Sistem Pendekar Terkuat

Sistem Pendekar Terkuat
Terdampar


__ADS_3

SSWWUUSHHH....


Api kebiruan langsung menyelimuti seluruh tubuhnya, kini ia tempak keren meskipun kelihatannya sedang terbakar!


Liu terdiam ia sama sekali tak merasakan sakit sama sekali.


Harusnya pertanda bagus 'kan? Kalau sakit ya mencurigakan sih pastinya.


Dan setelah beberapa saat akhirnya api kebiruan itu perlahan mengecil. Bisa dibilang padam sendiri sih.


"?" Liu terdiam apa sekarang ia sudah bisa disebut 'bersih'?


Sang dewa tengkorak terdiam, ia sudah melakukan urusannya, dan semuanya berjalan lancar.


Terus apa lagi?


Liu belum mendengar instruksi apapun lagi dari sang dewa.


LAH TERUS GIMANA JADINYA? Liu bertanya lagi dalam batinnya.


Apa mungkin urusannya sudah selesai di sini? Entah kenapa Liu jadi over thingking hening di tengah urusan begini.


Shhh....


Perlahan namun pasti api yang ada pada tengkorak sang dewa menghilang, dan aura kekuatannya juga perlahan menurun.


Liu tak menyangka untuk 'membersihkan' butuh energi sebanyak itu.


Yah itu berarti sang dewa benar-benar serius membantunya.


Drrrttttt....


Dan seketika itu juga tempat ini bergetar hebat, lebih kencang daripada efek pertarungan tadi.


'KENAPA GEMPA BUMI?' Liu terdiam, ia tak paham apa yang terjadi.


"Dewa?" Mungkinkah akibat dewa yang kebanyakan mengeluarkan kekuatan?


[Begitulah Tuan] Sistem setuju pendapat Tuannya.


Getaran makin menjadi-jadi dan dewa masih menatapnya dengan penuh arti.


Entah kenapa Liu bisa merasakan hal itu, padahal jelas-jelas ia tidak bisa melihat ekspresi dewa satu ini.


Ternyata dewa tengkorak tidak semenakutkan dari awal. Liu bisa melihat sisi lainnya sekarang.


Sang dewa berjalan ke arahnya....


"Kau...."


"...." Liu terdiam, suara dewa terdengar berbeda, tetap berat namun tidak mengerikan seperti biasanya.


"Semoga beruntung.


BUAGH!


"!?"


Dewa menendangnya keras sekali!


"WAA!" Dan Liu pun jatuh dan benar-benar tercebur lautan lava.


Semenatar itu sang dewa terdiam, ia masih tak menyangka bisa kalah dari pemuda itu. Ia tidak bisa menyelesaikan tujuannya.


Kecurigaannya dari awal benar-benar terjadi. Sejak pertema bertemu dewa tidak bisa langsung mendeteksi kekuatannya.


Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya terungkap kekuatan sebenarnya pemuda itu.


Kekuatan sang dewi pelarian. Ghost Radar sadar ia tidak punya kesempatan menang.


Namun meski begitu ia tetap mencoba, dan kenyataan tetap tidak berubah juga.


Kalau dibiarkan, pemuda itu bisa dengan mudah menghancurkan alam dewa yang dijaganya ini.


Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah yang terjadi kalau dewa meneruskan pertarungan ini. Sudah gagal menangkap pemuda itu, alamnya sendiri hancur juga.


Ia sudah melakukan bagiannya. Pemuda itu sudah sepantasnya melanjutkan perjalanannya.


***


"WAAAAGHHH!" Liu mengambang diantara lautan lava. INI SAMA SEKALI NGGAK BAGUS!


Ternyata ia tidak bisa percaya sama dewa!


Liu panik, ia belum pernah berenang, dan pengalaman pertamanya malah di tempat begini!


Liu berusaha menggerakkan badannya, dan benar-benar sulit!


Rasanya ia hanya terbawa arus saja. Tanpa kepastian sama sekali!


'SISTEM GIMANA!?' Inilah akibat dari percaya begitu saja!


