Sistem Pendekar Terkuat

Sistem Pendekar Terkuat
Gelang


__ADS_3

Tubuhnya yang lemas makin lemas, bahkan mengangkat kepala juga sulitnya minta ampun.


Sang kapten menatap dingin tak peduli. Ia tak bisa mentolelir ketidakpatuhan pemuda ini.


Ia mengangkat memegang kepala pemuda itu, memaksanya berdiri.


Liu hanya bisa memperlihatkan ekpresi lelah brutalnya, tertunduk, dan berusaha tidak terjatuh lagi.


"Sejak kapan makhluk yang ditakuti dewa letoy begini?" Kapten terdengar heran.


Anak buah yang melihatnya tak berkomentar apapun. Sang kapten bisa melakukan apapun pada sanderanya, namun tak akan sampai membunuhnya juga.


Pemuda itu adalah kuncinya.


Sret.


Sang kapten memperlihatkan cincin dan kalung ke depan wajahnya. "Lakukan...."


Nada suara serak dan mengancam terdengar jelas.


'Itu....' Liu terdiam, dua aksesoris pemberian dewa. Kenapa bisa ada padanya?


'....' Ah, pasti beliau mengambilnya saat ia tak sadar.


Kapten melihat perubahan ekspresi yang berarti. Pemuda itu sudah pasti paham apa maksudnya.


"...." Namun belum ada apapun yang terjadi.


Cincin dan kalung itu sudah dipegangnya namun tak bereaksi apapun. Liu terdiam dan tak mengerti.


Sang kapten lebih tak mengerti lagi.


"Kapten, mungkin saatnya dia dibebaskan dulu." Saran salah satu anak buahnya. Cukup berani.


Dimana rekan-rekan lainnya malah sedikit mundur dan tak mau ikut campur dengan pria pemberi saran itu.


"...." Sang kapten terdiam dan memainkan janggutnya.


"Makhluk incaran dewa kematian tidak selemah ini." Sang kapten tidak percaya.


'Be- baskan?' Liu penasaran. Ia sudah tak diikat lagi. Apa lagi yang perlu dibebaskan?


BUAGH!


"!" Liu tertunduk, perutnya dipukul begitu keras, darah mengalir juga dari mulutnya.


"...." Ajaibnya Liu masih bisa berdiri.


"...." Kapten kelihatan makin tak senang. Sampai kapan sandiwara ini berlangsung?


Kenapa dia tak menunjukkan kekuatan aslinya?


Kapten yakin pemuda itu bisa mengaktifkan kedua aksesoris dewa ini, toh dia sendiri pemegangnya.


Namun kenapa dia masih saja berakting?


Sementara itu, kedua tanda tengkorak pada lengannya terlihat samar, seolah tato yang sedikit lagi bisa hilang.


Sebuah momen yang membingungkan. Sadar-sadar sudah disandera dan nyari harta karun, dan sekarang dipaksa mengeluarkan kekuatan.


Liu bakal ngelakuin itu dari awal kalau ia bisa.


Namun sekarang ia perlu mencari tahu dulu apa yang terjadi padanya.


Kenapa ia bisa selemah ini dan terpisah dengan sistem? Pasti ada jawaban dari pertanyaannya itu.


"...." Kapten tak kunjung melihat apa yang diinginkannya.


Ia ingin terus menyiksanya sampai kedoknya terbuka, namun dia tetap kekeh seperti ini.


Aura kekuatannya kacau dan sangat lemah. Bukan tak mungkin dia bisa mati kapan saja.


Apa ia harus menuruti saran anak buahnya?


Kapten terdiam, memikirkan apa yang harus dilakukannya.


Dan ia pun menggelengkan kepalanya.


GREB.


Ia memegang leher pemuda itu dan mengangkatnya tinggi. Jelas pemandangan ini tak ramah untuk dilihat.


Krett.


Ia menguatkan pegangannya, itu sudah berefek besar bagi Liu yang lemah ini.


"...." Benarlah apa yang dipikirkan para anak buah ini. Kaptennya tak segan melakukan apapun, dan kini berakhirlah riwayat sanderanya.


Kapten tetap teguh dengan pendiriannya dan tak akan mengambil risiko dengan mengembalikan kekuatan pemuda ini.


Kalau ia tak bisa dapat harta karun ini, setidaknya ia bakal dapat upah dari dewa kematian dengan membawa kepala target besar ini.


'Haah.' Tak disangka bakal jadi begini. Liu tak menyangka dan tak bisa melakukan apapun.


Apa ini akhir dari 'The Strongest Warrior System.'?


"HEEI!"


"!" Tiba-tiba ada suara perempuan yang berteriak dari jauh!


SUWSH!


BRAGH!


Liu dilemparkan keras dan mendarat di pohon, tak jauh dari harta karun itu.


