Sistem Pendekar Terkuat

Sistem Pendekar Terkuat
Bantuan


__ADS_3

"Itu bukan salahmu." Dewi pantai terlihat peduli.


Liu tertunduk, tahu menyalahkan diri sendiri adalah bentuk pertahanan diri yang menyakitkan.


Hai Tian memerhatikan pemuda ini. Terlihat jelas dari penampilannya dia sudah melewati banyak hal. Keputusan Dewi Xinmu sama sekali tidak salah.


Dewi pantai juga sudah mendengar tekad dan apa yang akan dilakukan pemuda ini. Yang sebetulnya ia kurang setuju dengan rencananya ini.


"Dewi Xinmu ingin memberimu kesempatan." Tidak mungkin sang dewi kembali menempatkannya di tempat yang sangat berbahaya lagi.


Liu terdiam, ia merasa paling beruntung.


Ditengah masa lalunya yang penuh twist, dewi mau ikut campur dan memberinya harapan kembali.


Namun tidak mungkin ia gembira dan membiarkan dewi begitu saja.


Liu sudah mengatakan semuanya tadi dan tidak berniat mengatakannya lagi.


Raut wajahnya menyiratkan ia tak akan berhenti, apapun yang terjadi.


Dewa yang berusaha menghentikannya dengan pertarungan? Liu sudah memberi contoh dengan dewa tengkorak sebelumnya.


Dan sekarang dewi yang berusaha menghentikannya lewat perkataan langsung? Jawabannya bakal sama saja sih.


Liu tersenyum kecil, ia tak menyangka kepedulian dewi begitu besar seperti ini.


Tapi ia tidak peduli pada apapun yang berlawanan dengan rencananya.


Bukannya mau mengabaikan kebaikan dewi juga sih.


"Terima kasih atas nasihatnya dewi." Liu menunduk dalam. Ia tidak akan berhenti sebelum mencapai tujuannya.


Sang dewi pantai melihat keseriusan pemuda ini. Tekad kuat dan teguh ada padanya. Benar-benar tekad murni.


Jarang ada makhluk yang punya tekad seperti ini.


Pasti ada alasan kenapa dewi pantai sampai peduli seperti ini.


'MUNGKIN DEWI INI TEMANNYA?'


Liu terdiam, rasanya seperti mimpi saja.


[Tuan tidak curiga?]


'EH KAMU NGGAK PERCAYA?' Liu pikir sistemnya percaya.


Kalau dipikir-pikir lagi bisa saja ada maksud terselubung dari sang dewi.


Liu tak bisa meremehkan sikap dewa dan dewi. Tentu mereka lebih lihat di bidang komunikasi.


Apa mungkin semua ini hanya kebohongan belaka? Yang pada akhirnya sang dewi juga mengincarnya?


Liu terdiam, tanpa sadar kekuatan mulai terkumpul di tubuhnya.


"?" Hai Tian memasang wajah heran, kenapa pemuda ini tiba-tiba mengumpulkan kekuatan seperti itu?


Sang dewi melihat sekitar, namun tak ada hawa bahaya apapun, dan kalau misalnya adapun tentu ia yang pertama tahu.


"Ada apa?" Sang dewi tidak mengerti kelakuan pemuda ini.


Liu terdiam, sesuai dugaannya dewi terlihat heran, yah itu reaksi yang wajar sih.


Liu hanya ingin tahu apakah dewi sedang bersandiwara atau tidak.


Kalau ia meningkatkan kekuatan tentu sang dewi juga sama bukan?


Mungkin tidak sopan, tapi Liu tak mau terkecoh dengan perlakuan dewi yang terlalu baik itu.


Hai Tian terdiam, entah kenapa pemuda ini tiba-tiba dalam mode siap bertarung. Padahal tidak ada bahaya sama sekali.


Kalau begitu ada satu alasan yang kuat kenapa sikapnya tiba-tiba berubah.


"Kamu tidak percaya?" Sang dewi tersenyum kecil. Setelah berbagai kesulitan yang dialami dengan dewa dan tiba-tiba ada dewi yang percaya? Wajar saja kalau curiga.


