
[Tuan terlalu banyak menyerang monster itu, jadilah seperti ini]
Yah penjelasan sistemnya masuk akal juga. Tapi Liu tak punya pilihan lain, daripada kewalahan bertahan, mending kewalahan menyerang!
Entah itu terdengar masuk akal atau tidak, namun yang pasti pilihan pertama jelas lebih bagus.
Musuhnya banyak diuntungkan, mengulur waktu tidak menjamin situasi akan bertambah baik.
‘Sistem, akal sehatku masih jalan ‘kan?’ Tak bisa dipungkiri Liu menggila tadi, rasanya seperti jadi orang lain.
KENYATAANNYA IA SUDAH MENCINCANG HABIS MONSTER KELINCI HITAM RAKSASA ITU.
Lagi-lagi krisis identitas. Haduh.
[Tenang saja Tuan]
‘Pyuh.’ Kalau saja ada cara yang lebih family-friendly, tentu Liu bakal menggunakannya.
Tapi ia harus profesional, terkadang tidak jadi diri sendiri adalah harga yang harus dibayar.
Asalkan musuhnya sudah kalah itulah yang terutama!
“GR.”
‘Eh.’ Liu terdiam, entah kenapa perasaannya tak enak.
‘Itu bukan kamu ‘kan sistem?’
[Bukan Tuan, barangkali suara perut Tuan?]
‘Bagus juga becandaanmu sistem.’
MANA MUNGKIN SUARA PERUT MENGGERAM BEGITU.
Sret.
Liu berat menoleh, tapi apa daya, ia tidak mungkin ngabain suara aneh tadi!
‘Yah semoga saja bukan kelinci tadi.’ Pasti akan repot sih kalau dia bertambah besar.
Tap.
“OH MY GOD.” Liu tak percaya apa yang dilihatnya, kelinci hitam yang sudah ia serang brutal itu jauh lebih besar lagi!
Ukurannya bahkan melebihi monster tengkorak sebelumnya, meski tidak beda jauh sih.
Penampilannya lebih sangar dilengkapi dengan aura Qi super besar. Ini sih perubahan drastis!
‘Kok nggak berhentiin aku sih sistem?’ Keputusannya menyerang sekaligus terbukti salah. Dan sistemnya malah masa bodoh.
[Sistem tidak mau mengganggu kesenangan Tuan]
‘Wah begitu….’ Peduli banget sistem sama pemiliknya, sampe jadi terkesan deh.
‘YA SITUASINYA TAMBAH BURUK LHO! MAU END DI SINI AJA!?’
Bagus kalau diterusin serangannya masuk! Lah ini malah musuhnya makin kuat!
Liu pikir caranya itu bakal mengakhiri pertarungan dengan cepat, namun malah senjata makan tuan!
[Tenang saja Tuan, selalu ada jalan keluar dari setiap masalah]
Sifat bijak sistemnya kambuh lagi. ‘Ukh.’ Apa boleh buat Liu tidak bisa mengomentarinya. Apa yang dikatakannya benar!
Keoptimisan adalah kunci. Lagi-lagi sistem mengingatkannya.
‘Setuju.’ Liu melihat sisi baik dari serangannya tadi. Yah setidaknya ia sudah melakukan yang terbaik, meski hasilnya tidak sesuai, daripada penasaran tak mencoba sama sekali.
‘Oke sistem! Siapkan dirimu, kita akan mulai!’
[Siap kapanpun Tuan mulai]
Senyum kecil tergurat di wajah Liu, kepercayaan dirinya kembali, ia tak mungkin kena mental di sini!
[Akselerasi Qi… eksekusi rencana….]
HUSH!
__ADS_1
[Lho Tuan?] Sistemnya heran tuannya malah lari ke arah sebaliknya.
Bukannya harusnya lari menghadapi musuhnya ya?
‘SADAR DIRI DONG! LARI AJA LAH!’ Liu melesat diantara pepohonan malam, ia tak mau berurusan sama monster yang tak bisa kalah.
[Tidak laki Tuan]
Agak sakit sih mendengarnya, tapi ia bisa apa? Mau keren-kerenan melawan tapi tak ada hasilnya buat apa?
Sudah salah dari awal berurusan sama monster ini! Dia terlalu kuat.
DRAP!
BUM!
“WAAA~” Kelinci itu cepat sekali mengejarnya, dia diuntungkan dengan langkah jumbonya!
‘Sialan. Dia mau adu lari denganku? Siapa takut!”
‘AYO SISTEM KITA TUNJUKKAN SIAPA YANG TERCEPAT!’
[….]
[Baik Tuan] Pelarian tiba-tiba jadi kompetisi, perubahan yang mulu sekali.
HUSH!
Dengan penuh semangat Liu lari menembus kegelapan malam diantara pepohonan rindang, meninggalkan monster kelinci jumbo yang berhasrat mengejarnya.
‘HEHE DIA PASTI LELAH DAN BERHENTI MENGEJARKU!’ Liu sangat percaya diri. Strategi lari tidak terlalu buruk juga.
Lama-lama lari capek juga sih, Liu berhenti dan memerhatikan sekelilingnya.
‘Eh wortel.’ Tanpa sengaja Liu menemukan wortel tergeletak di tanah, ia langsung ambil dong dan mengantonginya.
