
[Mengejutkan ya Tuan]
Bener sih.
Kekuatan dewa satu ini lebih hebat dari sekedar pindah tempat sih, kereen.
Dewa tidak menyangka pemuda ini kalah bahkan sebelum ia menunjukkan kekuatannya yang sebenarnya.
Sungguhlah menggelikan, namun itulah yang terjadi.
Sang dewa tak keberatan mengatakan ini pada lawannya. Yang meski lebih baik tetap merahasiakannya juga, namun anggap saja sebagai hadiah terakhir.
Super sangat jarang sekali dewa ilusi melakukan hal ini. Ia bukan tipe dewa yang menggembar-gemborkan kekuatannya.
Kurang baik apalagi coba dirinya? Sudah dua kali menawarkan keringanan ditambah memberikan info berharga begitu saja.
Tak tahu kekuatan musuh bisa jadi merepotkan dan membuat mudah terjebak disituasi yang tak bagus. Liu sendiri yang mengalaminya.
"Kacamatamu, menarik." Dewa terdengar terkesan.
"...." Oh ya, Liu paham apa maksudnya.
Kacamata ini tak pecah dan tahan terhadap pertarungan super cepat tadi.
Kalau soal cincing, gelang dan kalung sih masih bisa diterima kalau baik-baik saja, namun kacamata?
[Kan aksesoris dewa Tuan]
'Oh iya.' Tak mungkin aksesoris dewa nggak tahan lama ya.
Jadi kenapa dewa tertarik sama kacamatanya?
Maksud sebenarnya dewa adalah lebih kepada teknis bagaimana kacamata itu bekerja.
"Aku tak perlu repot-repot mendatangimu." Dewa menatap tajam, nada suaranya dingin dan ada kepuasan juga.
"!"
'OIOI.' Liu tak suka apa dengan apa yang dipikirkannya sekarang.
JADI KEDATANGAN DEWA ... GARA-GARA DIRINYA SENDIRI??
[Lebih tepatnya karena kacamata Tuan, Tuan] Sistem memperjelas.
Kok bisa begitu???
Saking penasarannya sampai tanda tanyanya tiga buah. Dengan sigap sistem memberi analisis cepatnya.
"...." Begitu ya.
Siapa sangka dengan menggunakan kacamata ini malahan bisa langsung men-summon dewa ilusi?
Agak aneh, namun itulah yang terjadi.
Ada hubungan apakah kacamata dewa ini dengan dewa ilusi?
Liu yakin semua ini bukan kebetulan belaka dan pastilah ada alasan yang bisa menjawabnya.
"Kenapa aksesoris dewa dipercayakan pada dewa-dewi lemah?" Dewa Jue sedikit menggelengkan kepalanya.
"!" Liu terdiam, ia tak menyangka dewa sampai merendahkan para pemegang aksesoris dewa.
Perlahan namun pasti raut wajahnya muram. Tidak peduli kondisinya Liu tak gentar menunjukkan emosinya sendiri.
Sang dewa blak-blakan menyampaikan pendapatnya. Karena itulah kenyataannya.
Ini bukan soal curhat atau mencurahkan perasaannya. Ia hanya menunjukkan keheranannya kenapa dewa tingkat tinggi melakukan hal ini.
"...." Begitu ya.
Entah kenapa Liu jadi punya dugaan super kuat.
Soal kenapa kacamata dewa bisa memanggil sang dewa ilusi....
"Kau benar, aku pemegangnya yang dulu." Dewa terkesan pemuda ini bisa tahu soal ini, mimik wajahnya mengatakan semua itu.
"...." Jadi ada semacam reformasi pada para pemegang aksesoris dewa?
Liu baru tahu, ia pikir para pemegang aksesoris dewa adalah sosok yang selalu sama.
Namun fakta baru akhirnya terungkap.
Benarlah begitu, sang dewa ternyata tidak membiarkan jabatannya hilang begitu saja....
Dewa Jue menanamkan sebuah teknik pada kacamata dewa ini, bahwa siapapun yang membangkitkan kekuatannya, maka dirinya pun akan hadir di situ.
Dan siapa sangka ia langsung bertemu dengan buronan dewa kematian sendiri?
Tidak perlu susah payah mencari kemana-mana, ia bisa langsung melakukan pekerjaannya dengan efisien.
'....' Liu tak menyangka dewa punya stretegi begini.
Kenapa bisa-bisanya dewa tingkat tinggi tak tahu soal ini?
INI BISA JADI PLOT HOLENYA!
Liu yakin dewa tingkat tinggi yang mereformasi tentulah punya kewenangan dan kekuatan bukan main. Lantas kenapa sang dewa tinggi tak mencegah kecurangan ini?
[....] Tidak salah tuannya berpendapat begitu.
"Aku hebat." Dewa Jue menahan tawa dinginnya, jelas bangga karena ia bisa meng-eksploitasi aksesoris dewa.
Menjadikan dewa tingkat tinggi jadi bahan keraguan, aaahh perasaan yang begitu nikmat.
"...." Oke dewa banyak memberinya info di saat begini.
Hanya tinggal satu hal lagi....
