
[Itu petunjuk arah Tuan] jelas sistem.
'Oh iya.' Mau bagaimana pun memang kelihatannya begitu sih.
Shhh....
Perlahan namun pasti tubuh Liu dipenuhi dengan aura kekuatan.
Tujuan sudah ada, kini hanya tinggal berangkat saja!
BLISZT!
Seketika itu juga Liu melesat cepat meninggalkan lautan luas.
***
BLIZT!
Liu membuka matanya, dan terdiam melihat keadaan sekitar.
'Kenapa aku?' Sinar mentari terik menyinarinya selagi ia ada di sebuah tempat yang tak disangkakannya.
Sebuah area luas yang dikelilingi dengan tembok kokoh dan juga kursi penonton yang tak terhitungg jumlahnya.
Yah masih bisa dihitung sih hanya saja jadi PR merepotkan menghitung kursi sebanyak itu.
'TUNGGU DULU.'
Liu merasa tak asing dengan tempat begini.
[Area Pertarungan Khusus Alam Dewa Menengah Tingkat Akhir]
'Waduh.' Entah kenapa ia merasa nggak enak datang ke tempat ini.
[Mirip dengan area pertarungan makhluk setengah dewa ya Tuan]
'....' Liu terdiam, bahkan sistemnya pun ingat.
Area kosong luas ini tak lain tak bukan adalah untuk pertarungan. Meski mirip namun jelas tempat ini lebih luas dibanding tempat yang pernah ia kunjungi sebelumnya.
Sejauh mata memandang tidak ada siapapun selain dirinya di sini.
Tak ada penonton atau acara apapun yang digelar, mungkin saja lagi libur dulu?
Liu terdiam dan sadar ternyata tempat ini hening dan tenang juga.
Berbanding terbalik ketika ada pertarungan, beuh pasti ramainya minta ampun.
Liu melangkahkan kakinya dan memerhatikan setiap detil dari bangunan luas ini.
Apa mungkin bangunan seperti ini wajar ada di tingkat alam dewa?
[Benar Tuan] Tempat ini dijadikan ajang adu kekuatan, memang dari dulu fungsinya sudah begitu.
[Biasanya saat senggang dewa menggunakan tempat ini Tuan]
'....' Wow, Liu jadi pengen lihat pertarungan antar dewa.
Tapi sepertinya ia datang disaat yang kurang tepat.
SRRINNGG!
Ada cahaya terang yang tiba-tiba muncul!
Liu menyipitkan matanya, jelas cahaya terang ini benar-benar menyilaukan mata.
Beberapa saat kemudian cahaya terang itu pun menghilang dan terlihatlah sosok yang sedang berdiri di sana.
"...." Seorang perempuan cantik yang memakai gaun serba putih muncul begitu saja dan menatapnya saksama.
Sekilas penampilannya mirip dengan Dewi Xinmu atau Dewi Kwan In, hanya saja beliau ini rambutnya pendek.
'Eh kok ada dewi?' Mungkinkah lagi jalan-jalan?
Liu terdiam dan mengamati dewi cantik itu, entah kenapa tubuhnya kek lebih bersinar dibanding dewa lain yang pernah ditemuinya.
Sistem belum menganalisnya yang artinya kekuatan dewi pastilah tidak main-main.
'OIOI.' Entah kenapa Liu merasa ada yang tak beres.
Dari tadi sang dewi hanya menatapnya tajam, Liu tak asing dengan tatapan seperti itu.
Liu tak punya pilihan lain selain menatapnya juga.
Aura keseriusan terasa kuat, tak lama lagi apa yang akan terjadi sudah jelas.
DEG!
"!"
Liu memegang dadanya, entah kenapa terasa sakit dan sesak, padahal sebelumnya baik-baik aja....
[Memulai pemulihan....] Dengan sigap sistem langsung melakukan pertolongan pertama.
'WADUH.' Liu tak bisa menahan kekagetannya, ia jelas tahu apa yang sedang terjadi dengan tubuhnya.
'TUH KAN SISTEM.'
[....] Sistem kini fokus memulihkan tubuh tuannya, tidak sempat mengobrol.
Liu terdiam, batinnya panik, namun tak sampai mengubah raut wajahnya juga.
Ia masih kelihatan kalem dan cool, sungguhlah kontrol emosi yang mantap.
'Oke tenang Liu ... tenaaaaangg....' Liu mengatur pernafasannya, dan bukannya mereda, sakitnya malah menjadi-jadi.
