Sistem Pendekar Terkuat

Sistem Pendekar Terkuat
Masuk


__ADS_3

SRRRINGGG!


Sinar terang kembali muncul seolah menelannya. Entah kenapa Liu merasa ada yang berbeda.


Perlahan ia membuka matanya.


Dan seketika itu juga dihadapannya sebuah tempat besar menjulang tinggi.


Liu baru pertama kali melihat bangunan sebesar itu, dan kini waktu sudah siang kembali.


[Sistem kembali]


'WOAH!' Bikin kaget aja! Padahal ia lagi melamun melihat bangunan besar ini!


[Oh Tuan sudah sampai di alam dewa awal] Sistem baru sadar, akhir-akhir ini ia sibuk 'membenahi' dirinya.


'Mode pemeliharaannya sudah selesai?'


[Sudah Tuan] Tumben tuannya ini peduli.


Yah, disamping sistem harus mengumpulkan energi lagi, ia juga harus 'memelihara' kekuatannya, agar tetap stabil dan maksimal ketika digunakan oleh tuannya.


"Sampai." Yahuan sendiri terpukau melihat bangunan yang sama. Baru pertama kali pula menginjakkan kaki di alam dewa awal.


'Kita harus cari ibu sesat sistem!' Nggak boleh buang-buang waktu lagi!


[Musuh Tuan tidak ada di sini]


'Lho? Bukannya ini alam dewa ya?' Liu pikir musuhnya ada di sini.


[Tuan belum tahu?]


'MULAI.' Bisa nggak sistem nggak buat marah lagi?


[Alam dewa terdiri dari beberapa tingkatan Tuan]


'Oh?' Liu baru tahu, kenapa rumit? Padahal tinggal alam dewa, udah begitu aja. Kenapa dipersulit sih?


[Memang sudah begitu dari sana-nya Tuan] Sistem tidak bisa mengubah apapun juga sih.


Liu terdiam, fakta baru terungkap, tapi yah setidaknya ia sudah ada dialam dewa sih.


Yang penting bersyukur saja.


'Jadi teknik yang pertama itu....' Yang pakai Kitab Immortal itu apa?


[Itu untuk pergi ke alam dewa tingkat tertinggi Tuan]


'....' Liu mengangguk paham, pantas saja sampai ngesot pun tetep aja susah biar tembus.


Yah kalau begitu pakai cara normal aja lah, nggak perlu yang aneh-aneh.


Liu tak mau membuat sistem kerja keras, dia bisa saja stress dan marah bukan?


[....] Sistem terdiam, tidak disangka tuannya begitu perhatian sampai seperti ini.


[Alam Dewa Awal. Gladiator Calon Senjata Pusaka]


'Ah jadi tempat besar ini, tempat tarung ya?' Liu jadi tahu sekarang.

__ADS_1


'TUNGGU APA?' Untuk apa mereka kemari?


"Mari masuk Tuan." Yahuan segera menarik tangannya dan agak berlari masuk ke bangunan bundar yang sangat luas itu.


Di pintu masuk.


Terlihat sepasang penjaga berzirah perak bersenjata tombak panjangg sedang berjaga di pintu masuk besar kokoh yang tertutup rapat.


"Kau." Mereka berdua memakai zirah yang sama, sekilas mereka berdua terlihat sama saja.


Yahuan menunduk dalam, memberi hormat, sedang Liu malah berdiri tegap saja.


'KOK NGGAK BISA GERAK?' Badannya tidak mau nurut, padahal sudah ia perintahkan buat memberi hormat!


Seluruh badannya tiba-tiba kaku!


'SISTEM!?' Ini pasti ulah sistemnya! Kenapa dia aneh-aneh saja sih!?


"Hm?" Kedua penjaga itu memerhatikan pemuda yang tidak memberi hormat ini.


Yah wajar saja di alam dewa awal, memberi hormat adalah tradisi luhur yang wajib dilakukan, terutama untuk tamu yang baru datang.


"...." Liu keringat dingin sembari memasang wajah pucat, diatatap kedua prajurit bersenjata lengkap lebih menegangkan dibanding melihat gadis cantik!


Yah meski pilihan kedua lebih baik sih, tapi terkadang kenyataan tak sesuai harapan!


Kedua prajurit itu terdiam, beberapa saat berlalu pun mereka tidak melihat pemuda asing ini memberi hormat, jadi yah mereka akhirnya mengabaikannya dulu.


"Kau belum layak, kenapa kemari?" Salah satu penjaga menatap tajam Yahuan.


'Mereka mengenalinya?' Liu baru tahu!


Terutama dari alam pertengahan, karena kedua alam ini saling berhubungan satu sama lain.


Yahuan terdiam, ia sadar ia belum pantas menginjakkan kakinya di alam dewa awal.


