Sistem Pendekar Terkuat

Sistem Pendekar Terkuat
Menuju Alam Pertengahan


__ADS_3

Musuhnya dimana?


Liu tak merasakan hawa keberadaan musuh utamanya, jangan-jangan pergi jauh lagi?


[Di Alam Dewa Tuan]


'Oh?' Sudah sampe? Cepat juga ternyata.


'WADUH GAWAT DONG SISTEM?'


[Gawat kenapa Tuan?]


'Kita telat!' Liu sedikit panik. Kalau begini nggak ada kesempatan menghentikannya di sini dong!


Liu menarik nafas panjang dan menatap Yin-jie. Ia masih ingin menenangkan rekannya, tapi waktu tidak mengijinkannya lama di sini.


Fang Yin terdiam dan tahu apa maksudnya, sorot mata rekannya sudah mengatakan semuanya.


"Tolong hentikan ibuku, Liu-ke." Fang Yin terdengar serius, tidak peduli ibunya sekalipun namun tetap saja tindakannya tidak bisa dibenarkan.


Liu mengangguk kecil, faktanya memang mengejutkan musuh utamanya adalah ibu dari rekannya sendiri, namun ia tidak mau ragu lagi.


Ibu sesat itu harus dihentikan, apapun yang terjadi!


Setelah saling berbagi perasaan tadi, tekadnya kembali menguat seperti yang sudah seharusnya!


"NGIKH." Liu menaikkan rekannya ke kuda kesayangannya.


"Li-liu-ke aku nggak akan jadi ghost rider kan?" Yin terlihat khawatir.


"Ghost- apa?" Liu baru pertama kali mendengar hal itu sih.


Yin-jie takut terbakar dan jadi hantu?


"Oh, tenang aja, apinya tidak membakar kok." Liu tersenyum kecil, yah wajar saja kalau rekannya khawatir begitu.


Naik kuda berapi bukan pengalaman yang normal sih.


"Oo...." Dan memang benar Yin aman-aman saja sih di sana. Entah kenapa ia jadi lebih percaya diri.


Kekuatan aura Qi Nona Shuwan bisa berubah jadi tidak membahayakan. Sungguhlah kekuatan yang unik.


Liu bahkan sampai lupa berterima kasih atas bantuan besarnya itu.


"NGIIIGHK!" Akhirnya Speedy meninggalkannya, membawa rekannya kembali ke grup utama.


Kini hanya tinggal Liu saja seorang diri di tengah hutan.


SRET.


Liu memasang pose bertarung.


[Tuan mau apa?] Sistem penasaran.


'Mau grinding.' Liu pikir ia butuh banyak kekuatan biar bisa pergi ke alam dewa.


Ya demi dapat kekuatan tentunya harus mengalahkan musuh bukan? Liu siap baku hantam sama monster di hutan ini!


[Tidak perlu Tuan]


'Eh nggak usah?' Liu terheran.


SRING!


"Uwogh! Silau!" Tiba-tiba tangan kanannya bercahaya biru terang! Lagi-lagi dikejutkan begini!


[Pemberhentian selanjutnya: Alam Dewa]


'EH?' KOK BISA SIH?


Bukannya berpindah alam butuh kekuatan yang besar ya? Kok sistem bisa langsung mau pindah sih?


[Sistem mengumpulkan tenaga selagi Tuan berlari]


'Oh?' Liu tak menyangka.


Yah sebenarnya itulah rencana sistem dari awal. Ia mengumpulkan sejumlah tenaga besar hanya untuk menyiapkan rute perjalanan antar alam ini.


Tidak disangka, kekuatan alam monster dalam tubuh tuannya menghambatnya. Alhasil sistem lebih lama mengumpulkan tenaga dalam dan membiarkan tuannya lari maraton.


Sekaranglah saatnya mengeksekusi rencana paling penting tuannya.


Liu masih terdiam, tak menyangka sistem sepintar ini.


'Tunggu dulu, kamu benar yakin tahu jalan ke alam dewa?' tanya Liu memastikan. Bukannya tak percaya sistem atau apa, tapi ia tak mau berakhir di ruang gelap juga.