Sistem paham apa yang dimaksud tuannya. Kini kondisi tubuh tuannya memang tidak terlalu baik.
Ada harga yang harus dibayar untuk menggunakan kekuatan aksesoris dewa, yang tak lain tak bukan adalah kekuatan penggunanya sendiri.
Satu aksesoris dewa saja sudah memuat kekuatan luar biasa yang bisa membantu meningkatkan kekuatan dewa, meski tidak sekuat senjata dewa, namun tetap tidak bisa diremehkan.
Semakin banyak kekuatan aksesoris dewa yang dipakai tentu membutuhkan kekuatan yang besar pula, itu adalah hal yang umum.
'MATI NGGAK NIH?' Liu mulai berkeringat, ia bukan tipe pria yang bisa menahan sakit, tapi yah apa daya ia hanya bisa bertahan.
Keraguannya sebelumnya terjadi juga, ia tak mungkin bisa lari dari efek penggunaan aksesoris dewa.
Ia protes kenapa kekuatan aksesoris dewa nggak bisa dilimit, dan beginilah imbasnya!
-Tapi Tuan bisa mati kalau tak menggunakan kekuatan penuh-
Terdengarlah suara berat yang tak asing.
'Bener juga ya.' Tak bisa dipungkiri dewa all out dari awal juga, jadi ia tak punya pilihan lain selain melakukan hal yang sama juga sih.
'....'
TUNGGU DULU....
'TBT!?' Suara yang sudah agak lama tak didengarnya!
Kenapa bisa-bisanya kekuatannya itu bersuara lagi? Ia jelas tak memanggilnya atau mengajaknya ngobrol.
Kini tanda tengkorak merah di tangannya sedikit bersinar, TBT ternyata curi-curi waktu buat ngobrol disaat sistem sibuk.
-Sepertinya Tuan sedang sakit-
__ADS_1
Dibalik suara beratnya itu ada sedikit nada kepedulian, namun Liu tak mau lagi jatuh dalam jebakan.
Ia sudah punya pengalaman buruk dengannya dan tak berencana menambahnya lagi.
-Tuan ingin terbebas dari rasa sakit?-
'....' Liu sudah tahu tawaran ini mengarah kemana dan tak langsung menjawabnya.
Tak bisa dipungkiri kekuatan monsternya itu muncul disaat yang tepat dimana ia benar-benar lemah.
Sistem sibuk dan aksesoris dewa tak akan bekerja tanpa kekuatan besar.
Sebuah tawaran menggiurkan yang sayang dilewatkan. Siapa yang tak ingin bebas dari rasa sakit?
Liu terdiam, memutuskan sesuatu berdasarkan perasaan bukanlah hal bijak di sini.
'Heh.' Liu tak mau dimanipulasi lagi.
Rasa sakitnya boleh bertambah, namun yang terpenting sama sekali tak mengurangi tekadnya!
'Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?' Liu heran. Bukankah kekuatan monster itu bisa mengambil alih tubuhnya dengan mudah? Seperti kasus sebelumnya?
-Waktu kita hampir habis Tuan-
TBT tidak punya banyak waktu membujuk tuannya. Ia tak akan muncul kalau tuannya tak memerlukan bantuannya.
"...." Liu terdiam, tak bisa dipungkiri dewi di seberang sana sedang mengumpulkan kekuatan, apa yang diprediksikannya sebentar lagi terjadi.
Sedang rasa sakitnya tak bisa dikompromi lagi, kini sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.
Bahkan ia hanya kuat berdiri saja sekarang, tubuhnya jadi kaku dan berpikir mau gerak saja malah menambah rasa sakit.
'Sistem?'
....
Tak ada jawaban, apa saking sibuknya sistem memulihkannya?
-Tuan?-
Shhhh....
Perlahan namun pasti hempasan udara kecil tercipta disekitaran dewi, di tahap ini ia tak akan bisa menghindari serangannya....
Kecuali....
HUSSH!
Sang dewi maju!
Liu menutup matanya, jelas ini adalah situasi yang tidak dikehendakinya, siapa sangka ia bakal ketemu dewi putih terang dan langsung diincar begini?
Harusnya ia sadar lebih awal, dewi menyergapnya dengan memanfaatkan momen pasca pertarungan dengan dewa meteor. Harus diakui ini trik yang hebat.
Mungkinkah ia seharusnya istirahat dulu sebelum datang ke tempat ini?
Dengan begitu mungkin saja ia punya kesempatan lebih baik untuk melawan dewi.
....
