Sistem Pendekar Terkuat

Sistem Pendekar Terkuat
Percaya


__ADS_3

Yahuan menatap Liu seksama, kenapa ia terus dibela begini?


Padahal perkataan dewa benar, tidak salah dan adalah kenyataan.


Tapi kenapa pemuda ini ... bahkan sampai emosi....


"Ti- tidak apa Tuan." Yahuan tidak berani menentang pendapat dewa.


"...." Liu terdiam, tatapannya tetap tajam.


Sistem sudah siap dari awal, tidak masalah.


Sang dewa terdiam, ia penasaran kenapa pemuda ini sampai berlaku seperti ini.


Dia makhluk aneh yang melindungi makhluk lemah.


"Baiklah." Dewa akhirnya berhenti mengatakan hal panas.


Situasi tegang pun perlahan menurun. Yahuan tidak menyangka dewa mengalah seperti itu.


Yah kenyataannya Liu memang benar-benar tersinggung mendengar nona dijelek-jelekan begitu sih.


Dewa terdiam, ia tidak bermaksud mengalah, namun lebih kepada menuruti apa yang diminta lawannya.


Liu menarik nafas dalam. "Jadi apa yang harus kami lakukan kek?" Liu penasaran.


Dewa terdiam, kalau begitu ia tidak melakukan kewajibannya dua kali, pertama, ia tidak membinasakan pemuda ini, dan kedua, tidak mengakhiri makhluk setengah dewa yang tidak layak.


Untuk ukuran dewa itu perubahan sikap yang banyak sih.


....


Sang pria tua dewa mengulurkan tangannya ke depan.


SRING!


Dan tiba-tiba muncullah cahaya terang yang menyilaukan mata.


Liu terdiam, ia mulai terbiasa melihat cahaya terang begini.


Sinar terang itu pun meredup dan dewa menyodorkan sesuatu padanya.


'Buku?' Liu terdiam, kenapa malah muncul buku tebal begitu?


"...." Liu kurang yakin, apa sang dewa menyuruhnya membaca? Yah membaca adalah hal penting sih, tapi kenapa di saat begini?


Liu pikir sang dewa membuka pintu kemana saja atau apa, malah memberinya buku?


[Itu kitab tuan]


'Oh.' Itu tidak menjawab pertanyaan kenapa sang dewa memberinya kitab?


"Ini akan membantumu pergi ke alam dewa," ujarnya, pria tua berjanggut tebal ini terlihat serius.


Liu meneima kitab itu dan melihatnya seksama.


'LHO.' Sepertinya familiar.


"KEK BUKU INI SIH AKU SUDAH PUNYA." Liu terdiam tak percaya.


Yahuan mendekat melihatnya, dan ekpresinya kurang lebih sama. "Kitab Immortal?" Jelas-jelas pemuda ini benar-benar sudah memilikinya sih!


"Apa?" Dewa terdiam, sulit dipercaya!


Liu mengangkat tangan kirinya dan seketika itu juga cahaya bersinar, dan muncullah kitab yang serupa dengan yang diberikan dewa.


"Apa?" Dewa terdiam, ia tidak percaya, namun di saat bersamaan malah melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.


'Darimana dia dapat?' Seharusnya kitab immortal sangat sulit didapatkan!


"Dari alam monster...." Liu bergumam sendiri, sentah kenapa ia ingin mengatakan hal ini.


"!?" Dewa terdiam, kenapa pemuda ini bisa menjawab pertanyaannya? Siapa makhluk yang bahkan bisa tahu isi hati dewa!?


"...."


"Ah." Liu terdiam, entah kenapa sang dewa terlihat bengong saja. Apa ada yang salah ya?


Dewa menggelengkan kepalanya, jadi pemuda ini juga sudah mengunjungi alam lain?


Adalah kemampuan dewa untuk menganalisis makhluk apapun dan darimana mereka berasal.


Itulah bisa dengan mudah dilakukannya, namun pengecualian pada pemuda yang sedang bercakap dengannya.


Pemuda ini lihai menyembuyikan aura keberadaannya darimana. Itu wajar mengingat kekuatannya yang besar juga.


Namun dewa tidak buru-buru harus tahu darimana pemuda ini berasal. Yang pasti makhluk kuat darinya pasti bukan dari bumi.


"Aku dari bumi," gumam Liu.


"!?" Tidak disangka pemuda itu malah mengaku! Pria tua dewa terdiam dengan wajah yang makin tidak percaya.


Jika yang pertama tadi kebetulan, lalu yang ini apa?