"...." Liu terdiam, ia makin lemah namun masih sadar.


'Sial.' Kenapa karakter utama dibiarkan menderita begini?


Tidak adakah bala bantuan super kuat dan mantap yang menolongnya?


Sementara itu sang kapten berbalik melihat ke arah suara itu.


"Kalian pergilah." Kapten langsung memberi perintah.


Tanpa panjang kali lebar para anak buahnya langsung mundur, kembali ke kapal mereka.


"...." Sorot mata sang kapten tajam kali dibalik topi bundarnya.


Syut!


Muncullah seorang perempuan cantik dibalik pohon.


Rambutnya hijau, begitupula dengan sorot matanya.


'NAH ITU DIA.' Liu melotot, dan langsung semangat. INILAH BALA BANTUAN YANG IA BUTUHKAN!


Kenapa perempuan cantik itu tak datang lebih awal ya?


Entah kenapa Liu merasakan moral support yang luar biasa. Kini pikirannya makin jernih meski sekalipun tubuhnya lemah!


"Dewa, ada urusan apa di sini?" tanya sang perempuan bergaun hijau dengan sopan dan lembut.


"...." Kapten terdiam, tak disangka datang gangguan di saat begini.


'DEWA?' Liu baru ingat lagi, pria berpenutup mata dan berjanggut itu sudah jelas dewa!


"Aaaah." Sang perempuan berambut hijau itu paham, bahkan sebelum kapten menjawabnya.


"Yah pembajakan kan keahlianmu ya, Dewa Dou?"


'Bajak?' Seperti bajak laut, begitu?


Liu paham, yah ternyata ia sandera dewa bajak laut.


Rangkaian fakta ini membuat semuanya makin terang.


Kalau saja ia tidur sembunyi di pulau pasti nggak akan dibawa semudah itu.


Karena ketidakwaspadaannya, kini ia harus jadi tawanan dewa bajak laut.


Namun semuanya sudah terjadi dan tidak bisa diulang lagi.

__ADS_1


Kapten terdiam dan tersenyum kecil, meski sulit terlihat diantara banyaknya janggut yang ada padanya. "Dewi Shu."


'Dewi Shu?' Terungkap sudah nama perempuan cantik itu.


Liu terdiam, Shu artinya pohon kan?


Kapten, alias Dewa Bajak tak menyangka dewi pohon datang ke sini.


"Banyak kematian tumbuhan di dunia ini." Dewa bajak terlihat risih.


"Ah, tenang saja." Dewi tak mungkin mampir ke sini kalau belum menunaikan tugasnya.


Dewi Shu tersenyum kecil, dan seorang pemuda babak belur yang tak berdaya menyita perhatiannya.


"Ah, bukankah dia yang terkenal itu?" Dewi terlihat tak percaya dan ingin memastikannya.


'!' Liu tersentak, ia di notice sang dewi!


RILL NO FEK!


Liu terdiam, dan hanya menatap apa adanya, ia nggak bisa terlihat sok kuat di hadapan dewi....." Dewa bajak terdiam, sok tak tahu aja dewi satu ini.


Dewi tahu dewa bajaklah yang sudah membuat pemuda itu tumbang.


Dewi melihat kecurangan di sini. "Ngebajak kekuatan lagi? Itu tak adil lho."


"Itulah yang dikatakan makhluk lemah." Dewa tak peduli.


'Ngebajak kekuatan?' Liu terdiam.


[Maksudnya menetralkan kekuatan Tuan]


'WOH!' Ada yang ngomong!


'Sistem!?'


Kenapa ia bisa denger dengan jelas ya sekarang?


[Sepertinya kondisi Tuan tidak bagus]


'O-oh.' Liu tak salah denger, sistem beneran ngoceh lagi sekarang.


[Oh Dewi Shu] Sistem terdengar terkejut.


Jadi inilah alasan kenapa sistem bisa mencul lagi.


'Sistem apa yang terjadi pada kita sih?' Liu penasaran. Ia butuh penjelasan secepat mungkin.


Dengan cepat sistem menjelaskannya.


'OH!' Liu akhirnya paham. Rasanya puas sekali mengetahui kebenaran!


Usut punya usut, ternyata dewa membajak kekuatannya alias menetralkannya, alhasil Liu jadi polosan tanpa kekuatan apa-apa.


Pantas saja tubuhnya tak karuan tadi, yah kondisi fisiknya menurun drastis sih.


Jadi kedatangan sang dewi pohon yang membuat keadaannya lebih baik.


Sang dewi melawan aura kekuatan dewa bajak. Sungguhlah pertolongan yang tak langsung yang hebat.


"Aku masih punya urusan di sini." Dewa menatap tajam, ia tak punya waktu untuk obrolan ringan seperti ini.


Dewi terdiam dan tersenyum kecil. "Aku juga sama."


