Sistem Pendekar Terkuat

Sistem Pendekar Terkuat
Jujur


__ADS_3

Dewa berusaha mempertahankan sikap kerennya, namun entah kenapa lebih sulit dilakukan dari biasanya.


Padahal dewa punya kendali penuh atas dirinya, namun kenapa kepercayaan dirinya seolah pudar?


TIDAK! TIDAK MUNGKIN!


Alis dewa menurun tajam, perlahan namun pasti kekuatanya mulai terkumpul.


Namun tidak secepat biasanya mengingat ia baru saja mengeluarkan teknik terhebat miliknya.


Tidak peduli apa pikiran dan perasaannya dewa tetap mengumpulkan kekuatan dan tak berselang lama ia siap dengan kekuatan yang luar biasa melimpah.


[Ngeyel ya Tuan]


‘HEH.’ Bukan saatnya meremehkan lawan! Liu membenarnya kacamatanya, dan sekilas terlihat keren juga.


Sistem tidak menyangka dewa satu ini tetap melanjutkan pertarungan ini, padahal sudah jelas serangan terhebatnya tidak berefek apa-apa pada tuannya.


Sret.


Liu bersiap dengan kuda-kudanya. Ia tahu dewa akan maju lagi.


HUSH!


Sang dewa langsung melesat ke depan!


Kekuatannya begitu besar sampai setiap langkahnya meretakkan ‘realita’nya sendiri!


DBUMMM!!!


KRAK!


CRASSSH!!!


Satu dentuman yang membuat ‘realita’ dewa kembali hancur, dan kini mereka berdua melayang di tengah area hitam kosong, namun pandangan mereka masih bisa melihat dengan jelas.


Dewa ilusi dan Liu terhempas ke masing-masing sisi. Dan terdiam tanpa aksi.


‘Ini….’ ‘Realita’ kosong, sama seperti yang sebelumnya ketika mereka jatuh di ‘realita’ yang sepenuhnya hancur.


‘Sama kah?’ Rasanya Liu barusan ada di tempat ini deh tepat saat dewa melancarkan jurus hebatnya.


[Beda Tuan]


‘Oh?’ Apa bedanya? Sama-sama gelap sih….


Dengan cepat sistem menjelaskan apa bedanya.


‘HAH!?’ Liu tak percaya dengan apa yang didengarnya, begitu rumit dan cukup memusingkan!


Kedua area ini memang sama-sama realita kosong, namun nyatanya ada perbedaan yang besar.


Area kosong yang tuannya datangi sebelumnya saat diserang dewa adalah ‘realita absolut’ yang dimana lebih dari sekadar realita yang kosong saja.


Realita absolut adalah ruang hampa dimana tidak ada siapapun atau apapun didalamnya dan keberadaannya benar-benar misterius, sampai-sampai tidak dicatat di kitab manapun.


Bahkan tempat ini tetap misterius bagi kalangan dewa sekalipun. Sebuah tempat dimana hukum alam tidak berlaku dan tempat kekosongan yang tidak bisa diganggu gugat.


Tuannya bisa keluar dengan kacamata yang dipakainya, ini jelas hal yang sangat langka.


‘Realita kosong’ adalah tempat yang kini sedang dilihatnya bersama dewa. Tempat yang sama saat pertama kali ‘realita’ dewa hancur.


Tempat ini hanyalah ruang kosong yang wajar ditemukan saat sebuah ‘realita’ hancur.


Di sini hukum alam berlaku berbeda, namun tempat ini masihlah kategori standar, umum, dan biasa bagi para dewa.


Tidak hanya bagi dewa ilusi, namun realita yang hancur kerap bisa terjadi bilamana ada dua kekuatan sangat besar beradu satu sama lain.


Namun kemungkinannya jarang, pertarungan dewa-dewi pun berlangsung dashyat tanpa menghancurkan realita.


Hal ini tidak berlaku bagi Dewa Jue, ia mampu memanipulasi realita dan mengubahnya sesuai keinginannya. Jadi menghancurkan realita dan membuatnya lagi sudahlah makanan sehari-hari baginya.


Itulah yang membuat kepercayaan dirinya meningkat pesat dan menganggap dirinya lebih tinggi dari dewa lain. DAN YANG TERPENTING TEMPATNYA BUKAN DI ALAM MENENGAH!


Ia harusnya ada di tempat yang lebih tinggi lagi!


Hampir … hampir saja ia bisa mewujudkan mimpinya, tapi kenapa dia bisa lolos dari teknik terhebatnya!?


“….” Dewa menatap tajam, kalau begini tidak ada pilihan lain selain tetap maju.


