Sistem Pendekar Terkuat

Sistem Pendekar Terkuat
Dewi Feng


__ADS_3

Ledakan super-keras-entah-darimana datang, sungguhlah tak terduga.


SWWUUSSH!!!


Hempasannya sangat kencang, bahkan menghempaskan karakter utama ke sisi dinding dengan keras!


WOAH! Siapakah yang datang iniii!?


SWUSH!


Liu diselimuti aura kebiruan, kewaspadaannya belum cukup untuk menahan hempasan aura sekuat ini.


Debu tanah mengepul, namun itu tak menghalangi aura kekuatan besar yang terasa.


‘OIOI.’ Liu sudah mengekspektasikan sosok yang datang memang kuat, namun tetap saja ini jauh dari perkirannya.


Aura kekuatannya sangat besar bahkan sampai membuatnya merinding!


Liu berusaha mengendalikan tubuhnya, aura kekuatan yang terpancar ini lebih mengganggu dibanding dengan dewi waktu.


[Bertahanlah Tuan] Sistem sudah melakukan yang dibisanya, kini tinggal kekuatan mental tuannya saja.


‘Sialan’ Liu tak mau terpancing, dan berusaha tenang.


Tak lama akhirnya debu tanah pun berlalu dengan sendirinya.


“!”


Kenapa?


Liu terdiam, ia tak melihat siapapun di ujung sana, harusnya ada sosok yang menyerangnya di situ kan?


Tapi kenapa tak ada siapapun?


Alis matanya menurun tajam, aura kekuatannya terasa jelas, namun wujudnya tak kelihatan sama sekali.


….


Liu mengaktifkan semua inderanya.


Alhasil makin menyengatlah aura kekuatan lawannya ini.


‘….’ Namun Liu tak punya pilihan lain, atau serangan bisa datang kapan saja.


SRING.


“!”


Ada sesuatu dibelakangnya!


Liu memiringkan kepalanya.


CLEK!


Sebuah pedang angin tertancap di sisi dinding arena yang jauh.


Liu bisa melihatnya dengan jelas, meski samar-samar.


“….” Liu masih terdiam, ia tak menoleh sedikitpun seolah tahu tak ada siapa-siapa di belakangnya.


Dan memang begitulah kenyataannya. Tak ada siapa-siapa dibelakangnya.


Ini terlihat serangan itu seolah muncul begitu saja dan mengincar kepalanya.


Sret.


Perlahan darah keluar dari pipinya.


Liu berhasil menghindar, namun aura kekuatan serangan tadi masih bisa melukainya.


Bahkan serangan tadi bisa menembus aura pertahanan kebiruannya, yang menandakan serangan barusan bukanlah serangan biasa.


Liu tak terlihat panik, melainkan tetap tenang dan mempertahankan profesionalismenya.


Meski luka luar kecil itu lebih menyakitkan dari dugaannya.


‘ADUH!’ batinnya menjerit, namun apa daya ia tak bisa mengeluarkan ekspresinya. Menunjukkan kelemahan pada lawan adalah hal yang harus dihindari.


‘PENGEN NANGIS!’ Ia tak sedang baik-baik saja, dan perlahan air terkumpul di pelupuk matanya.


Tes….


Untuk pertama kali setelah sekian lama, sang karakter utama mengeluarkan air mata lelakinya.


Raut wajah seriusnya tak berubah, hanya saja bertambah air mata saja.


“Siapa yang naruh bawang di sini?” Liu benar-benar serius. Pertanyaan yang penting!


Liu tak menyangka serangan sekecil ini bisa menyiksanya sebegini parahnya.


[….] Bahkan sistem terdiam, sepertinya serangan lawan tuannya memang difokuskan ke saraf lawannya.


Luka luarnya memang kecil, namun serangan itu menipu otak lawannya dan akhirnya terjadilah sakit luar biasa yang tidak diinginkan.


Liu mengambil waktu untuk berdamai dengan rasa sakitnya. Mumpung belum ada serangan lain juga.


Entah apa jadinya kalau serangan tadi kena telak, yah cukup ngeri juga ya ngebayanginnya.


‘Pedang angin….’ Akhirnya terkuat sudah.


Entah kenapa Liu bisa punya dugaan kuat soal siapa lawannya kali ini.


Sring!


“!”


HUP.


Liu salto ke belakang, dan disaat bersamaan kedua pedang angin mengincarnya dari dua sisi.


Dan tak kena karena Liu lompat tepat sebelum serangan ini datang.


[….] Kan bisa lompat biasa ya. Kenapa harus salto begitu?


TAP.


