Sistem Pendekar Terkuat

Sistem Pendekar Terkuat
Keberuntungan 100%


__ADS_3

Zi Xin menatap sang pemandu acara yang kurus itu dan mengangguk kecil.


“Pe- pemenangnya Xiao Liu dari luar kota!”


“….” Keheningan yang berarti terasa di sini. Pemenang sudah di umumkan tapi tidak ada respon dari penonton. Mereka terlihat masih tidak percaya.


Mengapa bisa-bisanya anak muda dari antah berantah bisa mengalahkan Zi Xin, sang nelayan penuh semangat yang rajin ikut acara tahunan ini? Bukankah itu tidak biasa?


Siapa sebenarnya pemuda pendatang baru ini?


Plok! Plok! Plok!


Bapak tua bertopi dari antara penonton bertepuk tangan. Dan Xiao Liu tersenyum kecil ke arahnya.


“Kerja bagus nak, kamu hanya tinggal melawan 99 orang lagi,” bisik sang pemandu acara itu seraya Liu keluar area pertarungan.


“HANYA TINGGAL!?” Liu tidak bisa menyembunyikan kekagetannya, kalau begitu perjalanannya masih panjang!


‘Aduh, apa perutku bisa diajak kompromi?’ Liu tidak dengar ada peraturan bisa keluar dari area pertarungan. Bahkan saking seriusnya di kompetisi ini tidak diperbolehkan buang air kecil atau besar bagi para peserta.


Aturan aneh, Liu tidak melihat apa makna atau manfaatnya. Yah katakan saja itu membuat pesertanya lebih fokus pada acara ini. Tapi dua hal alami yang dilakukan manusia tidak perlu dilarang juga ‘kan!?


Liu duduk kembali di tempat para peserta. Entah mengapa ia merasa sedang ditatap banyak orang. Perasaannya saja ‘kah?


‘Ah, cuman perasaanku.’ Perasaan klasik begini sudah sering terjadi, terkadang pikiran bisa menipu, merasa diperhatikan, namun kenyataannya tidak. Tapi kalau mengintip sedikit boleh ‘kan?


Liu menggerakkan bola matanya ke samping, dan seketika itu juga ia terdiam.


‘MEREKA BENERAN MELIHATKU DONG!’


Benar, banyak pasang mata yang melihatnya, Liu tidak tahu apa maksud mereka, tapi yang pasti ia bukan tipe orang yang ingin jadi pusat perhatian!


[Bukannya Tuan ingin jadi pendekar terkuat dan membuktikannya pada orang-orang?]


‘Dia bertanya?’ Liu baru tahu sistem bisa bertanya begini, dia seolah tahu apa yang ia pikirkan. Kalau begini privasinya terancam dong!


“Hm.” Liu mengangguk kecil, ia tidak mau disangka gila karena bicara sendiri.


Tidak dapat dipungkiri memang itulah tujuannya. Liu sudah kenyang dengan ketidakpercayaan orang padanya. Orang-orang meremehkannya dan mengatakan hal buruk. Itu sudah jadi makanannya sehari-hari di masa kecil (hanya kiasan).


Ada yang bilang tindakan bicara lebih keras dari perkataan. Liu tahu hal itu, itu sebabnya ia banyak mengumumkan mimpinya dan berusaha agar dilatih, tapi sayangnya ia tidak bisa.


Tidak ada yang percaya padanya selain Kakek An, dan seorang pendekar lain bernama Fang Yuan. Ia tidak menguasai ilmu apapun sejak kecil.


Lain kanak-kanak lain dewasa. Orang-orang berubah itu adalah hal yang wajar bukan? Tidak dapat dipungkiri Liu mati-matian ingin dapat perhatian orang sejak kecil.


Dan sekarang?


‘Kalau dulu aku berisik sekali, sekarang aku ingin membuktikannya dalam diam.’ Entah kenapa Liu merasa keren ketika batinnya ngomong begini.


Tidak perlu menggembar-gemborkan apapun. Sekarang Liu hanya pelu fokus pada apa yang ia lakukan saja.


“Hari yang indah tuan-tuan? Ahaha.” Liu menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, kemudian orang-orang berhenti menatapnya.

__ADS_1


‘Sialan kenapa aku jadi pemalu begini!?’ Liu tidak paham dengan perasaanya sendiri! Inikah yang dinamakan krisis emosional atau apalah namanya!?


Masa lalu yang pahit tidak untuk diingat, terkadang tatapan tajam orang mengingatkannya pada masa lalu, tapi apa boleh buat, ia tidak boleh kalah!


Puk.


“Kerja bagus nak.” Ada yang menepuk pundaknya dan kemudian duduk di sebelahnya.


“Ah Tuan Zi Xin?” Liu melihat nelayan berotot itu duduk di sebelahnya sembari minum air mineral, dia berkeringat.


“Hm, kau tahu namaku?” Zi Xin terlihat heran.


“Ah.” Liu mengarahkan pandangannya ke langit apa ia salah bicara ya? Dan seketika itu juga ia terdiam.


‘WADUH AKU LUPA!’


Salah satu peraturannya berbunyi, ‘setiap penantang baru tidak akan mengetahui siapa lawannya sampai kompetisi selesai’ Peraturan ini sudah ada sejak dulu demi menambah tantangan bagi siapapun yang ikut.


Jika pendatang baru sudah tahu jajaran lawan yang ikut, tentu mereka akan lebih bersiap karena bisa saja lawan mereka lebih lemah atau lebih kuat dari yang diduga.


Informasi lawan adalah hal berharga. Salah satu strategi terbaik adalah mempelajari musuhnya dan kemenangan pun tidak akan sulit dicapai.


Kenapa ia bisa lupa peraturan penting begini!?


