Sistem Pendekar Terkuat

Sistem Pendekar Terkuat
Dewi Cinta


__ADS_3

Liu shock. Ia senang bisa sadar di tempat se-nyaman ini.


Namun kenapa malah ia tanpa busana sekarang?


"Oh?" Terdengarlah suara perempuan dari jauh.


"WEH!" Liu terperanjat dan sedikit menjauh. Ia sama sekali tidak merasakan hawa kehadiran siapapun!


"Syukurlah...." Suara itu terdengar lembut dan akhirnya Liu bisa melihat sosok yang mengeluarkan suara tersebut.


Seorang perempuan berambut kuning cerah dan mata yang senada, wajahnya cantik dan ia tersenyum lembut.


'SIAPA?'


[Tuan tanyakan saja langsung] Sistem tidak mood menganalisis. Yah, sepertinya ini bukan situasi darurat juga, jadi untuk apa buang-buang tenaga?


Tak bisa dipungkiri Liu tak punya alasan untuk curiga. Ia tak merasakan energi bahaya apapun darinya.


Terkadang penampilan bisa menipu, namun kali ini ia benar-benar tak merasakan aura negatif atau apapun.


"DEWI?" Karena ia ada di alam dewa sudah pasti beliau ini dewi!


"Ya?" Dewi berambut kuning itu mendekatinya perlahan.


SRET....


Tanpa sadar Liu perlahan mundur.


"Hm?" Dewi padahal hanya ingin mengecek dari dekat.


[Ada apa Tuan?] Sistem sampai penasaran.


'Aku mencium-bau-bau....'


[....] Sistem terdiam, sistem sendiri tidak mencium bau apapun.


Liu menatap dewi serius. Tampak ketidakpercayaan dari raut wajahnya.


"Aaah...." Dewi seolah menyadari sesuatu.


"Kamu gerah?" Dewi tersenyum. Yah tinggal lepaskan saja handuknya maka semuanya beres.


"...." Liu terdiam, ini mencurigakan. Meski ia hanya makhluk biasa, tapi bukan berarti dewi bisa seenaknya mempermalukannya begitu 'kan?


"Ah, aku belum memperkenalkan diri ya. Aku Ai." Dewi duduk dan mengajak salaman.


"...." Liu tak menyangka cara berkenalan dewa cukup mirip dengan yang di dunianya.


Dan Liu pun menerima salam dewi. Kulitnya lembut dan halus, entah kenapa rasanya menenangkan.


"...." Tanpa sadar Liu terus menggenggam tangan sang dewi, dan dewi sendiri tidak keberatan dan tersenyum lembut.


"WAH MAAF!" Dan Liu pun akhirnya sadar.


"Tenang saja."


Dengan cepat Liu menanyakan dimana pakaiannya. Yah ia butuh semuanya jadi jelas.


"Oh kamu membutuhkannya?'


"YA JELAS LAH!" Liu ngegas.


"... ah maaf dewi, kebiasaan."


MANA ADA YANG NGGAK BUTUH PAKAIAN?


Ya mungkin ada sih, tapi sebagai makhluk hidup yang berakal tentu pakaian adalah hal yang wajib.


Akhirnya dewi menjelaskan alasannya.


Liu diam mendengarkan. Suaranya benar-benar lembut dan menenangkan. Liu belum pernah mendengar suara seperti ini sebelumnya.


Akhirnya terungkap sudah. Semua ini demi membuat kondisinya lebih baik.


Dewi perlu memeriksa tubuhnya dan memastikan tak ada yang bermasalah.


Liu terdiam, lagi-lagi ada dewi yang peduli dan bahkan menolongnya. Padahal ia yakin dewi pirang ini sudah tahu identitasnya dan bisa saja ia ditangkap.


Namun ternyata tidak seperti itu.


TAPI TUNGGU DULU....


Kembali lagi ke topik sebelumnya. Dewi memeriksa tubuhnya sama saja dengan....


"Tubuhmu sehat dan bagus." Dewi Ai terlihat meyakinkan.


Liu terdiam, entah ia harus senang atau bagaimana.


Liu menutup wajahnya, entah kenapa ini kek nggak bener aja gitu.


Ia sudah menodai mata dewi dengan kelemahannya ini.


Tapi yah apa boleh buat juga, semuanya sudah terjadi juga.


Dewi akhirnya mengembalikkan lagi pakaiannya.


"...." Liu terdiam, dewi sama sekali tak beranjak, padahal ia mau pake baju lagi.


"Hm?" Dewi menatapnya heran.


