Sistem Pendekar Terkuat

Sistem Pendekar Terkuat
Babak Akhir?


__ADS_3

Kenapa Nona Ying mengarahkan tangannya begitu?


Liu terdiam, ia belum paham apa maksudnya.


[Nona Ying ingin berjabat tangan Tuan]


‘Berjabat tangan? Salaman? OH!’ Liu sadar sekarang!


Dan mereka pun bersalaman.


Ying berusaha menahan perasaannya, dan perlahan kekuatannya pun kembali normal.


Liu terdiam, ia benar-benar tidak jadi patung es. Ini mantap sekali!


“KEAJAIBAN!” Kakek An tak bisa menahan rasa gembiranya.


“YAHAHA! KARAKTER UTAMA MANA MUNGKIN MATI DI SINI!” Shuwan menolak pinggang. Ia gembira juga sih.


[Pemulihan Qi berhasil… menguatkan Qi… mencegah hal serupa terjadi… memaksimalkan kewaspadaan]


‘Kita kalah sistem.’ Liu terdiam, termenung. Ia ingin memastikan dengan sistem.


[Benar Tuan, terkadang keinginan kita tidak selalu terwujud] Sistem terdengar bijak.


Apa ini waktunya mendengar kata-kata begitu ya?


Liu terdiam, yah ada benarnya juga apa kata sistem.


Pengennya sih menang, tapi kenyataan berkata lain.


‘JADI SEMUA SIKAP KERENKU TADI TIDAK ADA ARTINYA!?’ Liu baru sadar.


Kepercayaan diri yang dibangun runtuh begitu saja.


‘Yin-jie….’ Rekannya pun tidak ada lagi bersamanya.


[Sistem tidak menyangka musuhnya begitu kuat Tuan]


Liu terdiam, mau sadar atau tidak sudah pasti musuh utama akan selalu kuat.


Bahkan di dalam film dan permainan sekalipun, final boss adalah tantangan terbesar yang pernah dihadapi playernya.


‘Haaah….’ Liu menghela batinnya. Mungkin keinginannya menang mudah terlalu tidak masuk akal ya?


[Sebenarnya kita tidak sepenuhnya kalah Tuan]


‘HAAAAH….’ Liu masih menumpahkan rasa kecewanya, tak sadar apa yang dikatakn sistem.


Dan sistem mengulang lagi perkataannya.


‘EH YANG BENER KAMU SISTEM!?’ Jelas-jelas ia kalah! Meski tidak sampai mati, tapi tetap saka kalah!


[Dari pertarungan tadi Tuan bisa lebih mengerti musuh Tuan]


‘Lebih mengerti musuh?’ Yah, kalau ngobrol sih sudah mereka lakukan dari awal.


[Sistem tahu rencana akbar perempuan sesat itu, lengkap dengan solusi mencegahnya]


‘….’ Liu terdiam.


‘MASA SIH!?’ Yah helas-jelas ibu muda itu merencanakan sesuatu, dengan kitab gerbang dewa dan senjata dewa dan rekannya!


‘PASTI TIDAK JAUH DARI INGIN MENCARI KEKUATAN DEWA!’ Liu langsung mengatakan dugaannya!


Tidak salah lagi, ia tidak pernah merasa seyakin ini sebelumnya!


[Tuan sudah tahu?]


‘Eh?’ Bukannya itu sudah jelas ya? Lagipula untuk apa orang mencari Kitab Gerbang Dewa kalau bukan karena ingin jadi dewa?

__ADS_1


[….] Sistem terdiam, tuannya lebih pintar dari yang kelihatannya.


‘KAMU MIKIR APA SISTEM?’ Liu curiga.


[Apa Tuan sudah menemukan solusinya?]


‘….’ Liu terdiam, menghadapi makhluk berkekuatan dewa… apa solusinya ya kalau sudah begitu?


Yah sebenarnya sistem juga sudah berkekuatan dewa, namun Liu tidak menyadari juga.


Sistem terdiam, kenyataannya mereka sudah menghadapi makhluk kuat yang kekuatannya lebih dari dewa.


Memikirkan solusi menghadapi dewa adalah hal mudah, tapi mengalahkan makhluk yang lebih kuat dari dewa, itu lain cerita.


[TAPI TENANG SAJA TUAN!]


“EGH!?” Liu terperanjat.


“NAK!?” Kakek An kaget, anaknya kenapa ini!?


‘SISTEM!?’ Tidak biasanya sistem mengagetkan begini!


[Tidak sudah berpikir keras Tuan, sistem sudah menyiapkan solusi!]


Rasanya dia sudah mengatakannya deh.


‘Terima kasih?’ Liu tak tahu harus merespon apa.


“Hah.” Liu menghela nafas, jadi misinya gagal dan musuh utamanya kabur, rekannya dibawa.


Saat yang tepat untuk bersedih dan merenung.


Yah kesempatan besar untuk mengalahkan musuh utama lewat begitu saja.


Tapi tidak bisa dipungkiri kekuatan lawannya lebih diluar nalar dari yang dikira.


