
Sementara itu di sisi lain....
'Hah?' Yahuan terdiam dalam kedipan mata selanjutnya ia sudah pindah tempat.
Kini ia ada di area yang cukup jauh dari gladiator alam dewa awal.
Bersamaan dengannya, begitu banyak makhluk setengah dewa yang lain yang juga terlihat heran.
'Berpindah?' Yahuan terdiam, sontak ia meraakan energi kuat yang terpancar dari area gladiator.
Sungguh energi Qi kuat yang memukau, adalah berkah bagi setiap makhluk setengah dewa melihat hal ini.
Pasalnya sangat jarang bagi yang hanya 'calon senjata pusaka' bisa merasakan langsung energi dewa.
Pada kenyataannya mereka belum dianggap layak sampai benar-benar bisa membuktikan diri.
Yahuan terdiam, ia masih penasaran kenapa sang dewa tidak kenal dengan pemuda yang bersamanya, padahal jelas-jelas aura kekuatannya bicara lebih kuat dari perkataan.
Mungkinkah sang dewa benar-benar tidak kenal? Atau mungkin pura-pura tidak kenal? Atau bisa jadi....?
Yahuan menggelengkan kepalanya, masih terlalu dini untuk memikirkan hal itu.
Tapi apa dengan memikirkannya bisa membantu pemuda itu? Yahuan tahu jawabannya.
Tapi entah mengapa ia tetap memikirkannya, karena jika tidak, rasa bersalah menyelimutinya.
Namun yah, sekali lagi, ia memang benar-benar tidak bisa melakukan apapun kecuali berdiam diri.
Keriuhan pun terjadi, namun Yahuan mengacuhkannya dan pandangannya hanya tertuju pada bangunan gladiator yang sudah dipenuhi energi khusus.
Kalau ini yang terjadi itu berarti satu hal yang pasti....
Pemuda itu sedang bertarung dengan dewa....
***
SSSSHHHHHHH!
Tak banyak hal yang bisa dilihat selain kilatan cahaya dan energi Qi murni yang saling beradu.
Liu dan sang dewa sudah mulai beraksi, aksi mereka sangat cepat sampai-sampai sulit menggambarkannya dengan kata-kata.
Sorot mata Liu benar-benar terang dan aura kebiruan menyelimuti tubuhnya.
Baru kali ini ia merasakan sensasi pertarungan yang begini.
SRANG!
SRING!
Mereka saling bertumbuk satu sama lain, pada akhirnya semua harus dijelaskan atau semuanya tidak jelas sama sekali.
Tidak ada hal lain selain keseriusan yang terpaut di wajahnya. Liu sudah mencapai titik dimana ia sudah sangat serius.
Sementara itu di sisi lain....
Sang dewa pengawas gladiator tidak menyangka pemuda asing ini memberikan perlawanan yang berarti.
Tidak ada hukuman yang lebih berat selain kematian. Makhluk apapun yang mengacau di alam dewa tidak bisa dimaafkan!
__ADS_1
Di sisi lainnya lagi....
Liu tidak sempat merenung, pikirannya fokus pada satu pertarungan yang sedang dijalaninya.
Keraguannya hilang, yang ada hanyalah kepercayaan diri dan tekad. tapi Liu sama sekali tidak diambil alih sistem.
'Kekuatan dewa mantap sekali.' Tapi akhirnya merenung juga sih.
Kilatan-kilatan cahaya dan energi yang saling bertumbuk makin menjadi jadi, kalau saja dewa tidak membuat kekuatan energi penghalang, sudah pasti efek pertarungannya tidak akan bersahabat.
DRRTTTT!
Bahkan sampai tercipta getaran di area ini. Padahal seharusnya aura pelindung dewa tidak tergoncangkan apapun, sangat kuat.
"!" Tapi pada kenyataannya tidak begitu, kekuatan aura pelindung malah semakin terpengaruh oleh pertarungan yangg sedang terjadi.
Yang itu artinya!
Sang dewa pria tua berjanggut tidak menyangka.
HSSSHHHHHHH!
'Aku masih punya tujuan.' Liu menguatkan tekadnya, melihat kenyataan membuatnya ragu, jadi ia langsung terobos saja!
'Pemuda ini?' Sang dewa pria tua mulai penasaran, jelas-jelas kekuatan makhluk ini lebih kuat dari makhluk setengah dewa kebanyakan.
Siapa sebenarnya pemuda ini?
[Akselerasi super Qi murni ... mempelajari pola dewa ... mengeksekusi....]