Berkaca dari insiden alam monster sih.


[Tuan percaya saja] Sistem terdengar percaya diri.


SRRIIINGGG!


Cahaya itu makin bersinar terang seolah menelan Liu masuk ke dalamnya.


***


[???]


"HAH!" Liu membuka matanya, rasanya aneh, ia seolah melihat yang putih-putih!


"?" Dan kenapa memang putih ya?


Liu memutar badan dan pandangannya, namun tak ada hal lain selain sesuatu yang putih.


"SISTEM?"


[....] Entah kenapa sistem tak merespon.


Ya bener sih mereka nggak berakhir di ruang gelap, TAPI BUKAN BERARTI DI RUANGAN PUTIH JUGA DONG.


[Kesalahan sistem Tuan]


Yah tidak bisa dipungkiri pindah alam memang tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Bahkan untuk ukuran sistem juga. Tidak peduli sudah mengumpulkan kekuatan sekalipun tidak menjamin semuanya lancar.


[Tuan santai dulu saja] Sistem mencoba mencari solusinya.


'NGGAK BISA SANTAI SIH.' Entah kenapa Liu nggak nyaman lihat ruangan serba putih begini, dan rasanya kok deja vu ya?


'JANGAN-JANGAN?' Liu terdiam, satu-satunya alasan kenapa ia pernah ke ruangan seperti ini kecika kecil adalah....


'KITA SUDAH MATI SISTEM?' Bisa jadi mereka terlalu banyak mengeluarkan kekuatan dan malah kebablasan!


[....] Sistem malah tetep diam saja.


Klek.


"Pintu!?" Liu jelas-jelas mendengar suaranya, ia mengarahkan pandangannya ke asal suara itu.


"...." Ada makhluk berbulu seperti monyet yang menatapnya heran.


Di kepalanya ada semacam sesuatu seperti emas yang melingkari kepalanya, mahkota atau apa? Yang pastinya cukup aneh.


"Tuan Monyet kita ada dimana ya?" Dengan cepat Liu menanyakan intinya.


"TUAN MONYET? NAMAKU SUN GO KING! NGUK!" Makhluk berbulu itu terlihat tak senang.


"O-oh?" Rasanya Liu pernah mendengar nama itu.


"AH PASTI KENAL DEWI KWAN IN YA!?" Liu menunjuk semangat.


"Hmph, nguk." Sun Go King menyilangkan tangannya, terlihat bangga.


Tak disangka tamunya ini tahu soal dewi kebanggannya.


Dengan cepat Liu menjelaskan keadaannya, dan Sun Go King pun akhirnya mengerti bagaimana keadaan tamu tak diundangnya ini.

__ADS_1


Sejauh ini tidak ada yang datang ke alam pertengahan, dan jika ada makhluk yang datang, maka saat itulah ia harus membimbingnya.


"Ikut aku, nguk."


Makhluk berbulu itu memegang gagang pintu, hendak membukanya dan Liu mengikutinya, seketika itu juga cahaya menyilaukan makin membesar....


***


[Alam pertengahan]


Ssshh....


Angin lembut menyapa wajahnya, perlahan Liu membuka kedua matanya.


Hamparan area rumput hijau menenangkan menyambutnya, apakah ini alam pertengahan?


KEK SAMA SAJA KAYAK ALAM MANUSIA YA.


Liu tak melihat sesuatu yang aneh dari pemandangan ini. Malahan rasanya ia terbawa ke masa kecil.


Tempat tenang indah ini mengingatkannya saat berlatih, jadi nostalgia.


Dulu sekali ia menganggap tempat seperti ini adalah miliknya sendiri. Ia bebas melakukan apapun, tidak ada tatapan tajam atau amarah dari orang-orang.


Yah kalau diingat-ingat lagi memang agak gimana sih. TAPI BUKAN SAATNYA BAPER.


Liu menguatkan tekadnya. Mengingat masa lalu tidaklah salah tapi jangan sampai lemah karena sedih!


Dihadapannya masih ada hal yang perlu dilakukan, dan perasaan negatifnya tidak akan membantu sama sekali.


"Jadi Tuan?" Liu menoleh, ia punya banyak pertanyaan.


