Sistem Pendekar Terkuat

Sistem Pendekar Terkuat
Dewi Yinying


__ADS_3

Jadi kek ada pintu nanti gitu?


Liu tak menyangka sih akan ada hal seperti itu yang menantinya di akhir perjalanan.


Dewi terdiam. Tak disangka ia sendiri malah lupa barang terpenting yang ada di tokonya.


Bisa jadi karena kefrustasiannya akibat tidak ada siapapun yang mengunjungi tokonya.


Ia mengurus berbagai hal namun lupa apa yang terpenting.


Kalung berbentuk cinta dan buku yang dibawa pemuda ini adalah kedua benda yang berasal dari tokonya.


Ia diberikan mandat untuk membuat kunci keamanan alam dewa tingkat menengah tengah ini.


Itu jelas sudah lama sekali. Bahkan untuk ukuran dewi, mengingat hal yang sudah lama bukanlah perkara mudah.


Terlebih lagi dengan bebannya sebagai pemilik toko yang sepi namun tidak bisa bangkrut.


Dewa-dewi sama sekali tidak mencari uang di alam ini. Melainkan menjalankan tugasnya masing-masing.


Dewi Cinta sendiri tidak punya tugas khusus selain membantu dewa lain mendapatkan kisah romansa.


Yang sayangnya sangat sepi juga. Tidak ada dewa-dewi yang datang padanya. Jadilah ia buka toko saja.


Dan sayangnya hal yang sama terulang kembali.


Dewi terdiam, sementara air mata terkumpul di pelupuk matanya.


"Dewi!?" Liu kaget dewi tiba-tiba menangis.


Dewi tidak segan menunjukkan emosinya. Lagipula untuk apa menyembunyikan sesuatu dari yang lain?


Liu terdiam, seiring dengan tangisan dewi, ia bisa mengerti kenapa sang dewi bersedih begini.


Aura kekuatan dewi bisa terasa, bahkan bicara lebih kuat dari perkataan.


Ini menjawab keheranannya kenapa Dewi Cinta buka toko seperti ini.


Ternyata sang tugas yang diembannya itu sangat sepi dan akhirnya ia berubah haluan dengan hasil yang tidak terlalu memuaskan juga.


"Yah, setidaknya dewi punya satu-satunya toko di alam ini. Itu hebat lho!" Liu berusaha menghiburnya.


"HUAH!" Dewi malah menjadi-jadi mengeskpresikan emosinya.


"...." Yah masalah ini bukan salah siapapun juga sih.


Liu bahkan baru tahu di alam dewa begini ada kisah romantis atau apapun itu.


Mungkinkah dewa sibuk mengurus tugasnya dan tak sempat berurusan dengan hal ini? Yah itu bisa terjadi sih.


Liu tak akhir menghibur dan akhirnya Liu hanya bisa menunggu dewi tenang dahulu.


Akhirnya setelah beberapa lama dewi akhirnya sedikit lebih tenang.


Kenyataan tugas dewa bisa sepi begini adalah hal baru baginya, dan pasti berat ketika mengalaminya.


Liu pikir dewa-dewi adalah pribadi super kuat yang sempurna.


Yang tak akan terpengaruh apapun, bahkan emosi sekalipun.


Namun ternyata ada sisi lain yang terlihat sekarang ini.


Dewi terisak, Liu memberikannya tisu.


"...." Dewi tidak pernah menunjukkan emosinya selama ini. Dan setelah mengeluarkan semuanya, ia merasa lega.


Bahkan hal sederhana seperti ini bisa jadi masalah. Ternyata dewa dan dewi tidak serumit yang ia kira sebelumnya.


"Masalahku tidak ada apa-apanya." Dewi terdengar lemah. Namun suara lembutnya masih ada padanya.


Jika dibanding dengan apa yang akan dihadapi pemuda ini.


"Dewi terpilih jadi pemegang kunci alam ini. Menurutku itu sangat hebat." Liu menatap dewi dengan seksama.


