
Jiang tertidur pulas, ia bermimpi bertemu Jiang Huan kedua kalinya.
" Kau mengundangku lagi?." tanya Xiao Na. tetapi tidak dijawab, ia berpindah tempat dimana kejadian sebelum ia tenggelam dikolam.
Jiang Huan berdiri dengan tegar walaupun dalam hatinya penuh ketakutan saat berhadapan dengan Lu Xiang, Bai Qian,Zhang Luhan dan Zhang Ruyue.
" Kau terlalu banyak mengetahui rahasia kami Jiang? kau pantas untuk mati." kata Zhang Luhan. Ia melangkah maju dan Jiang mundur dengan jantung berdebar-debar karena setiap detik seperti kematian akan menghampiri dirinya. Xiao Na melihat wanita yang pernah datang menemuinya yang selalu memakai pakaian hitam dan penutup wajah adalah Zhang Ruyue.
" Zhang Ruyue?" kata Xiao Na, ia ingin berteriak atau menyentuh tetapi ia seperti bayangan yang tidak bisa dilihat mereka dan Xiao Na tidak bisa menyentuh mereka.
" Aku pasti akan membongkar semua kejahatan kalian, tidak akan aku biarkan kalian menghancurkan Zhang Han." teriak Jiang penuh ketegasan, tetapi terlihat jelas ketakutan yang besar dimatanya.
" Ohhhhhh, ternyata cintanya untuk Zhang Han sangat besar? tetapi sangat kasihan bahwa Zhang Han tidak pernah perduli dengan semua yang kau lakukan padanya, dia tidak pernah sedikitpun melihat usaha yang sudah kau lakukan untukknya, kau hanya akan mati sia-sia." Lu Xiang tersenyum mengejek pada Jiang.
Xiao Na khawatir melihat Jiang, menghadapi mereka berempat seorang diri " Apa yang terjadi? kenapa aku tidak bisa menyentuh mereka?" teriak Xiao Na, ia geram melihat keempat orang itu.
" Zhang Ruyue, aku tidak menyangka kau masih hidup saat seluruh dunia menganggap kau sudah mati, kau mengkhianti kakak yang paling mencintaimu demi membantu anak pungut ini." Jiang mengepalkan tangannya, Zhang Luhan langsung menampar wajah Jiang.
" Beraninya kau mengatakan itu?" Zhang Luhan lalu menarik pedangnya untuk membunuh Jiang.
" Hentikan." kata Bai Qian. Zhang Luhan menoleh pada Bai Qian.
" Kenapa?" tanya Zhang Luhan.
__ADS_1
" Ia sengaja memancing dirimu untuk membunuhnya, jika ia mati terbunuh maka Zhang Han pasti akan mencari tau tentang hal ini untuk memberi penjelasan pada keluarganya, dengan begitu ia akan menganggap kematiannya tidak akan sia-sia" jawab Bai Qian menoleh pada Zhang Han, ia lalu melangkah mendekati Jiang lalu mencengkram dagu Jiang Huan.
" Kau kira aku tidak bisa mengetahui apa yang kau fikirkan? jangan bersikap sok pintar Jiang, kau akan segera mati dengan penyebab bunuh diri." kata Bai Qian lalu mendorongnya kebelakang. Xiao Na berusaha menyentuh mereka tetapi sia-sia. Kekhawatiran yang besar dimata Xiao Na terlihat jelas.
Xiao Na berhenti berusaha untuk menyentuh mereka, ia berfikir sejenak. " Mengapa aku tidak memiliki ingatan tentang kejadian ini?" ucapnya, ia lalu memperhatikan kejadian demi kejadian. setelah itu Jiang berlari kekediaman Zhang Han tetapi Zhang Han, Mereka berempat membiarkan Jiang berlari seolah mengerti semua yang akan terjadi.
Xiao Na ikut berlari bersama Jiang, dengan wajah penuh air mata ia berlari ingin bertemu Zhang Han karena ia yakin ia tidak memiliki waktu banyak untuk hidup, Jiang memiliki firasat bahwa mereka sudah menduga ini akan terjadi. dengan kaki penuh luka karena tidak memakai alas kaki ia berlari untuk bertemu Zhang Han.
" Izinkan aku bertemu dengan yang mulia, karena ini sangat penting." kata Jiang dengan wajah cemas, ia merasa seluruh tubuhnya mulai panas, ia mengira karena keringat berlari tetapi lama-kelamaan ia merasa ini bukan panas biasa.
Xiao Na berteriak kepada dua prajurit penjaga itu untuk membiarkan Jiang masuk tetapi tidak ada yang dapat mendengar suaranya.
" Maaf permaisuri, yang mulia melarang siapapun untuk masuk sekarang karena yang mulia sedang sibuk." jawab Prajurit itu, Jiang semakin Menangis.
Kedua prajurit itu saling menoleh melihat Jiang memohon ingin bertemu tetapi ia sudah mendapatkan perintah dari Zhang Han untuk tidak membiarkan siapapun masuk selain selir Lu Xiang. Lu Xiang datang , ia lalu tersenyum kepada Jiang yang sedang berlutut.