"TUAN?" Lah kok nggak ada siapa-siapa ya?


Liu celingak-celinguk melihat sekitarnya, tapi memang ia hanya sendirian di area rumput hijau indah ini.


'Sistem kok Tuan Sun ngilang sih?" Liu penasaran.


[Sepertinya dia ingin Tuan mandiri]


'Apa?' Liu pikir ia bakal dibimbing soal alam monster ini, lah ini malah ditinggalin gitu aja.


Tapi yah bisa jadi tuan monyet itu punya urusan lain. Sudah untung bisa keluar dari ruangan putih tadi.


Liu terdiam dan perlahan ekspresinya berubah. 'WAH SISTEM GAWAT!'


[Kenapa Tuan?]


'IBU SESAT MUSUH KITA GIMANA!? KITA UDAH KETINGGALAN DONG!' Liu sadar akan deadlinenya!


[Tenang saja Tuan]


'Kok?'


[Musuh tuan tidak akan langsung mencapai rencananya dengan cepat]


'O-Oh?' Liu terkesan. Ia pikir dengan musuh utamanya ke alam dewa, dia sudah mencapai tujuannya.


[Tenang saja Tuan, tidak perlu buru-buru] Sistem mengingatkan.


Yah ada benarnya juga sistemnya ini, buru-buru bukanlah strategi yang baik.


Liu sadar ia harus merencanakan semuanya agar tujuannya berhasil.


Sistem terkesan bagaimana pengembangan karakter tuannya ini, jadi dia lebih rajin sekarang?


Blugh.


Liu membaringkan tubuhnya, menutup matanya menikmati setiap belaian udara lembut yang menerpanya, sekaligus harumnya bau segar khas alam.


[TUAN?] Sistem pikir tuannya benar-benar mau merencanakan strategi.


Kadang orang tidak bisa menikmati hal kecil seperti ini. Liu tak mau terlalu tegang.


Lagipula palingan sistemnya istirahat juga, berkaca dari pengalaman sih.


"Hm?" Tiba-tiba terdengar suara.


'Ya sistem?' Tidak biasanya sistem mengajaknya ngobrol. Dia tidak sedang istirahat 'kah?


[Bukan sistem Tuan]


'Bukan?' Lalu siapa dong?


Jelas-jelas Liu hanya seorang diri dari awal datang ke sini.


Yah secara teknis ia tidak sepenuhnya seorang diri juga sih. Ada sistem yang menemaninya, tapi tadi bukan sistem yang ngomong.


'Ah paling cuman imajinasi,' pikir Liu. Entah mungkin ia kecapaian atau apa gitu.


Tap.


Ada yang menyentuh pipinya.


'BENTAR.' Liu terdiam, ia masih belum membuka matanya, INI NGGAK MUNGKIN IMAJINASINYA SIH.


Liu perlahan membuka matanya, kalau tidak dipastikan tidak akan tahu sih.


Dan seorang gadis cantik melihatnya dengan seksama.


"WOGH!" Liu terperanjat kebelakang! Kenapa bisa ada orang!?


"Hm?" Gadis cantik berambut merah pendek itu memiringkan kepalanya, memasang wajah heran.


Ia memegang keranjang dengan tangannya, dan kalau dilihat-lihat, rasanya penampilannya tidak asing.


"...." Liu menatap tajam, mungkin hanya perasaannya saja. Faktanya ia membiarkan dirinya lengah tadi!


Sret.


Liu memasang pose bertarung, ia tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Gadis itu bisa saja menyerangnya kapanpun!


'Sistem dia siapa?' Liu tak tahu apapun soal alam pertengahan.


Tidak banyak info yang bisa ia dapat, bahkan dari banyaknya kitab yang dibaca, tidak ada yang benar-benar bisa dijadikan acuan.


[....]


ASTAGA LAGI ISTIRAHAT!?


Kenapa di saat lagi butuh-butuhnya banget!?


Pasti


"Kamu baik?" tanya gadis merah itu, raut wajahnya terlihat khawatir.


Liu terdiam, Kenapa bisa-bisanya dia orang asing peduli begini? Pasti ada sesuatu yang tersembunyi.


