
Iris tipis-tipis?
Emangnya bawang? Liu tak mengerti apa yang dimaksud sistemnya.
[Tuan akan membuat dewi sadar dengan kekuatan Tuan]
'Aaah.' Liu lebih paham sekarang.
Jadi tak ada pilihan lain selain melanjutkan pertarungan ya?
Yah Liu bisa memakluminya. Terkadang perbuatan bicara lebih keras dari kata-kata.
Apapun motivasi dan tujuan dewi, ujung-ujungnya berkaitan sama dewa kematian juga.
Jadi yah, Liu tak perlu heran lagi setiap kali dewa datang ya tujuannya pasti begitu juga.
"Tinggalkan...." Tak disangka dewi membuka mulutnya lagi.
"Apa?" Liu terdiam.
"Tempat ini...." Dewi melanjutkan perkataannya.
Tinggalkan tempat ini?
Dewi bayangan tak mengincarnya?
"Pengganggu...."
Liu terdiam, jelas dewi menghemat tenaga nggak bicara panjang lebar.
[Sepertinya Tuan salah paham]
'KAMU JUGA SALAH PAHAM.' Liu tak suka disalahkan sendiri di sini.
Kesempatan! Dengan cepat Liu mengatakan apa yang harus dikatakan.
"Xiao Liu....?" Dewi terdiam.
"PYUH." Liu menghela nafas lega, yah ternyata ia tak begitu terkenal, yang itu artinya bagus!
"Xiao Liu!?" Dewi terlihat menyadari sesuatu sekarang.
[....] Sistem terkesan ada dewi yang tidak kenal tuannya.
"Yang itu!?"
'KENAL?' Ternyata cuman telat sadar aja toh?
"Ke- kenapa kau ada di sini!?" Dewi terlihat panik. Suaranya yang dingin bernada kecil dipaksa keluar.
Reaksi biasa untuk siapapun yang kaget. Namun Liu tak menyangka dewi bisa seterkejut ini, seolah keluar dari sifat karakternya.
Liu terdiam, padahal jelas ia tak menyembunyikan aura kekuatannya, namun kok dewi baru sadar sekarang?
Dewi Bayangan terdiam, terlihat masih memproses informasi yang baru diketahuinya.
"Aaah, kambuh lagi," gumam dewi.
"?" Suaranya sangat pelan, namun Liu tetap bisa mendengarnya. Yah akhir-akhir ini pendengarannya sensitif juga sih.
Apa dewi sakit?
MASA DEWA BISA SAKIT?
[Sepertinya tidak begitu Tuan] Sistem tak setuju.
Dewi tidak terlihat siaga lagi, melainkan lebih banyak diam dan termenung. Jelas perilaku begini merugikan di tengah pertarungan sih.
Liu tetap waspada, namun ia penasaran apa yang dewi pikirkan.
Dewi tak terlihat memikirkan strategi.
Yang pada kenyataannya memang benar begitu..
Dewi Yinying terdiam, ia berusaha terlihat tenang.
"...." Liu menunggu dewi melepaskan ketegangannya. Ternyata tak hanya dirinya yang merenung, bahkan sekelas dewa juga melakukannya ya?
Aura kemisteriusan yang kental. Liu tak bisa menebak apa yang dipikirkan dewi.
....
Waktu pun terus berjalan ... Liu masih menunggu sang dewi....
...
"DEWI!?" Akhirnya kesabarannya pun habis.
"...." Dewi makin tenggelam dalam pikirannya sendiri dan tidak menggubris sama sekali.
"HM." Liu mendekati dewi dan menepuk pundaknya.
__ADS_1
"A!?" Dewi terkejut dan mundur ke belakang.
Bukannya berhenti merenung malah keterusan. Tidak bisa dipungkiri Liu juga melakukannya sih.
Rasanya tak ada yang bisa mengganggu kalau keterusan memikirkan sesuatu.
Tapi Liu tak punya waktu banyak buat nunggu dewi sadar sendiri sih.
