
Dewi akhirnya benar-benar terpukul mundur.
Ia tak bisa bertahan lama dari gempuran serangan pedang targetnya.
SRIKK!
Dewi menancapkan paksa pedang cahayanya ka bawah agar menahannya tak terseret lebih jauh.
Sshhh...
Tubuh dewi kembali berasap, aura kekuatannya menurun dratis.
Liu menatap tajam, rasanya gatal ingin terus nyerang, namun ia berusaha mengendalikan dirinya.
Dewi masih tertunduk, lagi-lagi tak menunjukkan ekspresi wajahnya.
"Sudah cukup dewi." Liu akhirnya membuka mulutnya, berhenti adalah opsi terbaik di sini.
Dewi terdiam sementara tubuhnya bercahaya lagi, tak mempedulikan tawaran itu.
-Tuan jangan ngasih keenakan-
'Eh?'
Ngasih keenakan? Maksudnya apa?
Dengan cepat kekuatan monsternya menjelaskannya. Bahwa tak semua dewa di alam ini mau berdamai, jadi untuk apa meminta berhenti?
Liu terdiam dan paham juga.
Sang dewi mengangkat kepalanya dan menatap tajam, memang benar tak ada tanda-tanda dewi mau berhenti juga.
Ya udah kalau nggak mau sih. Liu tak bisa memaksa juga.
SWUSH!
Aura kekuatan dewi meningkat drastis, kini tak hanya tambah terang namun juga hempasan kencang tercipta dari tubuhnya.
Ekspresi dewi sudah mengatakan semuanya, mau bagaimanapun kekesalannya sudah tak bisa ditutup-tutupi lagi.
Sret.
Liu bersiap dengan kuda-kudanya, kalau dewi marah ya apa boleh buat, itu di luar kendalinya juga.
Yang perlu ia lakukan hanyalah tidak berakhir di sini.
SWWUSH!
Dewi dan Liu maju bersama!
BRAAAGHH!!!
SWWUUSHHH!!!
Hempasan super kuat tercipta seketika itu juga.
Kini mereka berdua mengerahkan teknik fisiknya, gerakannya sangat cepat dan bahkan level kekuatannya melebihi teknik pedang ataupun serangan skala luas.
Kini pertarungan kembali ke bentuknya yang sederhana, adu jotos satu sama lain, terlihat jelas mereka menggunakan banyak teknik demi tetap berada di atas awan.
BUAAGH!
Tak ada satupun yang mundur, Liu dan sang dewi tetap melancarkan serangan fisik terbaiknya. Sungguhlah pemandangan yang sulit dilihat mata.
Dari gerakan dan banyaknya teknik yang berlangsung di waktu sangat singkat, tak ada hal yang lebih tepat untuk menjelaskan apa yang terjadi sekarang selain keduanya sedang berusaha membuktikan tekad masing-masing.
Dewi Xihe yang sangat yakin sudah datang disaat yang tepat dan akan membawa target dewa kematian itu, sedang Xiao Liu yang tak mau kalah dan ingin terus bertahan.
Kilatan-kilatan cahaya menghiasi seluruh area bundar ini, dan makin banyak kerusakan akibat pertarungan yang sedang terjadi.
Bahkan sekuat-sekuatnya area khusus pertarungan ini, akhirnya mulai terlihat juga kerusakannya.
Banyak bagian sisi area yang hancur dan butuh waktu untuk kembali lagi, singkatnya arena pertarungan ini bahkan tak bisa membendung kekuatan pertarungan fisik kedua makhluk ini.
KABOOOMMM!!!
BRAGH!
Liu dan dewi terhempas ke sisi yang berlawanan dan langsung menabrak sisi arena.
Debu tanah pun langsung menyelimuti seluruh area khusus ini, dan tak ada yang berusaha langsung menyingkirkannya.
Dewi beranjak dari dari reruntuhan dinding yang hancur dan kini melihat tajam ke depan.
Dewi tak menyangka pemuda itu bisa menyaingi kekuatan fisiknya, padahal ia sudah menggunakan kekuatan terbesarnya.
Bukannya semakin lemah karena berbagai luka malahan sebaliknya, dia semakin kuat.
Dewi terdiam, ia baru sadar akan hal ini, sementara terlihat sinar mentari di atas sudah mulai beranjak dari posisi awalnya.
SWUSH!
Sang dewi langsung mengibaskan debua tanah yang mengepul dan benar saja targetnya terlihat sudah siap di sana.
