
Kesegaran dan kenyamanan suasananya tak jauh beda. Liu berbaring di sebelah lubang besar yang dibuatnya, enjoying the view.
Sistem sudah biasa melihat tuannya rebahan, yah tidak ada salahnya menenangkan diri.
Liu memandang keindahan langit sore ini, kenapa ia tiba-tiba dikirim ke pantai lagi ya?
Mau dilihat dari sisi manapun ia memang sedang berada di pantai. Pantai Alam Dewa Menengah Tingkat Akhir, lebih tepatnya.
Pasti ada alasan kuat kenapa ia bisa ada di sini. Dewi jamur nggak mungkin iseng-iseng mengirimnya ke tempat ini kan?
Mungkinkah ada aksesoris lain di tempat ini?
Sret.
Liu bergegas bangun dan masuk ke area pulau ini. Ia melesat dengan cepat.
SWUSH.
Tak butuh waktu lama Liu sudah balik lagi ke tempat awalnya.
Ia sudah menjelajah area pulau kecil ini, namun tak ada apapun yang mencolok selain berbagai binatang kecil biasa yang menghuni tempat ini.
Para binatang itu memang memancarkan energi kuat bahkan setara dewa, namun mereka semua terus menghindarinya.
Yah Liu nggak harap mereka menyerang juga sih. Pasti merepotkan juga.
Para binatang yang ditemuinya tak bertingkah aneh atau memusuhinya, malahan seperti ketakutan pas melihatnya.
Mereka tentu akan melawan kalau ada sesuatu yang dipertahankan.
Ia tak melihat adanya dewa juga.
EMANG NGGAK ADA YANG MENCURIGAKAN SIH DI SINI.
Mungkinkah harus diulang lagi? Mungkin ada bagian area pulau yang terlewatkan....
[Tidak usah Tuan] Sistem tahu betul tuannya tak hanya cepat namun sudah sangat teliti....
Untuk apa mengulang sesuatu kalau sudah tahu hasilnya?
BENER JUGA SIH.
Kalau begitu masih ada satu kemungkinan lagi....
Liu melihat ke arah lautan lepas....
[Jangan bilang....]
'Itu kan kata-kataku.' Sistem bahkan sampai mengambil kalimatnya.
Liu tak percaya, namun kemungkinan itu bisa terjadi juga sih.
'Duh.' Liu tak bawa peralatan selam apapun sih.
[Sistem tidak menyarankannya Tuan]
'Lho?' Baru saja ia mau melangkahkan kakinya.
Bukankah ia hanya tinggal menyelam dan mencari dimana aksesoris dewa?
Sistem akhirnya menjelaskan ketidaksetujuannya.
Liu terdiam. Tak bisa dipungkiri sitem got the point.
Meski mirip, namun tempat ini jelas beda dibanding pantai alam dewa tingkat sebelumnya.
Bisa saja ia hanya beruntung binatang pulau ini menjauhinya. Namun di dasar laut? Tidak ada yang tahu.
Bakal ada kaki seribu lagi nggak yah? Liu jadi ingat momen yang dulu.
Memang sebelum ia sadar soal binatang dewa pun, sudah banyak variasi makhluk yang dilihatnya. Namun ia melihat perbedaan kekuatan yang jauh besar.
Bahkan binatang kecil sekalipun bisa seberbahaya dewa. Begitulah yang ada di alam dewa menengah tingkat akhir ini.
Jadinya Liu tak punya pilihan selain waspada dan tak bertindak gegabah.
Ia jelas menerima usulan sistem, tapi di saat begini ... apa lagi yang bisa ia lakukan?
Blugh.
Liu duduk di atas pasir lembut. Terlihat memikirkan sesuatu.
Waktu terus berjalan, sang surya makin tenggelam, sedang ide cemerlang belum menyambarnya.
Liu berusaha tenang dulu dan melihat betapa indahnya pemandangan sunset ini.
Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
Kalau begitu....
Liu sudah memutuskannya. Ia bersiap bangkit kembali.
Sring.
Entah kenapa tubuhnya jadi berat.
'SISTEM?' Jarang-jarang sistem memberatkannya begini.
[Bukan sistem Tuan]
Lho, kalau begitu siapa dong?
Yang pasti bukan TBT juga, kekuatannya yang satu itu masih off sampai sekarang, dan Liu bisa merasakannya juga.
Sring.