Tanpa dewi kunci tadi bukanlah apa-apa dan tidak ada harganya.


"...." Dewi terdiam, perkataan singkat lawan bicaranya mengubah pikirannya.


Emosinya sudah membuatnya lupa akan statusnya yang sebenarnya, yang tidak lain tidak bukan adalah salah satu pemegang kunci alam ini.


Kalau kunci itu dibuang sudah jelas dewi meninggalkan 'role' nya yang sesungguhnya.


"Terima kasih...." Dewi langsung memeluk pemuda itu.


"!" Liu terdiam, ia senang dewi tak bersedih lagi, tapi kenapa dipeluk begini?


Liu bisa merasakan pelukan hangat dan penuh cinta. Rasanya begitu nyaman. Yah Dewi Cinta juga ya? Sudah tak heran lagi kalau begitu.


Akhirnya dewi menemukan lagi semangatnya. Tidak peduli sesepi apa tugasnya, namun tetap saja dirinya adalah dewi penting yang menentukan nasib alam dewa tingkat menengah tengah ini.


Liu masih penasaran kenapa sistem tak mengatakan ini dari awal.


[Biar suprise Tuan hehe]


'....' Yah tak bisa dipungkiri ini mengejutkan juga sih.


Sistem pikir tidak akan seru kalau tuannya sudah tahu apa yang akan terjadi.


Tapi tetap saja tak tahu apa-apa itu agak mengerikan juga. Rasanya hampa tanpa arah.


Tahu terlalu banyak hal bukan hal bagus juga. Liu tak mau dikalahkan pikirannya sendiri. Overthingking adalah musuh yang nyata!


"Ah maaf...." Dewi sadar kelemahannya ini bisa berefek tidak bagus pada pemuda ini. Bisa saja di jadi punya persepsi salah tentang para dewa.


Liu menggelengkan kepalanya. Ia malah belajar banyak bahwa mempertahankan ego tidak selalu baik.


Ada kalanya kita harus jujur dengan diri sendiri dan tidak menutupi apapun. Tidak peduli status yang kita miliki.


[Pura-pura kuat bisa melelahkan juga Tuan?]


'Hm.' Liu mengangguk kecil setuju.


Sepertinya saat yang tepat untuk menanyakan semuanya. Misteri tentang alam dewa ini.


Dewi terdiam, ia pikir pemuda ini sudah tahu semuanya. Namun ternyata tidak.


"Hmmm...." Dewi tersenyum, mood-nya sudah jauh lebih baik sekarang.


"Kamu yakin mau mendengarnya?" Ini pasti akan sedikit panjang. Dewi tidak mau membuang waktu pemuda ini.


"Mohon bantuannya Dewi." Liu butuh info, itulah modalnya untuk bertahan di alam ini.


Akhirnya dewi pun menjelaskan semuanya.


"Begitu...." pungkas sang dewi.


Akhirnya semuanya jadi terang. Info dewi penting sangat membantu sekali!


Tapi apa dewi akan baik-baik saja sudah memberikan info penting pada buronan sepertinya?


"Tidak masalah. Lagipula aku ingin menunda hari kematianku." Dewi tersenyum kecil.


"...." Kok agak dark yah?


Rasanya Liu pernah mendengar perkataan serupa deh.


'Sistem maksud dewi apa yah?' Apa mungkin dewa kematian jadi memusuhi siapapun yang menolongnya?


[Tidak ada yang tahu apa yang direncanakan dewa kematian Tuan]


Liu terdiam. Sudah pasti dewa tingkat tinggi itu sulit ditebak....


Hanya satu hal yang pasti. Dewa kematian menginginkannya....


Liu sebenarnya masih tak menyangka dengan betapa banyaknya bantuan yang ia terima dari para dewa. Padahal kenyataannya ia hanyalah makhluk luar, buronan.