Kenapa pemuda ini seolah tahu apa yang dipikirkannya!?


Liu mengusap mulutnya, entah kenapa ia malah ngomong random.


'Dari bumi....?' Dewa terdiam, sejauh ini tidak ada hal yang mencolok dari sana.


Kecuali seorang kaisar yang mendapatkan kekuatan dari dewa kematian. Itu adalah berita hangat pada jamannya di alam dewa.


"Dewa kematian mengincarku. BLEH!"


"HEI!" Liu tak tahan dengan semua ini! Mulutnya malah jadi gerak sendiri!


"Dewa kematian!?" Sang dewa pengawasan gladiator alam dewa awal terdiam, ia tidak menyangka mendengar ini.


Yah Liu tak menceritakan masalah pribadinya di awal sih. Ia hanya memperkenalkan diri dan mengatakan tujuannya saja.


'SISTEM!?' Ini pasti perbuatan sistemnya!


[Ada apa tuan]


'KOK KAMU BERULAH LAGI SIH!?'


[Mulut tuan bereaksi dengan pertanyaan dewa, tidak perlu khawatir Tuan]


'Pertanyaan dewa?' Liu tak mendengar pertanyaan apapun deh.


Dengan cepat dan singkat sistem menjelaskannya.


'OH!?' Jadi tadi sistem membaca pikiran dewa!?


Bahkan Liu pun baru sadar!


Tahu pikiran manusia biasa, tahu pikiran dewa? Beuh.

__ADS_1


Liu tak menyangka sistemnya OP begini!


'MANTAP SISTEM!' Liu jadi percaya diri!


Dewa terdiam, kalau begitu pemuda yang dihadapannya ini... buronan alam dewa dong.


'TUNGGU....' Ada hal muncul dikepalanya.


'JADINYA KENAL DEH!' Liu terdiam, apa membocorkan semua indentitasnya adalah pilihan bagus?


Kalau identitasnya masih rahasia kan ia bisa fokus ke tujuannya.


[Cepat atau lambat pasti dewa tahu Tuan]


'Oh iya ya." Liu langsung paham, yah dewa gitu loh, apa susahnya tahu soal makhluk lain yang dibawahnya?


Ia tidak bisa menyembunyikan rahasia lagi, pada akhirnya akan terbongkar juga.


Jadi sudah saja sistem bongkar dari awal, agar tidak kaget nantinya.


Liu terdiam, risiko begini sudah ia pikirkan dari awal. Kini setelah tahu identitas aslinya, kakek dewa ini punya dua pilihan.


Menangkap dan mengakhirinya atau membantunya.


Yah tak jauh beda juga sih. Hanya bedanya kini skala kesalahannya jauh lebih besar daripadanya hanya 'melanggar peraturan area gladiator'.


Dewa terdiam. Berita soal makhuk yang diincar dewa kematian bukanlah berita lama.


Malahan bisa dibilang hal terviral yang pernah terjadi di alam dewa mengingat selama beribu-ribu tahun tidak terjadi hal seperti ini.


Liu terdiam, kalau begitu perkiraannya soal dewa kematian menyembunyikan hal ini salah dong.


'AKU TERLALU PEDE.' Liu pikir identitasnya masih rahasia.


Namun reaksi kakek dewa ini menjawab semuanya.


Ia tidak bisa lari dari apa yang akan datang padanya.


'....' Liu terdiam, apa kakek dewa akan mengubah pikirannya?


Yahuan terdiam, yah ia tidak menyangka pemuda ini langsung mengatakan hal-hal inti yang sensitif. Ini mengejutkannya juga sih.


Ia tidak menyangka jalan hidup pemuda ini sekeras ini. Ia tidak hanya menanggung beban untuk menghentikan musuhnya. Tidak terbayang apa yang akan jadi halangannya nanti.


Yahuan terdiam, sementara itu kekuatan aura Qi birunya berkobar, seolah tahu apa yang akan terjadi, ia sudah siap akan kemungkinan terburuknya.


Sret.


Liu menyodorkan lagi kitab pemberiannya, karena sudah pasti akan terjadi baku hantam sih.


Tidak ada gunanya kakek dewa membantunya.


Sudah pasti dewa kematian menjanjikan imbalan bagi siapapun yang berhasil menemukan targetnya.


Yang adalah benar, dewa alam dewa awal pun tahu soal ini.


"Simpanlah."


"!" Liu terdiam. "Bukannya kakek mau menangkapku?"


"Hmph." Sang kakek berjanggut tebal itu tersenyum kecil sambil memainkan janggutnya, auranya bijaksana sekali!


