
Kok ada dewi yang mirip dewi pohon yah?
Liu terdiam, ia masih waspada, dewi satu ini kelihatannya pemarah.
Padahal di awal suaranya lembut, namun kini beda, ia harus hati-hati.
"Hmmmhhh...." Dewi rambut hijau itu menggeram, ia masih tak senang sesudah salah dipanggil tadi.
"HMM...." Liu melakukan hal yang sama, ia jelas curiga akan kedatangan dewi tiba-tiba ini.
"Maaf dewi tapi saya harus pergi!" Liu tak punya waktu berurusan lebih lama dengan dewa-dewi yang tak ada hubungan dengan tujuannya.
Ia sudah banyak menghabiskan waktu, dan tak bisa menghabiskan lebih banyak waktu lagi!
"APA!?" Sang dewi hijau malah makin tak senang, bisa dibilang murka juga.
Sorot mata hijaunya lebih cerah dan terang dari Dewi Shu. Kini ia menatapnya tajam dan sekaligus mengumpulkan aura kekuatan.
'OIOI.' Sang dewi sudah siap!
SRET.
Liu pun memasang kuda-kudanya, bahkan lebih keren dari yang sebelumnya!
JANGAN-JANGAN DEWI SATU INI ANCAMAN YANG HARUS IA HADAPI!?
AKHIRNYA KETEMU JUGA!
Liu menatap tajam, ia tak boleh lengah lagi!
HUSH!
Sang dewi hijau langsung maju dan melancarkan serangan fisik!
WUSSSH!
Setiap serangannya menimbulkan hempasan angin yang kuat, namun dengan sigap Liu menghindarinya!
Serangan fisik dewi punya gaya yang tak biasa, namun ini juga bukan pertarungan fisik pertamanya, Liu mencoba beradaptasi dengan serangannya!
DBUM!
"!"
Liu terhempas kencang! Tak bisa dipungkiri kekuatan dewi jadi besar sekarang!
Srett....
Liu berusaha menahan tubuhnya dengan kakinya, namun tetap saja masih terseret jauh.
Shhh....
Asap keluar dari kedua tangannya, namun tak terlihat luka akibat serangan dewi.
'....' Liu terdiam, ia heran kenapa dewi tak langsung menyerangnya di awal dan malah bertingkah ramah. Padahal tujuannya tak lain tak bukan adalah momen sekarang ini.
[Sepertinya dewi punya tujuan tersendiri Tuan] Sistem memberi pendapatnya.
Liu setuju.
Yah bukannya ia ingin diserang dari awal juga sih. Itu jelas akan lebih merepotkan.
Mungkinkah dewi tak mau pakai cara kotor?
Bisa jadi begitu, itulah alasan yang paling masuk akal kenapa dewi tak menyerangnya dari awal.
"MINTA MAAFLAH!" Sang dewi menunjuk dengan wajah tegas.
"HAH!?" Liu tak merasa salah di sini!
Ia nggak salah kenapa harus minta maaf!?
"HHMMMHHH...." Dewi mendengus kesal, pemintaannya tak terwujud sama sekali.
"Kalau begitu...." Dewi rambut hijau tersenyum kecil, jelas senyum penuh rencana yang terlihat darinya.
TAP!
Liu langsung loncat namun tak sempat rerumputan hijau menahan pergerakannya!
"!?" Kenapa bisa begini!?
Liu menguatkan aura kekuatannya, namun tetap saja belum lepas dan rumput yang menjreatnya.
"KENA!"
"!"
BUAAGHH!!
SSWUUSSH!!!
Liu terhempas lagi! Bahkan lebih jauh dari yang sebelumnya!
Pukulan solid sang dewi mendarat tepat diwajahnya dan tak terhindarkan sama sekali!
'UKH.' Liu berusaha menjaga keseimbangannya. Namun masih sulit untuk menghentikan hempasannya.
'KUAT BANGET!' Tak bisa dipungkiri dewi mengejutkannya berkali-kali.
Bahkan dengan kekuatannya sekarang masih belum cukup untuk meredam serangan sang dewi.
[Tuan harus segera minta maaf]
'APA?' Kenapa sistem membahas ini sekarang?
Bukannya fokus ke pertarungan malah nyuruh yang enggak-enggak. Tentu saja ia tak akan minta maaf karena tak merasa bersalah!
SRET!
BRUGHH!
"Owww...." Liu terhenti oleh rerumputan yang menjeratnya lagi....
Dan sekarang ia terbaring menatap langit....
Terlihat jelas ada pertanyaan pada raut wajahnya.
Apa yang dipikirkannya tak jauh dari kenapa sang dewi menginginkannya minta maaf.