Alasan kenapa ia tak bisa menggunakan kekuatan yang lain selain sistem....
Tak lain tak bukan karena....
DDRRTTT....
Tiba-tiba getaran terasa di padang rumput luas ini.
Mungkin ada yang berpikir bahwa ini kelakuan dewa, namun sebenarnya bukan.
Dewa tak melakukan apapun, lagipula tempat ini adalah 'realitas'nya sendiri dan dirinyalah yang paling tahu apa yang terjadi di sini.
"...." Dewa melayangkan pandangannya, langit cerah, udara segar, bau rerumputan khas. Semuanya normal seperti biasanya.
Namun kenapa getaran tak diundang bisa hadir di 'realita'nya?
Srtet.
Dewa mengalihkan pandangannya lagi dan pemuda yang terbaring lemah sudah tidak ada.
"...." Dewa tidak terkejut, perlahan ia menoleh ke belakang pula dan terlihatlah pemuda itu sedang berdiri sembari menatapnya tajam.
Yang tak lain tak bukan adalah Xiao Liu! Sang karakter utama!
KENAPA BISA-BISANYA DIA BANGUN SETELAH SEMUA YANG IA ALAMI DAN KELEMASAN BRUTALNYA?
HARUSNYA KAN DIA TAK BISA MELAKUKAN APAPUN DAN HANYA TINGGAL MENUNGGU AKHIRNYA SAJA, NAMUN KENAPA MALAH BISA BERDIRI KEREN BEGITU!?
'Berisik.' Entah kenapa Liu seolah mendengar suara-suara aneh dikepalanya. Duh, padahal sudah ada yang berisik....
[Itu narator Tuan] Sistem tidak mau disalahkan.
'Oh.'
Oke, sudah cukup dengan suara aneh tadi, kini Liu masih menatap tajam sang dewa. Belum ada aksi apapun yang terlihat darinya.
Ia tidak bisa mengandalkan kekuatan apapun selain sistem, itulah kenyataan yang harus diterima.
Sementara itu di sisi lain, dewa kelihatan muram setelah tahu pemuda itu mengalihkan perhatiannya dengan goncangan cetek tadi.
"Janganlah merendahkan yang lain dewa." Liu terdengar serius, entah kenapa rasanya ia harus mengatakan hal ini.
Bukannya bermaksud menggurui atau apa namun lebih pada mengingatkan saja.
"...." Dewa sedang tidak mau mendengar nasihat apapun dan hanya menjawabnya dengan muka masam saja.
Adalah hal yang lumayan tidak terduga yang terjadi di sini. Harus diakui dewa memang tidak memprediksikan ini.
Namun bukan berarti tidak akan terjadi juga, tidak sia-sia dewa mengulur sejumlah besar waktu demi menunggu pemuda ini bangkit kembali.
Hampir saja dewa pikir semuanya sudah selesai, namun ternyata masih belum.
Shh....
Tubuh Liu berasap, dan dalam waktu singkat ia kembali diselimuti dengan aura kebiruan yang lebih kuat.
Setelah memperlihatkan sisi lemahnya, kini saatnya memperlihatkan sisi kuatnya yang melebihi kekuatannya yang sebelumnya.
Jangan remehkan kekuatan sistem.
Sang dewa bisa saja men-disable kekuatan tuannya sesuka hati, namun sayang sekali ia tak bisa melakukannya pada kekuatan originalnya.
Itulah alasan kenapa Liu masih bisa mengakses kekuatan sistem, karena sistem bukanlah kekuatan luaran, melainkan kekuatan asli yang berada di tubuhnya.
Dewa pun tidak bisa mengubah realita yang seperti itu.
Alis dewa menurun tajam, ia kelihatan tidak nyaman dengan aura yang terpancar.
Dewa pun menguatkan aura kekuatannya, dan seketika itu juga rerumputan langsung layu, cuaca cerah berubah suram, udara hangat berubah dingin....
Realita bisa diubah sesukanya....
'WOW.' Mau seberapa kali melihatnya pun Liu tetap merasa kagum.
Kekuatan dewa unik sekaligus mengerikan disaat yang bersamaan.
[Fokus Tuan]
'OH!' Liu kembali stay track, ia tak boleh menyia-nyiakan usaha sistem yang begitu keras ini!
Bukan hal yang mudah kembali pulih dalam waktu singkat, dan terutama mengejutkan sang dewa juga.
Realita yang berubah bisa jadi masalah, namun Liu tak mau overthingking duluan.
Pertarungan ini sudah masuk ke dalam babak baru.
SWUSH!
Tanpa pikir panjang dewa langsung melesat maju!
Liu bersiap dengan kuda-kudanya!
BRAAAKKK!!!
Sebuah suara tabrakan mengerikan terdengar.
Begitu memekakan telinga, mirip suara barang pecah ekstra keras.
Suara yang jauh beda dari yang sudah-sudah, dan jangan lupakan juga hempasan angin brutal yang tercipta.
KRRRKK!
Terlihatlah retakan-retakan di bawah rumput dan di atas langit. Bahkan 'realita' sang dewa pun tidak bertahan sempurna dari kuatnya energi yang tercipta.
