
Shhh....
Perlahan namun pasti aura kekuatan merah lagi-lagi menyelimutinya.
"Be ... lum...." Tubuhnya sedikit bergerak, dan perlahan namun pasti ia mulai bisa mengangkat kepalanya.
Dan akhirnya Liu bisa berdiri di atas kakinya sendiri meski kondisinya terlihat lebih memprihatinkan.
Bagai jadi samsak sabetan pedang dewi, kondisi Liu jelas tak cocok untuk dilihat anak dibawah umur.
Terlalu banyak luka luar dan darah yang mengucur, sungguhlah keadaan yang benar-benar tidak baik.
Terlepas dari apa yang terjadi padanya, Liu masih bisa memperlihatkan sorot mata yang serius sekaligus tekadnya.
"...." Dewi terdiam dan masih tak terlihat arogan, ia seolah sudah tahu pemuda ini akan bangun lagi.
'Oke.' Liu terlihat bernafas sebagaimana mestinya, namun tersengal-sengal dan butuh usaha lebih.
-Mantap ya Tuan-
Liu tersenyum kecil, serangan dewi memang patut dipuji.
Sang dewi tak mengakhirinya sekaligus diserangan tadi, dan ia tahu alasannya.
Apalagi kalau bukan untuk menyiksanya? Liu yakin dewi ingin menikmati kemenangannya perlahan, tentunya itu lebih memuaskan ketimbang mengakhirinya sekaligus.
-Dewi psikopat ya Tuan-
Bukan begitu juga sih, hanya saja Liu paham dewi ingin mengusir kebosanannya dengan melakukan hal ini.
Liu terdiam disaat begini ia masih bisa tersenyum percaya diri. Itu lebih baik daripada terlihat menyedihkan.
Perlahan namun pasti Liu mulai mendapatkan kekuatannya lagi.
Lukanya memang tetap ada namun ia sudah siap untuk melanjutkan urusan ini.
Swush.
Seketika itu juga busur api tercipta, Liu langsung memakainya dan meng-aim sang dewi.
Liu menutup sebelah matanya, sorot matanya fokus sekali, hanya butuh satu tarikan saja....
"Panah Api Hujan Api Elegan."
SWUSH!
Panah aura api itu melesat cepat, dewi terdiam dan tak ambil pusing, serangan begini mudah sekali diatasi.
Bum!
Ledakan kecil tercipta, bahkan panah api itu tak sanggup mendekati dewi.
Serangannya memang level rendah, apa mungkin hanya serangan frustasi saja? Pikir dewi.
BLAR!
Guntur keras terdengar dari langit, dan awan hitam langsung menutupi sang surya, seketika itu juga situasi langsung suram.
Perubahan cuaca yang tak wajar.
Dewi terdiam ini bukan perbuatannya, yang itu berarti....
Liu tersenyum kecil dan menunjuk ke atas.
SRRRR!
"!" Seketika itu juga hujan deras langsung turun, namun berbeda dari biasanya, kini butiran api panas yang turun.
Liu terdiam dan berlindung dengan aura kekuatan merahnya. Sementara dewi berlindung pula dengan aura kekuatannya.
Pemuda itu ternyata tidak membual, nama tekniknya sesuai dengan kenyataan.
Kini hujan deras mengguyur tempat ini dan kelihatannya tak akan berhenti dalam waktu dekat.
Dewi baru tahu pemuda ini bisa memanipulasi cuaca dengan kekuatan anehnya itu.
Liu terdiam, bukan tanpa alasan ia mengerahkan teknik ini.
Liu tak bisa mengandalkan serangan jarak dekat atau dewi bisa menumbangkannya lagi dengan cara yang sama.
Cara lain yang bisa dilakukan tentulah serangan jarak jauh.
Liu tak berharap banyak dengan serangannya ini. Ini serangan percobaannya, berhasil tak berhasil yang penting sudah dilakukan.
Lagipula dewi kelihatan tak masalah dengan serangannya ini.
Yah hujan api ini punya aura kekuatan yang kuat, namun tak cukup kuat untuk mengikis aura pertahanan dewi.
Di sisi lain Dewi Xihe cukup terkesan dengan apa yang dilakukan pemuda ini untuk melawannya.