Liu mendarat dengan gagah, yah sesekali ia ingin stylish dan tampil keren juga di pertarungan.


Tidak sia-sia memfokuskan instingnya, dengan begini ia bisa tahu serangan lawannya dari mana lebih awal.


“….” Liu tak bisa mempertahankan ekspresi seriusnya, seolah ada sesuatu lain yang dirasakannya.


Dan memang benarlah begitu, Liu mulai merasa tak enak badan.


Pada akhirnya ada harga yang harus dibayar. Liu bisa menghindar dari serangan kejutan, namun aura kekuatan lawan makin menyengat dan tak bersahabat.


Tak ada pilihan yang benar-benar lebih baik.


Baru kali ini ia semuak ini mencium aura kekuatan.


[….] Sistem pun tak bisa berkomentar apa-apa. Tuannya memang tidak punya pilihan.


Terganggu karena menghirup aura kekuatan lawan lebih baik daripada langsung berakhir dengan serangan dadakan lawannya yang bahkan belum muncul sama sekali.


“….” Liu berusaha bertahan, hanya itulah yang bisa dilakukannya.


Instingnya sudah menjangkau seluruh tempat besar ini, dan tingkah aneh aura kekuatan lawan alias serangannya akan selalu bisa diketahuinya.


Beberapa saat pun berlalu, dan masih belum ada serangan apapun yang datang lagi.


“BOSAN!”


[!] Kenapa tuannya malah memprovokasi?

__ADS_1


Bukankah jalan terbaik adalah menunggu lawan menunjukkan dirinya sendiri?


‘….’ Liu pasti bakal melakukan itu kalau tak mencium bau menyengat ini.


Mau berusaha diabaikan juga nggak bisa, ya mau gimana lagi.


Aura kekuatan lawan yang mengganggu ini seolah racun yang harus dibasmi.


Tapi nggak mungkin hilang juga kalau lawannya belum tumbang sih ya.


KARENA ITULAH WAKTUNYA UNTUK BERAKSI.


….


Belum ada respon apapun, lawannya tak mudah terprovokasi ya.


“PENGEECUUUTTT!!”


“BWEEEEE!” Liu membuat wajah jelek, bahkan cukup untuk membuat anak kecil takut.


*ENDUS*


“!” Ada yang beda!


Aura kekuatannya tak setajam tadi!


SSSH!


Perlahan namun pasti muncullah angin kencang dan berdirilah sosok berjubah putih dan berambut pendek.


[BERHASIL!?] Sistem tidak menyangka cara konyol ini berhasil menarik perhatian lawan!


“HEH.” Tak sia-sia ia mengorbankan ketampanannya sebentar tadi.


Dari figur yang tak terlalu besar itu dan lekuk tubuhnya, Liu tak menyangka lawannya ternyata dewi.


“DEWI ANGIN YA!?” Liu asal ngomong, ia tak tahan diam saja.


“HMH.” Dewi tak menyangkalnya.


Beliau punya rambut biru dan mata biru cerah juga.


Mungkin lebih cocok kalau jubahnya warna biru biar matching, tapi yah ia tak bisa mengatur bagaimana penampilan lawannya juga sih.


[!?] Sistem dikejutkan lagi, kenapa bisa tuannya bisa tahu identitas sang dewi!?


‘….’ Eh? Liu tak menyangka dugaannya benar.


Tapi yah sudah jelas dari elemen serangannya juga sih.


Sistem lagi-lagi tidak bisa mengakses banyak info dari dewi satu ini. Aura kekuatan lawannya yang besar menganggunya.


Namun satu info kecil bocor, dan itu adalah nama sang dewi sendiri.


“Dewi Feng….” Nama yang gagah, namun itu berlaku juga pada dewi yang sedang menatapnya tajam.


Dewi angin tak mau repot-repot menunjukkan dirinya. Lagipula kenapa ia harus melakukannya kalau bisa menuntaskan pertarungan hanya dengan triknya?


Itulah rencana awalnya, namun pemuda ini lebih tangguh dari dugaannya dan ia tak tahan dengan ocehannya.


Dia akan menyesal karena sudah membuatnya menampakkan dirinya.


“….” Oke jadi sekarang dewi tak mengandalkan triknya lagi.


‘AAAAH.’ Akhirnya bisa menikmati udara bersih juga ya, ini patut disyukuri.


Memang harusnya dewi sadar dari awal, dewi tingkat atas mana mungkin menang dengan trik.


Tentu akan mencoreng nama baiknya bukan?


SSSH….


Udara panas menerpa, Liu sudah jauh lebih baik dan siap untuk rock and roll.


HUSH!


Gerakannya hampir sama dengan dewi waktu saking cepatnya!


