Berinkarnasi

Berinkarnasi
Kedatangan Ying Zheng sebagai teman


__ADS_3

Wajah Zhang Han sangat buruk sekarang, mereka bertiga heran dengan ekpresi wajah Zhang Han. " Yang mulia..." Wei Chan menegur, Zhang Han lalu menarik nafas kemudian memandang dimana Jiang menghilang.


" Apakah ada masalah, yang mulia?" Lan Huan ikut menimpali.


" Kalian tunggu aku diruang, aku menemui Jiang dulu." Zhang Han hendak pergi sebelum Fang Yin menahannya.


" Kurasa tidak ada masalah dengannya, kenapa anda khawatir?" Zhang Han lalu menoleh pada Fang Yin kemudian menepis tangannya.


" Aku lebih tau seperti apa istriku, kau tidak melihat kemarahan jelas dimatanya walaupun ia tidak mengatakannya, jadi pergilah dulu." Zhang Han lalu pergi mengejar Jiang. Zhang Han menebak Jiang berada dikediamannya.


Jiang sedang duduk saat Zhang Han membuka pintu kamar, terlihat Jiang duduk membelakangi Pintu, Zhang Han berdiri diambang pintu melihat punggung Jiang.


" Kukira kau tidak akan datang?" Zhang Han lalu masuk kedalam kemudian duduk berhadapan Dengan Jiang.


" Bagaimana mungkin aku tidak datang sedangkan aku sangat mengenal dirimu?" Zhang Han lalu menuangkan teh pada cangkir yang berada didepannya.


" Kau tau, aku punya satu keinginan." Jiang berdiri lalu berjalan menuju jendela dan memandang bulan.


" Aku hanya ingin kita mengulangi semuanya dari awal, semua hal tanpa kebohongan dan rahasia apapun." Zhang Han terhenti saat cangkir itu baru menyentuh bibirnya, ia berhenti karena mendengar perkataan Jiang. kata-kata Jiang adalah sindiran keras untuknya, Zhang Han tau apa yang ingin coba Jiang jelaskan.


" Aku tidak mengerti maksudmu." Zhang Han lalu meneguk tehnya cepat. Jiang lalu menoleh padanya singkat kemudian beralih lagi melihat bulan, ia lalu menarik nafas panjang.


" Kau takut aku akan dalam bahaya atau kau tidak mempunyai kepercayaan padaku?" Zhang Han menoleh pada Jiang yang masih memandang bulan, bahkan cahayanya masuk kedalam kamarnya.


" Karena aku tau seperti apa dirimu, itulah mengapa aku tidak mau mengatakan rencanaku, kau akan melakukannya sendiri demi balas dendammu dan kau akan menempatkan dirimu dalam bahaya, tapi dendam dimatamu tidak pernah padam bahkan saat kau memandangku." Jiang mengepalkan tangannya erat karena kata-kata Zhang Han sangat tepat sasaran.


" Aku tau kau membenci Lu Xiang hingga kau ingin segera membunuhnya, kau berpura-pura tidak perduli tapi aku bisa melihat kemarahan setiap kau melihatnya, aku juga tau kau menyimpan rasa benci padaku..." Jiang tidak bergeming mendengar perkataan Zhang Han, karena Perkaataan Zhang Han lagi-lagi kebenaran yang mutlak.


" Kau hanya berpura-pura mencintaiku...kau bersikap manja dan perduli padaku semata-mata hanya untuk mencari kelemahanku, dan anak yang kau kandung adalah ketidaksengajaan dirimu yang entah kau tidak menyadarinya apa yang sudah kau lakukan denganku." Zhang Han lalu menghempaskan cangkir itu dimeja dengan keras, ia sedang menahan marah.


" Kau sudah tau segalanya tetapi kau tidak berbuat apapun, kau juga tidak perduli apa yang terjadi padaku, lalu mengapa kau sekarang tiba-tiba khawatir dengan apa yang terjadi padaku? baik itu aku mati maupun hidup, bersikaplah seperti dulu dimana kau tidak perduli sama sekali." Jiang berbalik memandang Zhang Han.