‘Lumayan untuk camilan.’ Makasih buat siapapun yang buang wortel sembarangan!
‘Selamat ma-’
BUM!
‘D- dia berhasil mengejarku?’ Liu terdiam, padahal ia sudah mengerahkan teknik lari terkencang, tapi kenapa musuhnya tidak berhenti mengejarnya.
[Dia sudah bertambah kuat Tuan] Sistem memperingatkannya.
Fakta yang tak terbantahkan sih.
Sring.
Liu tak jadi memakan wortel lezat itu, sementara perutnya keroncongan! Ia mengeluarkan pedang biasa kebanggannya!
Sekaranglah saatnya aksi epik dimulai!
Liu terdiam, kelinci terdiam. Mereka sama-sama menatap satu sama lain.
‘Aku tak bolah sembarangan menyerang.’ Liu tak mau monster itu jadi super mega besar kelinci raksasa, kalau sudah begitu malah makin repot.
“GR…” Di sisi lain, musuhnya pun tak lagi agresif menyerang. Ia lebih tenang dan mementingkan harga dirinya. Ia tak mungkin ngebiarin dirinya dicincang habis seperti tadi sih.
“!” Liu segera menusukkan wortel tadi ke pedangnya. Agak random, tapi ada strategi terselubung!
“?” Monster itu menatap heran, ia tidak terancam sama sekali.
HUSH!
Dan langsung menyerang.
“Hehe.” Liu berpose lempar lembing, mengarahkan pedangnya tepat ke sang monster.
HUSH!
Dan melemparkannya!
“Seni Pedang: Pedang Wortel.”
SYUT!
__ADS_1
Pedang tusuk wortel itu berubah sepenuhnya jadi wortel, dan langsung masuk ke mulut sang kelinci!
“GGRR… HM!?” Monster itu mengubah raut mukanya, dia malah terlihat keenakkan!
Dari mulutnya mencuat pedang wortel, dan dia menikmatinya bak anak-anak yang makan permen!
“CYUU!” Monster itu melompat kegirangan dan pergi.
Dum!
Tanah sampai bergetar dibuatnya.
“PYUH!’ Liu mengelap keringatnya, teknik yang menguras tenaga.
[Tuan pintar juga] Sistem tak menyangka tuannya bisa mengatasi situasi tadi tanpa bimbingan sistem.
‘Hehe, untung berhasil, kalau tidak ya kelar dah.’ Yah siapa yang tidak suka wortel? Apalagi kelinci?
Terkadang kunci kemenangan terletak pada hal yang sederhana.
***
[Padang Rumput Malam Hari, Alam Monster tingkat 6]
Sret.
Tak butuh waktu lama Liu sampai lagi di tempat asalnya, ia menggendong putri es yang tertidur pulas.
Tak mudah bertahan di kondisi seperti tadi, sudah berganti alam ditambah alam ini menyedot aura Qi. Haduh.
Sret.
“Ah Nona Ying?” Baru saja digendong, putri es sudah sadar. Beliau hebat sekali!
“HM.” Dan sekarang dia menatapnya tajam.
PLAK!
“ADUH!”
“Nona Ying!?” Tak ada angin tak ada hujan kenapa malah ditampar!?
“Te- tenang saja Nona, aku bukan musuh.” Liu tersenyum lembut, sedang Ying mulai bisa berpikir jernih.
“Ma- maaf.” Ying memalingkan pandangannya. Wajar saja sistem pertahanan dirinya lebih dulu aktif, untuk jaga-jaga.
“Tidak perlu khawatir Nona.” Yah Liu tak menyangka putri es bisa minta maaf juga.
Sret.
Liu menurunkannya dekat Yin-jie dan Nona Shuwan.
‘Apa yang terjadi?’ Ying memegang kepalanya, terasa pusing dan berat.
“Monsternya sudah kalah kok Nona.” Liu tersenyum lagi.
Yah secara teknis sih tidak kalah, tapi setidaknya dia tidak jadi ancaman lagi di alam monster ini.
WORTEL YANG DIEMUTNYA TIDAK AKAN HABIS DAN DIA AKAN PUAS SAMPAI KAPANPUN GYAHAHA!
“….” Ying terdiam, ia masih belum percaya.
Kenyataaan monster tadi cukup kuat masih teringat jelas. Dan dua gadis lain pun masih tidur dengan aura Qi yang tidak stabil.
Tapi kenapa pemuda ini…?
‘APA AKU MENGATAKAN HAL ANEH?’ Liu heran kenapa Nona Ying memandangnya serius begitu. Bukankah saat yang tepat untuk bernafas lega ya?
Sret.
Ying memalingkan wajahnya lagi, agak kemerahan.
‘EMANGNYA AKU SEJELEK ITU YA?’ Liu terdiam.
‘Mereka belum sadar? I..ni kesempatanku.’ Ying membulatkan tekadnya, ia maju lebih dekat.
“Nona Ying?” Liu agak mundur, putri es terlalu dekat dengan wajahnya!
__ADS_1
“Ja-jadi jawabanmu?” Ying menatapnya penuh harap. Ekpresinya beda jauh dari yang biasanya. Dia ini benar Nona Ying!?