Lawannya memang berhasil mengatasi serangan terhebatnya, namun bukan berarti dia sudah menang!


Shhh….


‘UH.’ Liu bisa merasakan tekad kuat dewa.


Bahkan realita kosong pun tidak bisa memendam tekad yang keluar dari sang dewa.


Shh!


Liu tak mau kalah, ia juga punya sesuatu yang diperjuangkan di sini!


Dewa menutup matanya, bersiap melakukan hal besar lain.


DRRRR!


Muncullah getaran mengerikan ditengah realita kosong ini!


“!”


Sangat keras sampai seolah menggetarkan jiwa juga!


Liu berusaha bertahan dari getaran brutal ini sembari melihat barangkali ada keanehan disekitarnya!


DAN TERNYATA TIDAK ADA SAMA SEKALI!


Dirinya masih ada di realita kosong, apa yang sebenarnya direncanakan dewa!?


‘SISTEM!?’ Liu bukan tipe orang yang suka goncangan, dan ia sendiri ragu apakah ada yang mau digoncangkan begini!?


[Bertahanlah Tuan] Sistem terdengar serius.


Tidak bisa dipungkiri dewa mempersiapkan sesuatu hal yang besar dan tidak ada pilihan lain selain menunggu apa yang sebenarnya dipersiapkannya.


Aura kekuatan dewa makin memuncak dan tidak ada yang tahu sampai mana kekuatannya itu, namun yang pasti ia akan menunjukkan sesuatu yang lebih keren dari penghancuran realita!


“Heh.” Dewa menunjukkan ekspresi brutalnya, begitu mengerikan dan mencekam.


Blizt!


“!”


Ada suara pergantian ‘realita’!


Namun anehnya mereka tetap berada di realita kosong juga!


‘APAAN TUH!?’ Liu mengedipkan matanya berkali-kali namun nggak ada yang berubah ah!


….


Seketika itu juga hening….

__ADS_1


“!?” Dewa terdiam, ekspresi brutalnya masih ada, namun sorot matanya tidak menandakan kepercayaan dirI.


Sangat beda dengan ekspresi awalnya yang penuh percaya diri, sorot mata memang tidak bisa dibohongi.


“….” Liu masih bersiaga sebagaimana mestinya. Seperti dugaannya, sang dewa memang tak mudah ditebak.


Bisa saja dewa sedang membingungkannya dan menyerangnya disaat yang tak terduga! Liu tak mau termakan strategi itu! Ia berusaha tak bingung di sini!


….


Kenyataannya memang begitu, namun lebih tepatnya tak hanya Liu yang bingung, namun sang dewa juga.


Ini tidak seperti yang ia rencanakan….


‘Kenapa?’ batin dewa, seharusnya rencananya ter-eksekusi sempurna di sini, tapi kenapa malah ngadat?


Sudah lama ia tidak menggunakan teknik ini, namun bukan berarti jadi tidak bisa juga! Ia punya kendali penuh bahkan di realita kosong sekalipun!


Tidak ada yang bisa menghentikannya di sini!


SRIING!


“!”


Seketika itu juga kacamata Liu bersinar terang, Liu tak menyangka, dan dewa lebih-lebih lagi.


“Lho?” Liu pikir ia tak bisa pake aksesoris dewa, lah kok tiba-tiba aktif sih?


Dengan cepat sistem menjelaskan alasannya.


‘OH!’ Liu baru sadar sekarang!


Ia tak bisa menggunakan aksesoris dewa di dalam ‘realita’ dewa saja, lain cerita kalau di luarnya!


Realita kosong jelas bukan ‘realita’ dewa, itulah sebabnya!


“….” Dewa terdiam, aaaah ia mengerti apa yang terjadi di sini.


Itulah sebabnya pemuda itu bisa bertahan dari teknik penghancur realita miliknya.


Semua ini tidak lain tidak bukan karena kacamata dewa sialan itu.


Keterkejutan dewa mereda, ia tidak menyangka pemuda itu bisa menggunakannya di saat terakhir, sebelum ia menghancurkan realita.


Jue terlalu percaya diri sudah menang, dan tidak memerhatikan betul situasinya.


Pantas saja tekniknya tertahan begini. Benar-benar merepotkan.


Siapa sangka pemuda itu bisa memanfaatkan potensial dari kacamata itu?


‘EH NGGAK SILAU.’ Pandangannya naik-baik saja meski kacamatanya nyala.


Yah itu bagus, nggak kebayang apa jadinya kalau pandangannya ikutan silau.


‘OKE.’ Dewa sudah mengerti apa yang terjadi.


Ekspresi dewa sudah mengatakannya, jadilah Liu tahu.