Entah kenapa ia tak berdaya setelah ditendang. Padahal sebelumnya ia bisa mengatasi situasi ini, tapi kenapa sekarang berbeda?


Seolah tubuhnya tak bisa melakukan apapun. Begitulah rasanya.


Sistem sudah tahu ini dari awal, kekuatan dewa tengkorak mencegah tuannya lari dari apa yang akan terjadi selanjutnya. Seolah sudah direncanakan dari awal.


[Tenang saja Tuan]


'KOK BISA TENANG!?' Bukannya gawat ya!? Bisa tenggelam lho!


Dengan cepat cepat sistem menjelaskan kenapa tuannya harus tenang.


'....' Jadi begitu... Liu paham sekarang!


Semua ini ternyata rencana sang dewa! Kalau saja dewa mengatakannya langsung tentu ia tak perlu berburuk sangka dulu.


Benarlah dugaannya soal metode selanjutnya, yang meski agak aneh juga sih.

__ADS_1


Memakai api untuk 'membersihkan' diri memang aneh, dan sekarang berenang di lava? Keanehan sudah naik level sih ini.


Liu tak bisa protes, toh kalau ini yang harus dilalui, ia bisa apa?


[....] Sistem terkesan tuannya tidak banyak ngeluh, tidak seperti anak kecil lagi.


'AKU TAHU SISTEM.' Entah kenapa sistem merasa terancam.


Liu terdiam, kini ia lebih tenang. Tidak ada gunanya khawatir di saat begini.


Liu mengarahkan pandangannya, dan getaran masih terasa dan kini ia benar-benar mengikuti arus tanpa tujuan yang jelas.


Sedikit info membuatnya bertanya-tanya akan apa yang terjadi, namun tak ada yang bisa menjawabnya kecuali waktu sendiri.


Liu menutup matanya. Entah kenapa melihat banyak hal membuat pikirannya melayang kemana-mana.


Terkadang lebih sedikit tahu lebih baik. Liu tak perlu membebani pikirannya dengan berbagai macam hal.


Namun tak berarti pula ia tak berpikir panjang juga, hanya saja Liu ingin memberi sedikit ruang 'keraguan' dalam hatinya.


Sistem terdiam, tak disangka tuannya mampu berpikir berat seperti ini, ternyata tuannya ini memang sudah benar-benar berkembang.


***


"Uh." Liu membuka matanya, dan melihat sekelilingnya. Kini ia terdampar di suatu tempat, seperti pantai.


"HAH!" Dengan cepat Liu membuka mata dan mengamati sekelilingnya. Langit biru, udara sejuk, ombak menderu. JELAS-JELAS INI PANTAI!


PLAK!


Liu menampar dirinya, memastikan semua ini nyata atau hanya imajinasinya sendiri.


"DUH." Sakit sih.


Berarti semua ini nyata adanya. Liu terdiam, ia masih belum percaya apa yang dilihatnya.


'Sistem kita dimana?' Liu butuh info, semoga sistemnya berguna kali ini.


[Menganalisis ... kita masih di Alam Dewa Tingkat Menengah Awal Tuan]


'O- oh?' Masih di alam dewa yang sama toh.


LAH TAPI KENAPA TEMPATNYA BENAR-BENAR BEDA BEGINI?


Bukankah harusnya mereka masih berakhir di tempat mengerikan penuh lava tadi?


Tapi kenapa malah berubah seratus delapan puluh derajat begini?


Liu terdiam, agak tidak masuk akal sih. Tapi ya ia tak tahu definisi 'masuk akal' menurut alam dewa sih, jadi yah sudahlah.


Liu tak mau ambil pusing, yang sudah terjadi, terjadilah.


Lagipula salahnya sendiri kenapa menutup mata, padahal kalau saja ia terus mengamati pasti bakal tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Dan sistem juga sama istirahat juga dengan tuannya. Mempercayakan semuanya pada kekuatan dewa untuk membawa tuannya.


Suara ombak terdengar jelas. Entah kenapa melihat tempat ini mengingatkannya sewaktu berkunjung ke alam monster dulu.