“Ah… cuaca sekarang bagus ya….” Liu melihat langit cerah biru, namun kondisi di sini tidak seindah di atas, di sini panas.


“….” Zi Xin terdiam, pemuda itu ngeles dari pertanyaannya. Yah mungkin saja dia tidak sengaja mendengar namanya dari seseorang dan tidak mau mengatakannya.


‘Aduh dia curiga!’


Mau bagaimana lagi Liu bukan orang sempurna tanpa kesalahan, orang bisa saja lupa di tengah jalan, wajar bukan?


Liu tidak mau menambah bebannya dengan bohong, mencari-cari alasan sudah biasa, di sisi lain mana mungkin juga ia mengatakan ‘aku punya sistem’.


“Benar, biasanya sering hujan saat pertandingan.” Zi Xin menatap ke langit juga, ia gerah, lelah, dan haus, jawabannya hanya satu, tentu saja minum.


‘NGGAK CURIGA!?’


Liu pikir dia sadar peralihan topik kasar ini dan curiga, malahan langsung nyambung!


Teknik ngeles-nya membuahkan hasil manis!


“Nak, kau kuat, siapa gurumu?” Zi Xin memulai kembali obrolan, dari penampilan fisiknya tidak terlihat suka bicara, namun kenyataannya sebaliknya.


Sang nelayan kekar ini tertarik dengan Xiao Liu. Pemuda itu tidak terlihat lelah setelah pertarungan, dia ini bukan orang biasa.


“Ah, aku tidak punya.” Liu bilang apa adanya. Mau mengatakan Kakek An, tapi dia adalah orang tuanya yang bahkan rajin melarangnya berlatih. Fang Yuan? Beliau hanya peduli sebentar dan tak sanggup melatihnya.


Zi Xin terdiam, ia tidak menyangka pemuda berbakat ini tidak punya guru. Padahal sudah jelas-jelas kekuatan dan kemampuannya setara orang dewasa, dan mungkin lebih hebat lagi.


Adalah hal yang wajar bilamana anak muda sepertinya dibawah didikan seorang yang hebat. Namun ternyata tidak begitu.


Anak yang berbakat pun butuh seorang guru demi mengasah potensinya, namun pemuda ini? Mengesankan sekali dia belajar otodidak!

__ADS_1


“Lengan Tuan baik?” Liu melihat kedua lengan Zi Xin yang sudah diperban.


“Tenang saja, risiko pertarungan.” Sang nelayan besar itu tersenyum kecil. Terkadang ada harga yang harus dibayar ketika memperjuangkan sesuatu.


Kedua lengan Zi Xin terlihat gemetaran, Liu tidak yakin apa yang dikatakannya itu benar.


Liu bisa merasakan energi Qi yang ada di lengannya benar-benar lemah, pasti butuh waktu untuk pulih.


Andai saja ia punya tanaman obat, tentu bisa langung membuat ramuan. Tapi sayangnya tidak ada.


“Tidak usah khawatir,” Zi Xin bisa tahu pemuda itu memikirkannya.


Jarang ada pemenang yang memikirkan lawan yang kalah. Karena apa gunanya juga memikirkannya?


Zi Xin tahu satu hal, pemuda bernama Xiao Liu itu lebih kuat darinya.


Memang sejak awal ia hanya menganggapnya bocah biasa, namun setelah ia menahan serangan tendangannya semuanya berubah drastis.


Bukan tendangan biasa, melainkan lebih dari yang ia duga. Energi serangannya meluap keluar. Secara kasat mata Zi Xin menahannya, namun kenyataannya tidak seserderhana itu.


‘Seharusnya aku tak menahan serangannya.’ Kurang lebih itulah yang Zi Xin pikirkan.


Tenaga dalam pemuda itu meningkat drastis bahkan setelah serangannya sudah ditangkis. Seolah dia punya energi Qi besar yang ditimpakan padanya.


Beban serangan itulah yang membuat kedua tangan sang nelayan ini diperban. Sangat disayangkan ia harus break dulu dari rutinitasnya sehari-hari di lautan lepas.


Adalah hal biasa ketika seorang pendatang langsung kalah ketika bertarung pertama kalinya, tidak ada aturan tertulis yang menyatakan ‘pertandingan adil’. Seleksi alam berlaku, siapa yang kuat dialah yang bertahan.


Zi Xin tertarik melihat sampai mana anak muda ini bisa bertahan.


“Hoaah.” Sementara itu Xiao Liu menguap, wajar saja ia hanya istirahat sebentar demi sampai ke tempat ini.


Waktu pun terus berlalu, dan Liu malah tertidur, tidak tanggung-tanggung lagi, kepalanya menyender di bahu Zi Xin!


Sontrak tatapan geram para wanita pun terlihat, tapi untunglah Liu tidak sadar karena dia ini berada di alam mimpi.


“Baiklah kita sampai di puncak pertandingan! Xiao Liu silahkan maju ke depan!”


Pluk. Pluk.


“Nak, giliranmu lagi.” Zi Xin menepuk-nepuk Xiao Liu. Sementara Liu dengan cepat bangkit mengelap mulutnya.


Hari sudah sore, entah sudah berapa lama ia tidur. Pertarungan orang lain tentu memakan waktu, daripada bosan mending tidur saja.


Liu menggosok-gosok matanya dan maju ke arena, ia pikir acara akan non-stop tiga hari tiga malam, tapi ternyata lebih cepat dari dugaannya.


‘Eh tadi apa?’


[Ini pertandingan puncak Tuan]


‘Oh… MASA SIH!?’


Tidak mungkin! Liu sudah dengar ada 99 orang yang tersisa, lah mana mungkin ia hanya sekali bertanding dan langsung maju ke tahap final!?

__ADS_1


__ADS_2