Bagaimana mungkin kekuatannya sama sekali tak berkurang setelah apa yang terjadi tadi?
Dewi tak bisa menahan ekspresi wajah herannya.
Liu memang sudah siap dari tadi, karena dewi tak mau berhenti, ya ia akan meladeninya sampai kapanpun.
"Kau tak menggunakan teknik itu lagi?" Dewi pun membuka mulutnya, nada suaranya dingin dan ingin penjelasan.
'?' Teknik itu? Liu banyak ngeluarin jurus sih sebelumnya.
-Teknik hujan Tuan-
'OH!' Jadi itu? Kenapa dewi menanyakannya?
Dewi tahu di tingkat kekuatannya yang sekarang pemuda itu bisa mengeluarkan teknik itu berkali-kali.
"...." Begitu ya, Liu sudah dengar semuanya dari kekuatan monsternya.
__ADS_1
Sang dewi penasaran kenapa dirinya tak menggunakan teknik efektif untuk melawannya.
Liu sendiri sudah tahu dari awal kekuatan sang dewi memang bergantung pada sinar mentari.
Dengan menggunakan teknik hujan api tadi sinar dari atas berkurang drastis dan membuat dewi tak sekuat biasanya.
"Tidak akan seru dewi." Liu tersenyum kecil.
Dewi terdiam, ia tak merasa ada senyum atau nada meremehkan.
Padahal bisa saja dia jawab seenaknya, lagipula dia dengan kekuatan anehnya masih unggul darinya.
Jadi dia hanya ingin bersenang-senang?
'Eh aku nggak salah ngomong kan?' Liu nggak kepikiran buat jawab yang lain sih. Dan tak berniat membuat marah musuhnya juga.
Liu tipe orang yang suka meng-ekploitasi trik atau apapun juga sih.
-Kalau ada yang susah, kenapa harus yang mudah?-
'Nah.' TBT ngerti juga ya.
Liu sadar bertarung dengan dewi tentu tak boleh asal-asalan dan ia benar-benar menghormati sang dewi.
Karena itulah ia tak atau belum lagi menggunakan trik yang sama.
"Hmh." Dewi tak bisa menahan senyumnya.
"?" Liu terdiam dan semakin bersiaga, bisa jadi senyuman itu awal comeback yang epik dari sang dewi!
Dewi masih mempertahankan senyumannya itu, dan tak ada aura bahaya apapun yang terpancar....
Perlahan namun pasti tubuh dewi tak lagi memancarkan cahaya terang. Kini jadi gaun putih indah biasa saja.
"...." Apaan artinya ya? Liu pikir dewi bakal lebih glowing lagi, namun ternyata enggak ya?
"Xiao Liu, hmh, aneh." Dewi menggelengkan kepalanya, nadanya tetap dingin namun ia kelihatan terhibur.
"...." Aneh? Yah itu kata yang cocok buatnya sih Liu juga nggak mau ngaca dulu, keadaan tubuhnya sungguhlah bisa membuat shock.
-Ada banyak luka....-
'JANGAN BIKIN TAMBAH SEREM.' Sejak kapan kekuatan monsternya jadi usil begini?
"Dewi?" Liu tak tahu apa yang direncanakannya, namun kenapa dewi bisa sesantai ini? Bukankah beliau masih mengincarnya?
"Panggil saja Xihe." Dewi menanggalkan jubahnya.
SRET.
Liu langsung balik badan dong.
-Kenapa Tuan?- TBT heran.
'Kamu nggak lihat? Dewi ngebuka jubahnya lho.' Mana mungkin ia terang-terangan ngeliatnya?
-Tenang saja Tuan, ada cahaya sensor dari langit, tak bahaya kok-
'O-oh?' Liu baru tahu ada yang begituan, dan kini dewi tak lagi memakai gaun putih.
Kenapa sape ganti baju begini?
-Itu menunjukkan dewi sudah percaya pada Tuan-
'Oh?' Liu baru tahu kekuatan monsternya tahu banyak soal alam dewa. APA JANGAN-JANGAN DIA ADALAH PENYUSUP ALAM DEWA?
-....- TBT tak menyangka tuannya sendiri curiga padanya, tapi yah itu bisa dimaklumi. Kekuatan monster seharusnya tak tahu banyak tentang alam ini.
Tentu saja karena bukan bidangnya, sejatinya ranah TBT memang di alam monster.
Namun ia dapat bocoran kekuatan berupa info dari kekuatan lain tuannya, ya, dari sistem.