Dengan sopannya Liu menjelaskan bahwa ia butuh privasi di sini.


"Aaah." Dewi dengan segera meninggalkannya. Pergi ke ruangan lain.


[Dewi kan sudah melihat semua Tuan]


'JANGAN DIINGETIN LAGI DONG SISTEM.'


Liu tak mau mengulang ketidaksengajaan. Ia harus menjaga privasinya baik-baik!


Tak lama setelah Liu selesai, dewi datang dengan membawa minum dan makanan ringan.


Liu duduk di kursi yang empuk. Menikmati hidangan yang disajikan.


Entah kenapa kecurigaannya sirna begitu saja. Dan kini ia tak berpikir macam-macam.


"ENAK!" Liu tak ingat kapan terakhir kali ia makan.


Yah Liu baru tahu juga dewa-dewi makan-makan begini sih.


Setelah perjalanan jauhnya, ada yang menolongnya di saat darurat. Ia berada di perapian hangat dan ada pula yang menyambutnya.


Beban mengerikannya tak lagi membayanginya. Kini Liu bisa berpikir jernih.


Akhirnya seelah urusan perut selesai. Ada hal yang harus diperjelas.


"Jadi dewi ini...." Liu tak menyangka ia akan bertemu dewi....


"Benar, aku Dewi Cinta." Sang dewi tersenyum.


"...."


'HA?' Liu pikir dewi penyembuh!


Yah soalnya dewi sangat berdedikasi menolongnya dan memulihkan keadaanya. Jadilah Liu berpendapat seperti itu.


Namun ternyata bukan seperti yang ia pikirkan.

__ADS_1


Kenapa tiba-tiba dewi cinta menolongnya?


[Sepertinya sesuai namanya Tuan]


Liu terdiam. Cinta berarti juga peduli ... jadi itu alasannya?


Kenapa ada dewi cinta di tengah padang gurun?


TAP.


Seketika itu juga hawa panas terasa. Jelas ada yang datang.


Entah kenapa rasanya tak asing, perlahan Liu melihat siapa sebenarnya yang datang ini.


"DEWA ZAO!?" Sang dewa api ada di sini!


"...." Dewa tampan itu terdiam, raut wajahnya dingin seperti biasanya!


Kenapa bisa-bisanya dewa api ada di sini?


Liu terdiam, mungkinkah lagi main-main?


"Dialah yang menolongmu," jelas dewi.


"Apa?" Liu terdiam, ia tak salah dengar kan?


Bukannya dewi yang menolongnya? Kenapa malah sang dewa api.


"Selamat datang di daerahku. Tch." Dewa langsung berbalik dan meninggalkannya.


....


'DAERAH?'


[Ah benar. Sekarang Tuan ada di daerah Gurun Dewa Api]


'Oalah.' Liu baru tahu. Pantes saja bisa panas brutal begitu.


Tadi aja ia semangat ngecek peta. Dan sudah sampe tujuan, malah lupa dibuka.


Yah Liu nggak bisa fokus akibat panas sih, jadinya tidak kepikiran.


"Dia memang dingin." Dewi Ai terlihat maklum.


"Yang tidak sopan begitu harus dihukum." Dewi terlihat serius. Bahkan untuk ukuran dewi cinta sekalipun.


'MAKSUDNYA?' Liu tak paham tapi tak mau nanya juga.


[Dewi tersinggung dengan perlakuan dewa tadi]


'....' Lho? Kan ia sendiri yang ngobrol tadi.


Dewi Ai terdiam, di tengah wajah cantik dan lembutnya itu, ia tidak terima dengan dewa yang tetap angkuh bahkan sesudah kalah.


[Dewi membela Tuan]


'....' Liu terdiam. Tak ada untungnya dewi memihaknya juga sih.


SRET.


Dewi bangkit, raut wajahnya berubah, aura kekuatannya juga berubah.


GREP.


"Ah?"


Dengan cepat Liu memegang tangan dewi dan menggeleng kecil.


Dewi terdiam, faktanya ia memang ingin mengajari dewa api, namun akhirnya duduk lagi.


[Padahal Tuan bisa jadi saksi pertarungan Dewi Cinta dan Dewa Api] Hal begini jarang terjadi sih.


Tapi Liu agak penasaran seberapa kuat dewi cinta sebenarnya?


[Lebih kuat dari Dewa Api Tuan]


'FOR REAL?' Liu terdiam, Dewa Api saja levelnya seribuan lho!


Sebuah kejaiban ia yang low level bisa unggul darinya.