Ia bisa saja menunggu hujan api ini berhenti, namun itu akan membosankan.
SRING!
__ADS_1
Seketika itu sinar terang tercipta, dan berhentilah hujan api. Langit kembali cerah.
Sudah pasti dewi tak mau menghabiskan waktunya menunggu serangan lemahnya.
Liu terdiam, sekarang apa lagi yang bisa dilakukannya demi menghadapi dewi?
-Serangan tadi berhasil Tuan-
'Nah kan.' Liu hanya show-off aja tadi, nggak mungkin dewi terpengaruh.
....
'TUNGGU, APA?'
Dengan cepat TBT menjelaskan maksudnya. Dan intinya ini berkaitan dengan aura kekuatan dewi yang sekarang.
'....' Liu terdiam dan mengamatinya.
'OIOI.' Dan langsung tak percaya.
Aura kekuatan sang dewi jelas menurun dan itu tak terbantahkan.
Kok bisa begitu ya? Padahal jelas-jelas dewi kelihatannya tak terpengaruh sama serangannya tadi.
Terkadang apa yang ada di dalam tak sama dengan yang ada di luar.
Tidak ada yang sia-sia ketika berusaha.
Memang Liu tak berhasil memojokkan dewi, namun setidaknya apa yang dilakukannya membuahkan hasil dalam hal lain.
Sret.
Liu berusaha menguatkan kakinya, entah kenapa rasanya pusing.
-Tuan?-
'A- aku tak apa.' Liu menggelengkan kepalanya sedikit. Ini pasti akibat serangan yang sudah dilancarkan tadi.
Tak disangka teknik hujan api tadi membutuhkan banyak kekuatan dan jadilah begini.
Dewi mengangkat tangan kanannya, terlihat jelas dari raut wajahnya bahwa ia tak mau mengulur waktu lagi.
Ia ingin mengakhiri ini dengan cepat, kini pemuda itu sudah lemah karena serangannya sendiri, satu serangan sudah cukup untuk mengakhirinya....
'!' Laser transparan lagi!
Tubuhnya masih lelah, ia tak bisa selincah sebelumnya!
Astaga apa ini akan jadi akhir bagi sang karakter utama!?
Laser transparan itu mengenai tanah, dan Liu terdiam dengan penuh ketidakpercayaan.
Ekspresinya menandakan semuanya sudah berakhir, dan ia pun terjatuh ke depan.
Blugh....
Sungguhlah momen yang tak menyenangkan, namun inilah yang terjadi.
Kalau saja Liu tak mengerahkan teknik hujan api, mungkin saja ia punya kekuatan untuk menghindari serangan dewi matahari.
Namun pada akhirnya pemuda itu sudah memberikan perlawanan terbaiknya, dan itu sudah lebih dari cukup.
Dewi terdiam, akhirnya berakhir sudah, perlawanan pemuda ini sama sekali tak buruk, meski tak benar-benar menghiburnya.
Ia berekspektasi lebih, namun akhirnya kenyataan tak memenuhi ekspektasinya.
Tap.
Dewi berjalan perlahan, ia menikmati setiap langkah yang dibuatnya. Stretegi briliannya bisa membawa kemenangan yang amat mudah baginya.
Rencananya pasti tak akan berjalan lancar kalau pemuda itu tak datang ke sini pasca pertarungannya dengan dewa meteor.
Aura bahaya yang ia buat berhasil memancingnya datang ke tempat ini, di siang hari, tepat saat matahari cerah ada di atas kepala.
Serangan hujan api tadi memang mengejutkannya, butuh energi esktra untuk menyingkirkannya, namun itu tak jadi ancaman fatal baginya.
Selama ia tersinari cahaya, maka tak ada yang bisa melawannya. Semuanya akan tunduk dibawah kakinya.
Sret.
Dewi menatap saksama pemuda yang tergeletak itu, kelihatan menyedihkan, namun ia tak peduli, satu-satunya hal yang dipedulikannya hanyalah reward dari dewa kematian, yang sebentar lagi akan diterimanya....
Hssshh....
Hempasan angin kecil tercipta, dewi bersiap untuk pergi dengan target utamanya ini.
"?" Dewi terdiam, rasanya ada yang aneh.