Tapi harus diakui keindahan pantai alam dewa lebih memanjakan mata dibanding pemandangan yang dulu sih.


Inilah pandangan idealnya tentang bagaimana alam dewa kelihatannya. INI INDAH BANGET SIH.


Kalau dibandingkan tempat sebelumnya, tempat ini cocok sekali buat cuci mata!


Yah sekali-kali refreshing ngeliat yang indah-indah, iya nggak guys?


Matahari bersinar terik dengan langit yang cerah. Dipadukan dengan angin sepoi-sepoi dingin. Liu tak bisa menahan godaan seperti ini.


BLUGH.


Dan ia pun berbaring. Menikmati suasana pantai alam dewa yang tiada duanya.


Yah santai sebentar tidak masalah bukan?


Liu merilekskan pikirannya, sebelumnya ia begitu tegang berhadapan dengan dewa tengkorak sih. Jadinya healing dulu aja hehe.


Liu menutup matanya, membiarkan udara sejuk dan hangatnya mentari merasuk ke tubuhnya. Setelah ini renang enak juga.


Demi melupakan insiden yang sebelumnya terjadi juga sih.


Dan waktu pun berlalu, Liu masih berbaring, ia sama sekali tak peduli yang lain selain mengapresiasi keindahan dan kenyamanan di alam dewa.


"Hm?" Entah kenapa seperti ada suara.


Liu tak membuka mulutnya sejauh ini, dan untuk apa juga? Toh ia hanya sendirian juga kok.


"Hmmmm?"


PATS!


Liu membuka matanya! JELAS-JELAS ADA SUARA ORANG!


"!?" DAN MEMANG BENAR ADANYA!


Ada perempuan berambut hijau yang menatapnya heran!


"WAH!" Liu melompat mundur. Ia sama sekali tak sadar!


"?" Perempuan itu menatapnya heran.


'SISTEM?' Kenapa sistemnya tak memberi peringatan sama sekali!?


Biasanya sistem bisa diandalkan di saat begini!


[Ada apa Tuan?] Sistem pikir tuannya senang bangun melihat gadis cantik.


'JANGAN PURA-PURA NGGAK TAHU.' Sejak kapan sistem melonggarkan kewaspadaannya begini?


"Xiao Liu....?" Perempuan muda berambut hijau itu menaruh jemarinya di dagu, seolah sedang berpikir.

__ADS_1


"!" Lagi-lagi ada yang tahu identitasnya!


Liu terdiam, ia memerhatikan perempuan asing berambut hijau itu.


Wajahnya cantik, warna matanya senada dengan rambutnya, dan ia memakai pakaian hijau tembus pandang.


Ia sama sekali belum pernah bertemu dengannya!


Sret.


Liu berjalan mundur, ia tak menyangka sudah terkenal di alam dewa begini.


[Bukannya itu bagus Tuan?] Bukankah tujuan tuannya agar dikenal banyak orang? Kini bukan hanya orang, bahkan dewa sekalipun.


'Bukan begitu.' Bukannya Liu menolak terkenal atau apa. Yah Liu belum terbiasa bertemu makhluk asing yang tiba-tiba sudah mengenalnya.


Sret.


Liu melihat lagi perempuan rambut hijau itu, dari penampilannya dia seolah seumuran dengan para pendekar yang dikenalnya di bumi!


"Ah." Gadis hijau itu menutupi tubuhnya, yah pakaiannya tembus pandang, siapapun bisa melihat ********** sih.


UKH.


Liu tak berkedip sama sekali, mungkinkah ini yang disebut orang fan service!?


Liu tak bisa menyalahkannya berpakaian seperti itu. IA MENYALAHKAN PANDANGANNYA SENDIRI KENAPA TERUS MELOTOT SAJA BEGINI.


Liu menutup matanya, memfokuskan pikirannya. Ia tak mau dituduh yang bukan-bukan, baru saja sampai di tempat lain lho.


Liu mengangkat tangan kanannya ke depan, dan seketika itu juga api biru muncul.


Swush.


