Sistem Pendekar Terkuat

Sistem Pendekar Terkuat
Lengkap


__ADS_3

'MAKHLUK APA ITU!?' Liu terdiam melihat sosok yang tiba-tiba muncul berbentuk lava!


Seperti seorang raksasa mengerikan, hanay saja terbuat dari lava api panas nan mengancam!


'MONSTER KAH!?'


Eh, tapi ini alam dewa ya yah.


Mana mungkin ada monster di alam dewa 'kan?


Monster seharusnya ada di dalam monster, itulah logikanya!


[Tapi di alam Tuan ada]


'ITU LAIN CERITA DONG.' Para monster itu kan dipanggil kaisar, bukan ada dari awal.


"Selamat malam Tuan Lava." Liu menunduk hormat. Yah ia tidak tahu bersantai di dekat kawah bisa membuat penghuninya marah begini.


"TUAN LAVA!?" Sosok raksasa lava ini terdengar tidak senang.


'Eh?' Ia masih kurang sopan kah? Liu terdiam.


"Namaku Kunlun!"


"O-oh?"


"Maaf atas kelancangannya Tuan Kunlun." Liu bersujud bahkan sampai ke tanah. Yahuan mengikutinya pula.


"Ha! Panggil aku Yangg Mulia!"


"...." KOK BANYAK MAUNYA SIH?


"Yang Mulia Kunlun." Yah Liu hanya bisa sabar.


[....] Sistem terdiam, kenapa tuannya menghormati makhluk ini segala?


Bukan tanpa alasan Liu melakukan ini. Semua ini adalah bagian dari strategi briliannya!


"Hmmm." Sosok raksasa lava mengerikan ini terdengar bangga.


Liu bangkit dan akhirnya menjelaskan tujuannya.


"Kau ingin Kitab Immortal?"


DDDRRTTT....


Entah kenapa nada suaranya terdengar lebih tegas.


Apa ini topik sensitif ya?


Yah sudah pasti nggak bakal dikasih info sih.


'Kau membuang waktuku." Wajah kesal terlihat jelas pada sang raksasa lava ini.


Yah sudah pasti begini sih. Liu tak heran.


"Seharusnya kau katakan dari tadi maksudmu."


'Eh?'


Memang awal sebelum mengatakan tujuan ia memperkenalkan diri dulu, dan agak panjang sih.


Raksasa lava itu mengangkat tangannya.


SRING!


Seketika itu juga muncullah cahaya biru terang dan sebuah buku!


HUSH!


Buku itu langsung melayang ke arahnya, dan dengan dengan sigap Liu menangkapnya.


'Dikasih buku?'


APA INI JEBAKAN!?


Bisa jadi ini adalah serangan pertama yang mengejutkan!

__ADS_1


Liu terdiam, sejauh ini buku yang dipegangnya nggak meledak sih.


MUNGKINKAH INI PENGALIH PERHATIAN!?


Liu melihat lagi ke arah sang makhluk raksasa lava itu. Dan masih ada di sana, tidak menghilang atau pun menyergapnya.


'Hmmmm....' Liu terdiam, jadi tidak ada maksud terselubung ... lantas kenapa ia dikasih buku begini?


APA MUNGKIN MAKHLUK LAVA ITU MENGIRANYA BODOH DAN MEMBERINYA BUKU!?


Itu kemungkinan aneh yang bisa terjadi, tapi Liu kurang yakin sih.


Faktanya ia sudah banyak baca buku dan kitab juga sih.


TAPI ILMU PENGETAHUAN AKAN TERUS BERKEMBANG DAN LUAS, BANYAK HAL YANG HARUS DIPELAJARI.


Liu sadar ia tidak pernah cukup untuk membaca buku dan kitab.


Jadi yah, selama buku ini nggak bahaya, ia tidak keberatan membacanya.


[Lihat judulnya Tuan]


'Eh?'


'Kitab ... Immortal?'


'YANG BENER!?' Liu tak bisa menahan kekagetan batinnya.


PASTI PALSU! PENIPUAN!


Tidak mungkin kitab yang ia cari! Toh aura kekuatannya juga beda!


SRING!


Seketika itu juga buku yang dipegangnya bercahaya biru, Liu terdiam dan tidak percaya.


'LHO KOK AURA KEKUATANNYA BERUBAH.' Jadi sama seperti Kitab Immortal yang ada padanya!


"I-ini!?" Liu terdiam, jelas-jelas buku inilah alasan kenapa ia ada di sini!


Liu pikir bakal ada pertarungan mendebarkan, adegan heroik tiada duanya.


TAPI KOK ANTI *******.


"Sudah cukup dengan panggilan itu." Sosok raksasa lava mengerikan mengubah nada suaranya.


Yang tadinya terdengar keras dan mengerikan, kini jadi pelan dan terkesan tenang.


Raut wajahnya juga berubah. Yah agak sulit melihat ekpresi wajah dari lava, namun Liu tahu pasti ada perubahan yang berarti di sana.


