
Bagaimana mungkin tuannya tahu soal ini? Jelas sistem tidak memberikan info apapun soal pintu bersinar itu.
Entah kenapa Liu merasa sistem merasa kagum. Yang pada kenyataannya memang benarlah begitu.
Liu seolah sudah tahu apa yang ia lakukan, yang pada kenyataannya ia tidak tahu sama sekali.
Ia hanya mengikuti instingnya bahwa akan terjadi hal menarik kalau ia mendobrak pintu itu, dan voila! Hasilnya memang mengejutkan.
Siapa sangka pintu bisa berubah jadi naga? Itu super aneh, tapi di alam dewa, semua hal mungkin terjadi.
Sistem terdiam, tidak disangka tuannya ini punya pikiran sejauh itu. Tuannya memang tidak bodoh.
'KAMU.' Liu merasa dijelekkan, padahal baru saja dipuji.
Liu terdiam, ia bisa melihat dua naga saling kejar-kejaran.
Kini naga hitam seolah kewalahan dengan kehadiran naga putih.
Dan sejauh ini masih belum ada tanda-tanda naga hitam itu akan menyerang. Yah beliau disibukkan oleh naga putih sih.
Liu terduduk dan menikmati pemandangan lagi, diselingi dengan pertarungan epik dua naga raksasa.
Yah ia perlu istirahat setelah mengeluarkan tenaga besar demi mendobrak pintu, hehe.
Jangan salah, meski terdengar sepele, namun sejujurnya Liu mengeluarkan seluruh energi yang dikumpulkannya demi mendobrak pintu itu.
Liu tahu ia hanya punya kesempatan sekali, dan merisikokannya. Itulah sebabnya ia terdiam saja saat serangan bola api datang ke arahnya. Bukan sok keren tapi memang ia tak punya kekuatan lagi.
Kalau gagal, itu mengerikan sih.
Namun untunglah Dewi Fortuna masih berpihak padanya.
"NGGGRRH!" Terdengarlah suara menggeram yang keras, dan di saat itulah sang naga hitam tumbang.
"Cepet juga...." Padahal Liu lagi santai-santai sembari melihat pemandangan yang indah. Mau ditatap selama apapun ia nggak bosan sih.
SWUSH!
Dalam waktu yang singkat juga sang naga putih sudah ada di atasnya, terlihat memandangnya dengan seksama.
[TUAN?] Sistem tidak merasakan hawa ramah dari naga putih ini, dari tingkahnya dia bisa menyerang tuannya kapanpun.
"Hm?" Liu melihat balik naga putih itu, ia tak waspada atau takut sama sekali. Sungguhlah tatapan yang santai seolah pada rekan sendiri.
"Hmph."
"...."
'Sistem'
[Ya Tuan?]
'Kamu ngomong?' Liu ingin memastikan apa yang didengarnya.
[Tidak Tuan] By the way sistem juga mendengar suara wanita yang mendengus.
"!"
"YANG MULIA NAGA!?" Liu langsung menunjuk kaget, ternyata naga putih ini bisa bicara!? Tidak masuk akal!
"...." Naga putih terdiam, tatapannya jadi jauh lebih ringan seolah senang dengan apa yang didengarnya.
"Aah, jangan panggil begitu~" Sang naga putih berputar-putar kesenengan.
'Kok bisa ngomong sih?' Liu baru tahu lho.
[Tuan tanyakan saja sendiri] Sistem masih lelah pasca pengumpulan kekuatan brutal tadi.
"Namaku Long Bai Se." Sang naga putih memperkenalkan dirinya.
"Aku Xi-"
"Xiao Liu huh?" Naga putih langsung menyelanya.
"...." Liu tak menyangka ia cukup terkenal sampai ke telinga pengawas alam dewa tingkah menengah.
Bai Se sudah tahu jelas identitas makhluk yang dilindunginya.
Ia bahkan bisa merasakan kekuatannya dari awal kedatangannya.
"Tadi sakit tahu!" Naga terdengar protes.
'Sakit?' Liu tak ingat sudah menyakiti sang naga putih.
[Insiden pendobrakan Tuan] Sistem mengingatkan.
'Aaaah....'