"!" Kalung yang dipakainya tiba-tiba bersinar!
PASTI INI PENYEBABNYA.
Entahlah maksudnya, Liu juga tak bisa ngobrol sama kalung.
Ah iya!
'Sistem analisis!' Barangkali dengan begitu ia punya gambaran soal kalung apaan ini.
[....]
[Tidak bisa Tuan]
'LHO.' Padahal sebelumnya cincin bisa.
Dengan cepat sistem menjelaskan bahwa tuannya tidak akan tahu sebelum kalung itu sendiri menunjukkan kekuatannya.
Hm. Kalau begitu ia nggak bisa maksa sih.
[Sistem tidak bisa melakukan semuanya Tuan] Perkataan klasik lagi.
Memang begitulah kenyataannya. Itulah kemampuan unik aksesoris dewa. Kemampuannya akan tetap tersembunyi sampai benar-benar keluar sendiri.
Kalau begitu hanya ada satu kesimpulan....
Karena hanya kalungnya saja yang menyala.
Dengan cepat Liu memegang kalung itu hendak melepaskannya.
"LHO." Kok berat banget, bahkan nggak gerak sama sekali!
__ADS_1
'OIOI.' Liu makin tak paham.
Kalau begini terus ia nggak bakal bisa berdiri dan nyelam dong.
[Sepertinya itu maksudnya Tuan] Sistem berusaha memperjelas situasi di sini.
....
'AH!' BEGITU YA.
Kalung yang bersinar ini mencegah rencananya.
Tapi kenapa? Padahal hanya itu satu-satunya hal yang bisa dilakukannya.
Tak ada cara lain selain meng-eksplor dalamnya laut demi mencari aksesoris dewa lain.
Yah barangkali ia bisa ketemu dewa lagi dan nanya dimana lokasi aksesoris dewa kan?
'Bantu dong.' Sepertinya ada kesalahpahaman. Liu yakin sistem bisa membantunya.
[Tidak bisa Tuan]
[Kalung dewa sudah terintegrasi dengan tubuh Tuan, dan jika sistem memaksa maka bisa terjadi hal yang tidak diinginkan] Penolakan yang straight to the point.
'Terintegrasi?' Kebakuan bahasa sistem sudah tak perlu diragukan lagi.
[Sudah 'menyatu' dengan tubuh Tuan]
'Aaaah.' Liu lebih paham sekarang.
Jadi ia nggak bisa berontak dan egois....
Liu terdiam, faktanya ia tak sabar ingin beraksi, tapi kalau nggak diizinin ya mau gimana lagi.
Blugh.
Liu langsung rebahan, dan surprisingly tubuhnya langsung enteng.
Pas kepikiran mau bangun malah jadi berat lagi.
[Unik ya Tuan]
Meski masih gelisah akibat diem aja, namun Liu yakin masih ada sisi positifnya.
Nggak mungkin kalung dewi iseng aja melarangnya kemana-mana.
Kini hanya ada satu hal yang bisa dilakukannya.
Liu menutup matanya, tanpa ia sadar suasana malam dingin sepoi-sepoi membantu mengantarkannya ke alam mimpi....
***
"HEI! BADAI DATANG BERSIAPLAH!" Terdengar suara berat seorang pria.
"SI- SIAP KAPTEN!" sahut suara muda yang sedikit ketakutan.
"...." Entah kenapa rasanya tubuhnya terombang-ambing. Jelas ini cukup aneh sih.
"HM!?" Liu terdiam, ia diikat ditiang kapal!
"Wah- wah lihat siapa yang baru bangun." Suara berat itu terdengar lagi.
Liu merasa ada kain yang menutupi mulutnya....
Dan ia tak bisa melihat apapun, semuanya gelap....
SRET!
Sring!
Sekarang pandangannya silau....
Padahal jelas-jelas ia tidur di bibir pantai!
Liu terdiam penuh ketidakpercayaan. Jadi tidur tenang adalah keputusan yang salah?
"HM." Terlihat seorang pria penuh janggut mengamatinya. Ia memakai penutup pada sebelah matanya.
Liu terdiam dan hanya bisa menatapnya balik. Disaat begini ia tak boleh kelihatan kayak anak cengeng.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipinya! Aksi yang tak disangka dari pria penuh janggut!
"...." Pipinya panas, kek kebakar aja rasanya.
Mau ditahan bagaimanapun tetep aja pengalaman ini menyakitkan.