[Terkadang realita tak sesuai ekspektasi Tuan]


'....' Liu sedikit tersenyum, ternyata prinsip seperti itu berlaku juga untuk hal baik.


Liu berekspektasi perjalanannya akan super sulit, mustahil, dan tidak ada yang bisa diandalkannya. Namun ternyata realitanya tidak seperti itu.


Kini terungkap sudah bahwa dewi cinta bukan satu-satunya yang punya kunci, Liu harus menemukan pemegang kunci lain.


[Merepotkan saja ya Tuan]


'....' Liu tak ingat sistem suka ngeluh begini.


Tapi yah tidak bisa dipungkiri cara untuk pindah ke alam dewa selanjutnya tidak semudah yang sebelum-sebelumnya.


Tapi mudah bukanlah jalannya bukan?


Liu menyemangati dirinya sendiri. Kalau mudah ia tak belajar banyak dibanding saat kesulitan.


Ia naik level ketika menghadapi sesuatu yang sulit dan itulah proses yang sesungguhnya.


[Hadiah optimis: Level Up +10]


Tuh kan.


"YESS!" Liu mengangkat kedua tangannya ke atas, meluapkan kegembiraannya.


"Waah." Dewi tersenyum tidak menyangka pemuda ini sebahagia ini setelah mendengar informasi darinya.


Liu pun menyudahi urusannya dengan sang dewi, dan dewi mengantar kepergiannya di depan pintu.

__ADS_1


SSHH....


Hamparan gurun luas menantinya dan udara dingin langsung menyambutnya, kebetulan waktu sudah berganti malam.


"...." Inilah akhirnya. Liu sudah mendapat info soal apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


Namun masih ada satu hal yang ada di benaknya. Kenapa toko dewi ada di tempat seperti ini ya?


"Aaaah." Dewi nampaknya bersiap untuk penjelasannya yang lain.


"Ooh." Liu paham sekarang.


Ternyata tempat ini yang paling cocok ya.


"...." KALAU MENURUTNYA SIH AGAK ANEH YA.


Tapi yah Liu tak bisa menyamakan kecocokannya dengan sang dewi sendiri. Sudah pasti berbeda.


"Ditambah tempat ini hangat. Aku menyukainya." Sang dewi kebanyakan menghabiskan waktunya di toko saja.


Liu tak bisa menyangkalnya. Memang dari awal dan sampai sekarang pun tempat ini terasa menyenangkan.


Mungkinkah karena perasaan ini dari sang dewi sendiri? Kemampuan khususnya?


"Yah meski berlaku saat disiang hari saja sih." Kalau malam tetap saja dewi menyalakan perapian, seperti yang dilakukannya untuk menolong pemuda ini.


"Rasanya aku mau mengunjungi Bing deh." Dewi Ai pikir sudah lama ia tak keluar rumah, ia tidak mau dicap nolep oleh dewa lain.


"Tapi tempat itu mengerikan. Aku tak tahan lama-lama di sana." Dewi langsung mengungkapkan masalahnya.


"Ahaha." Liu mengerti, ia sudah pernah menginjakkan kakinya di sana sih.


Tak disangka dewi cinta tidak cocok sama sesuatu yang dingin ya.


Yah, cinta identik dengan kehangatan sih, meski bisa jadi dingin juga.


Akhirnya Liu benar-benar berpisah dengan dewi, dewi melihatnya menjauh dan berharap dia bisa mencapai tujuannya.


***


Liu pun berjalan perlahan, selangkah demi selangkah menyusuri area gurun ini.


Matanya bersinar kebiruan. Jelas ia perlu mengaktifkan mode malam sih ini.


HSSSHHH!


Hawa dingin menemani perjalanannya, namun untungnya tidak mengganggunya sama sekali.


Level dingin tempat ini beda jauh dengan di tempat Dewi Es.


HAH!


Liu seperti tersadarkan akan suatu hal.


'Sistem berapa lama kita tak sadar?' Jangan bilang sudah berhari-hari lamanya!?