BRAHKKKKK!!!
Adu baku hantam next level sedang berlangsung, setiap serangan pukulan dan tendangan, teknik indah dan aneh langsung membuat retak-retakan kecil di tempat ini.
Tidak ada hal selain keseriusan di sini. Liu tak punya waktu memerhatikan hal lain selain berusaha agar bisa bertahan lebih lama dari sebelumnya.
Ia ragu dewa mau menunggunya dua kali dan terus mengulur pertarungan.
Dewa masih menyerang membabi buta dan menikmatinya.
Ia tidak peduli seberapa banyak 'realita'nya yang rusak. Yang terpenting adalah menumbangkan pemuda ini lagi dan merenggut semua tekadnya.
Memastikannya putus asa dan menikmati kesengsaraan yang sebenarnya. Ah,sungguhlah kenikmatan yang hakiki.
Getaran demi getaran dan retakan makin banyak saja, efek pertarungan ini akan benar-benar merusak 'realita' yang dibuat dewa.
Momen kerusakan 'realita' begini sangatlah langka.
'Realita' dewa harusnya adalah kemampuan yang hampir tiada celah. Kemungkinan 'pecah' atau 'rusak' sangatlah kecil.
Namun pada akhirnya itulah yang terjadi.
Dewa Jue sudah memastikan kemampuannya sendiri bisa bertahan melawan dewa, dan itu terbukti bahwa realitanya tidak pernah 'pecah'.
Namun apa daya, kenyataan adalah kenyataan dan tidak bisa diganggu gugat.
Fakta realitanya 'hancur' adalah hal yang tidak terelakkan.
Dewa tidak bisa tersenyum bangga lain setelah tahu hal ini, kekuatan pemuda ini adalah sesuatu yang berbeda, ia bisa merasakannya.
Xinmu, seorang dewi tingkat tinggi yang jadi buronan, itulah kekuatan yang terpancar darinya.
Siapa yang tidak tahu dewa tingkat tinggi? Pastilah mayoritas dewa tahu akan hal itu.
Termasuk sang dewa ilusi sendiri, komentar pedas tentang kekuatan pemuda ini memang berasal dari pendapat pribadinya.
Mungkinkah sang dewa ilusi punya dendam atau hal buruk dengan Dewi Xinmu yang akhirnya membuatnya tidak akur begitu?
Kenyataannya masalahnya cukup sederhana: keirian.
Dewa Jue iri dengan dewa tingkat atas, itulah masalahnya.
Semua ini tidak lepas dari campur tangan para petinggi dewa yang bertugas memberi tugas pada masing-masing dewa.
Kenapa bisa-bisanya dirinya yang punya kemampuan hebat ini malah ditempatkan di sini? Di alam dewa menengah tingkat akhir?
Bisa-bisanya para petinggi dewa melakukan hal ini padanya, dan tidak hanya itu, apa yang dipercayakan padanya dicabut begitu saja!
Tanggung jawab besar sebagai peemgang aksesoris dewa hilang begitu saja dan dewa pun tidak bisa melakukan apapun kecuali menerimanya.
Ia harusnya berada di tempat yang lebih tinggi dan dengan tanggung jawab yang besar pula!!
KEDEBUMMM!!
CRASSSH!!!
"!" Seketika itu juga 'realita' dewa benar-benar hancur.
'WOW.' Liu makin terkesan dengan apa yang terjadi, ini keren sekaligus tidak biasa.
"WHOA!" Kini Liu dan sang dewa terjatuh entah kemana.
Realitanya sudah hancur dan tidak bisa diapa-apakan lagi, wajar saja kalau pijakan kaki pun ikut sirna juga.
'WUHU!' Liu berteriak kegirangan dalam batinnya, yah kalau teriak asli bisa malu-maluin sih.
[....] Sistem tidak menyangka tuannya malah tertarik dengan hal ini. Padahal apa yang terjadi bukanlah hal yang menyenangkan.
SWWUUSH!
Kini area sekitar berubah jadi gelap dan kedua makhluk itu masih terjatuh entah-kemana-dasarnya.
__ADS_1
Dewa terdiam, akhirnya hancur juga 'realita' yang dibuatnya.
SHUWSH!
NAMUN ITU TIDAK MENGHALANGI DEWA UNTUK TETAP MENYERANG! IA SUDAH MELESAT MENGHAMPIRI LAWANNYA!
DAN PARAHNYA SANG KARAKTER UTAMA MALAH NGGAK SADAR!
Situasi yang begitu mencekam!!
Slow motion time!!
Adegan menegangkan begini paling tepat kalau dilihat gerakan lambatnya!
Dewa melesat begitu cepat, dan pukulan tangan kekarnya hampir mengenai wajah Liu!
Sang dewa tidak menahan diri kali ini, siapapun yang bisa menghancurkan 'realita'nya, disitulah keseriusannya dimulai!
Dewa terlalu meremehkan pemuda ini, ia pikir pertarungan ini takkan sampai ditahap kehancuran 'realita' nya, namun ternyata tidak seperti dugaannya.