Namun Liu masih bisa melihat bedanya meski hanya sedikit saja!


TRAAANGGGG!!


Dewi Feng menyerang dengan pedang anginnya. Dan dengan sigap Liu menahannya dengan pedang aura biru klasiknya!


HUSSSSSHH!!!


Hempaan angin super kencang langsung tercipta dan sabetan-sabetan energi angin pun tercipta!


SRING!!


‘OH MY!’ Liu tak menyangkam, ini jelas bahaya guys!


SRAKK!


Kekuatan dewi meluber keluar dan menyebar ke segala arah.


Liu bisa melihat sorot mata penuh tekad dari sang dewi, beliau ini jelas serius!


Liu pikir makhluk kuat tak harus terlihat serius setiap saat. Namun lain halnya dengan dewi satu ini. Beliau kuat tapi tetap serius!


Liu berusaha meniru keseriusan dewi, tapi tak semudah membalikkan telapak tangan sih!


Aura kekuatan kebiruannya membesar berusaha melindunginya dari sabetan energi angin bak pedang tajam bahaya, dan disaat bersamaan ingin unggul adu pedang ini.


“Hmh.” Dewi angin tersenyum! Senyum serius nan percaya diri!


“!”


Slash!


Sswwuushh!


‘ANJAY!’ Liu tak tahan menghadapi aura kekuatan dewi, dan langsung melesat dan nabrak sisi arena!


BRAAAGH!


Dentuman kencang, hempasan dan debu tanah langsung mengepul.


“….” Dewi Feng terdiam di tempatnya, tanpa luka apapun, bahkan pedang anginnya masih kuat dan tak terpengaruh dengan kekuatan lawannya.


Inilah akibatnya kalau membuatnya menampakkan dirinya.


Dewi sudah memberikan keringanan dengan triknya. Dewi Feng bukanlah tipe yang suka mengundur-undur, melainkan menuntaskan segala sesuatu dengan cepat.


Itulah kenapa serangannya sederhana namun mematikan, ia peduli pada lawannya dan tak mau menyiksanya.


Namun sekarang apa boleh buat.


Pemuda satu ini yang mulai dan rela untuk merasakan sakitnya kenyataan.


Dewi tak akan menahan diri, kalau penderitaan yang diinginkan lawannya, dengan senang hati akan ia berikan.


Sekarang dewi diam saja tak bersiap melancarkan serangan apapun. Padahal jelas ini kesempatan untuk mengakhiri semua ini.


“….” Namun dewi tak melakukannya. Ia akan tetap konsisten dan akan meneruskan penyiksaan yang layak bagi siapapun yang berani berurusan dengannya.


“UHUK!” Liu terbatuk, ia terjebak diantara reruntuhan dinding sisi arena.


Masih ada sisa aura kekuatan kebiruannya, yang meredam sakitnya tabrakan yang terjadi tadi.


‘ASTAGA.’ Liu berusaha menyingkirkan banyak bebatuan besar dan berat ini.


Dan akhirnya ia berhasil bangkit dari reruntuhan itu. Kenapa sang dewi bisa sangat kuat begitu!?

__ADS_1


[Kenyataan terkadang menyakitkan Tuan]


‘….’ Oke itu sad, tapi ia tak mau kehilangan harapan.


Inilah kompetisi yang dipertanyakannya.


Bukankah kompetisi biasa yang ditonton banyak orang dan jadi hiburan, melainkan jadi ajang pembuktian apakah ia layak untuk melangkah ke alam dewa selanjutnya.


DAN KALAU DIPIKIR LAGI EMANG BERAT SIH.


KOK BISA-BISANYA LAWAN AWALNYA SEKUAT INI?


HARUSNYA KAN LAWAN YANG KUAT DISIMPAN TERAKHIR, LAH INI KENAPA MALAH….?


Sistem bisa merasakan frustasian tuannya, tapi inilah kenyataannya.


“Hih.” Liu sudah bangkit sepenuhnya. Mau protes pun takkan ada gunanya, ngeluh apalagi.


Satu-satunya yang bisa membantunya di situasi ini hanyalah tekadnya dan harapannya.


SWHUSH!


Liu mengibaskan debu tanah menyebalkan ini, dan terlihatlah sang dewi yang berdiri serius.


Beliau belum menyerang, dan Liu tahu alasannya.


Apalagi kalau bukan alasan klasik ‘ingin bersenang-senang dengan makhluk yang lebih lemah darinya nyeye?’


Liu tahu dewi bisa mengakhiri ini lebih cepat dari yang diduga, namun beliau pasti tak melakukannya.


Entah kenapa ia bisa seyakin ini.