Yah intinya tidak seganas yang sebelumnya sih.


"Aku tahu siapa dirimu."


'Oh?' Liu memang sudah memperkenalkan diri dari awal sih, tentu saja monster- ah, makhluk satu ini tahu.


"Kau sudah menghadapi dewa."


"!" Kok bisa tahu sih?


Apa mungkin para dewa saling terhubung?


Ataukah makhluk lava ini bisa melihat semuanya dari jauh? Mengingat tempatnya ini tinggi besar sih.


Liu terdiam, dari berbagai kemungkinan yang ada, pastinya berhubungan dengan kemampuan dewa.


Apa makhluk lava ini adalah dewa juga?


[Benar Tuan, dia dewa gunung]


Begitu ya.


Yah pantas saja dia tahu, apa yang nggak bisa dewa lakukan sih?


Lantas apa hubungannya?


Dengan cepat Kunlun menjelaskan maksudnya. Liu dengan penuh perhatian mendengarnya.

__ADS_1


'Apa?' Dan ia tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.


"Maaf atas kelancangan saya." Kunlun, sang dewa gunung berwujud lava panas raksasa itu menunduk.


"...." Liu terdiam, kenapa sang dewa sampai melakukan hal seperti ini?


Kunlun sudah tahu bagaimana kekuatan pemuda yang datang ke teritorinya ini, namun meski begitu ia men-dramatisasi situasi dengan menakuti dan mengancam pemuda ini.


Yah ia senang dipanggil hormat oleh makhluk yang lebih kuat, rasanya jadi kebanggaan tersendiri.


Namun sandiwaranya berakhir sekarang. Kunlun tidak mau membawa hal ini lebih jauh.


'Jadi yang tadi itu pura-pura?' Liu terdiam, ia masih tidak percaya sih.


Pasalnya ia bener-bener serius, berhadapan dengan dua dewa sekaligus bukanlah hal biasa. Tapi kenapa dewa gunung begitu menghormatinya?


Sebagai permintaan maaf karena telah mempermainkannya.


Liu tak masalah dengan kejadian pertama tadi sih.


Meski sedikit panik pas tahu ada gunung meletus sih.


"Tolong angkat, kepalamu tuan dewa." Liu tak enak dihormati begini sih.


MUNGKIN HANYA LELUCON.


Liu tahu sekarang bukan bulan april, tapi yah, siapapun bisa bercanda kapanpun.


[Dia serius Tuan]


'Begitu ya.' Liu melipat tangan di dada dan mengangguk kecil.


'TUNGGU APA?'


[Dia serius minta maaf] Sistem tidak keberatan mengulang perkataannya lagi.


'JADI BUKAN LUCU-LUCUAN?' Sulit dipercaya!


Namun itulah yang terjadi. Kunlun sebagai dewa gunung memang sudah berhubungan dengan dewa pengawas gladiator, dan berniat menyerahkan apa yang dicari pemuda itu ketika datang kemari.


Liu terdiam, dihormati manusia sudah biasa, dihormati dewa? Beuh.


Entah kenapa Liu merasa berbunga, bukannya jatuh cinta atau apa, melainkan lebih ke bangga aja sih.


Meski agak aneh mendapat hormat dari dewa yang pertama kali ditemuinya, rasanya terlalu indah untuk sebuah kenyataan.


Liu tak tahu seberapa banyak yang dewa ketahui tentangnya, namun yang pasti dewa yang satu ini bukanlah musuhnya.


"Semoga perjalananmu berhasil."


SWWWUSSSH!


Seketika itu juga perwujudan Dewa Gunung Kunlun menghilang, tidak ada lagi monster lava raksasa mengerikan.


Getaran dan awan panas sudah berlalu, situasi mencekam berangsur-angsur membaik.


Liu terdiam, ia benar-benar memegang buku yang dicarinya.


Dengan begini koleksi Kitab Immortal-nya sudah lengkap, dari jilid I sampai III.


"Akhirnya...." Liu terdiam, ia sangat senang karena akhirnya tujuannya tercapai.


Yahuan tersenyum, ia senang akan pencapaian pemuda ini.


Liu menguatkan tekadnya, akhirnya tiba saatnya ia pergi ke tingkat alam dewa selanjutnya!


Dengan cepat Liu meletakkan ketiga Kitab Immortal yang sudah di perolehnya dan menutup matanya, Yahuan terus berada di sisinya berjaga.


Liu duduk bersila tepat di depan ketiga buku yang sudah berjejer itu. Menutup matanya dan berkonsentrasi.


Inilah momen yang ditunggunya sejak awal, satu-satunya cara mem-bypass syarat masuk ke alam dewa tingkat lanjut yang terbukti sangat sulit.


Sssshh....


Angin kecil mulai tercipta di sekitarannya, alis Liu menurun tajam tanda betapa seriusnya ia melakukan urusannya.


Konsentrasi dan fokus adalah koentji! Ia harus mengeluarkan segenap kemampuannya!

__ADS_1


__ADS_2