Kini saatnya mengakhiri ini dengan cepat dan tepat. Dewa sudah banyak memberi kemurahan, dan tidak berniat memberinya lagi kali ini.
Meski benci mengakuinya, namun dewa sadar pemuda ini bisa jadi ancaman merepotkan kalau tak segera ditangani.
Kini hanya butuh satu pukulan serius darinya yang akan mengakhiri semua ini.
Dewa tidak menunjukkan pukulan seperti ini sampai sekarang. Tidak peduli lawannya sadar atau tidak, serangannya pasti seratus persen kena.
[TUAN!]
"!"
SRRIINGGG!!
Muncullah cahaya terang tiba-tiba!
BLIZT!
BLUGHHH!!
"OWWW!" Rasanya ia mendarat dibatu.
JRENG.
Dan benar saja banyak bebatuan dibawah badannya.
Liu menggelengkan kepalanya, agak sedikit pusing.
TUNGGU DULU.
SRET.
Ia berdiri dan terdiam melihat pemandangan yang ada di depannya.
'OI.' Area sungai luas berbatu terlihat, memisahkan kedua area hutan disisinya.
Terlihatlah juga sang dewa di sisi sungai yang lain, cukup jauh jaraknya. Menatapnya tajam.
Liu langsung tahu apa yang terjadi.
"...." Dewa mengubah realita lagi....
Semudah menjentikkan tangan, kini mereka berada di area yang berbeda lagi.
Yah pastinya dewa tidak mau juga jatuh bebas di ruang gelap mengerikan, jadinya mending buat 'realita' baru saja, lebih baik kan?
Dewa terdiam, dibalik tatapan seriusnya tersimpanlah perasaan heran nan penuh pertanyaan.
Satu hal ... hanya satu hal yang bisa terjadi tadi.
Pukulannya kena dan mengakhiri semua ini.
Namun kalau itu yang terjadi tentulah pemuda itu tidak akan berdiri lagi sekarang.
Kenapa dia bisa ... mengaktifkan aksesoris dewa?
Dewa merenung, padahal seharusnya dia tidak bisa menggunakan kekuatan apapun selain kekuatan aslinya.
Namun kenapa disaat terakhir tadi dia malah bisa menggunakannya?
Tangan kanan dewa berasap, pukulannya tidak meleset, dan tidak pula kena targetnya.
Melainkan menghantam suatu kekuatan yang tak lain tak bukan adalah Necklace Of Absolute Defense.
Sebuah kalung merepotkan yang bisa menahan setiap serangan yang datang.
Dewa terdiam, ia mempertanyakan aksinya sendiri, kenapa tidak ambil paksa saja aksesoris dewa sebagai pencegahan bilamana terjadi hal seperti ini?
Tidak bisa dipungkiri dewa memang tidak menyangka pemuda itu bakal bisa menggunakan kekuatan aksesorisnya lagi.
Ia banyak berkuasa dengan 'realita'nya sendiri, namun ada saja kejadian mengejutkan begini.
Berkuasa banyak dengan berkuasa penuh adalah dua hal berbeda, namun dengan kekuatannya sekarang Dewa Jue bisa banyak merepotkan dewa yang ingin bertarung dengannya.
Apalagi kalau ia bisa meminta dewa kematian meng-upgrade kemampuannya ini.
Dengan begitu ia bisa berkuasa penuh dengan kekuatan ilusinya. membuat para dewa dan makhluk apapun tunduk dibawah kakinya.
"HA." Tanpa sadar dewa tertawa kecil, itulah sebabnya ia mengincar buronan dewa kematian ini, UNTUK MEMPEROLEH HADIAH BESAR DARI DEWA KEMATIAN!
"...." Oioi. Entah kenapa sikap dewa terlihat berbeda dari yang sebelumnya.
Liu bisa mencium tanda-tanda aneh di sini.
[Bersiaplah Tuan] Sistem pun bisa menciumnya.
Liu menguatkan tekad dan fokusnya lagi.
Kalau ia bisa bertahan sebelumnya, maka kali ini pun IA HARUS BERJUANG!
Sret.
Seperti biasanya Liu bersiap dengan kuda-kudanya yang keren.
MAU SAMPAI RONDE BERAPAPUN, BRING IT!
"... ha...." Dewa menghentikan tawa kecilnya, situasi kembali serius sebagaimana mestinya.
"...." Liu menatap sangat tajam sampai tak ada yang lain di pikirannya selain bertahan dari serangan dewa yang akan datang.
....
Srrr....
Waktu pun terus berjalan, suara air deras beradu batu jadi saksi keheningan kedua makhluk ini.
'KOK?' Liu sudah capek-capek berpose keren, malah belum diserang-serang juga!
[Terkadang kenyataan tidak sesuai ekspektasi Tuan]
'....' Meski bosan ngedengernya tapi itu kenyataan sih.
Tap.
Dewa menghentakkan kakinya dan seketika itu juga air sungai segar bersih berubah menjadi merah bak darah.
Dan bau anyir pun menyerbak, menegaskan bahwa air itu beneran berubah jadi darah.