Liu terdiam, sang dewi sama sekali tidak mengumpulkan kekuatan.


Seolah dewi tidak peduli apa yang akan terjadi, Liu pikir dewi bakal tersinggung dan memarahinya.


Namun sang dewi malah tetap tersenyum kecil.


Jelas-jelas dewi menunjukkan celah besar, kalau dewi menyembunyikan sesuatu pasti tidak akan seperti ini.


"Aku tetap ada dipihakmu, Xiao Liu." Dewi tersenyum lembut.


Kecurigaan Liu menurun drastis. 'Gimana sistem?' Kalau sudah begini Liu tak percaya dewi punya tujuan terselubung.


[Dewi Hai Tian memang bisa dipercaya Tuan]


'Lho?' Jadi sistemnya sudah percaya dari awal?


'KENAPA MALAH SOK CURIGA?' Kalau tahu sudah percaya, ya jangan ngelakuin hal nggak sopan begini dong!


[Sistem ingin memastikan lagi Tuan] Anggap saja sebagai 'klarifikasi'. Pasalnya menganalisis di alam dewa bukan hal yang mudah.


"Maaf atas kelancangan saya dewi." Liu bersimpuh di tanah. Ia tidak bermaksud merendahkan atau bagaimana.


"Ah tidak usah begitu." Dewi mengangkat tubuh pemuda ini.


Lagi-lagi sikapnya berubah begitu.


Kenyataannya sang dewi memang benar-benar serius mengatakan hal itu di awal. Ia tipe dewa santai yang hanya menjalankan tugasnya dan tidak tertarik dengan tawaran dari dewa lain.


Meski harus diakui apa yang dilakukan Dewi Xinmu tidak sepenuhnya benar, namun ia tetap percaya pada sang dewi, dan sekarang ia bisa merasakan energinya pada pemuda ini.


Kini Liu benar-benar bisa percaya pada sang dewi.


Dewi akhirnya menjelaskan bahwa Liu sudah melewati pintu masuk alam dewa menengah awal, kini ia berada di area awal.


'PINTU MASUK?' Liu terdiam, kenapa bisa-bisanya pintu masuknya tempat yang mengerikan seperti itu ya?


Yah itu menunjukan bahwa alam dewa bukan untuk yang main-main. Liu paham sekarang.


Dan kini setelah melihat hal mengerikan di awal, akhirnya ia melihat hal yang indah juga.


"Tapi bukankah dewi bisa dalam bahaya menolongku?" Liu sudah jadi buronan dewa official, jadi bisa saja dewa kuat murka nanti.


"Hm? Bisa jadi, tapi tidak usah khawatir." Dewi tersenyum.


'....' Liu terdiam, kenapa dewi tidak khawatir sama sekali? Bukannya gawat kalau dewa tingkat tinggi datang?


"Dewa tidak bisa seenaknya ikut campur urusan dewa lain."


"Oh...." Jadi semacam peraturan ketat kah?


Jadi kemungkinannya kecil dewa tingkat atas akan berkonfrontasi dengannya.


'Pyuh.' Liu agak lega mendengar ini. Yah pada akhirnya ia juga tidak bisa berkeliaran mengandalkan kekuatan sendiri di alam dewa. Pasti ada satu titik ia butuh bantuan dewa.


Liu sudah lebih tenang sekarang.

__ADS_1


"Kamu akan membutuhkannya." Sang dewi mengangkat tangannya.


"?" Liu menerimanya, dan itu sebuah mutiara putih indah.


'BUAT APAAN?' Oleh-oleh atau apa ini?


"Anggap saja oleh-oleh." Dewi tersenyum kecil.


'WAH BENER?' Liu tak menyangka dugaanya bener.


Nebak manusia? Hmh, biasa, nebak dewa? Beuh.


Liu menerima pemberian dewa, dan terdiam.


Kok tahu-tahu dikasih hadiah begini sih?


Dewi tersenyum, ia senang pemberian kecilnya diterima.