"Maaf Yang Mulia Naga Bai Se, tadi gawat sih, hehe." Liu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Bai Se terdiam, tadi memang si Hei Se berulah, memanggilnya adalah keputusan yang tepat.
Tapi caranya itu tetap saja menyakitkan, padahal jika dia mencolokkan tiga kali saja kunci putih itu, maka ia bisa tetap terpanggil juga.
"...."
[Tuh kan] Tadi sistem bilang apa?
Liu tak menyangka sih. Soalnya suara 'ah.' nya ganggu sih.
"...." Naga putih terdiam, padahal suaranya itu agar pemilik kunci putih tetap mencoloknya, soalnya suaranya bagus dan menarik sih.
Secara teknis ia nggak ngalahin sang naga hitam sih. Itu gimana ya?
"Tenang saja, aku adalah jembatan antara alam dewa menengah tingkat tengah dan alam dewa menengah tingkah akhir."
Siapapun yang punya kunci utama alam ini berhak mendapat pertolongannya ketika ujian terakhir datang.
Kenyataannya bisa saja pemuda itu mengalahkannya dengan kekuatannya. Namun pasti butuh usaha dan tekad yang kuat.
Kalau ada yang gampang, kenapa harus yang susah?
Tanpa perlu mengalahkan sang pengawas alam dewa sekalipun, sudah ada bukti sang pemilik kunci bukanlah makhluk biasa.
-
JADI PENGAWASNYA ADA DUA?
Liu baru tahu soal ini sih.
[Sepertinya tidak begitu Tuan]
'Oh.' Liu ingat sang naga memang mengatakan soal 'jembatan' sih.
"Oh, jangan pikirkan Hei Se. Tujuan awalnya memang untuk mengujimu, namun sebenarnya kamu tidak perlu membuang waktu dengannya." Bai Se sudah tahu bagaimana kekuatan pemuda ini.
"...." ITU AGAK BERLEBIHAN.
__ADS_1
Padahal kenyataannya Liu mengeluarkan banyak kekuatan sampai kering tadi. Tapi kok sang naga tak sadar sih?
[Sepertinya karena sibuk Tuan]
Benar juga, tepat setelah melindunginya sang naga langsung melakukan urusannya, jadilah tak memperhatikannya lebih lanjut.
Sang naga sadar setelah kekuatannya sudah pulih kembali.
Faktanya, sangat jarang yang mendobrak pintu putih jembatan ke alam dewa tingkat selanjutnya. Hanya makhluk yang sangat kuat saja yang bisa melakukannya.
Itulah yang jadi bukti kuat dan alasan kenapa pemuda ini tak perlu menghabiskan waktunya untuk berurusan dengan naga hitam.
"Pyuh." Liu bernafas lega, ia penasaran apa yang terjadi pada sang naga hitam.
"Dia hanya tumbang, tidak usah khawatir."
SSWUSH.
Sang naga putih turun ke bawah dan berdiam disamping Liu.
Liu terkesan betapa besarnya tubuh sang naga putih dari dekat. Sepertinya lebih besar dari versi hitamnya deh.
"Tunggu apa lagi?" Bai Se melihatnya heran.
"?"
"Naiklah, kita akan berangkat."
"F- FOR REAL!?" Naik naga? Ini pengalamannya yang pertama sih.
Apa bakal baik-baik saja ya? Kalau jatuh gimana ya?
SSSHHHU!
"W- Whoa." Liu terbang dengan belaian udara lembut dan langsung naik ke punggung sang naga!
"Pegangan yang erat."
SWWUSH!
"WHAA!"
Liu terbang bersama sang naga putih, naik lebih tinggi lagi menembus awan yang ada!
***
Inilah definisi dari pemandangan indah. Liu bisa melihat langit sore indah di atas awan.
Rasanya tak jauh beda dari yang ia lihat ketika kecil, hanya saja pengalamannya kali ini lebih impressive.
Liu pikir ia bakal berteleportasi atau apa gitu, namun ternyata ia harus terbang toh?
Sang naga putih melihat sekilas pemuda yang tengah menikmati pemandangan ini.
Sudah lama sejak terakhir kali ia mengantarkan makhluk lain seperti ini, dan pula makhluk yang paling diincar se-antero alam dewa.
Apa ia terbang saja ke tempat dewa kematian yah? Dengan begitu ia pasti dapat hadiah besar yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Nona Bai Se?" Entah kenapa Liu merasa tak aman. Kek ada energi negatif.