'OI.' Liu tak tahu apa yang direncanakan dewa. Ia pikir sang dewa mau ngulangin pertarungan tradisional kek yang sudah-sudah.
Namun ternyata tidak begitu ya.
Dewa punya agendanya sendiri, ia tidak buru-buru namun lebih kepada ingin menebar teror dulu.
Bahkan dengan aura kekuatan biru sistem pun masih belum bisa mem-filter semua hal yang bisa mengganggu.
JDER!
"!" Petir menyambar di siang bolong, suaranya jauh lebih keras dari petir reguler dan bisa mengejutkan siapapun yang mendengarnya.
Rintik-rintik air pun berjatuhan dari atas, makin banyak dan terciptalah hujan deras yang membuat siapapun ingin tetap berada di dalam rumah.
"...." Liu belum paham maksud semua ini.
Mungkinkah dewa lagi show-off soaln apa yang bisa dilakukannya dengan 'realita' buatannya?
Tidak bisa dipungkiri memang itulah maksud sang dewa. Ia lagi-lagi menunjukkan kemurahannya dengan memperlihatkan bagaimana keindahan 'realita' yang bisa dibuatnya.
'KITA NGGAK PUNYA KEMAMPUAN BEGINI SISTEM?'
[Jangan iri Tuan] Setiap makhluk diciptakan dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing.
'OH IYA.' Liu langsung sadar.
Sret.
Sang dewa mengangkat tangan kanannya ke depan.
Seketika itu juga gumpalan cairan merah dan air hujan berkumpul di tangannya, membuat satu bola misterius yang mengerikan.
HUSH!
Sang dewa langsung maju dengan bola merah buatannya!
TAP!
Liu pun melakukan hal yang sama! Ia maju dan mengumpulkan aura kebiruannya di kepalan tangannya!
WWUUSH!
BDUMMM!!
Kedua bola energi itu beradu satu sama lain, menghempaskan air hujan, batu besar bahkan pohon juga.
DRRRRRTTT....
Masalah klasik kembali terjadi, getaran hebat berlangsung beberapa saat.
BUUUJMMMM!!!
HUSSSSHH!!
Liu dan sang dewa terhempas kencang di sisi lain.
BLIZT!
BRUKH!
"UH." Rasanya mendarat di pasir, aneh sekali padahal ia di area sungai dekat hutan, kok rasanya beda ya?
Liu memijat bagian belakangnya, agak sakit sih meski mendarat di pasir.
PATS!
"HAH!" Matanya terbuka lebar, kini ia ada di padang gurun!
Hamparan pasir kuning luas lengkap dengan hembusan angin dan jangan lupa panas teriknya tempat ini!
[Maaf Tuan] Sistem memfokuskan kekuatannya pada bagian depan tuannya saja demi melindunginya dari ledakan yang terjadi.
Itulah kenapa Liu merasa sakit di bagian belakangnya, yah ia terhempas keras tanpa aura perlindungan sih.
KREK!
Liu meregangkan badannya, ini bukan apa-apa, ia masih bernafas dan itulah yang terpenting.
Oke sekarang ia pindah tempat lagi.
Tapi kenapa? Padahal realita tadi sama sekali tidak hancur.
[Kan suka-suka dewa Tuan]
'Oh iya.' Itu hak dewa juga sih ya.
Sementara itu di sisi lain terlihatlah sang dewa berdiri di jarak yang cukup jauh.
"...." Dewa tidak puas dengan hasil adu bola kekuatan tadi.
Padahal ia sudah mengerahkan kekuatan ilusinya agar bisa menang melawan pemuda itu, namun hasilnya tidak seperti yang diharapkannya.
Pemuda itu tetap bisa mengimbanginya dengan kekuatannya sendiri.
Padahal apa yang dilakukannya sebelumnya bukanlah hanya pertunjukkan saja, melainkan ada artinya.
Bau darah agar lawannya tidak nyaman, air hujan untuk membuyarkan konsentrasi sekaligus mengganggu kekuatannya, dan petir ... yah itu hanya pemanis saja sih.
Namun kenapa strategi double-illusionnya tidak berhasil?
[....] Sistem bisa mendeteksi adanya keheranan dibalik raut wajah serius dewa.
Sistem yang paling merasakan efek ilusi dewa tadi.
Sang dewa bisa mengubah ilusi jadi sesuatu yang berbahaya, namun sayang sekali trik begitu tidak akan berhasil pada tuannya.
Sederhananya sistem menetralkan semua kekuatan ilusi dewa yang bahaya yang akhirnya tidak akan berdampak apapun pada tuannya.
Memang butuh proses dan tidak bisa langsung, itulah sebabnya tuannya masih bisa mencium bau tidak nyaman di awal.
Namun semuanya berjalan lancar dan tuannya bisa bertahan dari 'one-shot-one-kill' versi dewa.
Di sisi lain dewa masih memproses kenyataan yang seperti ini. Ia tidak menyangka kekuatan biru pemuda bisa sampai sejauh ini.
Harusnya serangan bola auranya melubangi tubuh lawannya dan menyiksanya perlahan, namun tidak terjadi hal itu sama sekali.