Yah pengalamannya tak sadarkan diri nggak begitu bagus sih.


Apalagi selama lima belas tahun....


[....] Entah kenapa sistem merasa tersinggung.


[Sepertinya hanya beberapa jam saja Tuan] Itulah analisis sistem.


'HM.' Memang ia tidak sadarkan diri dari siang, dan sekarang malam. Masih masuk akal juga kalau hanya beberapa jam saja tidur tadi.


Namun masalahnya sistemnya pun tidak sadarkan diri bersamaan dengannya. Kalau lelah tak bisa menyalahkan siapapun sih.


Satu-satunya yang bisa memastikan semua ini adalah....


SHHH....


"!" Hawa panas tiba-tiba terasa, padahal sebelumnya bener-bener dingin.


Terasa juga aura kekuatan yang familiar.


Sret.


Liu berbalik, dan benar saja, sang Dewa Api menatapnya serius.


"Selamat malam dewa. Lumayan dingin ya?" Liu tersenyum kecil, ia tak menyangka dewa lagi berjalan-jalan di malam seperti ini.


Kalau punya pilihan Liu lebih suka tidur di kasur berselimutkan tebal dan mimpi indah.


[Dingin bukan masalah baginya Tuan]


"AH!" Bener juga! Kan beliau dewa api ya....


"Kondisimu?" Suara dewa yang cool keluar. Entah kenapa mendengarnya saja benar-benar dingin.


Liu menunduk dan berterima kasih atas pertolongan dewa.


Dewa terdiam, meski sifatnya dingin, namun ia masih sadar diri dan mengakui kesalahannya karena sudah berhadapan dengan pemuda ini.


Untunglah ia bisa melakukan sesuatu untuk pemuda ini meski tidak sebanding dengan apa yang dia lakukan padanya.


Dewa kagum bagaimana pemuda ini bisa kembali sadar setelah beberapa jam, namun tentu saja ia tidak menunjukkanya lewat eskpresinya.


Setelah semua yang dia lalui, perjalanan jauhnya.


Padahal kalau tahu searah tentu dewa tak akan keberatan pergi bersamanya.


....


Liu terdiam, pasti ada alasan dibalik kedatangan dewa.


Liu lumayan terbiasa ngobrol dengan makhluk dingin. Namun tetap saja rasa canggungnya masih ada.


"Semoga beruntung."


SWURSH!


Dewa Zao pergi berselimutkan api keren.


"...." GITU AJA?


Cuman 'small talk!?'


Liu pikir ada hal yang lebih serius dibanding mengobrol ringan


Namun yah setidaknya itu memastikan dewa percaya padanya.


Liu melanjutkan perjalanannya. Ia bisa melihat bintang kelap-kelip di angkasa. Sungguhlah indah dan membuatnya merasa aman.


Dan waktu pun terus berputar.


"SAMPE KAPAN!?"


Jalan kaki kelamaan dong!


"Eh iya Speedy dimana ya?" Liu celingak-celinguk melihat ke sekitaran, namun ia belum menemukan makhluk apapun dari tadi.


'HM.' Kudanya bisa muncul dan menghilang tiba-tiba, itu seram sih.


[Sepertinya sedang jalan-jalan Tuan]


'JALAN-JALAN?' Kok ninggalin gitu sih.


Sret.


Liu membuka peta lagi, sebenarnya sih tujuannya selanjutnya tak begitu jauh, namun tetap saja kalau jalan kaki kelamaan.


SHH....


Tubuhnnya perlahan diselimuti aura kebiruan....


"Eh?" Liu sama sekali nggak ngumpulin kekuatan deh.


[Sprint+++++]


SWUSH!


"WAAA!" Seketika itu juga Liu melesat cepat menembus kegelapan malam dan mengibaskan banyak tanah pasir.


***


"HA!" Liu membuka matanya, tiba-tiba ia berdiri di pinggir jalan.