"N- Nona!?" Kenapa dia memangilnya seperti itu?
"A- aku ini naga...."
"W- wah." Liu agak kagok pakai sebutan 'yang mulia', agak kepanjangan, jadinya nona saja deh....
-
Namun kenapa pemuda ini melakukannya? Dia yang jelas lebih kuat dari dewa dan bahkan dirinya?
Kenapa dia memanggilnya dengan hormat begitu?
Pikiran gelap Bai Se langsung sirna seketika itu juga dan ia malah senang dipanggil seperti itu.
"Kalau kau naga, aku pasti langsung jatuh cinta."
"...." Liu terdiam.
'H- hah? Maksudnya apa?'
[Tuan dilamar]
'WADUH!' Kenapa beliau ini malah menyatakan perasaannya!?
"A- ahaha." Liu tersenyum kecil, ia menghargai perkataan makhluk hebat ini. Sudahlah sepatutnya masing-masing makhluk berpasangan dengan satu spesiesnya.
Liu terdiam lagi, ia sulit percaya ada makhluk yang bahkan lebih kuat dari dewa. Memangnya itu mungkin ya?
[Itulah keunikan alam dewa Tuan] Alam ini tidak hanya berisi para dewa saja, melainkan juga makhluk yang punya kekuatan setara dewa.
SRING!
Seketika itu juga muncullah sinar terang di depan jalur yang sedang mereka lalui.
"Uh." Liu menutup matanya ia merasa silau sih.
Mungkinkah itu salah satu bintang nyasar yang terang?
[Sepertinya bukan begitu Tuan] Sistem merasakan adanya energi dari sinar yang bercahaya itu.
"Bersiaplah." Sang naga putih terbang makin cepat, dan akhirnya masuk ke dalam cahaya terang itu.
***
SWUUSSH!
Terlihat Liu memegang erat sang naga putih, ia tak mau jatuh dan terdampar di tempat aneh.
"Kita sampai."
"Eh?" Liu membuka matanya, dan seketika itu juga disambut dengan hamparan padang rumput penuh bunga yang indah.
Hempasan angin membelainya lembut, udara segar, semerbak bebauan bunga sungguhlah menenangkan.
Ngomong-ngomong lagi sunset di tempat ini.
"I- ini....?" Liu berusaha melihat semuanya dengan seksama lagi, dan memang tempat ini memang jauh lebih indah dari yang ia bayangkan.
"Tugasku sudah selesai, semoga beruntung, Xiao Liu." Bai Se, sang naga putih terbang tinggi dan meninggalkannya begitu saja.
"...." Tinggal Liu saja sendirian di tengah area terbuka. Dan lagi-lagi tanpa banyak petunjuk.
[Menganalisis....]
[Alam Dewa Menengah Tingkat Akhir, Flower Season]
'Flow-er?' Apa itu nama tempat ini? Penuh dengan bunga indah sih.
__ADS_1
[Semoga beruntung Tuan]
'KAMU TETEP DISINI.' Sistem malah niru perpisahan begitu.
Oke kalau, begitu peta yang ada padanya sudah kadaluarsa dong ya, nggak berguna.
Buang ah.
Liu melemparkan peta itu begitu saja. Ia butuh peta versi terbaru sekarang.
Tap.
Liu menoleh, dan terdiam melihat peta yang dibuangnya tadi bersinar terang.
Sebelumnya belum pernah terjadi hal seperti ini sih.
'MELEDAK?' Liu bersiaga, barangkali benda yang ia bawa dari alam dewa sebelumnya nggak kompatibel dengan alam dewa yang sekarang.
[Itu bukan alat elektronik sih] Sistem tidak setuju.
Yang pasti sistem tidak merasakan ada hawa kekuatan berbahaya dari kertas peta yang bersinar itu.
Liu terdiam, kejadian aneh begini sayang dilewatkan, dan kalau tak bahaya kenapa harus takut juga?
Dengan sigap Liu mendekat ke arah kertas yang bersinar itu, butuh keberanian untuk mengambil setiap langkah, namun akhirnya ia berhasil dan tanpa pikir panjang langsung mengambil peta itu dan langsung membukanya.