Kenapa pemuda itu bisa banyak mengejutkannya begini?
'UH.' Tatapan dewa makin muram dan butuh nyali untuk terus menatapnya.
Aura intimidasi yang kuat yang membuat siapapun jadi tidak nyaman dan tidak ingin berurusan pula.
Liu berusaha bertahan dari tekanan mental yang dewa pancarkan.
Kontak mata adalah hal yang tak terhindarkan, Liu tak punya pilihan lain selain menatap terus lawannya, lengah sedikit saja bisa merubah alur pertarungan, yah anggap saja latihan mental.
Sebenarnya tak perlu khawatir berlebihan, lagipula dewa masih merancangkan langkahnya yang selanjutnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama dirinya direpotkan kembali. Bahkan sang dewa lupa kapan terakhir kalinya.
Namun mengingat masa lalu tidaklah penting, kini setelah serius pun pemuda ini masih saja jadi ancaman.
"...." KOK?
Liu heran melihat dewa berdiri saja di sana, apa beliau pikir bisa menang hanya dengan mengandalkan aura intimidasi saja?
'UKH.' Bisa jadi juga. Liu mulai overthingking dan tak tahan ingin lari.
Namun apa yang bisa diperbuatnya di 'realita' lain? Satu-satunya jalan keluar hanya ada pada sang dewa sendiri.
[Tuan harus mengalahkannya] Sistem memperjelasnya.
"...." Pikirannya belum sampai di sana, bisa bertahan sampai sini pun lebih dari sekedar beruntung.
Padahal tidak ada salahnya lebih percaya diri lagi. Sistem tidak lagi sama.
__ADS_1
'APA?' Liu jelas mendeteksi kesombongan sistem.
Dengan cepat Liu menasihati bahwa sombong adalah awal kehancuran dan janganlah bersikap begitu di tengah situasi ini.
[....]
Nyatanya sistem hanya tidak mau tuannya terlalu khawatir dan terus mempertahankan kepercayaan dirinya, itu saja.
Sekarang kekuatan sistem bisa lebih diandalkan. Semua usaha yang dilakukan tuannya tidak sia-sia.
SSRR....
"!"
Pusaran kencang langsung tercipta dibawahnya!
HUP!
Liu segera melompat, tersedot dan terkubur pasir bukanlah hal keren.
HUSSSH!!
Sekarang pusaran angin kencang yang menerpanya!
"!" Liu menyilangkan tangannya, berusaha tak terbawa pusaran angin, namun pada akhirnya terseret juga....
Pusaran angin luar biasa kencang dilengkapi dengan energi besar bukan main.
Tak heran Liu dengan aura kekuatan birunya pun masih bisa terhempas.
'HUEH!' Liu berusaha tak muntah diputar-putar badai angin dahsyat ini.
Ini jauh beda dengan mainan putar-putar pas lagi kanak-kanak!
Sementara itu di sisi lain....
Terlihatlah dewa menyilangkan kedua tangannya, mengubah haluan strateginya.
Memakai kekuatan penuh melawannya bukan solusi yang tepat lagi.
Pemuda itu bisa bertahan dari serangan fisiknya sekarang....
Selama ini memang itulah yang diandalkannya, kekuatan fisiknya begitu besar sampai makhluk lain salah mengira soal kemampuannya.
Tidak selamanya strategi yang sama berhasil.
Inilah saatnya dewa memanfaatkan potensi terbesar miliknya.
SEBAGAI DEWA ILUSI!
"!"
KBUMMM!!!
Liu terhempas dan menabrak keras pasir sampai menyembur sangat tinggi.
Gelombang kejut udara tercipta bahkan sampai jarak jauh.
Kepulan pasir tebal langsung menyelimuti area itu. Terlihat jelas sorot mata dewa dibalik banyaknya debu ini.
Dewa bisa melihat semuanya dengan jelas, namun dengan cepat tornado angin membersihkan pandangannya.
Kini terlihat jelas sebuah lubang besar menganga di tengah area padang gurun itu, sungguhlah dalam dan gelap.
Keheningan begitu terasa namun sang dewa tidak mengubah raut wajahnya atau melakukan selebrasi.
Padahal serangannya sudah kena telak pada lawannya dan belum ada tanda-tanda aneh yang muncul.
"...." Sang dewa tetap pada kesiagaannya, 'belum' bukan berarti 'tidak'.
KEDEBUMMNNN!!!
Ledakan terdengar dari lubang pasir yang menganga itu.
HUSSHSH!!
Dan sesuatu berwarna biru muncul dari bawah!
TAP.
YANG TERNYATA ADALAH XIAO LIU SENDIRI!
Krek....
Pemuda itu memainkan kepalanya, kelihatan sedikit pegal.
"...." Nah, dugaan dewa benar.
Liu masih diselimuti dengan aura kebiruan kuat. Tidak ada luka apapun meski tubuhnya nyungsep jauh ke bawah pasir.
Tidak bisa dipungkiri kekuatan dewa sungguhlah besar, sampai-sampai Liu jadi bulan-bulanan serangannya tadi, namun sayangnya kekuatannya belum cukup besar untuk menumbangkannya.