Kalau saja kenyataan seindah itu. Dengan istirahat tentu membuka kesempatan besar bagi dewa lain yang mengincarnya, dan itu sama sekali tidak bagus.
Nyatanya baik beristirahat ataupun lanjut, tidak ada pilihan yang benar-benar baik.
Liu mengesampingkan kecurigaannya sepenuhnya dan melihat kenyataan.
"Saatnya mengamuk."
SSWWWUHHHSS!!!
Tanda tengkorak merah langsung bersinar terang. dan seketika itu juga aura kekuatan merah muncul disekujur tubuhnya.
BDDDDUMMMM!!!
Hempasan kuat tercipta seketika itu juga, dan getaran kencang mengikutinya. Debu asap langsung memenuhi seluruh area khusus pertarungan ini.
SWUSH!
Sinar terang menyapu seluruh debu yang menghalangi pandangan, kini terlihat jelas dewi terdiam seperti sudah menginjak sesuatu, namun tak berhasil.
Kini Liu terlihat berada di sisi ujung area bundar luas ini. Sudah jelas apa yang sudah dilakukannya.
'Cepat.' Liu terdiam, hampir saja kepalanya digeprek kaki dewi tadi.
Tak ada kerusakan yang berarti pasca serangan tendangan tadi, namun sebenarnya di kondisi normal, itu sudah cukup untuk menghancurkan gunung.
Terdengar ngeri tapi itulah kenyataannya, Liu coba-coba menganalisis kasar disini.
Bukan tanpa alasan tempat ini dinamakan area khusus pertarungan dewa. Yang tentunya bisa menetralkan efek serangan luar biasa dewa.
'Hm?' Liu baru sadar ia tak kehilangan kontrol apapun, ia masih bisa mikir dan ngendaliin tubuhnya.
Padahal biasanya kekuatan monster mengambil alih dirinya.
-Tidak perlu, TBT sudah percaya Tuan-
'Ha?' Jadi selama ini kekuatannya sendiri tak percaya padanya? Waduh.
-Dewi Xihe memang hebat-
'Bener sih.' Liu setuju, terlepas dari wajahnya yang cantik, kekuatan fisiknya mengerikan.
'TUNGGU DULU.'
Dewi Xihe? Si TBT ini bisa menganalisis dewi juga!?
-Tuan tak tahu?- TBT terdengar heran. Ia pikir tuannya sudah tahu lawan yang dihadapinya.
'Tolong infonya master.' Liu langsung memohon, yah tahu detil lawan yang dihadapi tentulah akan lebih baik.
Dengan cepat TBT memberi info ringkas mengenai dewi, meski tidak sedetil analisis sisetm namun itu sudah lebih dari cukup.
'Dewi Matahari....' Liu tak menyangka bakal bertemu dewi jenis ini.
Pantas saja beliau kelihatan lebih bercahaya dibanding dewa lain, yah sama dengan matahari yang memancarkan sinar terang.
Dewi satu ini lebih kuat dari dewa meteor, begitulah menurut TBT.
Liu setuju, aura kekuatan yang terpancar dari sang dewi sudah menunjukkannya dengan jelas.
'DUH.' Kenapa di saat begini malah ketemu dewi kuat sih?
-Jangan ngeluh Tuan-
'Oh.'
Bener sih, disaat sulit lebih mudah ngeluh dan frustasi, padahal itu sama sekali nggak ngebantu.
Tak bisa dipungkiri ia insecure sama dewi. Apa ia bisa bertahan melawannya?
-Tenang saja Tuan-
'....' Liu menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.
Sementara itu dewi masih terdiam di tempatnya, tidak disangka tendangan regulernya mampu dihindari begitu.
Padahal jelas kekuatannya tidak stabil, kenapa bisa-bisa bisa menghindar?
__ADS_1
'KOK?' Liu terdiam, dewi belum juga melancarkan serangannya lagi.
-Harus sabar ya Tuan-
Liu pikir dewi bakal menyerangnya brutal, namun ternyata tak begitu ya.
Liu sudah siap dengan kekuatannya, tujuannya simple: jangan mati di tangan dewi matahari.
Sret.
Sang dewi mengarahkan tangan kanannya ke depan. "Sinar Penyiksaan."
SRINGGG!
"!"
HUP!
BLAR!
Dewi melancarkan sinar laser cahaya! Serangannya sangat cepat! Namun untunglah masih bisa menghindar!
SRING!
BLARR!
BDDUMM!
Makin banyak sinar laser transparan transparan yang mengarah padanya!
