang jadi mager begini?
Perlahan muncul api disekitaran tubuhnya.
"WADUH!" Liu tak senang melihat ini, kok malah jadi berapi begini?
[Tuan bergerak terlalu cepat yang menimbulkan gesekan udara yang akhirnya membuat Tuan seperti terbakar]
'Oh.' Oke, jadi itu alasannya. Mirip meteor dong ya.
'BISA ABIS KEBAKAR DONG.' Malah tambah panik ya.
[Tenang saja Tuan, tidak akan sekaligus kok]
"...." NGGAK BIKIN TENANG JUGA SIH
Liu berusaha menggerakkan badannya, namun hasilnya nihil.
Ia masih melesat dan belum menunjukkan adanya perlambatan sih.
Sistem pun terdiam, apa yang dialami tuannya adalah hal yang tidak terhindarkan.
Kalau mampu tentulah tuannya bisa menghentikannya di awal, namun efek pertarungan fisik yang melelahkan itulah yang membuat tuannya kewalahan.
Liu kini dikelilingi awan dan entah akan sampai dimana.
'OKE.' Ia masih sadar, Liu tak mau menyia-nyiakan ini, setidaknya ia harus melihat pergerakan musuhnya!
Dewa mungkin sedang mengincarnya sekaragn, ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri!
BRAAAK!
"!"
Seketika itu juga Liu terhenti seolah menabrak sesuatu, padahal ia masih berada di langit.
Liu menggerakkan kepalanya dan terdiam tak percaya.
'Langitnya retak....' Seperti kaca.
Itulah yang dilihatnya, begitu jelas dan mengedipkan mata sebanyak apapun tak merubah apa yang dilihatnya.
Mengucek mata pun tak bisa mengingat kacamatanya tak bisa dilepas sama sekali.
'OIOI.' Liu senang bisa terhenti terhempas. Namun di saat yang bersamaan heran juga.
Kok bisa-bisanya ia nabrak langit dan malah pecah begini?
MUNGKINKAH INI UJUNG LANGIT?
[Sepertinya bukan Tuan]
Lantas apa dong? Apa alasan yang bisa menjelaskan semua ini?
"!" Oh iya, ia lupa di alam dewa apapun bisa terjadi, menabrak langit adalah salah satunya.
Liu berusaha menggerakkan badannya, namun anehnya tak biasa.
MALAH NEMPEL.
Habis terhempas sekarang stuck di langit yang 'pecah'!?
BLIZT.
"!"
Dalam satu kedipan mata saja Liu sudah ada di bawah lagi, menatap sang dewa.
'TUNGGU DULU....' Itu bukan kekuatan pindah cepatnya. Liu sama sekali tak menggunakannya.
[Benar Tuan] Sistem menguatkan faktanya.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya, Xiao Liu?" Dewa Jue menatap tajam.
"...." Liu merasakan hawa kekuatan aneh lagi. Kenapa bisa-bisanya bisa ada di sini dalam sekejap? Apa mungkin dewa memindahkannya ke sini?
"Tak nyaman, selera kita tak sama." Liu jujur mengatakannya. Jelas itu pengalaman yang tak mau dialaminya lagi.
Kalau diteruskan bisa-bisa jadi abu beneran sih.
Namun untunglah ia nabrak 'langit'. Jadinya ia masih bisa menapakkan kakinya di sini.
[Hati-hati Tuan] Sistem merasa ada yang tak biasa.
"...." Liu sudah melakukannya dari awal, dan saking hati-hatinya malah jadi tegang.
Ia tak tahu apa yang akan dibuat dewa. Aura misterius ini mengundang banyak pertanyaan yang jawabannya terasa jauh.
Biasanya Liu bisa menganalisis juga apa yang akan dilakukan lawannya, namun kali ini tidaklah sama.
"Serahkan benda-bendamu." Dewa mengangkat tangan kanannya, pose meminta.
"...." Maksudnya ini? Liu tahu benda yang dimaksud tak lain tak bukan adalah aksesoris dewa sendiri.