Tapi pada kenyataannya, kehadirannya di sini bukan untuk dirinya sendiri.


"Aku mengantarnya." Yahuan menunjuk pemuda yang berdiri di sampingnya.


'....' Entah kenapa situasi jadi tambah tegang. Liu berusaha tenang, tapi selain pikirannya, tidak ada lagi yang bisa ia kendalikan!


Mungkin sistemnya lagi eror? Kenapa di saat begini siih?


Alhasil Liu ditatap tajam lagi oleh kedua prajurit gagah berzirah lengkap ini.


"Siapa dia?" tanya seorang prajurit itu.


"Eh?" Yahuan terdiam, ia pikir pemuda ini terkenal di alam lain juga.


"Aku Xiao Liu." Liu membuka mulutnya, menatap tajam, suaranya berat dan gagah, meski sedikit dibuat-buat.


'MULUTKU GERAK SENDIRI!'


"?" Kedua prajurit penjaga itu tidak pernah mendengar nama itu. Atau setidaknya belum.


'Huuh, syukurlah mereka nggak kenal.' Liu pikir identitasnya dalam bahaya karena jelas-jelas ia adalah buronan dewa kematian.


'Eh tapi bukannya udah ada peringatan ya?'

__ADS_1


Kadang ada gempa bumi sama fenomena langit yang aneh, bukannya itu peringatan padanya ya.


BISA JADI DEWA JUGA MEMBOCORKAN IDENTITASNYA, DENGAN BEGITU IA MUDAH DITANGKAP.


Bukan hal yang sulit dewa nge-doxing incarannya. Malahan bisa saja dia membuat pengumuman di seluruh alam.


Kalau dipikirkan rasanya ngeri juga, tapi mau gimana lagi Liu nggak bisa lari dari kenyataan sih.


'Kalau sudah begini gimana dong?' Liu terdiam, apa perjalanannya berakhir di pintu gerbang begini.


"Kalian tidak tahu siapa aku?" Liu menatap tajam, sementara kekuatan mulai berkumpul dalam tubuhnya.


Prajurit itu melihat satu sama lain lagi, memang mereka tidak tahu siapa pemuda ini sih. Namun patut diakui kekuatan pendatang ini malah semakin bertambah besar.


Shhh...


Sampai muncul hempasan-hempasan angin kecil disekitarnya. Ini bukan gimmik, tapi benar-benar ia memang benar-benar serius!


'Dah lah.' Liu tak ambil pusing soal apa yang terjadi dalam dirinya.


Ia sudah kerasukan, dan yah mau gimana lagi.


Kedua prajurit itu terdiam, ekpresi mereka tidak terlihat karena terhalang helm gagahnya itu, namun bisa dipastikan mereka tahu pemuda yang datang ini bukanlah sembarang makhluk.


"Oh calon lain? Kami mengerti." Prajurit penjaga itu sadar dan akhirnya meminta Liu menghentikan aksinya.


Mereka agak heran kenapa tidak ada kabar sebelumnya soal calon lain, padahal biasanya para prajurit tahu siapa saja yang jadi calon senjata pusaka dewa.


Aura kekuatan pemuda ini sudah berbicara keras.


Dan jelas-jelas kekuatannya melebihi gadis merah yang disampingnya.


"Aku mengajaknya." Liu memegang tangan nona merah ini, tatapannya masih tajam.


"Tidak bisa." Para prajurit tidak boleh memasukkan orang tidak berkepentingan ke arena gladiator ini.


HUSSSSHHH!


Aura hempasannya makin kuat, bahkan sesekali terlihat berwarna biru, jelas-jelas Liu sedang mengancam di sini.


'Tuan....' Yahuan tak menyangka dia bakal mengajaknya.


Padahal sampai di sini saja sudah cukup, ia tidak mau ada keributan apapun.


Prajurit bersiaga, mereka memasang pose bertarung, tahu bahaya ada di hadapan mereka.


"Kami tidak bisa melanggar hukum!" Para prajurit itu langsung melakukan urusannya!


Jelas-jelas mereka harus menegakan aturan yang ada, yakni tidak memperbolehkan makhluk apapun yang tidak berkepentingan di alam ini.


Alam dewa awal tidak butuh makhluk lemah dari alam pertengahan. Mereka hanya peduli pada bibit unggul dan makhluk kekuatan berkekuatan besar saja.


"Majulah." Liu menantang kedua prajurit yang bersiap itu.


Yah, pemanasan setelah 'pemeliharaan' pasti menyenangkan.


HUSH


Seketika itu juga kedua prajurit maju bersamaan, begitu cepat bahkan sampai membuat Liu dan rekannya terhempas jauh.

__ADS_1


__ADS_2