'SISTEM TADI APA!?' Liu merasakan detak jantungnya berdebar tak karuan.


[Hanya lari sprint Tuan] Kebetulan sistem sudah cukup istirahat dan bisa mengeluarkan tenaganya lagi.


'KOK TIBA-TIBA BEGITU SIH!?' Itu bener-bener bikin kaget sih.


[Supaya cepat sampai Tuan hehe] Sistem berinisiatif, dan kelewat semangat.


Dan terbukti, tak butuh waktu lama bagi tuannya melalui perjalanannya ini.


Liu melihat kebelakangnya, ia sudah melewati area padang pasir. Sepertinya ini diperbatasan.


Secepat kilat Liu mengecek lagi petanya. Dan memang benar ia sudah sampai ke titik yang ditunjukkan peta.


'KOK?' Liu heran, ia pikir bakal ada bangunan atau apa. Ini malah jalan?


'SISTEM?'

__ADS_1


[Sepertinya ada yang harus Tuan pecahkan]


'Oh?' Bahkan sistem pun belum tahu situasinya?


Liu terdiam, memikirkan apa yang bisa ia pecahkan di sini.


Ia memeriksa kantong bajunya....


[Sedang apa Tuan?]


'Katanya harus ada yang dipecahkan?' Bukannya itu yang diminta sistem?


[....]


[Maksudnya ada misteri Tuan, bukan harus memecahkan barang]


'OH!' Salah paham dong ya.


Liu terdiam. Dewi bilang ia seharusnya tiba di sebuah kota kecil, tepat diantara perbatasan wilayah dewa api.


Tapi yang ia temui malah jalanan perbatasan dan tidak ada gerbang kota atau apapun....


Liu mengucek matanya sampe berkali-kali, namun tetep saja nggak ada apa-apa di hadapannya.


MUNGKINKAH INI CUMAN PRANK!?


....


Tapi nggak mungkin juga sih. Liu tak mendeteksi candaan apapun saat dengar info dari dewi....


Liu terdiam, pasti ada yang salah....


"Sistem, non-aktifkan mode malam."


[Siap]


Sring.


"!" Liu terdiam, tiba-tiba ia melihat gerbang kota dan keriuhan kota pun langsung bisa terdengar jelas.


"...." Pandangannya tidak setajam tadi, namun ternyata inilah biang masalah ia tak bisa melihat kota yang dimaksud dewi.


'Kota Malam....' Itulah nama yang tercantum di peta.


Jadi kekuatan sistemnya menghalangi keberadaan kota ini? Liu baru tahu bisa begitu.


Tanpa pikir panjang Liu pun masuk dan melihat-lihat sekitar.


Pemandangan bangunan sederhana dan aktifitas orang-orang membuat Liu merasa benar-benar berjalan di sebuah kota.


Yah memang ia sedang ada di sebuah kota juga sih. Kota yang unik.


'AKU NGGAK ADA KENALAN.' Liu terdiam, ia bingung harus kemana, orang-orang terlihat begitu sibuk dengan urusannya masing-masing.


Ada tour guide nggak yah?


Sudah lama Liu tak berada di keramaian seperti ini. Yah akhir-akhir ini ia suka berada di lapangan sih.


'OKE.' Liu memantapkan tekadnya, saatnya menunjukkan sisi extrovertnya!


Sret.


Liu memperhatikan sekitar, mencari target yang pas.


'NAH.' Perlahan namun pasti Liu mendekati salah satu orang tua dengan tongkat.


Dengan perlahan dan ramah Liu menanyakan sesuatu mengenai tempat ini.


"Ha?" Orang tua dengan tongkat itu tidak mendengar perkataannya.


Liu mengulang lagi pertanyaannya, namun respon beliau masih sama.


"Yah..." Tiba-tiba datanglah seorang wanita dan menggenggam tangan orang tua ini dan pergi. "Jangan bicara pada orang asing Yah."