"Aku tidak akan menangkapmu." Sang dewa memperjelasnya.


[Yaaah] Sistem terdengar kecewa.


"Kau akan tetap butuh kitab itu."


"Oh?" Duplikatnya berharga mahal kah?


[Tidak ternilai tuan]


WAH! BISA LANGSUNG TAJIR DONG!


"Kau butuh tiga kitab itu."


"Hmmh." Liu mengangguk paham.


TUNGGU DULU.


APA KATANYA TADI?


[Ah, benar tuan butuh ketiga kitab itu]


'KETIGA KITAB!?' Kok begitu!?


[Kitab Immortal punya tiga jilid tuan, dan jika tuan mendapatkan semuanya, maka akses masuk tuan ke alam dewa selanjutnya lebih besar]


'YANG BENER!?' Liu baru tahu soal itu!


Jadi bukan duplikat dong!


Liu tak menyangka kitab tingkat langit bisa banyak jilid begini.


"Itu cara termudah yang bisa kau lakukan." Dewa mempertegas lagi.


Menggunakan satu Kitab Immortal untuk pergi ke alam dewa tingkat lanjut sangat sulit, sebuah kesulitan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Liu terdiam, yah ia sudah merasakannya sendiri sih. Memang mau masuk ke alam dewa tidak main-main.


Tapi ia masih heran kenapa alam ini disebut alam dewa awal? Liu pikir alam dewa awal adalah tempat dewa juga.


"Tidak hanya ada aku sendiri di sini."


"OH?" Kalau begitu benar dugaannya dong, ada dewa yang lain juga!?


[Benar Tuan]


'Begitu ya.'


Sang dewa pengawas gladiator sudah memilih pilihannya, dan ia tidak mengubah alasan awalnya.


Entah kenapa pemuda satu ini memancarkan aura kekuatan yang hebat yang akhirnya membuatnya percaya.


Jarang-jarang dewa bisa terkagum, meski ia tidak menunjukkan dalam eskpresinya.


Sementara itu Liu masih tidak menyangka dewa tetap berada di pihaknya meski sudah tahu kenyataannya.


Dan akhirnya setelah mengobrol santai beberapa saat, sang dewa pun benar-benar membiarkannya pergi dan memberinya modal besar, kitab tingkat langit tentunya.


***


Liu keluar area gladiator dan akhirnya meninggalkan area itu, ia melewati sejumlah besar makhluk setengah dewa yang terdiam melihatnya.


Entah kenapa Yahuan merasa keren ketika banyak pasang menatapnya. Yah mungkin inilah perasaan makhluk dengan kekuatan besar?


Yahuan sadar kekuatannya ini hanyalah pinjaman saja, namun melihat reaksi makhluk lain membuatnya jadi terpacu untuk lebih kuat lagi.

__ADS_1


"Dia bisa bertahan?"


"Melawan dewa?"


"Menarik...."


Macam-macam komentar terdengar, dan keriuhan pun terjadi, namun dengan instruksi dewa, mereka pun kembali melanjutkan pertarungan sebagaimana mestinya.


***


[Alam Dewa Awal]


Liu akhirnya berjalan bersama Yahuan, menyusuri jalan setapak yang akan membawa mereka ke suatu tempat.


Yah meski pada kenyataannya jauh sih, mengingat lokasi pertarungan makhluk setengah dewa tentu harus berjauhan dengan bangunan lain.


Cuaca masih panas terik, Liu melelan ludahnya, ia cukup haus.


"Nona, kenapa sangat panas di sini ya?" Liu membuat angin kecil dengan tangannya.


"Eh?" Yahuan terdiam, ia sendiri masih diliputi kekuatannya, dan yang punya kekuatan malah mengeluh panas?


Kenapa bisa begitu?


Kekuatan yang sudah diberikan pada makhluk lain tidak akan terpengaruh.


'TUH KAN SISTEM KAMU SOK-SOKAN NANTANG DEWA.' Masih untung dewa nggak terprovokasi!


Nyatanya ia tidak punya kekuatan buat melawan dewa!


Wong nahan panas juga kewalahan.


[....] Sistem terdiam, kenyataannya ia sudah siap penuh kalau harus bertarung dengan dewa, bahkan saking semangatnya malah terlalu banyak mengumpulkan kekuatan.


Alhasil ia harus kembali menstabilkan kekuatannya kembali, yang akhirnya membuat tuannya merasakan efek seperti ini.


[Sistem salah Tuan] Sistem sadar akan kesalahannya, ia terlalu terbawa suasana.