JADI SEMUANYA SALAH SISTEM.


Kalau saja ia datang dengan siap pasti!


[Menyalahkan yang lain adalah sikap tidak terpuji Tuan]


Menyalahkan orang adalah bentuk pembelaan diri yang buruk.


‘Maaf sistem.’ Liu terbawa suasana. Toh musuhnya datang tiba-tiba juga sih.


[Tuan percaya saja]


“KAU BAIK!?” Shuwan melihat seksama pemuda itu. Beberapa saat ini dia melamun saja sih.


“Ah.” Liu tersadar.


“Nak….” Kakek An menatapnya dengan seksama. Terlihat jelas tatapan bangga orang tua pada anaknya.


Liu terdiam, padahal ia pantas menerima tatapan kecewa.


“Kau sudah bertambah kuat nak.” Kakek An memeluknya lembut, bukan dramatisir, namun inilah perasaannya yang sesungguhnya.


Ia begitu lega karena Liu baik-baik saja. An tidak dapat memaafkan dirinya kalau-kalau kehilangan anaknya dua kali.


“Tapi kita kalah Kek.” Tidak ada yang bisa dibanggakan.


Kakek An tidak menggubris, ia tetap memeluknya hangat.


Setelah menghabiskan waktu, akhirnya Liu menjelaskan rencananya.


“Apa?” Kakek An tak percaya apa yang didengarnya.


“Kau segegabah itu?” Putri es menatap tajam.

__ADS_1


“APA KISAH INI MEMASUKI BABAK AKHIR?” Shuwan penasaran, pasalnya pemuda ini mau pergi seorang diri.


“Nak, lawanmu itu bukan manusia.” Tetua Api terdengar serius. Baginya apa yang didengarnya tidak lebih dari sekedar candaan.


Pergi sendirian menghentikan musuh besar itu sama saja bunuh diri.


Liu terdiam, sudah pasti dapat reaksi begini. Ia senang yang lain begitu peduli terhadapnya.


Jadi ingat lagi masa kecilnya, tidak ada yang benar-benar peduli kecuali Kakek An.


Tap.


“Aku akan pergi dengannya.” Tiba-tiba terdengar suara pria!


Sret.


Liu menoleh dan menatap heran. “OH, TUAN PEDAGANG?”


Sesosok pria memakai baju putih dengan masker putih. Liu ingat jelas siapa pria itu!


Jangan lupakan soal mata sipitnya yang tajam itu!


Dialah yang menjual belati merah di Kota Liuzhou!


Tidak sampai di situ. Dia turun dari kuda besar yang gagah yang sama sekali tak asing!


“SPEEDY!?” Itu kuda pemberian Tetua Nuan!


Liu baru ingat masalah kuda!


Kenapa tuan baju putih itu bisa datang bersamaan dengan kudanya!?


“Kau….” Kakek An terdiam, dia seolah tak percaya dengan yang dilihatnya….


‘Eh kakek mengenalnya?’ Apa mereka pernah bertemu?


“Fang Yuan.” Kakek An menatap serius.


“FANG YUAN?” Liu kaget dan tak percaya.


“Sudah lama Tetua An.” Pria serba putih itu membungkuk hormat.


“Fang Yuan yang itu?” Liu ingat selain Kakek An memang ada yang mengajarinya sedikit ilmu dan dialah…. FANG YUAN!


“Nak, sopanlah pada yang tua.” Kakek An mengingatkan.


Rasanya pernah mendengar kata-kata itu, sudah lama sih.


“Tuan Yuan kenapa?” Liu terheran. Ia baru tahu fakta mengejutkan ini.


“Aku tidak sedang ada di desa saat kejadian itu.” Yuan menjelaskan kenapa ia masih bernafas saat ini.


“Aku memutuskan berhenti dari jalan pendekar dan menjadi seorang pedagang.”


Selanjutnya mantan pendekar mata sipit menceritakan ia tidak kuat dengan jalan pendekar dan memilih jalan lain.


Liu terdiam. Tidak masalah menempuh jalan lain selama bukan jalan setan.


Tapi jalan pendekar dikenal sebagai satu jalan mutlak. Sangat jarang melihat pendekar yang meninggalkan jalannya sendiri.


Seorang yang meninggalkan jalan pendekar biasanya tidak dipercaya karena sudah melanggar jalan.


Tidak bisa dipungkiri Fang Yuan memutuskan hal ini tepat ketika tahu sekte pendekar sesat datang ke desa. Ia pikir semuanya sudah lenyap, hancur dan tak bersisa.


Karena keinginannya untuk tetap hidup masih ada. Fang Yuan akhirnya menempuh hidup baru. Ia jadi pedagang senjata dan barang lain, dan sejujurnya usahanya cukup sukses juga.


“Aku yang menyegel kekuatan belati merah.”


“!” Liu terdiam. Jadi itu sebabnya belati merah bisa aman-aman saja berada di kota waktu itu? Mengingat pancaran kekuatannya lemah dan sama seperti senjata lain.

__ADS_1


__ADS_2