TBT bisa mengakses info sistem dan langsung meneruskannya pada tuannya, karena itulah ia kelihatan tahu banyak, padahal tidak begitu juga sih.
Dewi sudah percaya.... Itu berarti?
"Kau dapat pengakuanku, buronan dewa kematian." Dewi tetap terdengar dingin, namun sorot matanya tak setajam awal.
Liu terdiam, yah ia pikir setelah berakhir sang dewi bakal berubah jadi sehangat mentari, namun ternyata tetep aja sih.
"Kau bisa melakukan apapun padaku." Dewi terdengar serius. Ia sudah siap dengan konsekuensi yang menunggunya; yang kuat boleh melakukan apapun pada yang lemah.
Nyatanya dewi masih mampu untuk tetap melanjutkan pertarungan, namun ia memutuskan berhenti.
Bukan tanpa alasan, namun lebih kepada 'pointless' saja.
Dewi tak mau membuang kekuatannya untuk pertarungan yang tak bisa dimenangkan. Sejak awal ia begitu yakin bakal bisa menumbangkan targetnya yang sudah dalam keadaan lemah.
Namun kenyataan berkata lain, semakin lemah targetnya malah semakin besar kekuatannya. Pemuda ini memang pantas memakai julukan 'buronan dewa kematian.'
SOAL HUKUMAN LAGI? Jawabannya tak berubah, dengan cepat Liu menjelaskan bahwa ia tak menghukum siapapun.
Kalau ada yang berhadapan dengannya maka itu adalah bagus. Itu artinya ia cukup penting untuk berurusan dengan dewa.
"...." Dewi Xihe tak menyangka dia semurah hati ini.
Apa dia berlaku seperti ini pada setiap dewa yang ditemuinya?
"?" Dewi terus menatapnya dengan penuh arti, Liu melambaikan tangannya berusaha membuat dewi berhenti melamun.
"Ah." Dewi menggelengkan kepalanya, jarang-jarang ia melamun begini.
"Aku sudah menghajarmu." Dewi terlihat ingin bertanggung jawab. Mengingat penampilannya jauh lebih buruk dari awal.
"Ah, tenang saja dewi." Liu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ini sudah risiko pertarungan juga sih.
Tak peduli apa yang terjadi pada tubuhnya, asal ia masih nafas itu sudah lebih dari cukup.
Dengan cepat dewi bertanya soal kekuatan yang ada padanya, ia penasaran soal aura merah yang ada padanya dan tanda merah seperti api yang ada di sekujur tubuh pemuda itu.
Kenapa bisa-bisanya dia yang tak pakai aksesoris dewa pun bisa mengalahkannya semudah ini?
__ADS_1
"...." MALAH JADI DISKUSI? Yah itu tak masalah sama sekali.
Tapi ... apa aman memberi tahu info begini pada dewi?
-Tenang saja Tuan, dewi tak akan menyerang diam-diam atau kembali melanjutkan pertarungan- TBT tak mendeteksi aura kejahatan dari sang dewi.
"...." Liu sendiri yakin dewi sudah tahu soal kekuatannya dari awal.
Kenyataannya memang dewi sudah tahu, hanya saja sang dewi butuh penjelasan lebih.
Soal aura kekuatan jahat yang terpancar darinya, dewi pikir target dewa kematian ini tak punya hawa kekuatan sejahat itu.
"Ada monster di dalamku." Liu tersenyum kecil.
"Oh?" Dewi baru tahu, dan dengan segera Liu menunjukkan tanda tengkorak kemerahan.
Ia masih heran kenapa dewi tak sadar dengan kekuatannya? Bukankah pengetahuan dewa dewi sangatlah luas adanya.
-TBT menyamarkan kekuatan Tuan-
'OH?' Liu tak menyangka, jadi itu sebabnya dewi kurang sadar?
Akhirnya Liu tahu kekuatan monsternya bertambah seiring dengan bertambahnya level.
Kini ia bisa menyamarkan kemampuannya? Itu hebat!
Liu tak menyangka kemampuannya bekerja pada dewi yang begitu kuat ini.
Dewi terdiam, pantas saja terasa aura kejahatan darinya. Pemuda ini ternyata sudah bersiap sebelum datang ke alam dewa, yang tentunya itu bagus.
Kekuatan monsternya itu benar-benar mengubahnya jadi monster. Tidak peduli dengan apapun kecuali terus bertarung.