"...." Ngorek info nggak gampang ya....


Yah ia hanyalah orang aisng yang mencurigakan.


Liu berjalan lagi dan akhirnya menemukan papan besar yang kelihatannya menarik.


'PAPAN!' Dengan cepat Liu memeriksa apa isinya, dan akhirnya banyak info yang lumayan juga di sini!


"Hmmm...." Liu konsentrasi penuh.


Liu akhirnya selesai membaca info mengenai tempat ini.


[Apa yang Tuan dapat?]


"Waktu kita sedikit." Ada alasan kenapa kota ini disebut kota malam, dan seperti yang bisa kalian pikirkan.


Kota ini hanya muncul di malam hari....


Entah kenapa tiba-tiba terdengar supranatural, namun itulah kenyataannya.


[Kota hantu ya Tuan?]


'Eh?' Itu ngeri sih. Tapi Liu pikir beda sih.


[Bukannya hantu muncul di malam hari Tuan]


'KOK KAMU TERTARIK BEGITU?' Liu tak ingat sistem suka sama hal beginian.


Yah mau muncul malam atau kapanpun itu urusan mereka 'kan?


Yang pasti Liu harus menemukan seseorang lagi di sini.


Bertanya pada orang sudah dilakukannya, kini waktunya mencoba cara lain.


'Sistem, jangan sembunyikan hawa kehadiran kita]


[Tapi Tuan....] Itu terlalu berisiko. Bisa saja ada musuh yang yang langsung menyerang tuannya!


"...." Liu terdiam, ia terlihat serius.


[... dimengerti] Sistem akhirna membuka semua yang ditutupinya.


SSHHHH....


Seketika itu juga aura kekuatan berkobar besar. Dan langsung menarik perhatian orang banyak.


Kericuhan langsung terjadi, kebanyakan orang tak senang dengan kehadiran makhluk asing berkekuatan besar.


"...." Ini seperti yang diharapkannya, entah kenapa Liu merasa jadi villain. Tapi hal ini tetap harus dilakukannya.


Perlahan namun pasti orang-orang yang ricuh itu menghilang dan tidak ada lagi yang tersisa di kota.


[MENGHILANG?] Sekarang malah sistem yang kaget.


Liu tetap tenang seolah sudah tahu apa yang terjadi.


Dari awal pun ia merasa aneh.


Sulit dipercaya ada banyak dewa yang berkumpul di satu tempat.


Meski hawa kehadiran terasa begitu nyata namun semua ini terlalu mencurigakan.


Menghilangnya semua 'penduduk' kota juga jadi membuat semuanya tambah SUS.


Liu menatap tajam ke depan. Perlahan namun pasti bangunan kota mulai berubah warna jadi hitam.


Dan aura kekuatan misterius juga semakin terasa.


SYUT.


Sesosok bayangan hitam seperti manusia tiba-tiba muncul tak jauh darinya.


[Menganalisis....]


[ Dewi Yinying


Jenis: Dewi Bayangan


Status:  Dewi Alam Mengengah Tingkah Tengah


Deteksi Elemen: Super Sensitif+++


Kesehatan: ???


Kekayaaan: ???


Level kekuatan: 1001


Tingkat bahaya: Membingungkan


Kemampuan Khusus: Ahli Memanipulasi


Catatan: Jangan sampai terpancing tekniknya]


"...." Liu terdiam, tak disangka ia bertemu dewi lain di sini.


AKHIR-AKHIR INI IA BANYAK KETEMU DEWI YA?


[Tuan mau ketemunya dewa?] Kenapa tuannya tidak suka bertemu dewi cantik? Apa mungkin tuannya....?


'KAMU JANGAN MIKIR ANEH-ANEH.' Sistemnya kadang-kadang.

__ADS_1


Yah bukannya ia tak mau bertemu dewi juga sih. Namun apa nggak keseringan ya? Siapa sih yang ngebuat skenario begini?


[....]


__ADS_2