Dewa memainkan rambutnya lagi, kali ini tidak kelihatan keren, melainkan pusing.


Dewa Jue tidak berusaha tampak keren dan kuat, kini ia lebih jujur dan tidak jaim lagi.


Kenyataannya memang ini memusingkan, lawannya selalu saja mematahkan semangatnya.


Dewa Jue terkenal dengan sikap pantang menyerahnya, namun kalau dipatahkan berkali-kali ya pasti ada efeknya juga sih.


Untuk pertama kali setelah sekian lama ia menundukkan kepalanya.


Sebagai tokoh utama Liu setidaknya agak mengerti soal apa yang dirasakan dewa.


Ia tak pandai ceramah, menasihati atau menghadirkan kata-kata yang bisa menghibur dewa.


Yah pikir-pikir dua kali juga kalau mau ngehibur dewa sih.


Bisa jadi niat baiknya ditolak dan malah makin ngebuat dewa makin bad mood.


Lagipula dewa ilusi satu ini kelihatannya keras dan tetap akan berpegang taguh pada pendiriannya.


“!” Dewa tersentak seolah menyadari sesuatu, perlahan ia mengangkat kembali kepalanya.


‘Tuh kan.’ Sang dewa kembali ke ekspresi seriusnya.


‘APA YANG KUPIKIRKAN!?’ batin Jue, ia kebanyakan memperlihatkan sisi lemah pada lawan, itu jelas tidak bisa ditolelir!


Memperlihatkan sisi lemah di tengah pertarungan sama saja dengan menyerah! Ini sangat salah!


Jue mengingat lagi tekadnya, pemuda itu adalah targetnya dan mau sampai kapanpun tidak berubah! Ia harus melakukan sesuatu!


TAP.


Sang dewa mengambil langkah pertamanya, dan meneruskannya.


“….” Liu terdiam, ia tak melihat adanya strategi apapun dari sang dewa.


Beliau hanya maju dengan tangan kosong, dan tanpa persiapan apapun.


‘OIOI.’ Ini mengejutkan, kenapa bisa-bisanya sang dewa gegabah begini?


[….] Ini valid, sistem tidak merasakan adanya bahaya atau ancaman apapun darinya, jelas-jelas dia jalan santai.


Liu tak punya alasan apapun untuk tetap waspada. Memang dewa bertingkah aneh, namun dengan kekuatannya yang sekarang ia tahu, tidak ada siasat atau rencana tersembunyi apapun dari dewa.


Tap.


Akhirnya sang dewa berdiri berdekatan dengan Liu, dan kemudian tersungkur begitu saja.


“!” Eh? Dengan sigap Liu berusaha membangunkan sang dewa.


Namun dewa tetap bersimpuh di bawah. “Kenapa … kenapa tak menghabisisku???”


Nada suara memilukan yang tidak disangka keluar dari mulut dewa sekuat beliau.


“Srk!” Bahkan sampai keluar ingus juga….


Sang dewa beneran tidak peduli lagi dengan imagenya, ia hanya ingin tahu kenapa pemuda ini tidak mengakhirinya segera?


“….” Liu tak menyangka dewa berjalan sejauh itu hanya untuk bersimpuh dibawah kakinya.


Tak ada trik, fatal blow, plot twist atau apapun.


Dewa hanya mengibarkan bendera putihnya, itu saja.


Liu masih belum percaya, namun beginilah kenyataannya.


[Memancarkan aura kedamaian….]


Tak berselang lama dewa selesai dengan kesedihannya.


Sang dewa sudah menetapkan kriteria kekalahannya seperti apa.


Dewa memang tidak main-main dan asal rusuh ke pertarungan saja, namun sudah memikirkannya dari awal.

__ADS_1


Dengan kemampuannya yang hebat sekaligus lawannya yang tidak bisa menggunakan aksesoris dewa maka persentase kemenangannya meningkat drastis, dan keterlaluan sekali kalau kalah.


Namun kenyataan berkata lain, ia kalah dan sesuai dengan kriterianya sendiri: jikalau lawannya bisa menggunakan kekuatan kacamata dewa maka itulah akhirnya.


Sebagai mantan pemegang aksesoris kacamata dewa tentulah ia paling tahu bagaimana kekuatan itu berlawanan dengan kekuatannya sendiri.


Kekuatan asli kacamata dewa, adalah faktor utama kekalahannya….


Dewa mengangkat kepalanya dan bersiap untuk hukuman apapapun.


“….” UDAH KEBIASAAN MINTA HUKUMAN?


[Begitulah Tuan] Di alam dewa siapapun yang menang maka bisa melakukan apapun pada yang kalah.