LHO BUKANNYA BELIAU MAU MENANGKAPNYA YA? KENAPA MINTA INI DARI AWAL?
BUKANKAH KALAU SUDAH KALAH SANG DEWA BISA MELAKUKAN APAPUN PADANYA, TERMASUK MENGAMBIL AKSESORIS DEWA?
[Sepertinya dewa punya agenda tersendiri Tuan]
'HM.' Begitu ya.
Kenapa beliau yakin betul bakal dikasih hanya dengan minta begitu?
[Kan Dewa Ilusi Tuan]
'Oh iya ya.' Wajar saja dewa punya kepercayaan diri yang tinggi sih.
Inilah sikap seratus delapan puluh derajat yang berbeda dari dewi rumput.
Liu berusaha tenang, mengendalikan pernafasannya.
Lebih mudah terpancing emosi dibanding menahannya.
SRET.
"AMBIL SAJA." Liu menatap tajam dengan nada menantang. Kepercayaan dirinya benar-benar meningkat pesat.
Dewa merubah air mukanya, jelas senang dengan respon lawannya.
Ia sudah minta baik-baik, eh malah ditolak mentah-mentah. Kejadian yang sama terulang kembail.
Sangat jarang sekali dewa bersikap baik sampai dua kali.
Kalau saja pemuda itu memberikan apa yang dimintanya, tentu dewa tak akan keberatan mengurangi penderitaan yang akan dialaminya. Yah anggap saja sebagai keringanan.
Kemurahannya yang tertolak ini akan berakibat fatal....
Perlahan namun pasti aura kekuatan dewa makin memuncak.
Liu terdiam, ia penasaran apa yang terjadi sebelumnya.
Soal kenapa ia bisa berada di sini sekejap mata.
Meski sudah memikirkan berbagai kemungkinan namun tetap saja ia masih belum puas dengan dugaannya.
Namun tak ada waktu untuk bingung, dengan cepat Liu membersihkan pikirannya.
Liu menjatuhkan tubuhnya ke depan dan melesat maju!
Sang dewa terdiam membiarkan dirinya terbuka untuk diserang.
Ledakan keras pun tercipta, dan terlihatlah keduanya beradu serangan lagi.
Liu tak merubah strateginya, ia masih menggunakan kekuatan fisiknya meski tahu dewa jelas lebih unggul di bagian ini.
Ada apakah gerangan? Kenapa dia tidak berkaca dari apa yang sudah terjadi?
Bukan tanpa alasan juga Liu tak menggunakan teknik khususnya.
Entah kenapa begitu sulit saat mencoba mengubah aliran Qi menjadi suatu teknik energi lain. Padahal biasanya semudah membalikkan telapak tangan.
Bukannya sombong namun itulah kenyataannya. Semakin sering memakai teknik 'mengubah energi Qi jadi energi lain' maka kesulitannya semakin berkurang juga.
Alhasil Liu tak punya pilihan lain juga sih.
KRRRK!
Untuk pertama kalinya terdengar suara tanah belah, dan seketika itu juga menyemburlah cairan lava panas mengerikan.
Sang karakter utama terlihat memberikan perlawanan yang berarti.
Liu tak lagi banyak terhempas berhadapan dengan dewa dan aura kekuatannya aura birunya pun konsisten.
Sistem menjawab tekadnya dan kini performanya meningkat pesat.
Retakan tanah dan semburan lava makin menjadi-jadi.
Pemandangan yang tidak cocok dilihat semua orang, yang punya nyali tentu senang melihat yang sedang terjadi.
Getaran dan ledakan sudah jadi menu utama, waktu terus berjalan dan pertarungan fisik super cepat ini masih berlangsung.
Dewa tidak menyangka pemuda ini bisa bertahan selama ini. Aura kekuatannya juga terasa berbeda.
Namun raut wajahnya tak menunjukkan rasa peduli sedikitpun, mau bagaimanapun juga dia tidak bisa menang melawannya.
'KUAT!' Liu sudah meng-upgrade kekuatannya, tapi masih saja kewalahan.
Sistem sudah mem-push kekuatan sesuai dengan tekad tuannya, namun tidak bisa dipungkiri dewa satu ini memang merepotkan.