Tapi yah kalau sang dewi tidak lebih kuat ya sudah jelas tak akan se-emosi tadi juga sih.


"Apa kamu yakin?" Dewi memastikan lagi. Terlihat jelas dewi berkomitmen sekali kalau melakukan sesuatu.


Liu mengangguk kecil. Ia masih sulit percaya dewi pirang ini lebih kuat dari dewa api. Tapi yah sistem jarang bohong juga sih.


Tak bsia dipungkiri ternyata dewa api juga yang menolongnya. Yang sebenarnya jasanya lebih besar dari perlakuannya yang tadi.


Jadi sekarang, apa semua ini rencana sistemnya juga?


Kenapa ia menemui dewi cinta? Tentu harus ada alasannya bukan?


"Akhirnya ada pengunjung setelah sekian lama...." Dewi terdengar lega.


"Pengunjung?"


"Ah, aku juga menjual banyak barang dewa di sini."


'....' Dewi Cinta jualan?


Apakah ini semacam usaha? Liu tak menyangka di alam dewa ada fasilitas sepeti ini juga sih.


TUNGGU DULU.


"TokDe?"


"Ah kamu tahu?" Dewi terkejut. Sangat jarang orang awal tahu soal tokonya.


Liu terdiam, ia masih ingat sistem menyuruhnya ke sini.


JADI DI SINI TEMPATNYA?


"Mau lihat-lihat?" Dewi terlihat tak sabar. Yah waktu sudah banyak waktu berlalu sejak terakhir kali customernya berkunjung sih.


Liu terdiam, ia tak tahu apakah mengunjungi toko dewa masih berhubungan dengan tujuannya....


SISTEMNYA BAHKAN NGGAK BILANG APA-APA.


[Ikuti saja alurnya Tuan]


Sistem masih tak mengatakan alasannya.


'Ya udahlah.' Tidak ada yang salah dengan melihat-lihat barang dewa bukan?


Barankali ia bisa terinspirasi dan menemukan barang yang berguna untuk tujuannya.


Liu dan dewi akhirnya pergi beranjak dari ruangan besar ini.


Setelah melewati pintu. Liu disambut dengan etalase kaca mewah, dan banyak barang-barang yang dipajang.


Sepertinya ini ada di area depan rumah atau bangunan dewi ini.


Dewi buka toko di rumahnya sendiri....


Liu tak menyangka dewi rajin juga ya.


[Tidak seperti Tuan ya]

__ADS_1


'....' Liu tak ingat kapan terakhir kali sistem ngeselin begini.


Yah ruangan khusus toko ini jelas seperti toko pada umumnya. Saking banyaknya barang Liu tak tahu apa yang harus ia lihat dulu.


[Inilah satu-satunya toko dari alam dewa tingkat menengah tengah Tuan]


SATU-SATUNYA?


Kok sedikit sekali?


Dengan semangatnya dewi mengajaknya berkeliling dan melihat-lihat barang yang menarik. Dan entah kenapa Liu seolah tersihir dan jadi suka melihat barang-barang ini.


Armor, aksesoris, ramuan. Segala jenis penunjang pertarungan ada di sini.


Apa dewa yang dari awalnya kuat butuh hal beginian ya? Liu baru tahu juga sih.


"Tokoku sepi karena dewa tidak mau curang dalam pertarungan." Dewi terdengar sedih.


"...." Liu tak tahu apakah ini hal bagus atau tidak.


Yah sudah pasti dewa menjunjung tinggi kehormatannya dan kecil kemungkinan main kotor.


KENAPA DEWI JUAL BEGINIAN KALAU TAK ADA YANG BELI?


Liu bukannya tak peduli atau apa. Namun ia melihat sisi realistisnya saja.


Lain cerita kalau dewi jualan di dunianya. Pasti ada kemungkinan ada yang tertarik.


Liu pikir dewi cinta dewi yang berhubungan dengan romantisme atau apa gitu, lah ternyata sama dagangan.


Realita tak sesuai eskpektasi kalau begini sih.


Liu memegang kepalanya. Ia jadi agak pusing setelah melihat banyak barang.


SRING!


Tiba-tiba ada satu barang yang bersinar. Bahkan dewi sendiri sampai agak kaget.


"Ini?" Dewi segera mengambil benda yang bersinar itu, yang ternyata adalah sebuah kalung berbentuk hari.


Sebelumnya belum pernah ada kejadian seperti ini.


Liu tak memerhatikannya, ia sibuk memijat-mijat kepalanya. Yah biar rileks dulu hehe.