Bisa jadi ini adalah trik musuh!


Liu tak melonggarkan kewaspadaannya. Bertemu seorang gadis cantik saat bersantai di dunia? Hmph, terlalu indah untuk sebuah kenyataan!


Gadis cantik berambut merah itu mendekat. Liu makin waspada, namun dia mengarahkan tangannya.


APA INI?


'Eh?' Jabat tangan? Apa ada musuh yang melakukan hal begini ya?


Liu terdiam sejenak, tapi rasanya tidak sopan kalau ditolak sih. Jadi Liu pun menerima jabatan tangan itu.


"Aku Yahuan, senang bertemu denganmu." Gadis yang memegang keranjang itu tersenyum.


"Ah, Xiao Liu." Mereka pun berjabat tangan, dan astaga TANGANNYA HALUS SEKALI!


"...." Liu terdiam, ia tak merasakan aura Qi jahat darinya, dan pula sikapnya sangat ramah.


Apa mungkin orang-orang alam pertengahan seramah ini? Liu tak tahu, namun ia bisa menurunkan kerurigaannya di sini.

__ADS_1


Kalau diperhatikan lagi, memang penampilannya nggak beda jauh dari Nona Yuhuan sih, dan sikapnya mirip Yin-jie.


KOK BISA ADA KOMBINASINYA BEGITU YA?


'Tunggu dulu....' Liu baru ingat, tadi namanya itu?


"Nona ini....?" Liu terdiam, terlihat jelas wajahnya menebak-nebak siapa identitasnya yang sebenarnya.


"Hm? Aku adiknya Nona Yuhuan." Gadis rambut merah itu tersenyum lembut.


"Wah begitu ya...." Liu tersenyum kecil juga.


"APA!?" Liu tak bisa menahan kekagetannya dong!


"Hm." Yahuan masih tersenyum seolah tahu lawan bicaranya akan kaget.


'TUNGGU SEBENTAR, APA BENAR!?' Liu terdiam, mau nanya sistem tapi lagi istirahat.


"Sepertinya kamu punya urusan di sini ya." Yahuan menatap lembut.


"...." Liu tak mengerti kenapa gadis ini seolah sudah mengenalnya.


"Aku merasakan energi kakakku darimu. Anggap saja ini bukan kali pertama kita bertemu."


"!"


'BISA BACA PIKIRAN 'KAH?' Liu ingat pengalaman aneh dulu.


"Ehm, maaf Nona, tapi Nona Yuhuan sudah...." Liu tak meneruskan perkataannya.


Gadis merah berambut pendekak itu tersenyum kecil. "Aku tahu, kamu ke sini untuk menghentikan orang yang menyandera kakakku bukan?"


Liu terdiam, tak perlu menjelaskan apapun, nona ini sudah tahu maksud dan tujuannya, sungguhlah hebat.


Kalau nona ini adik Nona Yuhuan, itu berarti....


"Benar, aku calon senjata pusaka dewa." Yahuan tersenyum lembut.


"Calon senjata?" Liu terdiam, memangnya ada yang begitu ya?


'Nona ini kan makhluk setengah dewa, kenapa jadi calon senjata?' tanya Liu dalam hatinya.


"Kakakku tidak menjelaskannya padamu ya?" Yahuan sadar akan kebingungan pemuda ini.


'RASANYA DEJA VU.' Yah tidak heran kalau Nona Yahuan bisa tahu apa yang dipikirkannya. Makhluk setengah dewa sih.


Yahuan akhirnya menjelaskan bahwa alam pertengahan adalah tempat tinggal makhluk setengah dewa, yang tujuan hidup mereka adalah menyempurnakan kekuatan agar bisa bersanding dengan para dewa.


"Begitu ya." Liu mengangguk kecil, jadi itu sebabnya nona ini mengatakan 'calon senjata dewa'?


Tapi tidak bisa dipungkiri senjata pusaka tersebar di dunianya sih. Dan alasannya pun sudah jelas.


"Sudah lama aku terpisah dengan kakakku. Kami penguni alam pertengahan tidak bisa pindah alam seenaknya, kecuali izin dewa." Yahuan tak keberatan terus menjelaskan hal ini.