Entah kenapa kepercayaan dirinya meningkat pesat begini, ekpresinya tak bisa dibohongi.
Kini Liu tersenyum kecil brutal seolah menginginkan sesuatu yang lebih dari sang dewa.
Lawan mulai memprovokasinya, namun dewa masih bisa menahan diri.
Ada rahasia dibalik ekspresi serius dewa, yang tentunya sudah bisa ditebak. Dewa terkesan dengan kekuatan pemuda ini.
Aura pertahanannya berkembang pesat dalam waktu yang singkat. Sebuah kekuatan yang tidak dimiliki makhluk baisa.
Bahkan untuk ukuran dewa pun, bisa pulih dan melipatgandakan kekuatan masihlah jarang. Tidak semua dewa punya kemampuan seperti itu.
Dewa Jue dikejutkan lagi dengan seberapa jauh potensi yang dimiliki pemuda ini.
Sedari awal ia hanya menganggap buronan dewa ini overhype. Dia tak lebih dari sekedar imitasi Dewi Xinmu.
Namun kejadian demi kejadian terjadi membuat praduganya makin meleset dan kini tidak valid.
Pemuda itu memang pantas memakai title 'buronan dewa kematian'.
"...." LHO???
Dewa lagi-lagi terdiam.
[Sepertinya sedang berpikir Tuan]
'Oh?' Liu pikir dewa benar-benar merombak strateginya secara total. Namun ternyata sang dewa masih suka berhenti ditengah serangan yang sedang dilancarkannya.
Hal ini pasti membuat sebagian bertanya-tanya, kenapa sang karakter utama ini malah tidak menyerang balik lawannya dan mengakhiri semuanya dengan segera?
'....' Liu tahu ia bisa melakukan serangan balik dan sejujurnya penasaran juga akan hasilnya.
Kini dengan rasa percaya diri yang next-level, nyalinya juga meningkat pesat dan merasa bisa melakukan apapun.
Namun Liu masih tetap berdiri saja tak melakukan apapun.
Pastilah ada alasan jelas soal kenapa ia melakukan ini.
Dan kenyataannya memang ada alasannya juga.
Liu sudah tidak mau membuktikan apapun lagi....
Lebih mudah jadi brutal dibanding mempertahankan posisinya sekarang.
Namun Liu sadar pertarungan bukan hanya sekedar siapa yang menang, namun ada makna yang lebih dalam dari itu.
Itulah yang berusaha dicari tahunya melalui pertarungan dengan sang dewa ilusi.
Bukannya Liu yakin seratus persen bakal menang hanya dengan bertahan saja, melainkan lebih kepada membiarkan pertarungan berlalu begitu saja.
Kalau dewa menyerang, ya ia bertahan, kalau dewa tak menyerang, ya ia ... bertahan.
Liu yakin dewa masih punya segudang trik yang menunggu untuk dikeluarkan dan bisa mengejutkannya kapanpun, karena itulah ia memilih tetap bertahan juga.
[Serangan balik merepotakkan Tuan?] Tebak sisstem.
'NAH.' Counter attack tentu tidak bisa diremehkan.
"Kau." Dewa membuka mulutnya, suaranya dingin namun keras.
"...." Liu diam namun terbuka untuk mendengar apapun yang dewa katakan.
Sret.
Sang dewa mengangkat tangan kanannya, dan seketika itu juga 'realita' disekitaran Liu jadi pecah.
"Musnahlah. Penghancur Realita."
KRAK!
Liu seolah terbawa pecah ditengah 'realita' yang dipecahkan dewa. Jelas ini kelihatan tidak bagus.
"...." Namun Liu sama sekali tidak terlihat cemas, takut, ataupun merasa sakit. Ia biasa saja.
Dewa ternyata memutuskan untuk langsung menggunakan kartu as-nya, dan inilah teknik terhebatnya sejauh ini.
Memecahkan dimensi sekaligus dengan targetnya.
Kedengerannya rumit, namun sebenarnya simple.
Dewa menggunakan sebagian besar kekuatannya untuk melanggar hukum kekuatannya sendiri.
Biasanya dewa hanya bisa memanipulasi 'realita'nya sendiri tanpa melakukan apapun pada targetnya, namun kini ia bisa menghancurkan 'realita' bersamaan dengan targetnya sendiri.
Dewa sadar ia kesempatannya begitu kecil kalau hanya mengandalkan manipulasi saja, kejadiannya bisa sama seperti tadi, seberapa banyak ia memanipulasi 'realita' pun pemuda itu tidak terpengaruh dan hanya buang-buang tenaga saja.
Kini dengan kemampuan khususnya ini, ia bisa memanipulasi sekaligus menyerang lawannya, two in one.
Tapi kenapa sang dewa menggunakan kartu as diawal? Bukankah sebagai dewa ilusi ia masih punya banyak teknik memukai yang bisa memojokkan lawannya?
Begitulah kenyataannya.
Dewa masih punya banyak teknik dan ilusi yang bisa diperlihatkan, namun semuanya tidak berguna kalau lawannya bisa bertahan.