Dewi memeriksa lagi tubuh targetnya, entah kenapa tak ada luka laser transparannya, yang ada hanyalah luka pedangnya saja.
Dia tumbang karena kehabisan kekuatan? Dewi terdiam, padahal setelah melancarkan serangan pun dia kelihatan baik-baik saja.
Dewi mengecek ulang dan memang aura kekuatan pemuda ini tak stabil, pasti gara-gara mengeluarkan serangan skala luas tadi.
__ADS_1
"...." Dewi masih menatap seksama targetnya yang sudah tumbang itu.
Tak terlihat raut wajah puas dari sang dewi.
Padahal sudah sewajarnya kalau dewi senang dan menunjukkan sedikit selebrasinya, namun beliau tak melakukannya.
Raut wajahnya masih mengisyaratkan kebimbangan yang jelas.
Sudah lama sejak dewi ragu setelah mengalahkan musuhnya.
Sret.
Dewi mengarahkan tangannya, mengarahkan serangan laser pada kepala pemuda itu.
Tindakan yang aneh namun instingnya mengatakan ia harus melakukannya.
SYUT!
"!" Pemuda itu menghilang!
BUAAAGHHH!!!
BDDUMMM!!!
Dewi langsung terhempas dan menghantam tembok sisi arena!
Terlihatlah seorang pemuda dengan pose menendang! Dia yang barusan lemah tak berdaya!
Tap.
"Haaah ... haahh ...." Terlihatlah seorang pemuda dengan wajah penuh luka, senyum kecil terukir di wajahnya.
Sungguhlah momen yang tak terduga, mungkin banyak yang menyangka inilah akhir dari sang karakter utama, namun ternyata tidaklah begitu.
"HAH!" Liu membebaskan ekpresinya, ia tak ragu berselebrasi.
Yah satu serangan telak masuk adalah hal yang luar biasa baginya.
Liu terdiam, benarlah serangannya tak sia-sia.
SWUSH!
Di sisi lain dewi menghempaskan kepulan debu tanah yang mulai menumpuk di sini, sorot matanya terlihat tajam.
Raut wajahnya seolah menandakan ia sudah memprediksi hal ini akan terjadi namun tak cukup cepat untuk menghindarinya.
Targetnya itu bergerak cepat dan menendangnya dari titik butanya....
Dia membuatnya lengah dengan berpura-pura tak berdaya, trik klasik namun berhasil dengan sempurna.
"...." Di sisi lain Liu menatap tajam juga, ia puas dengan selebrasi instannya, dan kini kembali menghadapi kenyataan.
HUSH!
Sang dewi langsung maju dan kali ini pakai palu cahaya!
"PERISAI KAPTEN AMRIK!"
SRING!
BRAAAGHH!!
SWUUSHH!!!
Muncullah hempasan aura kekuatan yang sulit dijelaskan, yang pasti Liu menahan getokan palu dewi dengan perisainya.
TRANG!
"UGH!" Dewi tak menyerah dan terus menghajarnya! Namun dengan sigap Liu bertahan dengan perisai merahnya!
Kini ia hanya bisa bertahan! Pengennya sih sama-sama nyerang tapi Liu sadar diri.
Sang dewi bisa melancarkan serangan baliknya dengan mudah dan Liu tak mau mengulang kesalahan yang sama!
TRANG!
"Whoa!" Liu terhempas ke atas, perisainya mampu bertahan namun tubuhnya tetap terhempas, serangan palu cahaya yang hebat!
'Ada petirnya nggak nih?' Liu penasaran.
-Dewi ini kan bukan dewa petir Tuan-
'Oh iya.' Yah, kalau ada pastinya lebih keren dan memanjakan mata.
HUSSSH!
Tanpa sadar Liu sudah melayang di atas dan lagi-lagi serangan laser langsung mengincarnya!
SLASH!
'SIAL!' Liu tak bisa menghindar bebas di udara, ia hanya bisa melindungi bagian tubuh vitalnya saja!
Makin banyak bagian tubuh yang tergores, Liu tak punya pilihan selain menerimanya dengan laki.
__ADS_1
Terlalu banyak manuver bisa membuat laser dewi kena ke bagian lain yang tak diinginkan.