Bahkan tekad tuannya sekalipun masih belum cukup untuk menghentikan dewa.
Berbagai teknik keren tak bernama dewa sudah banyak keluar. Dewa tidak mau repot menamakan setiap serangannya. Yang penting serangannya efektif, itulah yang diinginkannya.
Di sisi lain Liu pun melakukan hal yang sama. Sudah banyak jurus fisik yang keluar darinya, namun belum ada satupun yang membuat dewa kewalahan.
'DUH INGIN SEBUT NAMA JURUS NJIR.' Mulutnya tak tahan ingin mengoceh.
Dengan menyebut nama teknik tentu akan menambah ke-impresif-an dan ke-kerenan pertarungan yang sedang berlangsung ini.
Namun sayangnya semua berlangsung dengan cepat dan tak memungkinkan untuk mengoceh di sini.
[Bahaya terdeteksi....]
'Aku juga mendeteksinya, ugh.' Liu hampir pada batasannya. Mimpi buruk bagi siapapun yang sedang bertarung.
Namun kali sayangnya bukanlah mimpi, melainkan kenyataan.
Liu tak bisa terus konsisten mempertahankan kekuatannya. Perlahan namun pasti gerakannya melambat....
BUAAGH!!
DUAAGHH!!
Satu persatu pukulan dan tendangan dewa masuk telak dan Liu tak bisa melakukan apa-apa.
"...." Dewa sudah menduga akan hal ini, memang kenyatannya tekad saja tak akan mampu untuk bertahan melawannya.
Untuk apa tetap mempertahankan aksesoris dewa kalau tidak bisa dipakai begitu? Kalau saja dia memberikannya, sudah pasti dewa berkemurahan untuk tidak menyiksanya perlahan begini.
__ADS_1
Namun sayangnya tidak ada lagi kesempatan untuk itu.
Dewa Jue akan menikmati setiap detik kesengsaraan pemuda ini sebelum mengambil aksesoris dewa dan menyerahkannya pada dewa kematian.
Dan itulah yang terjadi. Kini Liu jadi bulan-bulanan dewa ilusi. Sebuah momen dimana ia sedang ada di titik rendahnya.
"...." Liu tak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi, kepalanya pusing dan ia tak bisa banyak berpikir.
Benar saja ia butuh bantuan kekuatan lain.
[....] Bahkan sistem pun tidak menyangkalinya.
Faktanya sudah jelas, tuannya tidak bisa mengandalkan satu kekuatan saja.
Keinginan terbesar sistem adalah bisa berguna disaat tuannya benar-benar membutuhkannya.
Namun sayangnya hal itu seolah jadi harapan belaka. Tuannya sudah terdesak seperti ini dan sistem tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah situasinya.
Sudah jelas karena kekuatan fisik sang dewa ilusi jauh diatas rata-rata.
Inilah kekuatan dewa dengan level dua ribu ke atas. Sungguhlah tidak bisa dipandang sebelah mata.
Sistem mulai menganalisis apa saja yang sudah terjadi.
Kekuatan tuannya masih normal sebelum memakai kacamata dewa.
Tepat setelah kejadian 'blip' alias pindah tempat itulah semua keanehan mulai terjadi.
Sistem tidak bisa lagi mendeteksi kekuatan lain pada tuannya.
Dengan kata lain semua aksesoris dewa dan bahkan kekuatan monster dalam tubuh tuannya pun seolah kehilangan kekuatannya.
Itulah kenapa tuannya hanya bisa mengandalkan sistem saja.
Sampai sekarang masih jadi pertanyaan tentang kenapa semua ini bisa terjadi.
'ITU BENER SISTEM.' Liu setuju dengan apa yang dipikirkan sistemnya.
Kenapa semua keanehan ini terjadi setelah pindah tempat dan bertemu dewa?
Pasti ada alasan yang bisa menjelaskan semua itu.
"!" Liu langsung terpikirkan suatu hal.
SATU-SATUNYA DUGAAN KENAPA SEMUA INI BISA TERJADI....