Dewi langsung terlihat waspada lagi, ia tidak menyangka pemuda itu tidak menyerang.
"Xiao Liu ... yang itu....?" Akhirnya dewi membuka mulutnya lagi.
Liu mengangguk kecil. "Benar dewi. Saya buronan dewa kematian."
"Saya pikir dewi sudah tahu dari awal."
"Aku ... tidak ... mengikuti berita ...." Dewi terlihat menyesal.
'Berita?'
'EMANGNYA PAKE BERITA GIMANA?' Liu pikir dari aura kekuatan saja para dewa sudah bisa tahu identitasnya yang sebenarnya.
[Sepertinya dewi hanya tidak peduli Tuan]
Liu terdiam, ia baru tahu ada dewa yang tidak peduli soal ini. Tapi yah itu berarti dewi bayangan bukan musuhnya bukan?
Dewi bukan mengincarnya, namun mengusir pengganggu.
'....' Dewi ingat perkataan dewi cinta. Memang ia harus berkunjung ke Kota Malam ini.
Sret.
Tanpa pikir panjang Liu menunjukkan kunci keemasan yang didapatnya sebelumnya.
Liu yakin dewi akan lebih mengerti setelah melihat benda ini.
"Dewi Ai?" Dewi Yinying terdiam. Kenapa pemuda ini punya kunci sang dewi cinta?
.....
KEKNYA HARUS TETEP DIJELASIN SIH.
Liu bisa melihat raut wajah heran dan penuh pertanyaan dewi.
Liu menjelaskan tujuannya dengan singkat padat dan jelas.
"Dewi Ai ...." Dewi Bayangan sepertinya sudah lebih paham situasinya.
Memang dewi mendengar rumor dewa kematian mencari seseorang. Namun ia hanya peduli pada urusannya sendiri. Namun pemuda ini sudah tersebar luas kemana-mana.
[Itu saking tidak pedulinya dewi Tuan] Sistem mengulang pendapatnya.
'Oooh.' Bahkan sekelas dewi ada yang tak peduli identitas lawannya?
[Dewi Yinying tidak suka diganggu Tuan] Sistem dapat info sedikit.
Begitu ya.
Liu tak ada niat mengganggu, namun pada akhirnya ia tetep mengganggu juga sih.
Kedatangannya yang tak diundang di alam dewa sudah lebih dari menganggu.
"Maaf dewi, tapi saya butuh bantuan dewi." Liu sudah menjelaskan semuanya. Kini hanya tergantung pada dewi saja.
Sang dewi terdiam. Tidak disangka ia akan bertemu buronan terbesar di alam dewa.
"... kematian menunggumu...." Dewi akhirnya menatapnya dengan seksama.
Dewi tidak ingat makhluk apa yang selamat dari dewa kematian. Yang pasti semua yang berurusan dengannya sudah pasti menerima takdir buruk.
Liu tersenyum kecil. "Saya tahu dewi." Ia senang dewi sampai berpikir ke sana.
Yah tak usah memikirkan apa yang akan terjadi pada seorang buronan juga sih.
Dewi terdiam, ia hanya mengingatkan pemuda itu bahwa tujuannya ini sia-sia saja.
Tidak ada yang bisa lari dari dewa kematian.
"Saya akan menemuinya langsung."
"!" Dewi terhening.
"Setelah urusan saya selesai." Liu tersenyum lagi, yah dari awal tujuannya memang untuk mencari dewi yang sudah memberinya kesempatan kedua.
Dewi terdiam, kenapa pemuda ini tidak memilih pilihan terbaik? Menghindar dan menikmati hidup selagi masih ada waktu dan malah berjalan menuju takdir terburuknya itu?
Liu terdiam juga, kenapa dewi yang tak peduli jadi tiba-tiba peduli?
KEKNYA DEWI KELUAR DARI KARAKTERNYA. Liu malah jadi makin yakin deh.
Sret.