Kedua prajurit itu langsung membuka pintu saat melihat Lu Xiang, Jiang semakin terisak.
" Maaf permaisuri, kami tidak bisa menentang perintah yang mulia, yang mulia hanya berpesan bahwa jika ada yang ingin bertemu selain selir Lu Xiang, siapapun dilarang." jawab prajurit itu, Xiao Na menoleh kedua prajurit itu karena kesal dan ingin memukul mereka tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan.
" Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya, seluruh tubuhnya sudah sangat panas, ia lalu berlari kekediamannya, Lian dan Yuan terkejut melihat Jiang, Jiang berteriak kepanasan pada mereka tetapi saat Luan memeriksa suhu tubuh Jiang tidak ada yang berbeda.
" Nona...nona.... apa yang terjadi?" tanya Lian Khawatir, Jiang lalu menyadari sesuatu.
__ADS_1
" Opium? tapi kapan?" gumannya pelan, ia lalu mengingat kembali kejadian setelah ia sampai keistana, ia lalu mengingat bahwa ia menghirup asap yang banyak sebelum bertemu dengan mereka berempat.
Jiang segera berlari karena tubuhnya terasa terbakar, ia terus mengucapkan opium dari bibirnya tanpa bersuara, Xiao Na sudah menangis melihat Jiang seperti orang gila berlari kesana-kemari, Lian dan Yuan mengejar Jiang. Jiang melihat Zhang Luhan memperhatikannya dari jauh.
" Walaupun aku akan mati, aku tidak akan membiarkan kalian menang, aku pasti akan membongkar kejahatan kalian dan menghukum kalian semua." gumannya pelan lalu ia menceburkan diri. " tidak......." teriak Xiao Na, ia lalu berpindah ketempat lain. dimana ia bertemu Tian Zofan.
" Ayah angkat, aku sudah melakukan ritual pembagian jiwa, setengah ingatanku sudah dibola jiwa ini, setengah masih dikepalaku untuk mengundang jiwa lain." ucap Jiang pada Tian Zofan.
" Tidak ada waktu lagi ayah angkat, mereka sudah mengetahui semua yang aku lakukan, mereka sudah menungguku, ayah angkat, ingatlah jika ayah sudah mendengar bahwa aku mati maka orang yang yang memiliki tubuh dan wajah ini, ayah akan membantunya, aku tidak tau apa yang terjadi setelah aku mati, apakah orang lain yang masuk kedalam tubuh ini atau seseorang mirip denganku yang memiliki setengah ingatanku yang akan melanjutkan perjuanganku." lanjutnya, Tian Zofan menangis melihat Jiang.
" Semoga semua yang kau lakukan tidak akan sia-sia dan Zhang Han mengetahui semua yang sudah kau lakukan." Tian Zofan terisak.
" Ayah, aku hanya berharap Zhang Han selalu aman karena aku sangat mencintainya melebihi diriku sendiri." katanya. Xiao Na ikut menangis melihat Jiang. mereka lalu berpindah tempat lagi, kini Jiang berdiri dihadapan.
" Apa yang kulihat tadi adalah ingatan yang tidak ada didalam bola jiwa itu Jiang?" tanya Xiao Na, ia masih terisak mengingat kejadian tadi, Jiang mengangguk.
" Ingatlah, jangan pernah lari dari tanggung jawab yang sudah aku berikan sebelum kau menyelesaikannya, jangan pernah meninggalkan Zhang Han sendiri." jawab Jiang.
" Kenapa? kenapa kau sangat berusaha keras untuk melindungi Zhang Han? dia tidak perduli padamu, dia tidak perduli kau hidup atau mati, dia bahkan tidak ingin bertemu denganmu disaat-saat terakhir dalam hidupmu, dia juga yang sudah membunuh kakek yang paling kau sayangi." kata Xiao Na, ia terisak, seakan-akan ia yang paling sedih melihatnya.
" Hidup penuh misteri Xioa Na, tidak ada yang tau apa yang terjadi dimasa depan, aku adalah masa lalumu, kau adalah masa depan, kau harus mewujudkan hal yang tidak bisa aku lakukan dulu, selalu berdiri disamping Zhang Han apapun yang terjadi, jangan pernah meninggalkan dirinya, setelah ini aku tidak akan bisa membimbing dirimu, aku sudah menjadi debu, kau akan membuat keputusan atas kemauanmu sendiri, tapi ingatlah, bahwa semakin kau menggali masa laluku, maka semakin banyak hal yang membuatmu ingin pergi jauh dari semuanya. Kau menjadi penentu takdirku, kau sendiri yang akan memutuskan seperti apa nanti, karena namamu akan tercatat dalam sejarah, selamat tinggal." Jiang menghilang bagai debu.
Jiang membuka matanya, seluruh tubuhnya berkeringat, kedua pipinya basah seperti habis menangis, ia lalu duduk, ia menghela nafas berat.
__ADS_1
" Aku akan berusaha semampuku Jiang, kematianmu tidak akan sia-sia." gumamnya, ia lalu berdiri memandang kegelapan malam dari jendela kamarnya.