Liu tak tahan sok kuat lagi....
"HA!" Pria penuh janggut itu kelihatan puas.
"Makhluk yang ditakuti dewa, MENANGIS!?" Pria penuh janggut itu menatap tajam, maju ke depan bahkan hampir menempelkan mukanya.
"...." Liu merasakan aura ancaman yang hebat darinya. Jelas bapak berpenutup mata ini bukan sosok biasa.
Liu lemas, entah sudah berapa lama ia terikat di sini.
Ngomong dalam hati pun rasanya berat.
Pria penuh janggut itu mundur, dan sorot matanya terus menatap pemuda yang masih terikat ini.
"Xiao Liu, huh?" Pria berjanggut itu mengambil tambakau dan mengisapnya. Menikmati kepulan asap yang keluar dari mulutnya.
"...." Liu terlalu capek memerhatikan apa yang dilakukan pria itu. Namun tidur lagi bukanlah pilihan yang tepat juga.
Apa lagi yang bakal terjadi kalau tidur lagi? Liu belajar dari kejadian sebelumnya.
Sadar di sebuah kapal besar sama sekali tak ada di pikirannya, namun itu yang malah kejadian.
"Incaran dewa kematian... hmm...." Pria berjanggut itu masih melihat tajam sembari menikmati kapal besarnya yang terombang-ambing.
Liu tertunduk, masih sadar dan menggunakan sisa tenaganya buat dengar ocehan orang lain.
Mau bagaimanapun juga Liu harus tahu apa yang terjadi di sini secepatnya. Tidak peduli keadaannya sekarang.
Ia sadar ditangan yang mengincarnya, inilah situasi yang paling ingin dihindarinya.
[Tuan]
'....' Ada suara samar-samar....
Dengan segenap kekuatannya Liu menjawab suara itu.
TAP.
"Sayang sekali kalau kubawa langsung." Pria berjanggut itu kembali mendekat, dan memakai topi bundarnya.
"Harta karun itu ... pasti kutemukan." Akhirnya pria berjanggut itu pun pergi ke kemudi kapal, meninggalkan Liu yang lemah.
'Har ... ta .. ka ... run?' Liu menutup matanya yang berat dengan rasa penasaran.
***
-Di kapal besar tempat Liu diikat dan tak sadarkan diri.
Terlihat beberapa pria muda sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing.
__ADS_1
Menjaga kapal agar tetap mengapung meski badai tengah melanda.
Air mulai masuk ke badan kapal namun dengan siap anak buah itu mengambil ember dan membuang air ke luar kapal.
Kini goncangan kapal lebih kencang lagi dibanding sebelumnya. Jelas jadi ancaman bagi siapapun yang sedang berada di sini.
BLAR!
Angin kencang, guntur, dan petir jadi paket lengkap. Situasi belum bertambah baik.
"KAPTEN!" Salah seroang pria muda melapor adanya kerusakan pada kapal mereka.
Pria berjanggut dan berpenutup mata itu terdiam, dan perlahan menoleh. "Kalau kau berdiri saja, kita akan tenggelam."
"SI- SIAP!" Anak buah kapal yanng menoleh itu langsung undur dan melakukan tugasnya lagi.
Sadang pria berjanggut yang adalah kapten itu tetap memasang wajah tenang.
"Aku pasti mendapatkannya." Terlihat jelas sosot mata penuh hasrat dan keinginan.
Raut wajahnya menandakan ia sudah melewati banyak hal dan menunggu saat-saat ini.
"Dia akan membawaku ke sana." Sorot mata nya tajam dan ia tersenyum percaya diri diabalik janggut tebalnya.
***
SPLASH!
"!" Liu membuka matanya, seluruh tubuhnya basah kuyup.
Dengan sigap anak buah kapal melepaskannya dan menggiringnya keluar kapal.
Liu tak memberikan perlawanan. Tubuhnya masih lemas, namun sejujurnya tak separah kemarin.
Liu melihat sekelilingnya, tak ada lagi badai mengerikan yang sebelumnya terjadi. Sudah berapa lama ia tak sadarkan diri?
Tak hanya tubuhnya yang lemas namun ternyata mentalnya juga. Liu belum bisa fokus.
Yang pasti kelihatannya ia sudah sampai di tempat tujuan dan sang kapten sudah jauh di depan.