Liu menatap seksama mutiara putih ini. Entah kenapa ia merasakan sesuatu dari benda ini.


'Kalau dijual mantep juga nih.' Ide brilian muncul di kepalanya,


`Di jual mutiara dewi pantai! Harga bersaing!` Sekarang ia mulai memikirkan kalimat jualan. Yah siapa yang nggak bakal tertarik sama barang indah begini? Apalagi berasal dari dewa?


[Benar Tuan, benda itu pasti berharga mahal] Sistem setuju, benda sekecil itu bisa membuat tuannya tajir mendadak.


"Jangan dijual ya." Dewi tersenyum


'Yaaah.' Langsung dilarang dewi deh.


Bukannya dewi bisa tahu isi hati pemuda ini, hanya saja ia bisa melihat hasrat yang terpancar dari matanya.


Pada akhirnya tidak ada pertarungan menegangkan kali ini, yang mungkin mengecewakan bagi sebagian orang.


Namun sebagai gantinya, ada obrolan hangat antar Liu dan sang dewi pantai.


Liu mengukuhkan tekadnya, semua keraguan dan halangan mental sebelumnya sirna.


Healing hehe.


"Aku yakin kamu bisa menemukannya." Dewi tersenyum lembut.


"Terima kasih dewi." Liu menundukan kepalanya.


Kini ia menatap lautan lepas, menunggu kendaraan menjemputnya.


Ya, benar. Liu sudah dengar petunjuk dewi, ia harus menyebrangi lautan demi melangkah ke step selanjutnya.


BAKAL JADI BAJAK LAUT NIH.


....


...


BELUM ADA APA-APA SIH.


"Dewi? Harus ditanyain sih ini.


SRING...


'OW.'


Sang dewi bersinar hijau terang!


'Sejak kapan?' Liu tak sadar.


Faktanya dari sejak Liu melihat ke arah lautan pun sang dewi sudah melakukannya.


Dewi terlihat begitu fokus, ia menutup matanay dan energinya memenuhi tubuhnya.


Liu tak mengerti konteksnya, jadi ia hanya bisa menunggu sampai dewi selesai mengumpulkan kekuatan.


Dan akhirnya sang dewi membuka kembali matanya dengan dipenuhi aura kehijauan.


Dan seketika itu juga dewi berjalan ke depannya.


"Dewi?" Liu tak mengerti kenapa sang dewi membelakanginya.


Dengan cepat Liu menjelaskan permasalahannya.


"Ah? Kita pergi bersama."


'Oooh....' Begitu ya, Liu mengerti, pantas saja kendaraan yang ditunggu tak kunjung datang.


TUNGGU APA?


"PERGI BERSAMA GIMANA?" Liu tak bisa menahan kekagetannya sih.


"Aku yang jadi kendaraannya." Dewi menoleh dan tersenyum.


'HA?' Masa dewi jadi kendaraan sih?


Bukannya menyalahi harga diri dewa ya?


"Ahaha, aku tidak peduli soal harga diri, naik saja." Sang dewi berjongkok. Lagi-lagi ia bisa tahu apa yang dipikirkan pemuda ini, dari mimik wajahnya tentunya.


Liu terdiam, ia pikir kendaraannya perahu atau kapal, lah malah dewi sendiri?


'TUNGGU INI NGGAK BENER.' Liu terdiam, ia tak setuju sama cara yang begini.


[Itulah caranya Tuan] Sistem meyakinkan tuannya.


'Apa nggak ada cara lain?' Kalau begini rasanya nggak sopan deh.


[Tidak ada Tuan] Sistem akhirnya menjelaskan alasannya.


Liu terdiam, ia paham sekarang.


Ia tidak punya pilihan lain selain percaya pada sang dewi, terlepas dari apapun cara yang akan ditempuh.


Toh dewi sendiri yang paling tahu apa yang dilakukannya, kenapa harus meragukannya juga?


Liu mendekat ke arah dewi, kalau masih anak-anak tentu senang digendong seperti ini.