Tak lain tak bukan adalah....
KARENA DEWA INI!
DBUMMMM!!!
Ledakan energi dan hempasan dashyat tercipta, dan terlihatlah Liu terbaring lemah dengan dewa yang menatapnya dingin.
Aura kebiruan yang menyelimuti tubuhnya sudah tak bisa melindunginya lagi.
Tdak terlihat luka luar yang berarti padanya, namun tubuhnya jelas terbaring lemah.
Dewa terdiam, ia tidak langsung melakukan urusannya namun terlihat seperti menunggu sesuatu.
Menunggu pemuda ini kembali bangun untuk akhirnya bisa dihajar kembali.
Namun dia hanya menggeliat dan tidak melakukan hal berarti lain.
Aura kekuatannya sudah banyak terkuras pasca pertarungan tadi, sepertinya dewa terlalu banyak berharap.
Bukan hal yang mudah untuk menahan diri.
Benar, sang dewa menahan dirinya di sesi baku hantam tadi.
Memberi harapan palsu pada lawannya dan menghancurkannya sampai sekecil-kecilnya, itulah yang dilakukannya.
Bisa saja dewa mengakhiri ini dengan cepat, namun lagi-lagi itu bertentangan dengan prinsip yang dianutnya; menyiksa lawan karena sudah menentangnya.
Di sisi lain Liu masih menggeliatkan badannya, namun itutak cukup untuk membuatnya mundur mejauh.
Perlahan namun pasti panasnya lava mulai terasa. Wajar saja karena aura kebiruannya memang sudah menipis.
Situasi yang benar-benar tidak bagus. Tak disangka semua perjuangannya mengeluarkan banyak teknik fisik keren malah berakhir seperti ini.
"...." Masih sadar saja adalah hal yang luar biasa.
Liu bisa melihat keganasan dibalik kedinginan yang ditunjukkan dewa.
Sekarang apa yang menantinya?
"Heh." Liu tersenyum kecil, tak peduli apa situasinya.
"...." Yah dewa memakluminya, itulah tingkah makhluk yang pudar kewarasaannya.
"Xiao Liu ... Xiao Liu...." Dewa Jue berjalan-jalan kecil sembari menaruh kedua tangannya di belakang.
"...." Liu menatap tajam, ia pikir dewa bakal marah dan mengakhiri semuanya dengan cepat.
"Aura ini ... memuakkan ...." Dewa Jue menarik nafasnya dan berekspresi tak senang.
Apa yang dimaksudkannya tak lain tak bukan adalah kekuatan aura biru milik pemuda ini.
"Xinmu, huh?"
"!"
'D- dewa....?' Liu terdiam, bahkan dewa pun sudah tahu?
[Maaf Tuan] Tidak ada yang bisa disembunyikan lagi.
Sistem kehabisan tenaga untuk berusaha menyamarkan kekuatan tuannya.
Kini dewa pun tahu kenapa pemuda ini masih bisa menggunakan kekuatannya.
"Kau tahu kenapa aku ... disebut dewa ilusi?"
"...." Pertanyaan yang sulit, Liu pasti bakal jawab dewa satu ini ahli bela diri saja mengingat kekuatan fisiknya sungguhlah mencengangkan.
"Reality can be whatever i want."
BLIZT!
"!"
Dalam satu kedipan mata saja area lava berubah jadi area padang rumput yang sebelumnya.
'OIOIOI.' Liu tak menyangka akan hal ini.
DEWA TERNYATA BISA BAHASA INGGRIS!?
[....] Sistem pikir tuannya kaget soal perubahan tempat, eh malah bahasa....
Tapi yah apa yang tak bisa dilakukan dewa juga? Beliau makhluk yang serba bisa kan? Liu akhirnya tahu alasannya.
Realita....
Itulah alasan kenapa bisa terjadi perubahan tempat tiba-tiba.
Usut punya usut, dewa ternyata menciptakan 'realita' baru yang sesuai dengan keinginannya sendiri.
'MY GOD!' Liu tak bisa menahan kakagetannya akan fakta yang terungkap ini.
__ADS_1