Tuannya lebih mengerti situasi dibanding dirinya. Kalau saja pertarungan meledak, tentu akan banyak hal yang terjadi.


Dan kebanyakan hal itu adalah sisi negatifnya, yang merugikan siapapun selain dirinya.


Liu terdiam, bagus juga sistemnya sadar begitu.


Sedang mereka sedang menyusuri area berbatu gersang, yah sejauh ini mereka belum sampai ke tempat yang dituju.


'NGGAK KELIHATAN GUNUNG.' Liu memicingkan matanya, memandang jauh ke arah tanah tandus di depannya.


'Salah denger kali ya?' Liu terdiam.


"Tuan baik?" Yahuan memegang pundaknya.


"Ah iya Nona." Liu mengangguk sembari tersenyum.


Apa mungkin perjalan mereka masih sejauh itu ya?


Liu belum pernah muncak sebelumnya sih.


'Sistem jadi gimana nih?'


[Semangat saja Tuan, itulah yang akan memberi Tuan kekuatan]


'....' Kata-kata bijak lagi, namun yah ia memang perlu mendengarnya sih.


Yahuan terdiam, ia mendengar pula instruksi dewa sebelumnya. Mereka harus naik ke puncak gunung khusus.


Yah kebanyakan makhluk sudah tahu gunung adalah bagian alam yang besar, yang seharusnya dari kejauhan pun bisa terlihat.


Namun ia sama sekali tidak melihatnya. Apakah penglihatannya salah ataukah memang begitu?


Kalau saja ia tahu banyak soal ini tentu ia bisa membantu pemuda ini. Namun sayangnya ia tidak tahu banyak hal lain.


Menanyakan ke makhluk setengah dewa lain tidak ada gunanya, mereka hanya peduli pada urusan mereka sendiri.


Dan memang sudah tradisinya begitu sih. Para makhluk setengah harus fokus pada apa yang tengah dilakukanya, apalagi di pertarungan pembuktian kekuatan.


Seharusnya instruksi dewa sudah cukup untuk membuatnya terus melangkah, namun tidak disangka ia bakal menemui kebuntuan seperti ini.


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan Nona." Liu memegang pundak nona merah satu ini. Dia terlihat merenung brutal tadi.


"!" Tidak disangka pemuda ini tahu juga apa yang dipikirkannya.


"Maaf tuan, aku hanya jadi beban saja." Yahuan tertunduk, ia tidak bisa menyumbangkan kekuatan, dan bahkan akalnya juga tidak sampai untuk mencari solusi atas masalah yang sedang dihadapi ini.


"Tenang saja." Liu mendekat dan mengelus kepalanya, entah kenapa ia merasa harus melakukannya.


Yahuan pun terlihat lebih rileks dan nyaman, pikirannya tidak begitu tertekan lagi sekarang.


Liu tak tahu apa yang harus dilakukan selain terus berjalan maju, ia tidak boleh protes dan mengeluh. Inilah saatnya menghadapi dunia yang keras!


HUSH!


Tiba-tiba datanglah angin kencang seketika itu juga!


'BENCANA ALAM!?' Kenapa mendadak begini!? Liu belum mempersiapkan dirinya.


Dan lagi sistem masih perlu waktu untuk menstabilkan kekuatannya! Ada apakah gerangan!?


Sret.


Liu terseret dan menutup matanya yang perih karena terkena debu tanah dan kerikil, namun dengan sigap Yahuan menggenggam tangannya erat. Tubuhnyanya memancarkan aura kekuatan kebiruan!


SYYYUUTTT!


Hempasan angin kencang itu pun mereda. Liu perlahan membuka matanya.


"!?" Dan seketika itu juga ia terdiam, wajah tak asing muncul dengan menaiki awan!


"TUAN SUN!?"


Kenapa bisa sang kera sakti ada di sini!?


Bukannya beliau sibuk berjaga di alam pertengahan?


Liu terdiam, ia tak menyangka melihat kembali wajah familiar ini.


Sret.


Dengan penuh kewaspadaan Yahuan memasang pose bertarung. Bisa jadi rekannya itu datang kembali untuk menangkap pemuda ini!


"Nona?" Kenapa Nona Yahuan malah siaga begitu?


Liu tak bisa mendeteksi hawa kekuatan makhluk lain, sistem masih belum selesai dengan urusannya.


Jadi ia tidak tahu maksud dan tujuan sang kera sakti kemari.


Sun memasang wajah serius, kedatangannya kemari bisa berarti banyak hal.

__ADS_1


__ADS_2