SEKARANG SUDAH DEWASA RASANYA CANGGUNG.


"Hup." Dengan cepat dewi menaikkan badannya dan mengangkatnya!


"!" SEKARANG IA BENAR-BENAR DIGENDONG!


"Sudah nyaman?" Dewi sedikit menoleh, wajahnya sangat dekat!


"Ah iya." Liu memalingkan wajahnya. Perasaan canggung dan malu brutal sih.


Rasanya kek jadi anak kecil lagi.


Dewi tersenyum lagi, dan lari ke arah lautan!


***

__ADS_1


Di dalam lautan luas, terlihat ikan berenang kesana kemari dengan gembiranya.


Terumbu karang indah, tanaman laut beraneka warna menghiasi dalamnya lautan, dipadukan dengan cahaya mentari cerah yang merasuk ke dalam laut.


Terlihat dua makhluk sedang melewati dalamnya lautan yang indah ini.


Seorang perempuan berambut hijau dan pemuda yang digendongnya, mereka memancarkan aura kehijauan.


Pemuda yang tak lain tak bukan Xiao Liu itu menutup matanya seolah sedang tertidur pulas.


Sementara itu perempuan berambut hijau alias dewi ini bermanuver cepat melewati lautan ini.


Skill berenang yang tidak perlu diragukan, yah wajar saja dirinya dewi pantai sih.


Jelas-jelas bagian berenang adalah keahliannya. Gerakannya luwes dan cepat.


Dewi tahu pemuda yang digendongnya itu sedang istirahat, dan itu strategi yang bagus.


Kenyataannya sistem mempercayakan bagian ini pada sang dewi. Tuannya tidak perlu melihat banyak hal yang tidak perlu.


Ah, tapi mungkin saja tuannya tertarik melihat pemandangan laut yang indah seperti ini.


Tapi lebih penting istirahat demi menghadapi momen besar yang selanjutnya sih.


BLUK BLUK.


Tiba-tiba banyak gelembung air tercipta. Hai Tian tetap melanjutkan penyelamannya.


'Apa itu?' batinnya. Sudah lama ia tidak melihat kejadian begitu. Padahal selama ia berjaga di alamnya ini tidak pernah terjadi hal itu.


Padahal cuman gelembung air, namun kenapa dewi begitu concern akan hal itu?


Pada kenyataannya sang dewi merasakan keanehan dibalik hal itu, ia merasakan suatu energi tidak yang tidak bersahabat.


Namun ia mengabaikan dugaannya itu, kini fokus utamanya adalah menolong pemuda ini menuju ke area selanjutnya.


Tempat di alam dewa sangat rumit bagi pemula, namun pada kenyataannya tidak banyak makhluk luar yang datang juga sih.


Hai Tian tidak ingat kapan dewa lain berkunjung ke tempatnya.


"...." Sang dewi masih melakukan urusannya. Ia masih berenang dengan kecepatan dan ketepatan tinggi.


Hal ini membuat siapapun diantara kita bertanya-tanya, atau mungkin tidak, tapi anggap saja bertanya : kenapa dewi tidak membuat cara simpel yang bisa membawa mereka sampai lebih cepat?


Misalnya pintu kemana saja, atau apa. Bukannya dewi bisa melakukan apapun ya?


Kenyataannya tidak segampang itu.


Setiap alam dewa dan penguasanya sudah memiliki sistem tersendiri, yang dimana berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Itulah yang membuat alam dewa unik.


Kalau ada ancaman makhluk luar dan mereka bisa mengekploitasi cara tercepat pindah ke alam dewa, tentunya akan merugikan para dewa sendiri.


Sementara itu sang dewi kagum ada makhluk lain seperti pemuda ini yang bisa sampai ke sini. Padahal sebelumnya dia berhadapan dengan dewa tengkorak, yang terkenal berambisis memusnahkan makhluk asing apapun (kecuali dewa) demi melindungi alamnya.


Namun ternyata pemuda ini bisa sampai di alamnya juga, yang berarti sudah jelas apa yang terjadi di alam dewa tengkorak itu.


