
Liu berbalik dan mengibaskan tangannya. ‘SISTEM APA-APAAN INI!?’
[Stiker tengkorak pemberian raja alam monster bekerja Tuan]
[Dengan kekuatan itu kita semua bisa kembali ke dunia asli]
“HAH? OH!” Jadi bukan karena kekuatan belati merah?
“TUNGGU SEBENTAR.” Liu tak mau ada keributan atau apalan, karena itulah ia menggelar rapat strategi kecil dadakan.
JRENG.
Fang Yin mengeluarkan jubah hitam tertutup untuk dua orang.
“A- aku masih menyimpannya, tapi hanya untuk dua orang.” Yin tak mempersiapkan banyak barang penyamaran juga.
“HAH BUAT APA?” Shuwan tak mengerti.
Dengan cepat Liu menjelaskannya.
“HO! KAMI SETERKENAL ITU YA DI DUNIA?” Shuwan tak menyangka harus menyamarkan identitasnya begini. Ia jadi semangat nih!
‘MASA NGGAK SADAR DIRI.’ Liu heran, bisa jadi Nona Shuwan spesialis penyamaran!
“….” Ying tak melihat ada yang salah, lagipula benar akan merepotkan kalau mereka menarik perhatian orang lain.
“Kalian?” Ying sudah siap dengan jubah dan Shuwan pun memainkan jubahnya.
“Kami baik-baik saja Nona.” Liu yakin ia dan Yin-jie tak akan dicap buronan lagi, yah lagipula dunia sedah heboh dengan monster, jadi untuk apa mempedulikan kasusnya?
Akhirnya, Liu dan rekannya yang lain mampir ke bar kecil itu.
Klek.
Pintu pun dibuka, aroma orang berkeringat dan semerbak bau minuman dan makanan pun menyerbu mereka. Rasanya nostalgia.
“HOOO!?” Para pelanggan yang sedang berkunjung cukup kaget dengan kehadiran orang yang baru datang ini.
“Bukannya dia bocah ingusan sekte sesat ya!?”
“Lihat! Gadis rambut coklat itu masih bersamanya! Pengaruh cuci otaknya kuat juga!”
“Kenapa ada orang lain!? Mereka pengikut barunya kah!?”
“Hmph, masih hidup ternyata.”
Berbagai komentar menghiasi kedatangan Liu dan yang lain.
‘WOW MASIH INGAT SAJA.’ Liu heran kenapa orang-orang masih mengingatnya, padahal kejadian itu sudah cukup lama lho!
Yang lalu biarlah berlalu!
Pada akhirnya Liu berjumpa kembali dengan pelayan wanita yang dulu.
Penampilannya agak berbeda, kini riasan wajahnya terlihat lebih natural dan rapi.
“K- kau?”
Yah, seperti biasa ekpresi tidak percaya pun terpaut dari sang pelayanan bar.
“Selamat malam.” Liu menjelaskan kedatangannya kemari.
Sementara Liu bercerita, ekspresi pelayan wanita tetap saja tidak berubah.
“Pst, hei dia melamun saja.” Shuwan curiga.
__ADS_1
“Jangan-jangan cinta pada pandangan pertama?” tanya-nya.
“BUKAN BEGITU NONA,” jawab Liu dengan nada serendah mungkin.
BRUG.
“Kau dengar apa katanya? Apa yang terjadi di sini?” Sorot mata biru putri es berinar dibalik tudung jubahnya, terlihat mengancam dan menakutkan.
“….” Pelayan wanita itu tak mengatakan apapun.
Sret.
Dan malah hadirlah pria dengan kaus putih, tak asing juga sih.
“Sudah lama tak bertemu Tuan, ahaha.” Liu tersenyum kecil, namun yah seperti yang ia duga, pria besar itu menatapnya tak senang.
“Kalian mengganggu, pergilah dari sini.”
“….” Bahkan meski waktu sudah berlalu sekalipun, mereka masih tetap saja mencurigainya.
Haduh.
SRET.
Pria besar itu mendorong Liu.
Grep.
“N- No-“ Ying dengan sigap memegang tangan besar pria berkaos putih itu.
‘HO.’ Shuwan tak tahu apa yang terjadi, tapi agaknya bahaya kala rekannya mengakhiri seseorang di sini.
Grep.
Dengan cepat Liu memegang tangan putri es dan keluar dari tempat itu, diikuti kedua rekannya yang lain.
Pelayan wanita berterima kasih karena sudah ditolong, faktanya memang ia masih ingat kejadian dulu yang lebih mengganggu. Pasalnya sejak saat pemuda itu jadi buronan, banyak orang mencarinya dan itu sangat mengganggunya.
Pria dengan kaus putih itu terdiam, ia tersenyum, seolah tak ada sesuatu yang terjadi.
Ia ke belakang, meninggalkan tempat berjaganya, dan di saat itulah ia sadar kedua tangannya mati rasa.
