Sistem Pendekar Terkuat

Sistem Pendekar Terkuat
Dewa Pantai


__ADS_3

‘WOW.’ Sekarang Liu makin sadar betapa vitalnya jam tangan yang hendak dibuangnya itu.


Liu perlahan berdiri juga.


Kini semuanya sudah jelas, sang dewi mengakui kekuatannya.


Sang dewi merelakan keinginannya dan tak ada niatan menangkapnya sedikitpun, sungguhlah dewi yang hebat.


Liu tak bisa memberikan apapun, sedang dewi memberi pengalaman pertarungan yang unik.


“Jangan merendah mulu dong!” Sang dewi tak mau ada yang bersedih.


“Kau memuaskanku, itu sudah cukup.” Dewi tersenyum kecil dan penuh ketulusan.


“….” Oke, kedengarannya aneh, tapi Liu senang pertemuannya dengan dewi waktu tidaklah sia-sia.


SRING!


“!”


Seketika itu juga jam tangan yang dipakainya bersinar dan menghilang begitu saja


‘KOK?’


“Wah.” Dewi terkejut, namun kek nggak serius gitu sih.


Dengan cepat sistem menjelaskan apa yang terjadi.


‘Oh?’ Liu tak menyangka aksesoris dewa satu ini hanya sekali pakai.


Faktanya memang hanya untuk momen inilah kegunaan jam tangan itu, dan tuannya tidak memerlukannya lagi.


Yah padahal untuk gaya-gayaan keren juga sih, tapi sudah ngilang ya apa boleh buat juga.


Liu belajar untuk tidak melihat sesuatu dari luarnya saja. Dan tak buru-buru mengambil keputusan.


“Haaah….” Dewi menghela nafas panjang, seolah sedang mengeluarkan emosi.


Yah akhirnya keseriusannya berakhir juga, ia tak bisa terus menahan pemuda ini bersamannya.


Tapi ia akan terus mengingat momen ini. Hari-harinya akan terasa berbeda nulai dari sekarang.


“….” Liu terdiam, menjadi makhluk kuat ternyata tidak selamanya enak, bahkan dalam kasus ini sang dewi harus menerima keadaannya sendirian ditempat tenang.


Namun tetap saja beliau bisa tersenyum, ia berubah jadi hangat dan ramah.


Sang dewi mendekat….


CHUP.


“Terima kasih.”


“!”


SRING!


Seketika itu juga pandangannya jadi silau dan terlihatlah senyuman lembut sang dewi.


***


‘UH.’ Liu belum siap dengan sinar terang, tapi apa boleh buat mendadak juga sih.


Tak lama sinar terang pun mereda dan Liu membuka matanya.


‘LAH!?’ Sekarang ada di pantai dong!


Jadi ia cuman minggir aja ceritanya nih?


EH TAPI INDAH JUGA SIH, SUASANANYA MASIH MALAM DAN BINTANG PUN MASIH MENGHIASI LANGIT.


‘….’ Hm, gawat, menikmati langit jadi kegiatan favoritnya nih.


EH TUNGGU DULU….


Liu memegang pipinya, tadi itu apa ya?


[Dewi mengucapkan terima kasih Tuan]


‘Oh.’ Bener juga ya. Tapi caranya agak sedikit tak biasa ya?


Tapi yah sudahlah, sekarang saatnya ia meneruskan perjalanan juga sih.


Tadi kenapa tubuhnya tiba-tiba nyala ya?


Apa mungkin sang dewi yang membantunya pindah tempat?


Liu sudah sering melihat landscape pantai, namun entah kenapa ia selalu bisa melihat keindahan dan tak bosan-bosan juga datang ke sini.


Inikah pantai alam dewa atas? Keren sih.


Meski tak ada hal aneh atau spektakuler, tapi esensi dari tempat ini kan keindahan dan ketenangan yang ditawarkannya.


“NGGHGHH!” Liu meregangkan badannya, agak pegal sih.


Liu terdiam, pikirannya mulai kemana-mana.


‘EH GUE HARUS NGAPAIN?’ Nggak ada peta, nggak ada apapun???


[Terkadang kita harus mencari jati diri dalam kehidupan ini Tuan]


‘….’ Oh bener juga sih.


Yah Liu berharap ada petunjuk meski sedikit juga.


Masa nggak ada info sama sekali sih.


Liu terdiam, berjalan tanpa arah tujuan memang tidak enak.


Tanpa petunjuk ia bisa tersesat dengan mudah di alam dewa atas ini, huh.


Dewi waktu sama sekali tak memberi clue ya.