DDDRRR....


"!" Dewi mencium gelagat aneh. Terjadi getaran yang tidak seharusnya terjadi.


Hal ini lebih mencurigakan dibanding gelembun air sebelumnya. Jelas-jelas ada yang tidak beres di sini.


Dewi menghentikan laju renangnya, kini ia diam melihat keadaan sekitar.


Hal seperti ini jarang terjadi. Seharusnya dewi tahu keadaan wilayahnya saat ini.


Bisa dibilang ia bisa men-scan keadaan wilayah yang dikontrolnya. Dengan begitu ia bisa tahu lebih awal apa yang sedang terjadi.


Namun kenapa sekarang ia tidak bisa melakukannya? Jelas-jelas ia sudah menganalis rute perjalanan mereka dan seharusnya tidak ada hambatan yang berarti.


Namun kenapa malah sekarang terjadi hal seperti ini?


'Ada hawa kekuatan lain....' Dewi bisa merasakannya sekarang.


Ia terlambat untuk tahu soal ini, namun dewi masih terlihat tenang.


Perjalanan masih harus ditempuh. Namun dewi tidak bisa melanjutkannya kalau ada kejadian seperti ini.


DDRRRRTTTT.....


Getarannya makin terasa, kekuatan seperti ini!


SSH.


Dengan cepat dewi mengumpulkan kekuatannya, kini tubuhnya dan pemuda itu bersinar terang!


SSRRRRR!


Gelombang air yang besar datang tiba-tiba! Dewi bertahan dengan kekuatannya sekarang!


Sementara itu dipermukaan terlihat gelombang laut yang membumbung tinggi.


Dewi bisa dengan mudah bertahan dari tekanan air yang besar, mengingat speasialisnya memang di situ.


"...." Kini raut wajah serius terlihat jelas dari sang dewi.


"Serahkan dia." Ditengah getaran dan gelombang yang kuat ini, terdengarlah suara berat bergema.


Dewi terdiam, dugaannya tepat. Ada dewa lain yang berkunjung ke alamnya.


Berkaca dari masa lalu, para dewa menganggapnya sepele karena ia hanya mengurus urusan remeh, menjaga pantai.


Membuat jarang atau bahkan tidak ada sama sekali dewa yang datang ke tempatnya.


SSSRRR....


Muncullah pusaran air besar dan akhirnya tampaklah sosok dewa yang dimaksud.


Berpenampilan seperti bapak muda berwibawa, memakai jubah biru yang menutupi tubuhnya sampai ke bawah.


Rambutnya panjang, sorot matanya tajam seolah penuh dengan kekuasaan.


"Dewa Long." Dewi sedikit menunduk, sudah lama ia tidak bertemu penguasa laut.


"Serahkan dia." Dewa Long langsung pada intinya, ia tipikal dewa yang tidak mau basa-basi.


Dewi terdiam, ia tak menyangka sang dewa laut tiba-tiba datang hanya untuk tujuan itu. Sepertinya pemuda ini memang sudah seterkenal itu.


"Kau bisa dapat bagianmu." Sang dewa mengangkat tangannya, ia tak keberatan berbagi sebagian kecil hadiah dengan dewi pantai.


Raut wajah serius dewi tidak berhenti di sini.


"Maaf dewa. Dia milikku." Dewi menatap tajam balik.


"...." Dewa Long tidak terlihat senang dengan respon seperti itu.


Sudah niat baik-baik datang dan memberi tawaran terbaik malah ditolak seperti itu? Siapa yang tidak akan tersinggung?


Dewi Tian tahu benar perkataannya membuat mood dewa laut jadi jelek. Namun itulah yang jadi keputusannya. Ia benar-benar tidak tertarik.

__ADS_1


"Dasar dewi rendahan." Sang pengauasa laut menatap tajam, ia mengangkat tangannya ke samping dan seketika itu juga munculah senjata tombak dengan ujung besi tajam tiga buah. Sebuah senjata yang memancarkan energi yang sangat hebat.


__ADS_2