Hal ini menjelaskan juga kenapa dia semakin kuat dari waktu ke waktu. Kekuatan monsterlah yang membuat semua itu jadi mungkin.
Liu sendiri tak menyangka TBT bisa sekuat ini juga sih.
Ia pikir kekuatan monster tak ada bandingannya dengan kekuatan dewa, namun ternyata tidak sesuai pikirannya.
Disaat tak ada yang bisa diandalkannya, TBT datang di momen yang tepat dan meng-carry-nya bertahan melawan dewi.
"Kenapa bisa sekuat itu?" Dewi penasaran.
'ITULAH YANG SEDANG KUPIKIRKAN.' Dewi sudah nanya duluan, Liu belum siap dengan jawabannya sih.
Dengan cepat TBT menjelaskannya dan Liu diam penuh perhatian.
"Hm." Liu jadi lebih paham sekarang, alasannya ternyata tak serumit yang ia kira.
Sama halnya dengan kekuatan sistem yang makin kuat seiring dengan levelnya, begitupula dengan kekuatan monster.
Jangan samakan kekuatan TBT yang dulu dengan yang sekarang, tentulah sekarang lebih kuat bahkan bisa bersaing dengan sistem.
"...." Dewi paham, kenyataannya kekuatan monster memang bukan kekuatan stagnan, namun tak disangka bisa sampai sangat merepotkan juga.
"Hmh." Dewi tersenyum lagi, ia sudah tercerahkan dengan semua penjelasan ini.
"...." Liu tak tahu kenapa dewi penasaran soal ini, padahal jelas dewi sudah sangat kuat.
Faktanya Dewi Xihe cenderung ingin tahu soal kekuatan dari makhluk yang sudah dilawannya. Dan ia juga punya banyak info soal dewa-dewi lain yang sudah berhadapan dengannya.
Sret.
Dewi mengarahkan tangannya dan seketika itu juga muncullah buku bersinar di tangannya.
"?"
"Aku bukan pemegang aksesoris dewa, tapi kuharap ini bisa membantumu." Dewi meyakinkannya untuk mengambil benda itu.
"...." Entahlah, Liu masih was-was melihat yang terang-terang begini, takut meledak.
Dewi memegang tangannya dan memaksanya menerimanya. Yah Liu tak bisa terus menolaknya sih.
Lagipula tak ada hawa aneh-aneh dari sang dewi. Tak mungkin dewi iseng memberikan sesuatu yang bahaya padanya.
Dewi tersenyum kecil dan mengucapkan salam perpisahan klasik dan langsung pergi begitu saja.
"...." Liu terdiam dengan heran, bahkan dewi tak menjelaskan soal buku ini.
Ini pertama kalinya melihat buku yang nyala begini. Apa huruf-hurufnya bakal kelihatan jelas ya? Agak silau sih.
Hanya ada satu cara untuk menjawabnya, perlahan namun pasti Liu membuka buku itu.
SRIINGG!
'!' Cahaya terang langsung muncul!
"UGH." Liu memicingkan matanya, kalau begini ia nggak bisa lihat isinya sih. Dewi nggak ngasih kacamata anti silau atau apapun tadi.
APA BAKAL MELEDAK?
Liu agak panik, tapi pas mau dilemparin buku itu hilang sekejap mata.
"LHO?" Liu tak mengerti, tapi ya sudahlah yang penting tak meledak.
"Uh." Liu memegang kepalanya, entah kenapa tiba-tiba pusing.
Mungkinkah ia terlalu banyak menggunakan kekuatan?
Liu menggelengkan kepalanya, namun pusingnya tak menghilang juga sih.
-Tetaplah berjuang Tuan, until we meet again-
"!?" Kekuatan monsternya bisa bahasa asing!? Liu baru tahu!
Tapi kenapa itu terdengar seperti salam perpisahan? Emangnya mau kemana?
SRING!
Seketika itu juga sinar biru terang muncul dari tubuhnya dan sangat menyilaukan dan bertahan beberapa saat.
Seiringan dengan itu tanda tengkoraknya mulai bersinar biru lagi dan sebaliknya, kekuatan aura merah perlahan menghilang dari tubuhnya.
__ADS_1
Liu terdiam melihat apa yang terjadi dengan tubuhnya, jelas ia tak melakukan apapun namun semoga saja yang terjadi ini bukan hal bahaya.
Tak lama sinar kebiruan itu mulai menghilang dan entah kenapa ia merasa sangat segar.