‘HM.’ Liu menaruh tangannya di dagu, tipikal orang mikir.


Yah ia harus merencanakan apa yang harus dilakukan ke depannya, dan memastikan misinya berjalan lancar!


Oke! Liu siap dengan rencananya.


[Bagaimana Tuan?] Sistem tidak sabar mendenger grand plan tuannya.


Blugh.


[???] Malah rebahan begitu.


[Bisa tuan berikan klarifikasi?]


‘HEH Aku nggak berbuat jahat kan?’ Masa harus klarifikasi segala?


Yah maksud sistemnya lebih ke alasan dibalik kelakuan tuannya sih.


“Hmmh.” Liu tak mau mikir yang berat-berat dulu, yah terkadang pikiran harus diistirahatkan juga sih.


Apa sistemnya pikir ia akan rusuh dengan semua rencana besar dan mengeksekusinya sekaligus?


Mungkin terdengar keren dan hebat, namun itu tak realistis sama sekali.


Meski Liu pengen bisa begitu juga sih. Namun ia tak mau memasang standar tinggi yang tak bisa dicapai.


Terkadang semuanya mulai dari hal sederhana dulu.


Begitupula sekarang, yah kalau belum ada clue ya istirahat sebentar bolehlah ya.


[….] Sistem tidak menyangka tuannya jadi tenang, tidak buru-buru dan khawatiran. Yah bukan bocah lagi ternyata ya.


‘HEH.’ Entah kenapa rasanya kesindir.


Liu terdiam, mempertahankan kepercayaan diri tak semudah yang dikira, kekurangan atau kelebihan bisa jadi masalah juga sih.


Tapi mengingat dewi tingkat atas mengakui kekuatannya itu jadi mood booster banget.

__ADS_1


Liu menguatkan kepercayaannya, ia sudah sejauh ini dan perjalanannya tak akan sia-sia.


Pasti ada jalan yang bisa membuatnya selangkah lebih maju lagi.


“Tuan?”


“WOH!” Ada suara pria!


Dengan sigap Liu berdiri dan bersiaga, memang ada pria dengan celana pendek di dekatnya!


‘EH?’ Liu tak mengira bakal ada makhluk lain di sini.


Ia tak merasa hawa kehadiran siapapun juga.


TUNGGU DULU….


Liu terdiam, dan menatap tajam.


MUSUH!?


Liu waspada dan aura kekuatannya mulai meningkat.


“Whoa-“ Pria dengan celana pendek itu mengangkat kedua tangannya, ia tak terlihat mau bertarung juga sih.


“Tuan Liu?”


“!?” Pria satu ini tahu namanya!


“DEWA!?” Tak disangka dewa ada di malam dingin dekat pantai!


“Easy Tuan, Chill….” Pria itu masih mengangkat kedua tangannya berusaha mencairkan situasi tegang di sini.


Perlahan namun pasti Liu jadi tenang, ternyata ada dewa dan tak bertujuan mengincarnya….


Dengan cepat pria bercelana pendek itu mengajak Liu untuk menjauh dari tepi pantai dan singgah disebuah tempat kecil yang biasa dibuat santai.


‘O-oh?’ Liu tak mengira dewa akan mengajaknya ke tempat ini, dewa cukup sederhana juga ya?


Bahkan sang dewa hanya mengenakan celana pendek biasa, sekilas terlihat seperti orang biasa yang enjoy di pantai.


“….” Liu memerhatikan gerak-geriknya, sejauh ini normal dan tak mencurigakan juga sih.


“Malam yang indah ya Tuan.” Pria sederhana itu menatap langit.


Liu suadh tahu namun tetap melihat lagi juga dan WOW.


Dari sini view-nya jauh lebih bagus dari ditempatnya sebelumnya!


Sungguhlah memuaskan!


TUNGGU DULU….


Kenapa dewa tingkat atas memanggilnya dengan hormat begitu?


“Dewi Shijian tidak memanggil dengan hormat!?” Dewa satu ini kelihatan tak percaya.


‘KOK?’ Kenapa kaget begitu?


“Ah maaf, sebelum itu saya….” Dewa sadar belum memperkenalkan diri dan akhirnya melakukannya juga.


“DEWA PANTAI!?” Liu tak bisa menahan kakagetannya.


FOR REAL?


Yah Liu sudah bertemu dewi pantai juga sih. Tapi sekarang versi dewa-nya!?


“….” Sang dewa sudah berekspektasi akan melihat reaksi yang begitu.


Jadi daerah kekuasaan dewa satu ini berdekatan dengan dewi waktu?


