
"...." Entah kenapa meski dari jauh, itu benar-benar terdengar jelas sih.
Sret.
Pria berpakaian hitam itu mengangkat tangannya lagi, entah kenapa dia sering sekali mengangkat tangan.
'MUNGKIN ITU TRIK TERSEMBUNYINYA!' Sepertinya ada yang aneh dengan mengangkat tangan!
[Tidak begitu juga Tuan] Sistem tak setuju.
'Oh.' Tanpa sadar Liu memaksakan pendapatnya.
Yahuan terdiam, sejujurnya ia juga tak tahu apa yang akan dilakukan musuhnya. Dan melihatnya mengangkat tangan beberapa kali memang mencurigakan.
Namun bukan berarti langsung menyerang adalah pilihan terbaik, bisa jadi lawan hanya memancingnya.
HUSH!
Pria asing itu maju dengan cepat!
"!" Liu tak bisa melihat pergerakannya, sungguhlah sangat super duper cepat.
"Uwow!" Yang ada malah ia terhempas begitu kencang ke belakang. Makin menjauh.
'Sial!' Liu tak berencana menjauh, ia harus jadi saksi atas pertarungan tadi!
[Memangnya Tuan juri?]
'....' YA LEBIH KE KHAWATIR AJA SIH.
Jelas-jelas ini adalah masalahnya, dan mau bagaimanapun kalau tak ada dirinya sudah pasti hal ini tak akan terjadi.
Jadi apa yang bisa ia lakukan sekarang!?
Liu berusaha bertahan, namun apa daya ia terus terhempas, makin menjauh, tak kuat dengan energi yang dipancarkan dari kedua makhluk yang sedang bertarung itu.
Di sisi lain sistem tak bisa mengabulkan keinginan tuannya untuk mendekat. Ia harus fokus pada pemulihan tubuh tuannya dan memastikan mereka tidak kembali bertemu dewa secara instan lagi.
***
DBUM!
BUM!
Disisi lain adu kekuatan fisik berubah jadi pertarungan skala besar. Yahuan berusaha bertahan dari setiap serangan yang dilancarkan pria asing itu.
'Kuat....' Tak bisa dipungkiri, itulah kenyataannya.
Yahuan juga sudah mengumpulkan tenaga dalam, namun musuhnya lebih diatas angin lagi.
Jual beli serangan terus terjadi, membuat dentuman dan hempasan angin yang hebat.
Terlihat mereka berdua seimbang, dan hal itu berlangsung beberapa lama.
Yahuan dengan cekatan mengatasi setiap serangan lawannya. Kemampuan analisis dan prediksinya tidak perlu diragukan.
Ia mempu membaca serangan fisik musuhnya, yang memang agak aneh dan mengingatkannya pada rekannya.
Di sisi lain pria asing itu terus menyerang gadis merah ini dengan membabi buta. Ia tidak punya banyak waktu berurusan dengan makhluk yang bukan targetnya sendiri.
Dan akhirnya sampailah di satu titik....
__ADS_1
BUAAAAGFHHHH!
Pukulan telak masuk ke wajah gadis cantik itu!
"Heh." Namun Yahuan sama sekali tak terhempas, ia menoleh, matanya malah menatap tajam.
Padahal pukulan yang diterimanya begitu keras, sampai-sampai membuat tanah bergetar dan bahkan menghempaskan pohon.
"...." Pria serba hitam itu terdiam, meski wajah seriusnya tak berubah, namun kenyataannya ia tak menyangka juga.
"HUP!" Dengan cepat Yahuan melancarkan tinjuannya, dan seketika itu juga hempasan kuat tercipta!
BUM!
"...." Pria itu diam tak bergeming, bahkan setelah tinjuan sempurna yang masuk ke wajahnya.
Yahuan terdiam, ia sudah menyangka serangannya tak akan mempam sih, tapi setidaknya ia sudah coba.
Saling adu pukul namun tak ada diantara keduanya yang mundur.
"Kau menyerah saja." Pria bersetelan hitam itu tak berhenti membujuknya berhenti.
"Kamu saja ya." Yahuan tersenyum, tak disangka ia malah membalikkan perkataan lawannya.
Ya mau gimana lagi, memang ia tidak mau menyerah sih, masa harus dipaksa?
GREB.
Dengan cepat pria bersetelan hitam itu memegang leher lawannya, dan gadis merah itu tak sempat mengelak!
"Ukh." Yahuan tak bisa melarikan diri, lehernya sudah benar-benar dalam genggaman musuhnya.
"Pilihan yang salah." Pria berpakaian itu menatap tajam, ia sudah memberi banyak kesempatan pada gadis ini, namun tak juga diindahkan.
