Sistem Pendekar Terkuat

Sistem Pendekar Terkuat
Mana Pacarmu?


__ADS_3

“Ha!” Liu terperanjat bangun. Ia melihat sekitarnya dengan tajam.


‘Di kamar?’ Liu heran kenapa ia tiba-tiba ada di kamar? Apa yang terjadi?


[Tuan kalah di kompetisi itu]


‘….’


‘Aduh benar… gimana ya?’ Liu akhirnya ingat, ia tumbang di final. Sayang sekali keberuntungannya habis.


‘SIALAN!’ Benar saja apa yang dipikirkannya. Mereka pasti bersekongkol demi membuatnya kalah! Mereka menipunya dengan kebahagiaan sementara dan menyiksanya dengan kenyataan pahit!


Tidak biasanya Liu memikirkan hal berat begini. Tapi ini tidak boleh dibiarkan begitu saja! Ini menyangkut harga dirinya sebagai seorang lelaki!


“HMMM….” Liu menggeserkan selimut, merapikan tempat tidur dan kembali duduk. Ia merenung.


[Tuan lembut pada wanita ya]


“Tidak….”


[Tuan bohong]


“Ya….” Tidak dapat dipungkiri Liu agak kagok di pertarungan tadi.


Liu menggelengkan kepalanya, ia tidak segan menghadapi sesama jenis, tapi kalau lawan jenis ini baru pertama kalinya.


Liu memegang dadanya, sudah jelas-jelas ia menahan diri sebelumnya, apa karena grogi?


‘NGGAK LAH!’ Liu menolah mentah-mentah pikirannya. Sejauh ini ia percaya diri dan akan selalu begitu!


Mana mungkin karena melihat gadis cantik jadi goyah begini? Pasti ada alasan lain!


‘….’


‘Nggak ada alasan lain sih.’


Jadi ada dua alasan, entah itu ia tidak mau menyakiti lawan jenis dan grogi.


Bukan grogi malu, lebih kepada grogi… grogi malu.


‘BUKAN! BUKAN MALU!’ Liu menolak mentah-mentah lagi pikirannya, jelas-jelas ia grogi karena ini pertarungan pertamanya!


[Jangan kasar pada diri sendiri Tuan]


Bahkan sang sistem tahu pergejolakan yang terjadi di dalam anak muda ini.


Jangankan orang lain, mengerti diri sendiri terkadang jadi PR yang besar. Terkadang orang belum benar-benar mengenal dirinya sendiri. Hal yang tidak disadari para makhluk hidup.


Padahal Liu tahu dalam pertarungan tidak ada yang membatasi, bahkan lawan jenis sekalipun. Namun entah kenapa ia memang tidak mau menyakitinya.

__ADS_1


Lagipula mana ada pertarungan tanpa risiko? Zi Xin adalah salah satu contohnya. Itulah yang membuat pertarungan menarik, risikonya.


[Tuan tidak mau mengambil risiko]


“Tidak!” Tentu saja Liu mengambil risiko! Ia sendiri maju ke final dengan tiket emas, itu risiko bukan? Bak melompat dari bawah ke atas melewati beberapa anak tangga sekaligus, tentu tidak akan mudah dibanding melewatinya satu-satu.


Dan beginilah jadinya, seperti yang ia pikirkan, lawannya kuat dan ia pun kalah. Memikirkan hal negatif memang tidak ada untungnya! Liu sadar ia kurang optimis dan tekad, padahal tinggal mengalahkan pikiran negatif dengan positif, apa susahnya!?


Liu ingat dari buku yang dibacanya bahwa pikiran negatif akan menarik hal negatif sedang pikiran positif akan menarik hal positif. Terkadang ia tergoda mikirin hal negatif padahal tidak ada manfaatnya sama sekali.


Orang-orang berpikir negatif karena takut kenyataan, mereka takut berharap, takut situasi tidak bertambah baik, jadinya mereka nyaman dengan pikiran begitu.


Tapi Liu tidaklah begitu! Ia tahu kenyataan terkadang tak sesuai harapan, tapi masih banyak alasan untuk memikirkan hal baik!


‘Aduh jangan diulang lagi.’ Liu belajar akan hal ini, ia harus lebih hati-hati dengan pikiran.


“Aku takut.” Meski malu tapi akhirnya Liu jujur juga, kenyataannya ia tidak mau mengambil risiko.


Ia tidak mau menyakiti gadis itu, sesederhana itu.


Padahal ia juga punya sesuatu yang diperjuangkan, sesuatu yang sangat penting.


‘Bener-bener bokek nih.’ Liu melihat kedua kantong celananya, tidak ada apapun di sana.