“Benar Tuan” Dewa pantai meng-iyakan. Sebelumnya ia juga jadi saksi akan pergantian waktu cepat yang menandakan dewi sedang ada urusan.


Dan ternyata urusannya dengan makhluk yang sangat penting.


‘TERLALU BERLEBIHAN.’ Liu hampir terbang dengan semua pujian ini.


“Dia tidak memberi tahu apa-apa?” Sang dewa seolah tahu kejadiannya.


Liu mengangguk kecil, yah ia tak bisa memaksa dewi mengatakan info atau gimana sih.


“Haah, dia itu.” Dewi menghela nafas seolah terbebani sesuatu.


JADI PENASARAN APA MAKSUDNYA YA.


“Nona Wolf bagaimana Tuan!?” Dewa tiba-tiba semangat.


Gimana apanya? Liu tak paham dengan maksudnya.


Liu dengan terbuka mengatakan tak mengerti dengan apa yang dimaksudkannya.


“Eh?” Dewa terdiam dan akhirnya mengerti dengan jawabannya.


Yah bukan hal yang mudah menerima banyak info di satu waktu sih. Hal ini bisa saja terjadi. Sang dewa pun menjelaskan maksudnya.


“EH?” Jadi itu maksudnya?


‘SISTEM?’ Kok sistemnya tak memberi tahunya sih?


[Sistem juga tidak tahu Tuan] Kebetulan sistem off bersamaan dengan tuannya di hutan kabut itu.


Malah sedikit sekali yang diingatnya gara-gara kebablasan tidur pas ngedenger penjelasan Nona Wolf.


“A- apa dewa bisa mengulang penjelasan Nona Wolf?” Yah itu pun kalau nggak keberatan sih.


“Maaf Tuan, tapi saya bukan di ranah situ.’


OH BEDA BAGIAN YA.


Jadi ia beneran nggak bisa dapat info apa-apa soal alam dewa tingkat atas ini??


WADUH.


LIu tak menyangka keteledorannya berbuntut panjang begini.


Tapi yah ia nggak iseng-iseng tidur pas penjelasan penting sih, percayalah!


Move on, Liu yakin ada alasan dibalik pertemuannya dengan sang dewa pantai.


Sang dewa terdiam seolah memikirkan sesuatu, dan entah kenapa rasanya jadi serius.


OKE.


Liu berusaha bertahan di situasi hening penuh keseriusan ini. Mentalnya sudah lebih kuat dari yang dulu dong!


“Tuan, tolong jangan berlebihan.” Sang dewa tak menatapnya, namun nada bicaranya sungguhlah serius.


EH?


Gimana?


[Dewa khawatir tuan terlalu berlebihan dengan dewa-dewi yang akan tuan temui nanti]


‘Aaaa….’ Begitu ya, gitu ya … dikira apa.


….


TUNGGU DULU…


Lah kok?


Kenapa dewa malah khawatir soal itu?


Liu pikir sang dewa akan memperingatkannya dan memberi tips dan trik bertahan hidup, lah malah hal begini.


Kok kek dirinya yang jadi villain sih?


Sang dewa terlalu berlebihan dong.


Sring….

__ADS_1


“!”


Seketika itu juga tubuhnya bersinar lagi!


“Dewa?” Apa beliau melakukan sesuatu padanya?


“Selamat jalan Tuan, semoga perjalanamu lancar.”


Liu tak bisa melihat apapun lagi, semuanya terlalu terang.


***


Sring….


Akhirnya sinar menyilaukan mata menghilang juga.


Liu membuka matanya dan terdiam.


‘LHO?’ Kenapa ada banyak rak buku disekelilingnya?


[Perpustakaan alam dewa tingkat tinggi awal]


‘OH!’ Dewa pantai membantunya pergi ke tempat ini untuk mendalami alam ini dengan mandiri!?


NICE!


Inilah bantuan yang dibutuhkannya!


Aroma buku langsung tercium, suasana hening nan tenang yang sangat pas untuk masuk ke dalam buku yang sedang dibaca.


Liu melangkahkan kakinya, mengelilingi beberapa rak buku tinggi yang tak terhitung jumlah bukunya.


[Bisa terhitung Tuan]


Ya bisa sih, tapi Liu nggak mood menghitungnya.


‘Wah.’ Bangunannya luas sih kalau katanyamah.


“!” Ia harus segera cari info!


Liu terlena dengan ketenangan dan kebesaran tempat ini sampai lupa tujuan utamanya!


Dengan sigap Liu langsung menelan buku-buku yang sekiranya penting (bukan arti sebenarnya).