Padahal ia sama sekali tak melakukan hal brutal apapun. Dewi sendiri yang memulai pertarungan ini.
"...." Kalau dipikir-pikir lagi jarang juga ada yang musuh yang minta maaf pada lawannya.
Apalagi dewi yang notabene datang untuk menumbangkannya dan akan menyerahkannya pada dewa kematian.
SRET.
"CHECK MATE."
"!"
SANG DEWI ADA DI ATASNYA DAN BERLAGAK SEOLAH SEDANG MEMEGANG PISTOL! PADAHAL IA TAK MEMEGANG APAPUN!
"DUH." Entah kenapa Liu tak bergairah dalam pertarungan ini, tak biasanya begini juga sih.
BIasanya ia selalu semangat mempertahankannya nyawanya di setiap pertarungan yang datang padanya. Namun kali ini rasanya beda.
Mungkinkah ia jenuh karena sudah banyak bertarung? Tapi apapun alasannya sudah wajar kalau ia akan menghadapi banyak makhluk terutama dewa-dewi yang mengincarnya.
Mana mungkin mengandalkan mood. Bisa-bisa nggak bisa bertahan nantinya.
__ADS_1
Liu menelisik dirinya sendiri. Apa ini instingnya ataukah hanya perasaan tak berguna yang harus dibuang?
Sementara itu sang dewi sudah mempersiapkan sesuatu di tangannya. Kini ia terlihat memegang sesuatu.
PISTOL AURA HIJAU yang langsung terarah pada kepalanya.
Jelas ini tak bagus sih, musuh sudah mengunci target dan hanya tinggal menarik pelatuknya maka berakhirlah sudah.
Bukan tanpa alasan juga Liu tak segera melepaskan diri. Yah seperti yang sudah bisa diduga seluruh tubuhnya terikat oleh rerumputan.
Bukannya membuatnya termotivasi untuk lepas, malah sebaliknya, ia mager parah sekarang.
"HM HM HM~" Sang dewi mengeluarkan suara kebanggaan.
Sebuah selebrasi yang pantas dilakukan ketika berhasil menumbangkan lawannya.
Sang dewi tahu betul siapa yang dilawannya, termasuk status dan kehebatannya yang sudah menyebar ke seluruh alam dewa.
"...." Liu terus memerhatikan dewi satu ini. Emosinya cepat sekali berubahnya ya.
"APA LIHAT-LIHAT!?" Sang dewi mengancam dengan pistolnya.
"...." Liu langsung mengarahkan pandangannya ke arah lain, nggak diizinin ngeliat sih. Dan bersamaan dengan itu sang dewi bersenandung bahagia lagi.
INI ANEH.
Liu tak mengerti dengan apa yang terjadi.
Sang dewi tak segera menumbangkannya dengan fatal ataupun mengakhirinya. Ia masih menikmati momen dimana sudah berhasil memojokkan makhluk paling dicari se-alam dewa.
Kalau begini sih kelamaan ya.
Yah Liu tak menyalahkan dewi yang maunya begini sih. Tapi ia tak mau buang-buang waktu di sini.
Shhh....
Tanpa sepengetahuan dewi yang sedang bahagia dan menutup matanya, Liu berhasil melepaskan diri dan kini berdiri tak jauh darinya.
"...." Liu terdiam dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Yang pasti Liu menatapnya tanpa perasaan sama sekali. Begitu hampa dan kosong.
"Dewi?" Lama-lama bosan juga dan Liu pun menepuk pundaknya.
"HAH!?"
DOR!
DOR!
Sang dewi reflek langsung menembak dari jarak yang sangat dekat! Sungguhlah respon yang cepat!
Liu langsung memainkan kepalanya dan menghindari semua tembakan pistol sang dewi! Refleknya tak kalah cepat!
GREB.
Liu langsung memegang tangan dewi dengan keras.
"LEPASKAN!" Dewi berontak, memukul dan menendangnya.
Namun sayang sekali semua serangannya kini tak mempan sedikitpun, hanya menghasilkan hempasan gelombang kekuatan yang besar saja.
Tak ada rumput yang menjeratnya lagi juga.
"...." Liu masih menatap dengan tatapan hambar. Yah ia menunggu dewi tenang dulu sih.
"KE-NA-PA!?" Dewi terus mengerahkan tenaganya untuk melepaskan diri. Namun apa daya, usaha ia tak cukup kuat melakukannya.
Dewi heran padahal ia sudah banyak memojokkan lawannya tapi kenapa kini dia makin kuat?
Liu merasakan keheranan dari raut wajah sang dewi, namun ia malas untuk menjelaskan apapun.
Sudah cukup dengan main-mainnya. Ia beneran tak punya waktu untuk hal ini.