BUUUUMMMMMMM!!!
Tap.
Kini Liu dan sang pria tua dewa masing-masing berada di sisi arena gladiator, berjauhan.
'Dia....' Pria tua dewa mulai curiga dengan pemuda ini.
Tingkat kekuatannya jauh diatas makhluk setengah dewa.
Faktanya sebagian kecil kekuatan dewa sudah bisa melumpuhkan makhluk setengah dewa terkuat manapun.
Tapi kenapa pemuda ini masih berdiri dan menatap tajam ke arahnya?
Di sisi lain Liu terdiam, ia tidak bisa minta bantuan pada sang dewa, dan alhasil yang terjadi malah hal ini.
Ia sudah mengatakan tujuannya, namun sang dewa tidak peduli kecuali ingin menghukumnya.
'Xiao Liu....' Pria tua dewa terdiam, ia tidak menyerang membabi buta lagi.
'Apa buronan sepertiku masih belum terkenal?' batin Liu dalam hatinya.
Makhluk setengah dewa saja bisa tahu identitasnya yang asli, apalagi dewa? Bukankan dewa kematian bisa saja mendoksing identitasnya dan membuat semua dewa tahu dirinya adalah buronan?
Namun ternyata tidak begitu. Atau mungkin, masih belum?
Liu tersenyum kecil, mau dikenal atau tidak, tetap saja tidak merubah fakta ia tidak bisa meminta pertolongan dewa.
"Masih ingin main-main pak?" Liu melakukan sedikit gerakan pemanasan.
__ADS_1
Dewa terdiam, terlihat ia tidak senang dengan panggilan itu.
Yah kepercayaan diri Liu meluber sampai lupa cara menghormati dewa.
Yang sebenarnya maunya sisitem sih. Dari awal pun sistem tidak mau menghormatinya.
Liu tidak peduli apa yang dewa rasakan, yang ia pedulikan adalah solusi dari masalah yang dihadapinya.
Dewa pria tua terdiam sembari memainkan janggutnya, ia tidak buru-buru mengambil tindakan.
"Siapa kau ini?" Akhirnya sang dewa membuka mulutnya.
"Xiao Liu," jawabnya pendek.
Liu tak mau mengulang perkenalannya juga sih. Agak membosankan.
"Apa bukti dari perkataanmu sebelumnya?"
'Hm?' Jadi open diskusi nih?
"Waktu yang akan membuktikannya." Liu menatap serius.
Perkataannya terdengar seperti candaan, namun pada akhirnya itulah kenyataannya.
Ibu sesat itu akan jadi ancaman besar kalau terus dibiarkan.
Sang pria tua dewa terdiam, entah kenapa pemuda ini terdengar lebih meyakinkan, padahal inti perkataannya sama saja seperti yang ia dengar di awal.
Apa mungkin karena ia sudah beradu tinju dengannya tadi? Definisi tindakan bicara lebih keras bisa berlaku saat ini.
Sang dewa melihat ke sekitarannya, terlihat jelas lingkaran pelindung kekuatan sudah tidak stabil dan tidak mampu menahan lebih banyak lagi gelombang energi.
Ya bisa sih kalau dipaksakan, dengan jaminan seluruh bangunan ini akan hancur dan rata dengan tanah.
Dewa tidak mau berurusan dengan hal merepotkan begitu.
Bangunan ini pada dasarnya adalah tempat sakral yang dikhususkan untuk menguji makhluk setengah dewa.
Membiarkannya hancur begitu saja akan melukai esensi dibalik tempat ini berdiri, itu risiko yang terlalu berat.
Liu terdiam, ia tak menyangka dewa bisa melamun brutal juga.
"Kita bisa bertarung di tempat lain dewa." Liu memecah lamunan dewa.
'....' Dewa terdiam, tidak disangka makhluk yang melanggar aturan ini tahu apa yang dipikirkannya.
Terima kasih pada kemampuan analisis-nya. Liu bisa paham dari gerak-gerik mata dewa.
Yah berganti tempat untuk bertarung bisa jadi pilihan juga. Dengan begitu dewa bisa fokus mengambil nyawa makhluk yang berani melanggar aturan ini.
Saran yang cukup mantap bukan? Liu yakin dewa langsung setuju.
Toh cara mana lagi yang bisa dipake selain itu?
....
Tapi sang dewa belum merespon juga sih.
Apa mungkin dia punya usul yang lebih bagus?
__ADS_1