__ADS_1
"Dewi?"
Entah kenapa dewi malah memasang kuda-kuda.
DEG!
"!?" Sesak! Rasanya tubuhnya ditekan dari segala arah!
MUNGKINKAH!?
Krttt....
Benarlah dugaannya. Kekuatan bayangan hitam sang dewi berulah!
Sungguhlah kejadian yang tak disangka!
JADI DEWI JADI MUSUH SEKARANG!?
Liu tak menyangka pembicaaraan tadi malah memimpinnya pada kelanjutan pertarungan yang tak diinginkan.
[AKSELERASI QI]
'LHO?' Kok kek ada yang beda ya?
Kenapa tulisan sistemnya jadi besar-besar begitu? Padahal sistem jarang pake huruf kapital.
"Buktikanlah...." Dewi menatap tajam. Jelas ia meningkatkan kekuatan lebih jauh lagi.
Dewi menutup matanya dan membukanya perlahan, aura misterius yang kental makin membuat tak nyaman.
"Bayangan Kematian."
"!" Kok nama jurusnya ngeri begitu!?
Memang begitulah kenyataannya. Sang dewi langsung mengeluarkan teknik terhebatnya.
[....] Bahkan sampai melampaui kekuatan tuannya. Sungguhlah teknik unik.
"UKH." Liu terdiam kaku, rasanya makin terhimpit dan sama sekali tidak menyenangkan.
Inilah yang terjadi ketika membiarkan kesempatan emas. Namun sistem sama sekali tidak menyalahkan tuannya.
Apa yang jadi kepercayaan tuannya, itulah yang diikutinya.
[Bertahanlah Tuan]
"...." Liu berusaha menghadapi perasaan tertekan ini. Tertekan diseluruh tubuh rasanya tidak karuan.
[Lebih baik tertekan pikiran ya Tuan]
'....' YA LEBIH BAIK JANGAN TERTEKAN.
Keduanya sama-sama tak bagus!
Sang dewi terdiam, ia tidak bisa mengulur waktu dengan mengeluarkan trik ecek-ecek. Untuk menghadapi buronan sekelas dewa kematian harus langsung all-out dari awal!
Dan sejauh ini tekniknya berjalan sebagaimana mestinya. Pemuda itu kelihatan bertingkah aneh.
'Kenapa dewi....?' Liu masih heran, kenapa dewi langsung berubah seratus delapan puluh derajat? Padahal sudah jelas beliau sama sekali tidak mengincarnya.
Krrtt....
Liu terdiam, kalau begitu tak ada pilihan lain
SWWUSSSHH!!!
"WHA!" Sang dewi langsung terhempas jauh.
Pancaran energi bukan main. Liu sama sekali tak menahan diri.
"!" Dengan cepat dewi mengandalkan kekuatan bayangannya. Ia tadi sedikit melamun.
Kini dewi bisa berdiri dengan dua kakinya sendiri. Namun ia sudah terhempas cukup jauh.
"...." Dewi terdiam, sesuai dugaannya pemuda itu menahan dirinya.
HUSH!
"Ha...." Pemuda itu tiba-tiba berdiri di depannya. Menatapnya serius.
Dewi Yinying tidak kuat menahan aura kekuatan pemuda ini. Ia pun tumbang ke belakang.
Grep.
Dengan sigap Liu memegang tangannya, mencegahnya jatuh.
"Maaf dewi." Liu tak mau memperpanjang drama. Yah mungkin agak keren kalau terjadi hal dramatis, namun ia tak punya waktu untuk itu.
Kekuatan dewi memang benar-benar kuat, namun kini ia telah menunjukkan seberapa kuat tekadnya ini.
Dewi terdiam. Lagi-lagi ia salah langkah, tidak seharusnya ia melakukan hal ini.
__ADS_1
Untuk apa menguji makhluk yang sudah jelas jauh lebih kuat darinya?
"Dewi?" Lagi-lagi dewi termenung.