"Tolong pakai ini dewi." Liu berjalan memberi jaket keren hitam dewa tengkorak padanya, tentu sambil memalingkan pandangannya.


"A- ah?" Gadis hijau itu seolah tahu pakaian hitam ini, namun tak pikir panjang ia segera memakainya.


Men-summon teknik? Sudah biasa. Men-summon pakaian? Beuh.


Liu memanfaatkan sisa energi dewa tengkorak yang tersisa ditubuhnya, mengubahnya jadi bentuk jaket garang sang dewa itu.


"Jadi kamu Xiao Liu." Gadis hijau itu terdiam, ia menatap ramah Liu.


"Benar, senang bertemu dengan dewi." Liu menunduk hormat. Akhir-akhir ini ia mulai terbiasa bicara formal.


Ya siapa juga yang mau bicara tak sopan sama dewa? Liu tak mau membuat masalah sih.


"Ah, aku belum memperkenalkan diri. Aku Hai Tian. Dewi Pantai." Sang dewi memperkenalkan diri dengan anggunnya.


"...." Liu terdiam, ia baru tahu ada dewi pantai.


APA MUNGKIN TUGASNYA MENJAGA PANTAI?


"A- ah. Pikirkan saja sesukamu." Sang dewi tersenyum kecil.


LIU LUPA KALAU DEWI BISA TAHU APA YAN DIPIKIRKANNYA.


[Tenang saja Tuan] Yang tadi hanyalah analisis dewi saja, bukan melihat pikirannya.


'Oh?'


Sistem sudah memperbarui keamanan, makhluk lain bahkan dewa sekalipun tidak akan mudah tahu apa yang dipikirkan tuannya.


Belajar dari pengalaman sebelumnya. Tuannya sepertinya tidak terlalu nyaman privasinya diusik seenaknya.


Sang dewi sudah biasa mendapat reaksi begitu. Dan kini setelah sekian lama, tetap saja reaksinya begitu.


Liu terdiam, entah kenapa sang dewi terlihat murung begitu.


"Ma- maaf dewi." Dengan cepat Liu tersungkur ke tanah. Ia tak berniat berburuk sangka.


"Ah, tidak usah begitu." Sang dewi membangunkan Liu.


"Aku tahu kenapa kamu kemari." Dewi sudah tahu pemuda ini sudah melawan dewa tengkorak sebelumnya.


Liu terdiam, apa itu berarti ia akan melawan sang dewi pantai juga?


"Kita tidak akan bertarung." Dewi tersenyum.


'OH?' Liu pikir setiap bertemu dewa dia bakal bertarung, ternyata tidak?


Tapi dirinya kan buronan. Tentunya dia jadi musuh semua dewa bukan?


Lantas kenapa dewi ini tidak mengincarnya?


"Dewa kematian tidak mewajibkan semua dewa menangkapmu. Aku tidak peduli." Dewi menjelaskan alasannya.


Tidak peduli dengan seberapa besar imbalan yang dijanjikan. Hai Tian sama sekali tidak tertarik.


Ia juga sudah sedikit banyak tahu latar belakang pemuda yang datang ke tempatnya ini.


Liu terdiam, akhirnya terungkap fakta soal status buronannya ini.


Ia tidak benar-benar jadi buronan wajib ternyata.


Tanpa basa-basi Liu menjelaskan maksud dan tujuannya.


Sang dewi mendengarkan semuanya dengan penuh perhatian. Ia jadi lebih paham soal situasi pemuda ini sekarang.


"Dewi Xinmu, dewi yang baik." Hai Tian agak tertunduk.


Meski tingkatan mereka terpaut jauh. Namun ia tahu dari awal sang dewi penciptaan memang sungguh baik.


Liu terdiam, ia tak menyangka akan bertemu dewa, atau dewi yang mengerti keadaannya.


Liu sudah mengatakan maksudnya dengan jelas, kini hanya tinggal menunggu respon sang dewi saja.


Sudah sepantasnya Dewi Hai Tian menyalahkannya atas semua yang terjadi pada Dewi Xinmu.

__ADS_1


__ADS_2