Yah apa serunya kalau pertarungan berakhir cepat juga?


Bukankah elemen menegangkan dan suspensi yang dicari dalam sebuah pertarungan?


Pertarungan akan semakin berarti ketika ada usaha lebih yang dilakukan.


Liu yakin dewi sedang mencari hal itu.


Dan dirinya berdiri disini untuk menyediakan hal itu.


[….] Sistem terkesan tuannya bisa langsung semangat lagi. Memang tuannya sudah berkembang ya.


SWUSH!


Aura kebiruan kembali menyelimuti tubuhnya.


“….” Dewi Feng terdiam, untunglah waktunya tak terbuang percuma untuk melihat makhluk yang putus asa. Diaa cukup ‘pintar’ untuk mau terus melanjutkan pertarungan.


“HEH.” Liu tersenyum kecil. Ia pun bisa melakukan apa yang dilakukan dewi dong!


“Akal sehatnya….” Gumam dewi.


SYUT!


“!”


Kini bukan pedang lagi di tangan sang dewi, melainkan sebuah panah angin keren nan besar.


‘BISA BERUBAH YA.’ Memang keren sih.


Dewi tak mau dekat-dekat lagi dengannya, alhasil dipilihlah senjata jarak jauh.


SWUSH!


“PERISAI KAPTEN AMRIK PRO EDITION.” Liu menciptakan sebuah dua buah perisai dimasing-masing tangannya, lebih hebat dari tekniknya yang dulu!


Dewi meng-aim, memicingkan matanya dan satu panah pun melesat kencang.


SYAT!


SYUT!


DAN BERUBAH TERPECAH JADI BANYAK ANAK PANAH!


“HYAH!” Liu sudah menduganya dan langsung menangkis dengan perisainya!


TRAAANG!


TANG!


Tak peduli secepat dan sebanyak apapun, anak panah dewi bisa dihentikan!


“….” Dewi terdiam, padahal serangannya tadi lebih kuat dibanding pedang anginnya….


SWUSH!


Kedua perisainya langsung KO dan menghilang begitu saja.


Liu tak bisa mempertahankannya, serangan tadi hampir saja lolos!


Namun untunglah dewi fortuna masih berpihak padanya! YEAH!


Tes…


Tess…


“Hmph.” Pemuda itu tak bisa membuatnya terkesan lebih lama.


Kini di sekitaran kedua lengannya banyak sayatan dan darah pun perlahan menetes dari situ.


Dia memang berhasil menahan serangannya, namun sayangnya tak cukup kuat untuk meredam keseluruhan serangannya.


[Tuan….]


‘Jangan sedih begitu sistem….’


Kalau sistemnya sedih, lantas untuk apa selebrasi awalnya tadi?


Kenapa? Ia hanya ingin merasa senang karena sudah bisa bertahan dari serangan dewi dan tak mati.


Meski tak sempurna, namun itu jauh lebih baik dari tak melakukan apapun.


Dan memang ia tak bisa menghindar dari serangan sang dewi sih.


Serangan panah tadi sudah mengunci targetnya bak misil dan akan terus mengejarnya sampai kemanapun.


Jadi tetap saja ia harus bertahan.


Drrr….


Tangannya gemetaran dan berbalut darah, pemandangan ini jelas tak boleh dilihat anak dibawah umur.


Luka luarnya makin kelihatan tak bagus.


“KENAPA DEW?” Liu memberanikan diri bertanya.


“….” Dewi Feng terdiam, tak menjawab apapun.


“….” Yah Liu sudah menduganya, mana mungkin dewi mau ngejawabnya juga ya.


Maksudnya tak lain tak bukan adalah soal serangan panah sang dewi tadi.


Memangnya apa yang salah? Bukankah sudah jelas Liu tak bisa menahannya sepenuhnya? Apa masih ada yang kurang?


Begitulah kenyataannya. Liu heran kenapa sang dewi tak sepenuhnya serius.


Kenapa dewi tak lebih menyiksanya dari yang ini?


Dengan banyak luka diluar disekitaran tangannya tak membuatnya tersiksa daripada luka kecil dipipinya.


You got this? Kenapa dewi tak membuat serangannya jadi lebih menyakitkan seperti serangan originalnya di awal?

__ADS_1


Liu yakin ia masih bisa bertahan meski ngebayanginnya juga serem sih.


Nyatanya sang dewi punya alasannya sendiri. Ia menerima ego lawannya, namun kalau ia all-out dengan serangan tadi, sudah jelas pemuda itu tak akan bisa melawannya lagi, padahal penyiksaan harus tetap berlanjut sebagai hukumannya.


__ADS_2