Liu memicingkan matanya, serangan dewi nyaru, sulit dilihat!
Alhasil Liu berkelit dan hanya mengandalkan instingnya.
Dewi masih belum selesai, ia terus menggempurnya targetnya dengan serangan ini.
'OIOIOI.' Liu ingin semua ini berakhir, namun sepertinya keinginannya itu tak akan segera terwujud.
Sang dewi masih enjoy dengan serangannya yang sekarang. Dan ingin melihat sejauh mana keahlian pemuda itu dalam menghindari serangannya.
Waktu pun terus berjalan dan perlahan namun pasti sang karakter utama mulai kehilangan kecepatannya.
-Tuan?-
'Y- ya?' Liu berusaha merespon ditegah kesibukannya ini.
-Kapan nyerangnya?-
'Eh?' Liu terdiam, itu pertanyaan sederhana sekaligus penting.
Dengan cepat Liu menjelaskan dewi tak memberi celah sama sekali dan untuk sementara ini mereka harus disibukkan dengan sesi menghindar.
-Terobos saja Tuan-
'What? Are you serious?' Liu tak percaya, TBT seharusnya lebih paham situasinya dibanding dirinya.
-Terkadang ada saatnya untuk move on Tuan-
'....' Kok jadi bijak kek sistem ya?
BLAAAR!!
Liu merenung serius ditengah selagi menghindar, an actually apa yang dikatakan kekuatan monsternya ini ada benarnya juga.
Mau sampai kapan ia akan bertahan seperti ini? Energinya bisa keburu habis kalau begini terus.
Tapi bukankah asal nyerang juga tak bagus? Sang dewi bisa memanfaatkan kecerobohannya dengan mengerahkan serangan tak terduga dan langsung mengklaim kemenangannya.
....
Liu terdiam, lagi-lagi tak ada pilihan yang benar-benar tepat, keduanya datang dengan konsekuensinya masing-masing.
'Oke.' Cukup sudah dengan pemikiran ini, saatnya beraksi!
SHWWUSH~!
Liu langsung melesat mengarah ke sang dewi!
Ia langsung pula membuat pedang aura merah!
TRAANG!
Yang ia gunakan untuk menahan serangan laser dewi!
"...." Dewi terdiam, tak disangka pemuda itu bisa menangani serangannya, padahal dia sudah menggunakan banyak kekuatan untuk menghindari serangannya tadi.
TRANGGG!
SWWUUSSHH!
Kedua pedang pun beradu, Liu dengan kekuatan monsternya dan dewi dengan pedang cahaya transparannya.
"...." Liu menatap tajam, dewi boleh kuat, namun tak cukup kuat untuk menekan mentalnya!
"Tarian Pedang Cahaya."
SSSRRIINGGG!!
"UH." Lagi-lagi cahaya terang menyelimuti seluruh area itu, Liu tak bisa melihat apa-apa!
SLASH!
SWUSH!
DUAAR!
BRRAAGHH!!
DDRR!
"UGH!" Liu terhempas dan langsung menabrak dinding pembatas.
KRRKK!!
Retakan langsung tercipta dan meluas ke seluruh dinding arena, namun tak butuh waktu lama, dinding itu cepat kembali lagi ke kondisi semula.
BLUGH.
Liu terkampar dan tak berdaya, terlihat banyak luka sabetan pedang disekujur tubuhnya. Bahkan aura kekuatan monster masih belum cukup kuat untuk menahan serangan sang dewi.
'Maaan....' Ia masih sadar namun seluruh tubuhnya lemas.
Apa yang dipikirkannya malah jadi kenyataan. Dewi langsung melancarkan serangan jarak dekat dan membuatnya tumbang instan.
Ya bagaimana mungkin ia bisa menghindari serangan saat ada cahaya menyilaukan?
Sebelumnya Liu diuntungkan dengan dewi yang menahan dirinya dan hanya menyerang dengan laser tak kasat mata.
Meski tak kelihatan Liu masih bisa merasakan sedikit aura kekuatan dewa disetiap serangan yang dilancarkann
Namun di serangan tadi dewi sama sekali tak memberi celah sedikitpun.
Perlahan namun pasti darah segar mengalir dari tubuhnya.
Liu masih terbaring di tanah dan belum menunjukkan tanda-tanda akan bangkit.
Sedang dewi sendiri terdiam dan memerhatikan apa lagi yang akan dilakukan targetnya.
__ADS_1
Dewi tak terlihat senang karena sudah menumbangkan musuhnya, namun sebaliknya ia masih tetap waspada.