Kecepatan bacanya sudahlah tak usah diragukan lagi, baru saja pegang bukunya sudah selesai bacanya, memang sungguhlah cepat.


Dalam hitungan detik tak terhitung berapa banyak buku yang sudah dibacanya, dan rasanya jadi kenyang baca deh.


[Lebih tepatnya 9999 buku Tuan]


‘Oh.’ Lumayan juga ya.


Liu mengerahkan segenap kemampuannya, dan otaknya masih memproses banyaknya info yang datang ini.


Liu terduduk dikursi dengan asap yang mengepul di kepalanya.


‘NGGA- NGGAK BAHAYA KAN?’ Keknya ia terlalu semangat deh.


[Tenang saja Tuan] Palingan nanti mati.


‘HEH.’ Sejak kapan sistem belajar dark jokes?


“….” Liu terdiam, matanya tertutup, setelah sekian lama ia akhirnya menunjukkan wajah damainya juga.


Liu tercerahkan, ia dipenuhi ilmu pengetahuan. Memang awalnya terasa struggling dan tak enak, namun akhirnya ia jadi tahu apa yang tadinya tak diketahuinya.


Sebagian besar info yang tak ia dengar dari Nona Wolf sudah dibacanya.


‘OKE.’ Urusannya sudah selesai di sini, dan syarat demi naik ke alam dewa tingkat selanjutnya adalah….


“Aku bisa mengantarmu.” Ada suara pria tua di belakang.


“!”


“PAK!?”


***


Liu akhirnya meninggalkan ruangan perpustakaan bersama dengan pak tua bertopi klasik.


SSH….


Ia tak menyangka bangunan perpustakaan tadi di tengah padang gurun panas.


Agak aneh, namun begitulah kenyataannya.


Jadi siapa pria tua yang bertopi yang sedang menemaninya sekarang?


Perkenalkan, beliaulah yang menjaga pusat segala pengetahuan di alam dewa tingkat tinggi awal.


Sedari tadi Liu sudah ngobrol ringan dan actually he’s a good person.


Tadinya Liu pikir dengan raut wajahnya yang serius, situasi pun akan selalu serius.


Namun ternyata tidaklah begitu, ia malahan menikmati obrolan ringan di sepanjang perjalanan ini.


‘Apa aku bisa menang ya?’ Liu agak ragu.


“Kita sudah sampai.” Pak perpusatakaan membuyarkan lamunannya.


Kini di depannya berdirilah sebuah tempat besar berbentuk lonjong.


Tak lain tak bukan adalah tempat adu kekuatan sang dewa alam tingkat ini.


Benar, Liu harus mengikuti kompetisi tarung antar dewa.


“Semoga keberuntungan mengikutimu.”


Liu masih terpana dengan betapa besarnya bangunan khusus tarung ini.


“Ah, teri-”


Sudah hilang.


CEPET JUGA JALANNYA.


Meleng dikit saja pak perpus udah pulang duluan.


“….” Hawa panas menerpa tubuhnya, entah kenapa situasi jadi panas juga ya.


Liu melangkahkan kakinya memasuki bangunan besar itu, dan dalam sekejap ia sudah ada area tarung yang lebih luas dari dugaannya.


Ini bukan kali pertamanya masuk ke arena khusus pertarungan, namun jelas yang ini lebih besar dan meyakinkan.


Liu terdiam, suasananya lebih sepi dari yang ia kira juga sih.


Tak ada siapapun kecuali dirinya di sini.


Padahal banyak kursi penonton disediakan di atas sana. Itu jelas bisa memuat banyak makhluk sih.


‘KATANYA ADA KOMPETISI YA?’ Liu yakin info dari buku dan pak perpus bukanlah scam.


Tapi mau dilihat dari sisi manapun nggak ada siapa-siapa di sini sih.


Liu sudah mengedipkan mata, menguceknya, jungkir balik, kayang, namun tetep aja nggak ada siapa-siapa.


Nggak ada hawa kehadiran yang terasa juga.


MUNGKINKAH SALAH JADWAL?


Itu bisa jadi sih. Mengingat acara besar seperti kompetisi begini kan perlu persiapan yang matang ya? Entah dari tempat, penonton dan pesertanya.


Namun Liu tak menemukan info yang lebih detil lagi, baik dari buku atau pak perpus sih.


“HM.” Liu tak melonggarkan kewaspadaannya, biasanya di saat-saat begini suka ada yang mengejutkan sih.


DBUMMM!!!


‘NAH.’ Baru aja diomongin.

__ADS_1


__ADS_2