Dewa Jue tidak berniat memperpanjang pertarungan lagi, inilah akhirnya.
KRAAK!
Seketika itu juga dimensi tempat Liu berdiri pecah dan Liu pun seolah menghilang dari sana.
Dalam sekejap mata kacamata Liu bersinar terang, namun dewa sama sekali tidak menyadarinya.
Kini 'realita' dewa bolong sebagian. Tidak parah dan mengerikan seperti sebelumnya, namun lebih efektif karena mengenai targetnya juga.
Dewa Jue terdiam dan menghela nafasnya, ia memainkan rambutnya, sekilas terlihat keren.
Inilah selebrasi minimalisnya, tidak salah mengeluarkan kartu as-nya di sini.
Sebenarnya dewa lebih senang kalau bisa mengalahkan pemuda ini dengan cara biasa, dan membawanya langsung pada dewa kematian.
Namun kenyataannya dewa gagal mengeksekusi rencananya, ia tidak bisa mengiris tipis-tipis dan bersenang-senang dengan lawannya.
Kalau sudah begini apa yang bisa diberikan pada dewa kematian? Keberadaan pemuda itu sudah lenyap bersamaan dengan 'realita'nya yang hancur.
Dewa tidak ambil pusing, mau bagaimanapun juga dirinya tetaplah yang mengalahkan target besar ini, dewa kematian tidak mungkin membiarkannya dengan tangan hampa.
Lagipula dewa kematian tidak mengatakan spesifik soal persyaratan targetnya, mau tumbang atau musnah, dibebaskan. Yang penting keberadaannya sudah hilang, musnah, lenyap dari semua alam yang ada.
Perlahan namun pasti senyum tergurat dari wajah sang dewa.
Ia sangat menantikan hadiah sang dewa kematian untuknya!
"HO?"
"!" Ada suara tak asing dibelakangnya!
Dengan cepat dewa menyerang dengan aura kekuatannya.
KRAK!
Dewa tak sengaja membuat retakan di 'realita'nya sendiri!
Sang dewa tidak bisa menahan kekagetannya, inilah yang terjadi!
HUSH!
Terlihatlah siluet pemuda tak dikenal yang melompat menjauh.
Yang menunjukkan sorot mata biru tajam dan aura kebiruan juga.
JRENG!
TAK LAIN TAK BUKAN ADALAH SANG KARAKTER UTAMA SENDIRI!
"...." Dewa tidak lagi berekspresi dingin, kini ia melongo tidak percaya akan apa yang terjadi.
"Kenapa?" gumamnya pelan. Nada suara penuh pertanyaan dan keheranan.
Kenapa pemuda itu masih ada di sini?
Dewa melihat semuanya dengan jelas, tidak mungkin salah lihat!
Pemuda itu harusnya sudah lenyap bersama 'realita' yang dihancurkannya! Tapi kenapa....?
Dia muncul tiba-tiba dibelakangnya dan bahkan tanpa luka sedikitpun ditubuhnya!
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama dewa shock. Tak ada lagi raut wajah dingin dan mengerikan. Penampilannya seolah berubah seratus delapan puluh derajat.
Siapa sangka ekspresi wajah bisa mengubah sebanyak itu? Pada akhirnya itulah kenyataannya.
Dewa ilusi terkenal dengan ekspresi dingin, cool, dan kerennya, dan perubahan pada mimik wajahnya, mengubah banyak hal dengan cepat.
"...." WOW. Liu sendiri jadi saksinya. Ia tidak menyangka bisa melihat sisi lain dari dewa ilusi.
[Kena mental Tuan] Sistem memperjelasnya.
'Oh.' Bahkan dewa sekalipun bisa terlihat sangat berbeda ya. Liu pikir dewa selalu konsisten dengan gayanya, namun ternyata tak selalu begitu yah?
Dewa menutup mulutnya, sadar sudah kehilangan ke-kerenannya beberapa waktu.
'Tadi aneh.' Liu memikirkan apa yang barusan terjadi.
Mungkin bukan saatnya mikir keras di tengah pertarungan, namun ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi!
Dengan cepat sistem menjelaskan apa yang terjadi, intinya ia bisa selamat karena kacamata dewa.
'OH!' Liu baru tahu!
Dewa ternyata berniat mengakhiri semua dan kacamata dewa mencegahnya! Sungguhlah mencengangkan!
Inti dari segala intinya ia berhasil bertahan dari serangan ultimate sang dewa!
Adrenalinnya memuncak, tak bisa dipungkiri Liu merasakan kengerian dari serangan dewa tadi.
Ia terjebak di tempat gelap, versi lain dari ruang putih, sangatlah tidak nyaman.
Ia tidak bisa melihat apapun, namun tahu betul kacamatanya bersinar terang dan tak lama berselang, kacamatanya mengeluarkan suatu energi, menciptakan cahaya biru dan pas masuk, tahu-tahu ada dibelakang dewa.
[....] Tuannya tidak perlu tahu semua hal, cukup yang penting-pentingnya saja.
Dewa bergetar pelan.
__ADS_1