"...." Dewa bajak terlihat tak senang, ia jelas tak mau urusannya diganggu siapapun.


Meminta baik-baik dewi mundur tak berhasil, kalau begitu masih ada satu cara lagi.


Sret.


Sang dewa menatap tajam, aura kekuatannya meningkat pesat.


Dewi tersenyum kecil. Aura kekuatannya meningkat juga.


'OIOIOI.' Liu tak suka ini mengarah kemana.


'Sistem?' Liu tegang.


HUSH!


"!" Liu terhempas kencang, dan itu sama sekali tak bagus.


BRAK!


"UH!" Hari-hari nabrak pohon.


Liu berusaha tetap sadar, namun jelas sih tak semudah membalikkan telapak tangan.


Liu bisa merasakan seperti ada yang mengalir dipunggungnya, dan ia tak mau tahu itu aoa.


[Itu darah Tuan]


'....'


'Terima kasih infonya.'


DDBBUMM!


SSSHHHH!


Lagi-lagi dentuman dan hempasan mengerikan terjadi. Liu tak punya pilihan lain selain berlindung di salah satu pohon besar dan berusaha nggak nabrak pohon lagi.


Kebetulan pohon di sini bukan sembarang pohon yang mudah tumbang.


Liu bisa merasakan adanya kekuatan dari masing-masing pohon yang ada, padahal sebelumnya biasa saja.


[Tentunya karena kehadiran dewi Tuan]


'WOH!' Bener juga ya!


'Eh sistem!' Dengan cepat Liu menanyakan rasa penasarannya soal dewi yang satu ini.


Kenapa disebut dewi pohon dan apa kekuatannya?


[Tuan kan bisa lihat langsung pertarungan live-nya]


'Oh iya ya.'


Liu menggerakkan badannya sedikit demi sedikit. Butuh kesabaran ekstra namun akhirnya ia bisa mengintip sedikit.


Berbagai dentuman dan hempasan kencang langsung mengguncang.


Liu balik lagi sembunyi, nggak kelihatan apa-apa sih.


Sistem pintar becanda juga ya.


[....] Sistem lupa kondisi tuannya tak terlalu bagus sekarang ini.


Akhirnya dengan cepat sistem menjelaskan soal dewi pohon.


'Oho.' Liu terkesan mendengar cerita sistem.


Dewi penolongnya ternyata sekuat itu ya.


Sayang sekali ia nggak bisa lihat pertarungannya secara langsung.


"Hei." Tiba-tiba terdengar suara.


[Bukan sistem Tuan]


Oh iya suaranya sih kek suara perempuan.


Tap.


"!" Liu terperanjat, ada yang megang bahunya!


"!?" Liu terdiam dan tak bisa menahan ekspresi kagetnya.


"Hai." Perempuan berambut hijau tersenyum kecil.


Shh....


Tubuh Liu berasap dan seketika itu juga kedua tanda tengkorak Liu perlahan mulai bersinar.

__ADS_1


'Wow.' Tubuhnya terasa jauh lebih baik, ia nggak lemas lagi.


"Dewi?" Liu akhirnya bisa berkata jelas.


"Mabuk laut nggak nih?" Dewi Shu tersenyum kecil, ia ingin mendengar pengalaman pemuda ini.


"Eh nggak sih." Liu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia cuman tak sadarkan diri saja sih.


Baik sekali ya dewi mau menanyakan hal seperti itu?


Memang Liu belajar tak semua dewa-dewi punya sikap serius dan kaku.


TUNGGU SEBENTAR.


Masih ada keheranan yang nyangkut di kepalanya!


Kenapa sang dewi ngajak ngobrol? Bukannya lagi tarung sama dewa ya?


"Ah, dia sudah lebih tenang sekarang." Raut wajah dewi seolah menyiratkan tak perlu ada yang dikhawatirkan.


'OH?' Apa itu artinya....?


[Benar Tuan, Dewa Bajak sudah tumbang]


'FOR REAL!?' Liu tak percaya, padahal pertarungan baru saja berlangsung sebentar lho!


Tapi sistem jarang bohong juga sih, dan lagi dewi nggak mungkin repot-repot kemari kalau sibuk dengan pertarungannya.


Liu terdiam, meski sulit dipercaya, namun itulah yang terjadi.


"Hm?" Dewi terdiam, ia melihat adanya kebimbangan dari sang pemuda ini.


"Ah lukamu." Dewi terkesan dalam sekejap mata saja pemuda itu sudah kembali lagi ke kondisi bugarnya.


Liu memegang wajahnya, memang tak terasa sakit dan tak terasa ada yang mengalir di punggungnya.


Setelah dicek memang sudah pulih.


BUKANNYA INI BIASA YA?


Liu yakin para dewa punya kemampuan pemulihan yang lebih cepat dan tak masuk akal dibanding dirinya.