Ia tidak bisa membeli belati merah, kalau begitu Fang Yin akan….


‘SIAL!’ Padahal ia sudah berusaha, tapi malah!


Kenyataan tidak sesuai harapannya, tapi masih ada hal positif, ia tidak jadi gelandangan di jalan, bukankah itu bagus?


Liu sendiri tidak menyangka bakal sadar di kamar penginapan, ia pikir ia akan ditinggalkan saja di jalan.


‘Terima kasih, oh, mereka masih punya hati….’ Liu tersenyum dan melipat tangannya, badannya yang lelah jadi cepat pulih berkat kasur empuk. Pasti beda jauh jika ia tersadar di tanah.


Setidaknya pihak penyelenggara masih punya hati menolongnya, Tuan Sir Robert **. Ternyata baik hati juga.


‘KALAU BEGITU!?’ Liu jadi ingat, di telapak tangannya ada tanda tengkorak, bukankah bahaya jika dilihat orang!?


Siapapun yang melihatnya akan curiga dan statusnya sebagai buronan akan tambah berat!


[Tenang saja Tuan, tidak banyak orang tahu soal itu]


‘OH!’


Liu sadar memang orang awam tidak akan tahu, mungkin mereka menganggapnya tato saja, dan itu melegakan.


Lagipula sistemnya juga bisa menyamarkan tanda itu, jadi tidak perlu cemas.


Liu beranjak dari kasurnya, berjalan pergi keluar kamar dan menyusuri lorong penginapan, dari jam yang dilihatnya sudah dini hari, ia tidak mungkin menghabiskan waktunya lagi di sini.

__ADS_1


Memang tidur lebih menyenangkan, tapi dia harus memperjuangkan sesuatu di dunia nyata!


Liu melihat-lihat ke ruangan lain, ia berada di lantai dua, dari banyaknya pintu kamar dan luas ruangannya, sudah pasti ini bukan penginapan biasa.


Wajar saja karena ia berada di kota besar juga sih. Sudah pasti penginapan yang ada punya standarnya sendiri, dan biayanya juga pasti tidak murah.


‘Aku dibayarin ‘kan?’ Seiring berjalan entah kenapa Liu malah agak cemas.


Mengingat ia kalah seharusnya tidak dapat apa-apa, tapi malahan sadar di penginapan berkelas, tentu ini jadi pertanyaan.


Apa mungkin ini ‘tikes emas’ yang lain? Keberuntungannya tidak benar-benar hilang 'kah?


“Hm.” Liu tersenyum kecil, memang menyadari hal baik membuat hatinya gembira. Jauh lebih berguna daripada mikirin masalah.


Liu turun ke bawah, dan menemui penjaga penginapan yang tertidur di meja penerima tamu.


Seorang pria setengah baya berkacamata, dia terlihat lelah menunggui tempat ini.


Yah manusia juga ada batasnya, terlihat selalu bugar di tempat kerja bukanlah hal yang mudah, Liu tidak enak membangunkannya.


“Sssttt… Tuan?” Liu mengetuk meja pelan, namun tidak berhasil.


[Menyebarkan energi Qi….]


“HAH!?” Seketika itu juga penjaga penginapan setengah baya baya itu terperajat.


“Weh! Tenang saja Tuan!” Liu mengangkat kedua tangannya ke depan, menenangkan tuan penjaga.


‘Sistem!’


[….]


Sistemnya terdiam, melakukan hal benar tetap saja dimarahi, beginikah nasib punya atasan?


“Oh tamu? Nak kenapa kamu keluar?” Tuan penjaga berkacamata itu menggosok matanya, tidak biasanya ada tamu yang tiba-tiba mendatanginya jam segini.


Biasanya orang-orang tidur dan menikmati waktu mereka sampai pagi menjelang. Tapi kenapa anak muda ini mendatanginya?


“Mana pacarmu?” Penjaga penginapan terlihat heran.


“Pacar!?”


“Apa kalian bertengkar?” Tuan penjaga terlihat peduli, namun ia sudah salah paham.


Dengan secepat kilat Liu menjelaskan apa yang ia tahu, dan tuan penjaga mendengarnya dengan seksama.


“Gadis berambut biru itu, dia membawamu kemari. Sebaiknya temui dia sebelum pergi.”


‘Gadis rambut biru? AH DIA!’ batin Liu, ia langsung tahu siapa itu!

__ADS_1


Siapa lagi kalau bukan Xiao Ying!


Jadi dia yang menolongnya? Bukan Sir.Robert.** dong!


__ADS_2