Itulah peraturan yang berlaku untuk pertarungan biasa, beda lagi kalau hanya pertarungan persahabatan.


“….” HM. Jadi mau buat kek gimana dewa satu ini ya? Harus dipikirin baik-baik sih.


“BANGUN.” Akhirnya nada tegasnya keluar juga.


“….” Perlahan sang dewa bangun juga, sedang ia tertunduk tidak kuasa menunjukkan wajahnya.


Adalah hal yang wajar, sang dewa malu akan dirinya sendiri, gagal, tidak bisa menerima dirinya sendiri.


“Angkat wajahmu Dewa Jue.”


“….” Dewa menurutinya, bahkan lawannya sudah tahu namanya.


Sulit terbayang dalam benak dewa akan berapa banyak lagi kejutan yang bisa dilakukan olehnya?


Blizt.


Seketika itu juga mereka berpindah kembali ke hamparan rumput luas, ke tempat awal.


Dewa terdiam dan melihat sekitarnya, ia tidak melakukannya.


Sring.


Kacamata dewa nyala, dan benar saja sang karakter utama yang melakukannya.


Liu tak mau buat ini jadi rumit dan ingin cepat-cepat menyelesaikannya.


Dewa terdiam tidak percaya bisa pergi begitu sja tanpa menghapi hukuman apapun.


Padahal apa yang dibuatnya ini bukan hal sepele….


“ITULAH KEPUTUSANKU.” Liu menyilangkan tangannya di dada, tak menerima segala ke-ngeyelan apapun.


Dewa terdiam, masih tidak percaya makhluk yang lebih kuat darinya menunjukkan belas kasihan begini, namun itulah kenyataannya.


Sret.


Dewa menyodorkan sesuatu di tangannya.


“?” Sebuah buku yang bisa nyala?


APAAN NIH?


“Kekuatan aksesoris dewa tidak melekat selamanya, tapi kuharap ini bisa membantumu di masa depan.” Dewa terlihat serius meyakinkannya.


Liu menerima buku bercahaya itu dan perlahan dewa menghilang dalam retakan dimensi. “Semoga perjalananmu beruntung.”


HUSSSH….


Angin lembut mengantar kepergian dewa dan kini Liu terdiam sendiri di tengah padang rumput luas nan cerah.


“Seputar Realita???” Liu tak paham, namun keknya topik bukunya berat, tebel lagi.


MALES BACA DONG YA.


Yah sekarang pengennya bacaan ringan yang nggak bikin pusing sih.


SRING!


“WOWH!” MELEDAK!?


Bukunya bersinar terang gini! Waduh!


Tak lama sinarnya pun hilang bersamaan dengan bukunya.


“Eh?”


Entah kenapa pikirannya kek ter-refresh dan jadi tambah segar.


[Itulah Tuan, nikmatnya ilmu pengetahuan]


‘Oh?’


Tanpa disangka sistem menyerap semua intisari buku, itulah kenapa Liu merasa segar.


Dengan kata lain tuannya sudah membaca semua isi buku itu.


‘Wah.’ Ini bukan kali pertama, namun dari sejak awalpun semenjak adanya sistem Liu bisa baca buku dalam waktu singkat, tak peduli serumit atau setebal apapun bacaannya.


Ini mengubah persepsinya tentang belajar. Memang terkadang terkesan berat dan membosankan, namun dibalik itu semua ada manfaat yang menunjang kehidupan.


Sring.


Liu akhirnya bisa melepas kacamatanya. Pyuh, rasanya nggak beda jauh juga sih.


“WAH COCOK!” Ada suara di belakangnya!


“HAH!?” Dengan cepat Liu berbalik, musuh kah!?


“DEWI!?” Ternyata dewi rumput toh!


Dewi mengunjunginya lagi? Ini jarang sih.


Liu pikir dewi sibuk dengan urusannya….


“Huh?” Dewi memiringkan kepalanya, menaruh telunjuknya dibawah bibirnya. “Apa aku kelewatan sesuatu?”


“Ahaha.” Liu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Setelah ngecek keadaan dewi pergi lagi, memang sibuk ya.


Liu terdiam, kini ia punya empat aksesoris dewa, lumayan juga ya.


Sebenernya masih berapa banyak lagi sih?


Kalau sangat banyak sih nggak lucu ya, sampe kapan selesainya?


[Satu lagi Tuan]


‘Tuh kan.’


‘….’


“APA!?”


Nggak baik becanda dan memberi harapan palsu lho!

__ADS_1


[Itu benar Tuan] Sistem berkata apa adanya.


__ADS_2