"AKSESORIS DEWA!?" Dewi tak bisa menahan kekagetannya.
'Baru sadar?' Liu terkesan, yah mungkin saja dewi terlalu fokus pada hal lain.
Yang memang begitulah kenyataannya.
Dewi terlalu bersemangat sampai lupa akan hal ini.
Yah Liu baru tahu juga aksesoris dewa tak memancarkan kekuatannya tadi.
"Maaf dewi, jangan halangi aku." Liu bertahan dengan tatapan hampa yang kini mengerikan. Ekspresi tanpa perasaan dan emosi yang sungguhlah terasa nyata.
"...." Dewi menurunkan alisnya, ia jelas tak senang dengan apa yang didengarnya.
Liu tak terpengaruh sama sekali dengan tatapan mengancam dewi.
[Ngeyel ya Tuan] Bahkan sistem pun berkomentar.
Liu setuju sih.
Seiring dengan berjalannya waktu kini Liu tak merasa dewi bener-bener serius mau menangkapnya.
Yah kalau serius tak mungkin dewi banyak menghabiskan waktunya begini. Dan pastinya memilih menyelesaikan semua ini secepat mungkin.
[Tapi bukannya ada dewa-dewi yang mengulur waktu juga Tuan]
Itu bener sih.
Tapi Liu bisa merasakan keseriusan yang mendalam saat bertarung, yang tak dirasakannya saat ini.
Dari awal pun Liu tak merasa ancaman serius dari sang dewi dan bertahan sampai sekarang. Itulah sebabnya ia mengkategorikan dewi hanya sedang main-main saja.
"Cari teman main yang lain ya." Liu menunjukkan senyum terpaksanya dan melepaskan dewi.
"...." Dewi terdiam, ia masih menatap pemuda ini dengan tajam.
"HIH! BERANINYA BICARA BEGITU PADAKU!" Dewi menunjuk lagi, namun tak ada tanda-tanda bakal menyerang.
Sret.
Liu langsung membalikkan badannya dan berjalan. Ia dipenuhi aura kekuatan yang membuat siapapun yang akan menyerangnya berpikir dua kali, bahkan untuk dewi sekalipun.
Dewi masih berdiri di tempatnya, tidak bisa dipungkiri memang ia ingin menyerang lagi, namun tahu apa yang dilakukannya pastilah tidak akan membuahkan hasil maksimal.
Ia sadar kekuatannya bukan sekedar rumor. Dan sadar pula dari awal pemuda itu hanya menahan diri saja.
"HEIII!" Dewi berteriak memanggil pemuda itu.
"...." Liu tak menggubrisnya dan tetap berjalan.
"AKU JUGA PUNYA AKSESORIS DEWA!"
SRET.
Liu langsung menghentikan langkahnya. Dan langsung memikirkan apa yang barusan dikatakan dewi.
'Ah mungkin bohong....'
Liu berjalan lagi. Mungkin saja itu trik dewi agar ia bisa terus bermain-main dengannya. Liu beneran tak mau menghabiskan waktunya untuk hal itu.
[Itu benar uan]
SRET.
Liu langsung berbalik dan dewi kelihatan berbeda.
"HEH LIHAT!" Dewi langsung menunjukkan pose kerennya.
__ADS_1
"...." KACAMATA?
Sang dewi kini memakai kacamata hitam elegan ditambah dengan posenya maka jadilah cocok untuk segera difoto.
"KAMU MENCARI INI KAN!?"
SYUT!
Liu langsung melesat maju, ia butuh memeriksanya dari jarak dekat.
"HEI!" Dewi berusaha menyingkirkan pemuda ini, dia kedeketan melihatnya!
Liu mundur dan terdiam.
"Hmmm...." Liu menaruh tangannya di dagu, tak bisa dipungkiri ia memang merasakan suatu energi dari kacamata hitam ini.
Jadi dewi satu ini beneran pemegang aksesoris dewa?
[Benar Tuan] Sistem bahkan sampai mengatakannya dua kali.
"BENERAN!?" Akhirnya ekspresi hampanya sirna juga dan berganti jadi ketidakpercayaan.
"HE HE HEH." Dewi terdengar bangga.
Liu terdiam, tak menyangka dewi satu ini ternyata adalah sosok yang dicarinya!
Liu yakin sang dewi hijau ini sudah tahu identitasnya. Yah bukannya sombong juga sih, hanya saja kemungkinan besarnya begitu.
Mungkinkah itu kenapa sang dewi menyerangnya?
Tak lain tak bukan karena untuk melindungi aksesoris dewa?
'Sistem beliau ini siapa sih?' Kenapa sistem tak kunjung nampilin status ya?
"Aku Dewi Rumput! Ingat ya!"