Kekuatan lawan sudah jauh diatasnya, dan meskipun ia tak menyerang pun tetap saja situasi tidak akan banyak berubah.
Benar, Yahuan tahu di titik ini, ia tak bisa menjauh dari musuhnya lagi.
Tapi bukan berarti semuanya selesai....
SSSHHH....
Perlahan namun pasti energi mulai menyelimuti tubuhnya. Bahkan disituasi terdesak pun tidak membuat gadis rambut merah itu menyerah.
'Aku memang tidak sekuat kakak... tapi aku ingin bisa mengejarnya!' Begitulah tekad yang berkobar dalam diri gadis ini.
Ia tidak bisa kalah di sini!
BUM!
Ledakan energi pun terjadi, dan ia akhirnya lepas dari cengkraman musuhnya.
"...." Pria berpakaian hitam itu makin tidak senang, yang pasti ia dikejutkan dengan kekuatan gadis merah ini.
"Khh... haaah...." Ada harga yang harus dibayar, tepat setelah bebas dari musuhnya. Yahuan merasa lemas di sekujur tubuhnya.
Wajar saja karena ia memaksakan batas kemampuan tubuhnya. Yang sebenarnya ia seharusnya sudah kalah tadi.
Tapi bukan saatnya mementingkan batas tubuhnya. Yang terpenting adalah bagaimana cara menghentikan tujuan musuh yang satu ini.
Yahuan terdiam, sementara raut wajahnya makin serius, ia bisa merasakan pemuda itu masih ada disekitaran wilayah rerumputan luas ini.
__ADS_1
'Kenapa dia?' Lebih bagus kalau dia meninggalkan tempat ini.
Tak perlu berurusan dengan makhluk yang tidak setara seperti mereka.
"Tidak setara?" Nada serius memecahkan lamuman Yahuan.
"...." Apa ia salah bicara? Memang kenyataannya begitu.
SRING!
Seketika itu juga pria itu bercahaya terang, diriingi dengan gelak tawa seolah ada yang lucu.
"!" Yahuan terdiam, ekspresi wajahnya perlahan berubah seolah tak percaya dengan yang apa yang dilihatnya.
BZIT!
"!" Lebih cepat dari kedipan mata, pria itu sudah ada di belakangnya dengan memegang sebuah tongkat panjang keemasan.
"... Sun?" Yahuan terdiam, ia tak percaya dengan kenyataan ini.
Pria asing berpakaian hitam itu berubah menjadi sosok makhluk berbulu yang tak lain tak bukan adalah sang kera sakti sendiri.
Padahal ia tak merasakan energinya sedari awal!
Kret.
Sun mencekik leher gadis itu dengan tongkat emas yang menyilaukan.
Sebuah tongkat ajaib pemberian dewi. Tongkat yang kuat yang bahkan bisa meratakan sebuah gunung.
"Ke... napa?" Yahuan tak sadar dari awal. Ia pikir rekannya ini sedang ada urusan dengan dewa.
Greeet....
"Aku tidak setara denganmu. Nguk." Sun terlihat serius
Memang benar begitu, secara teori Sun Go King memang sudah menjadi senjata pusaka dewa dan tak lama lagi ia bisa naik pangkat.
Yahuan benar-benar tidak menyangka musuhnya adalah rekannya sendiri.
Bukan hal yang sulit untuk mendeteksi makhluk yang menyamar, namun lain cerita kalau yang menyamar adalah rekannya sendiri.
Dia diberikan akses spesial untuk bertemu para dewa akhir-akhir ini. Sebuah hal yang wajar, mengingat memang dia akan naik pangkat.
Namun tak disangka dewa memerintahkannya menangkap pemuda yang beruasha dilindunginya ini.
"Uuh...." Gadis berambut merah itu menggeliat, namun apa daya, kali ini ia benar-benar tidak bisa melepaskan diri.
Strategi mengumpulkan tenaga dalam sama sekali tak berhasil. Kekuatannya tersedot habis oleh musuhnya sendiri.
'Kenapa?' Yahuan tak habis pikir, selama ini rekannya selalu bersikap baik dan ramah.
Tapi kenapa sekarang?
"Dia adalah buronan dewa kematian, kenapa kau menolongnya, nguk?" Terlihat dan terdengar jelas keseriusan sang kera sakti.
Inilah alasan kenapa sang kera sakti tiba-tiba menghilang begitu saja.
Ia mendatangi pertemuan kilat dengan dewa. Soal pemuda dengan tanda tengkorak yang adalah buronan dewa kematian.
Sontak Sun segera kembali dan menyamar demi menangkap pemuda dengan tanda tengkorak itu.
__ADS_1
Namun tak disangka malah ada halangan baru yang harus dihadapinya.
Memaksanya untuk bertindak melebihi batas.