Liu dituntun ke sebuah pulau, ada beberapa pria yang mendampinginya, sedang pria berpenutup mata sebelah itu memimpin jalan.
[Tuan] Suara kembali didengarnya. Kali ini cukup jelas.
'Sis ... tem?' Liu kini bisa meresponnya, meski masih lemah.
"Maju."
BDUK!
Liu didorong keras, ia tak diizinkan melambat.
Padahal ia diikat berdiri di tiang, wajar saja kalau kakinya lemas sekarang.
Yah Liu tak bisa melakukan apapun selain menerima apa adanya. Toh lagipula ia tak bisa melakukan apapun.
Kini regu kapal bersama Liu makin masuk ke dalam area pulau. Dan kini mereka sedang menerobos semak tinggi dan area pepohonan padat.
Medan yang mereka lalui lebih sulit, beberapa kali Liu terkena semak duri yang tentunya tak menyenangkan.
Kalau tubuhnya fit tentu ia akan senang menjelajah dataran yang menantang ini, namun sayangnya kondisinya tidak tepat sekarang.
Sang kapten dengan penutup mata memimpin perjalanannya sembari melihat sebuah kertas yang dipegangnya, yang tak lain tak bukan adalah sebuah peta.
"Hm." Sang kapten terlihat serius, ia berusaha membaca peta yang diambilnya dari pemuda itu.
Ia mengambil langkah hati-hati.
Liu kini ada dibelakangnya.
'D- dia ....' Liu ingat pria berjanggut itu mengatakan sesuatu tentang harta karun.
Tak diberitahu pun Liu tahu mereka sedang mencarinya di tempat ini.
Seiring dengan berjalannya waktu kondisi mentalnya bertambah baik. Kini Liu mulai bisa berpikir jernih.
Ia ingat pernah baca satu buku kisah heroik bajak laut yang mencari harta karun. Sepertinya mirip dengan yang ia alami sekarang.
Kemungkinan besar ia dibawa saat tertidur di pantai. Dan ia tak mengerti kenapa itu bisa terjadi.
Kenapa sistem tak membangunkannya dan mencegah semua ini terjadi?
'Sistem?'
[....] Tak ada jawaban.
"Uh." Liu menggelengkan kepalanya, rasanya berat.
"Aaah."' Sang kapten seperti terdengar menemukan sesuatu.
Yang pada kenyataannya adalah benar begitu.
Terlihat sebuah kotak emas bercahaya diantara semak dan pepohonan.
Itulah yang sang kapten cari selama ini.
Dengan sigap sang kapten mengeluarkan dua benda dari kantongnya, yakni cincin dan kalung.
"!" Kedua benda itu tak asing bagi Liu.
Kedua aksesoris yang diberikan dewa padanya. Kini ditangan sang kapten.
Lantas apa hubungannya dirinya, aksesoris dan peti harta?
"Kau." Sang kapten menoleh dan menatap tajam, menyuruhnya mendekat.
Liu sudah merasa lebih baik mentalnya, namun secara fisik belum. Perlahan ia melangkahkan kakinya mendekat.
"Keluarkan kekuatanmu." Sorot mata kapten terasa menusuk dari jarak dekat begini.
'Kekuatan?' Liu terdiam, apa maksudnya kekuatan sistem?
Liu bersiap memanggil kekuatannya, jelas bukan hal mudah di kondisinya sekarang.
'Sis ... tem?' Liu berusaha memanggil sistem lagi, namun yang ada malah kepalanya terasa berat setiap kali memanggilnya.
Apa mungkin karena tubuhnya masih lemah?
Liu menggelengkan kepalanya, yang jelas membuat sang kapten tak senang.
Ia tak bisa memenuhi permintaannya dan langsung terang-terangan saja.
Greb!
BRAGH!
Dipegangnyalah kepalanya dan langsung dibantingkan ke peti harta itu.
"...." Anak buah lain terdiam, kini pemuda itu jadi bulan-bulanan kapten karena menentang perintahnya.
"Uh." Liu berusaha bangkit, beradu dengan besi emas kokoh benar-benar menyakitkan.
Namun untuk bangkit pun kekuatannya tak cukup....
GREB.
Sang kapten langsung memegang leher Liu dan mengangkatnya ke atas. "Kau mempermainkanku?"
__ADS_1
Liu sedikit meringis, lagi-lagi tak bisa melakukan perlawanan. Darah perlahan mengucur dari keningnya.