Dewi Ai melihat seksama kalung berbentuk hati itu.


SRING.


Kalung bercahaya itu menghilang dan masuk ke dalam tubuh pemuda itu.


Dewi tidak pernah melihat hal seaneh ini sebelumnya. Kenapa bisa begini?


Liu masih memijat kepalanya, dan entah kenapa rasanya ada yang beda.


Yah bisa jadi pijatan mandirinya membuahkan hasil.


Dengan cepat dewi menghampirinya dan menjelaskan apa yang terjadi.


"!?" Liu tak bisa menahan kekagetannya. Benda asing masuk ke tubuhnya itu bahaya dong!


'SISTEM APA MAKSUD DEWI?' Batinnya jadi kebawa panik juga.


[Menganalisis ... kalung cinta terdeteksi ....]


'Kalung cinta?' Liu terdiam.


Kenapa kalung cinta tiba-tiba masuk ke tubuhnya?


[Misi selesai: Mengamankan Kalung Cinta]


'MISI!?' Jadi itu tujuannya ke tempat ini!?


Jauh-jauh dari dataran es super dingin ke gurun panas ekstrim hanya untuk ini?


Dewi terdiam, kalung cinta adalah benda paling unik karena satu-satunya tak memancarkan aura kekuatan.


Semua benda lainnya, bahkan pakaian dan benda kecil lainnya semuanya mengeluarkan aura kekuatan yang bisa dirasakan.


Akhir-akhir ini dewi berpikir mau menyingkirkan benda tidak berguna ini. Namun alangkah anehnya benda itu tiba-tiba masuk ke dalam tubuh pemuda ini.


SRING.


Tangan Liu tiba-tiba bersinar. Dan sebuah buku tiba-tiba muncul.


"?" Buku pemberian Dewi Es!


Kenapa bisa muncul sendiri? Liu sama sekali tak mengharapkan buku ini muncul....


Dewi Cinta terdiam. Melihat buku itu mengingatkannya akan kenangan lama. Saat Dewi Bing mampir ke tokonya dan membeli buku itu.


Dewi Bing terkenal dengan kecantikannya yang luar biasa, dan bahkan lebih pantas disebut dewi cinta dibanding dirinya.


Bing hidup dengan damai dan tak ada dewa yang mau berurusan dengannya karena parasnya yang elok itu.


Itulah sebabnya dia membeli buku itu dan berharap bisa meredam kecantikannya dan sekaligus meredakan masalahnya juga.


Namun tak disangka dia memberikan buku ini pada pemuda ini.


SRING.


Kalung berbentuk cinta itu muncul lagi! Lagi-lagi Liu sama sekali tak menghendaki ini terjadi.


Buku dan kalung itu bersinar lagi. Sangat terang dan menyilaukan. Yah Liu tak punya pilihan lain selain menutup matanya.


....


Sinar itu perlahan menghilang dan kedua benda tadi tidak ada. Dan Liu merasa menggenggam sesuatu di tangannya.


Liu membuka kepalan tangannya, dan terdiam melihat apa yang ada di sana.


Sebuah kunci hitam yang sedikit mengerikan.


Kalung + buku = kunci?


Liu belum paham apa yang terjadi. Tapi yah ia tak mau overthingking


"...." Dewi Ai terdiam, ia terlihat sadar.


"Jadi itu maksudmu Bing?" gumam dewi.


'Ada hubungannya sama dewi es?' Liu bisa mendengarnya.


"Xiao Liu. Tekadmu sudah bulat?" Dewi Ai menatapnya penuh arti.


Dewi tidak meragukan kekuatan pemuda ini dan banyak hal yang sudah dialaminya.


Hanya saja perjalanannya di depan tidak akan semudah membalikkan telapak tangan.


Liu tersenyum kecil. Ia tak bosan menanggapi pertanyaan seperti ini.


Ia tak bermaksud membuat khawatir banyak dewa-dewi juga sih.


Hanya saja jawabannya akan tetap sama kalau ditanya seperti itu.


Dewi meminta kunci itu akhirnya meminta kunci itu. Dan tak lama kemudian kunci itu berubah warna jadi keemasan.


Dewi menyerahkannya, dan menjelaskan semuanya tentang kunci tersebut.

__ADS_1


Liu terdiam. Akhirnya terungkap sudah maksud dari sistemnya yang kekeh agar pergi ke tempat ini.


Tak lain tak bukan adalah untuk mendapatkan kunci yang akan membawanya ke alam dewa tingkat selanjutnya.


__ADS_2