Namun kenapa reaksi dewi sampai seperti itu ya?


Liu menunduk dalam. "Terima kasih atas bantuannya Dewi."


Ia tak akan bisa pulih kalau dewi tak masuk ke arena dan ikut campur.


Inilah keberuntungannya yang lain. Sang dewi muncul entah darimana dan menolongnya disaat tersulit.


Padahal Liu tak melihat jalan keluar lain. Ia terdampar di pulau asing dengan dewa yang haus peti harta. Ia tak berdaya dan tak bisa melakukan apapun, apa yang bisa dilakukannya di situasi seperti itu?


Namun Dewi Fortuna ternyata masih berpihak padanya.


"Ah, tak udah formal begitu." Dewi Shu tak biasa dengan sikap begitu.


"O-oh." Liu terdiam, apa cara berterima kasih-nya salah?


"Aku telat datang ya." Dewi menyayangkan kenapa ia tak datang lebih awal.


"...." YAH DI SAAT ITU LIU PASTI MASIH DIKAPAL SIH.


Dewi sudah datang di saat yang tepat. Setidaknya ia belum meninggalkan dunia ini.


Liu punya segudang pertanyaan- oke, mungkin tak sebanyak itu, namun yang jelas ia ingin mengajukan pertanyaan.


Kenapa dewa bajak menginginkan peti harta? Padahal sudah bukan rahasia lagi para dewa jelas punya kekuasaan dan kekayaan masing-masing yang tak perlu diragukan.


"Oh, dia memang suka berkeliling mencari harta yang tak biasa. Hal begini tak aneh kok," jawab dewi singkat.


Oke, berarti ada harta yang tak biasa yang bahkan menarik perhatian dewa.


Pertanyaan lainnya, kenapa dewi tiba-tiba ada di sini?


"Aku jalan-jalan biasa, eh ada hal menarik, jadi aku ikut campur deh."


"...." Bener-bener alasan sederhana yah. Liu memang beruntung.


Kenapa ia disandera?


"Bukannya Tuan sendiri yang tahu jawabannya?" Dewi membalikkan pertanyaan itu, yah ia tak mengetahui segalanya juga sih.


TUAN?


Rasanya berlebihan menyebutnya begitu.


[Sudahlah Tuan jangan protes, kembali ke topik]


Oh iya.


Liu menunjukkan kedua aksesoris yang ia dapatkan dan Dewi Shu terdiam, raut wajahnya menyiratkan ia menyadari sesuatu di sini.


Dengan sigap dewi menghilang begitu saja dan muncul lagi dengan peti harta yang berkilauan.


Peti yang sama yang ingin dibuka dewa.


"Dia ingin membukanya." Hanya satu tujuan itulah dia membawa pemuda ini


Lho. Apa susahnya dewa ngebuka peti harta? Pake kekuatan juga bisa hancur 'kan?


[Tidak semudah itu Tuan] Sistem merasakan pancaran energi misterius dari peti ini, tak bisa asal-asalan dihancurkan, harus ada prosedur yang haru dilaluinya.


KOK RUMIT YAH.


Jadi nggak bisa dengan cara simple ya.


Sring!


Tiba-tiba cincin dan kalungnya bercahaya dan melayang memakaikannya sendiri pada Liu.


Ini aneh sekaligus keren.


Padahal sebelumnya kedua aksesoris ini tak bereaksi apapun.


Kedua tangannya tiba-tiba bersinar cukup terang.


'Eh?' Liu tak paham apa maksudnya.


"Silahkan Tuan." Dewi Shu mendekat sembari memegang peti harta itu.


"....." Liu memegang peti berkilauan itu dan seketika itu juga muncullah cahaya terang menyilaukan mata.


Tak lama kemudian cahaya itu berhenti bersinar.


Peti harta itu hilang dari tangan dewi dan Liu merasa tengah menggenggam sesuatu.


Sontak Liu langsung membuka tangannya dong.


'APA INI GELANG?'


Sebuah benda seperti berwarna kemerahan tiba-tiba ada di tangannya, kenapa ya?


[Seperti kelihatannya, itulah isi peti harta tadi Tuan]


'OH?' Jadi ini?


Jadi dewa bajak mencari benda kecil ini?


Liu pikir bakal sesuatu yang lebih wah sih.


Kenapa dewa mencari benda ini? Bukankah masih banyak aksesoris lain yang lebih menarik hati?


"Tuan berhak memilikinya." Dewi Shu terdengar serius.


Liu terdiam, ia penasaran apanya yang spesial dari benda ini?


"Gelang itu pasti akan berguna di kemudian hari." Dewi menyakinkan.


.....


....


TUNGGU DULU.

__ADS_1


Liu ingat perkataan sang dewi jamur!


APA JANGAN-JANGAN!?


__ADS_2