"Kami tahu para dewa sudah murka dengan perbuatan manusia di bumi, dan kini hanya tinggal masalah waktu."


Liu terdiam, yah itu sebabnya ia dengar pengumuman dari langit sebelumnya.


[HAH!]


"WAAA!" Ada yang teriak keras!


'SISTEM!?' Sistemnya malah ngagetin!


[Maaf Tuan, sistem kelelahan]


'....' Yah sudah biasa sih itu, tiap kali pindah alam.


[Oh?]


[Nona Yahuan, anda terlihat sehat]


"Senang bertemu denganmu Tuan 'sistem'." Yahuan tersenyum lembut.


SUDAH SEBERAPA BANYAK YANG NONA INI TAHU?


Rasanya aneh baru pertama kali bertemu lawan bicaranya tahu semuanya tentang dirimu.


[Jadi sudah seberapa jauh hubungan kalian?]


'KAMU NANYA APAAN!?' Sistemnya gaje banget sih!


[Oh] Sistem pikir tuannya itu terpesona dengan kecantikannya.


"Oh, aku belum siap, ehe." Yahuan memalingkan wajahnya tersipu malu.


KENAPA MALAH IKUT SKENARIONYA!?


Harusnya Nona Yahuan sedih karena kakaknya ada di tangan musuh ya?


[Makhluk setengah dewa tidak punya perasaan sensitif seperti manusia Tuan]


'....' Begitu ya, Liu jadi mengerti. TAPI BUKAN SAATNYA BERCANDA DONG!


Liu tak ingat kenapa sistem jadi jahil begini, apa karena akhir-akhir ini ia banyak ketemu gadis cantik ya?


YA SEMUA INI DILUAR KENDALINYA JUGA SIH.


[Jadi Tuan ingin bertemu cowok tampan?]


'MULAI LAGI.'


"Hmf~" Gadis berambut merah itu menutup mulutnya seolah terhibur.


'NAH DIKETAWAIN.' Biar saja sistem yang malunya!


Liu melihat ke sekitar, jadi sekarang gimana? Ia terdampar di alam pertengahan dan tidak ada yang bisa dilakukan.


"Aku nggak dianggap?" Yahuan terlihat tidak percaya.


"O-Oh? Nona tidak ada urusannya dengan ini." Tak bisa dipungkiri nona ini hanya kebetulan lewat dan bertemu dengannya saja sih.


Entah kenapa nona berambut merah itu terlihat sedih. "Padahal saya juga ingin membantu. Hiks."


Ia menggosok matanya seolah sedang menangis.


'KENAPA JADI BEGINI?'


"No-Nona mau bantu?" Liu tak menyangka sih.


"Hmph!" Gadis berambut merah itu mengangguk semangat.


AIR MATA BUAYA KAH?


***


Akhirnya Liu dan Yahuan berjalan bersama. Liu mendengar banyak penjelasan, dan dugaannya dari awal memang benar, tidak banyak hal yang berbeda di alam pertengahan ini, kecuali penghuninya yang setengah dewa semua.


Yah, agak aneh sih hidup dan kemudian jadi senjata.


"Jika layak bersanding dengan dewa, kami juga bisa naik pangkat lho." Yahuan memberitahukan hal baru.


"O-Oh?" Naik pangkat gimana ya?


[Maksudnya bisa jadi setara dewa Tuan]


'Oh!' Kalau begitu bagus dong! Nggak jadi tangan kanan atau senjata, berdiri di atas kaki sendiri!


[Sayangnya tidak semudah itu Tuan]


'....' Liu terdiam, entah kenapa nada bicara sistem terdengar serius.


"A- ah sudahlah jangan bicara hal yang menyedihkan." Yahuan tersenyum kecil, ia tidak mau suasananya jadi tidak enak. Ia tidak ingin tamu pentingnya ini malah memikirkan hal yang berat.


"...." Liu terdiam, malah jadi makin penasaran sih.


Yah tapi bukan saatnya kepo terus sih, lagipula memang Nona Yahuan juga tidak mau membicarakannya.

__ADS_1


__ADS_2