[Nah itu Tuan] Sang dewi sudah memperkenalkan dirinya terlebih dulu.
"Dewi rumput?"
Jadi itu sebabnya beliau berpenampilan hijau begini?
Liu baru tahu ada dewi aliran ini juga.
Tugasnya apa? Melihara rumput biar nggak layu?
"Huff...." Liu menutup mulutnya, jelas nahan emosinya sih.
"HEH JANGAN KETAWA YA!" Dewi tak senang melihat makhluk lain senang.
"Aduh maaf~ aha...." Liu berhasil juga menahan tawanya. Ia reflek dan tak ada niat menertawakan kok.
"HMH!" Dewi menggembungkan pipinya. Selalu saja makhluk lain merendahkannya padahal ia pemegang aksesoris dewa.
Memang tugas utamanya tidak sepenting dewi lain, namun setidaknya ia masih dipercayakan dengan tugas khusus yang sangat penting.
Dengan cepat Liu minta maaf atas ketidaksopanannya sebelumnya. Ia pikir dewi satu ini tak ada hubungannya dengan misinya.
"HMH! PUNYA TATAKRAMA JUGA YA!" Dewi menaruh kedua tangannya di pinggang.
Dewi terdiam, inti dari segala ini tentang penyerangannya tadi bukanlah karena ingin mempertahankan aksesoris dewa ini.
Namun lebih kepada marah karena pemuda itu salah mengenalinya dan malah menyebutkan rivalnya sendiri.
Kalau saja dia minta maaf pastilah tidak akan terjadi hal seperti ini.
Soal kenapa ia bisa tidak terdeteksi tentulah karena ia sedang berada di wilayahnya sendiri.
"Jadi aku bukan yang pertama ya," gumam Dewi.
"?" Liu terdiam, maksudnya apa ya?
"AH! LUPAKAN!" Dewi mengangkat kedua tangannya. Ia tidak bisa menahan ***********.
Dewi tidak menyangka buronan satu ini sudah punya banyak aksesoris dewa.
Sret.
Tanpa pikir panjang dewi melepas kacamatanya dan langsung menyerahkannya.
"Eh?" Langsung terima saja? Tak ada tes atau apapun?
"Cepat, tanganku pegel nih!" gerutu dewi.
Dewi tak berniat melakukan apapun selain menyerahkan aksesoris dewa. Sementara ini ia sudah merampungkan tugas khususnya sebagai penjaga aksesoris dewa.
"Haaah...." Dewi menghela nafasnya, akhirnya tidak ada lagi yang bisa dibanggakan darinya.
Dewi berbalik, berjongkok, dan melihat rumput bergoyang.
Liu terdiam, kenapa situasi jadi menyedihkan begini ya?
"Dewi?" Apa dewi sedih?
Liu tak tahu apa yang dipikirkan dewi, namun dari gerak-geriknya keknya lagi ada yang dipikirin sih.
Dewi tak merespon dan tetap begitu saja.
MUNGKIN DEWI LAGI NGEJALANIN TUGASNYA?
Itu bisa jadi, namun kecil kemungkinannya sih.
Liu akhirnya duduk disebelah dewi.
Dari sini terlihat jelas dewi sedang merenungkan sesuatu.
"Urusanmu sudah selesai kan? Pergi sana." Dewi berbalik lagi seolah tak mau diperhatikan.
Ia sudah tidak berguna lagi sekarang.
"Dewi tak perlu meyerahkannya kalau tak mau." Liu berniat mengembalikkan lagi aksesoris dewa yang telah diterimanya itu.
Dewi terdiam sejenak. "Bukan itu masalahnyaaa...."
Lantas apa dong?
Liu tak tahu kalau nggak dikasih tahu.
[Biasa Tuan, krisis identitas]
'AH!' Jadi itu sebabnya?
Kok sistem bisa tahu ya?
"Dewi hebat." Liu membuka mulutnya.
"HMPH, MULUT BUAYA."
"...."
"HEH KALAU ORANG NGOMONG DENGERIN YAH!" Liu tak lagi sabar.
"EMANGNYA LAKI-LAKI BISA DIPERCAYA!?" Dewi menoleh dan langsung menatap tajam!
Kini keduanya berdekatan dengan maksudnya masing-masing!
Liu yang berusaha menghiburnya dan dewi yang tak mau dihibur sama sekali!
Siapakah diantara mereka yang berhasil dengan tekadnya!?
Adu argumen pun tak terhindarkan. Dan akhirnya berujung pada keduanya yang terbaring di rerumputan hijau.
__ADS_1
"Tak ada dewi yang tak berguna." Liu memandang langit cerah. Suaranya pelan karena habis adu argumen tadi.