Kini kertas besar itu berhenti bersinar, dan Liu bisa melihat isinya dengan jelas.
'Lho.' Dari pandangan pertama saja sudah ada yang aneh. Liu memicingkan matanya, fokus, namun apa yang dilihatnya tidak berubah juga.
'Sistem?' Liu ingin memastikan ia salah lihat atau tidak.
[Petanya berubah Tuan] Itu sudah jelas sih.
Berarti nggak salah lihat.
'KOK BISA?' Pasti ada alasan yang masuk akal dibalik kejadian ini.
[Mungkin petanya ingin berubah sendiri?]
"...." Alasan yang menggelikan namun bisa terjadi juga sih.
Toh pintu aja bisa berubah jadi naga, masa peta yang isinya berubah aneh?
'OKE INI PASTI PETA ALAM INI.' Liu langsung yakin seyakin-yakinnya.
Sistem diam tidak berkomentar, kali ini apa yang dikatakan tuannya mungkin saja benar.
Liu melihat perbedaan gambar yang signifikan, kini terlihat lebih banyak dataran, dan cukup detail juga penggambarannya. Ini jelas upgrade dari peta alam dewa sebelumnya sih.
Hanya ada satu masalahnya....
'NGGAK ADA IKONNYA KEK YANG DULU.'
Jadi Liu nggak tahu spot-spot mana yang harus dikunjunginya....
[Tapi Tuan tidak mungkin menjelajah semuanya]
'Eh iya deng.' Ia kan bukan adventurer kelas elit ya. Ia cuman makhluk simpel yang berusaha bertahan di alam dewa aja.
Jadi untuk apa info atau lokasi tempat kalau ujung-ujungnya nggak bakal didatengin?
Tapi entah kenapa ia lebih suka peta yang detil aja, ngelihat yang polosan begini rasanya ada yang kurang.
Sret.
Liu dengan sigap mengamankan aset navigasinya yang berharga ini. Kini mau tak mau ia harus membiasakan dulu menginjakkan kaki di alam dewa yang baru.
Yah lebih tepatnya, alam dewa yang lebih tinggi tingkatannya.
Tanpa terasa seiring dengan berjalannya waktu Liu merasakan hawanya makin dingin dan suasana sekitar jadi tidak seindah saat ia pertama kali datang ke sini.
Yah wajar saja mengingat sang surya sudah malu menampakkan dirinya, kini yang ada hanyalah kegelapan dan kesunyian yang menemaninya.
Andai saja suasana indah tadi berlangsung lebih lama, tapi ya sudah mau gimana lagi sih.
SRING.
Liu bisa melihat lebih jelas berkat mode malamnya, sorot matanya berubah kebiruan dan keren seperti biasanya.
Sejauh mata menandang hanya ada area lapang yang penuh bunga, rasanya nggak ada ujungnya.
*Endus*
Liu menggosok hidungnya yang gatal.
"HACHI!"
"Uh." Rasanya ia mencium bebauan aneh.
Padahal sebelumnya bau semerbak harum dari bunga, namun kenapa sekarang jadi berbeda ya?
Liu terdiam, ia memetik salah satu bunga dan menciumnya, memastikannya lagi.
'BENERAN BERUBAH.' Hidungnya tak bisa dibohongi sih.
Lagi-lagi hal aneh, namun Liu tak mau ambil pusing.
Mungkin saja hal begini biasa terjadi di tempat ini, toh bebauan bunga aneh ini nggak bahaya juga kan?
[Racun terdeteksi....]
'....'
'RACUN?' ITU JELAS BAHAYA SIH.
'Dimana!?' Liu melihat sekitar dengan cepat, namun ia tak melihat adanya gas hijau atau apapun yang mencurigakan.
DEG.
"!"
Blugh.
Liu jatuh begitu saja dan bertumpu pada lututnya, ia kelihatan lemas.
'Kenapa ini?' Liu terheran, seolah kekuatannya hilang begitu saja....
[Memulai penetralan....]
SHH....
Kini tak hanya sorot matanya saja yang bersinar, namun aura kekuatan kebiaruan menyelimutinya.
Liu tak menyangka datang-datang langsung disambut racun begini.
Dan lagi malahan berasal dari bebauan harum yang belum lama diciumnya.
__ADS_1