***
[Di taman pusat kota, Yanzin. Malam hari]
Tanpa petunjuk apapun Liu dan yang lain mengunjungi taman yang sudah hancur dan tidak ada apapun kecuali pecahahan batu, rerumputan, dan banyak lagi yang berserakan.
‘ENTAH KENAPA MEREKA TERLIHAT BIASA SAJA.’ Liu tak paham. Bisnis bar tadi berjalan seolah tak terjadi apapun.
‘APA MONSTER BENAR-BENAR MEMBAHAYAKAN MANUSIA?’ Yah setidaknya itulah yang ingin Liu tahu.
Ia pikir saat datang ke tempat ini maka bangunan hancur dimana-mana dan manusia dijadikan sandera monster. Meski yang pertama sudah ia lihat sih.
Masih ada bangku besar yang tidak hancur. Liu duduk sajalah. Berdiri lama-lama capek juga.
‘Sistem. Keknya nggak ada bahaya apapun di sini dah.’ Liu menerung. Tak dapat info apapun.
[Jangan menyerah Tuan. Lihatlah sekitar Tuan, kehancuran ini bukankah membuat Tuan sedih?]
‘….’ Yah melihat sesuatu yang hancur memang menyedihkan, apalagi hati.
“Aku bisa membunuhnya tadi.” Ying terdengar serius.
“TERIMA KASIH NONA, TAPI ITU TIDAK PERLU.” Setelah buronan, terus pembunuh? Sudah cukup!
__ADS_1
Yin menaruh tangannya di dada, ia tak mengira orang masih saja ingat kejadian lalu. Apa memang orang tidak bisa melupakan kesalahan orang lain?
“SUDAHLAH JANGAN BERSEDIH BEGITU.” Shuwan menepuk Yin dan Liu, kali ini tak terasa seperti dipukul.
“Kita hanya perlu mengalahkan dalangnya bukan? Jangan diperdulit deh!” Shuwan tak suka berpikir keras, yah yang penting ia melakukan tugasnya, tidak ada gunanya menyusahkan dirinya dengan hal lain.
‘BENAR.’ Liu tercerahkan. Ia memang belum tahu soal yang terjadi di sini. Tapi yang pasti ia harus fokus pada tujuan utamanya!
Jangan jadi sad boy. Tapi ia harus bisa melihat peluang, bahkan di situasi tak bagus sekalipun!
BUM!
“!” Tanpa disangka malah ada ledakan yang tiba-tiba terjadi!
‘MONSTER!?’ Liu bersiap, akhirnya datang saatnya untuk serius!
“SHUWAN!?” Terdengar suara pria tua dari balik asap yang mengepul tinggi ini.
“SIAPA!?” Pendekar api bersiaga, ia juga harus waspada!
“KAU INI!?” Seorang pria tua lompat dan menjitaknya keras.
“GYAA!” Shuwan memegang kepalanya. Jitakan ini benar-benar menyakitkan!
“Te-tetua?” Shuwan mengusap air dari matanya, sementara terlihatlah seorang tua dengan rambut panjang berwarna kuning.
Sekilas beliau tampak seperti….
‘Kakek An….’ Liu jadi ingat orang tuanya.
“KAU MENGHILANG TERLALU LAMA! HM? SIAPA DIA!?” Tetua pendekar api menatap Liu tajam.
“AH DIA KEKASIHKU~” Shuwan langsung bergelayutan di tangan Liu.
“HA!?” Tetua pendekar api tak percaya, matanya sampai melotot dan mulutnya sedikit menganga.
“BU-“ SALAH PAHAM!
Zrr….
Tetua pendekar api mengacungkan jari telunjuknya, dan seketika itu juga muncullah api.
“Bersiaplah anak muda, aku akan mengujimu!” Tetau pendekar api memasang kuda-kuda….
‘MENGUJI APANYA!?’ Liu panik.
[Untuk menentukan apakah Tuan layak menjadi pendamping Nona Shuwan atau tidak]
‘OH!’ Mungkinkah tradisinya harus begitu?
“Tunggu TUAN!” Liu mengarahkan tangannya ke depan.
“HM!?” Untung saja tetua pendekar api masih bisa menahan diri.
Dengan bantuan sistem Liu menjelaskan yang sebenarnya.
“JADI BEGITU YA! SHUWAN DARIMANA KAU BELAJAR BERBOHONG!?”.
DUG.
DUG.
Tetua menepuk-nepuk keras pundak pendekar api itu.
‘HA RASAKAN!’ Entah kenapa Liu puas melihat momen ini. Ditepuk keras tidak selamanya enak!
__ADS_1
“DUH! Itu hampir benar kok!” Shuwan serius soal ini. Ia memang ingin terus berada di dekat pemuda itu.
“JANGAN ALASAN!” Tetua api memberi pelajaran yang cukup berarti disana.