" Kau mengatakan aku tidak perduli?" Zhang Han menekan setiap perkataannya memandang Jiang.


" Ya." teriak Jiang.

__ADS_1


" Bearti kau tidak mengenalku dengan baik." Jiang tertawa mendengar perkataan Zhang Han, Ia sudah seperti sudah kehilangan akalnya.


" Kau berkata seolah kau yang melindungiku selama ini, ha..ha..ha..kau tidak tau apapun tentangku." teriak Jiang marah.


" Kalau kau tau, kau tidak akan membiarkan orang yang kusayangi mati..." Teriak Jiang penuh amarah, ia sampai meneteskan air mata.


" Kalau kau perduli... harusnya sudah kau lakukan sebelum aku menceburkan diri karena diburu oleh mereka dan aku kehilangan...." Jiang tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


" Harusnya kau perduli padaku dari awal sehingga semua ini tidak terjadi...apa kau tidak tau? berapa kali wanita ini berkorban untukmu, berapa kali ia menempuh bahaya demi melindungimu...tapi kau sama sekali tidak melihatnya, setelah kau merasa dirimu terancam dan menghadapi bahaya kau baru menyadari hal itu..."


" Karena itu, ini belum terlambat jadi aku ingin memperbaiki hubungan kita yang dulu menjadi lebih baik." Zhang Han melangkah perlahan kearah Jiang.


" Sudah terlambat..." Zhang Han berhenti mendengarnya.


" Aku sudah kehilangan segalanya, sekarang aku hanya ingin membalas dendam kematian orang-orang yang sudah berkorban untukku, kau tidak perlu khawatir, anak ini pasti akan aku lahirkan karena ini adalah anakmu, aku tidak bisa membunuhmu untuk membalas dendam karena kau adalah seorang raja." Zhang Han tidak menyangka saat ia mengungkap segalanya, akan menjadi seperti sekarang.


" Pergilah, kau sudah mendapatkan jawabannya." Zhang Han ingin mendekat.


" Berhenti disana." Zhang Han terhenti, Jiang tidak menoleh sama sekali, Lama Zhang Han memandang Jiang sampai akhirnya ia memilih untuk pergi.


" Maafkan aku karena tidak bisa menceritakan semuanya sekarang, aku berjanji setelah semuanya selesai aku akan menjelaskan segalanya padamu, aku pasti akan mengatakan apapun yang kau tanyakan nanti." Batin Zhang Han.


Zhang Han lalu pergi dari sana, ia lalu pergi keruang latihan, ia melampiaskan amarahnya dengan berlatih dan menebas apapun.


" Kau membutuhkanku untuk melampiaskan amarahmu itu?" tiba-tiba sebuah suara dibelakang Zhang Han. satu pedang tergenggam ditangannya.


" Sepertinya kau sedang kesal, kebetulan aku juga sedang kesal, jadi biarkan aku meluapkan amarahku padamu." orang itu berlari kearah Zhang Han, Zhang Han menyambut serangan Orang itu.


Sling... sling...sling....


kedua pedang itu beradu, kekuatan kedua orang itu tak berbeda jauh, mereka saling meluapkan amarah dihati mereka, sampai mereka benar-benar merasa lelah lalu terjatuh bersama karena kelelahan. mereka berdua jatuh ditanah dengan telentang dan nafas mereka saling memburu.


" Kapan kau datang?" Terdengar suara Zhang Han berat karena kehabisan nafas.


" Aku datang karena kesal, dikerajaanku tidak ada yang dapat menandingi diriku jadi aku mencari orang yang seimbang denganku untuk melampiaskan amarahku." Zhang Han tertawa mendengarnya.

__ADS_1


" Ying Zheng, kau orang yang tidak pandai berbohong, jadi jangan mencoba untuk bisa berbohong." Ying Zheng hanya tersenyum, ia baru sampai dan secara diam-diam pergi dari kerajaaannya dan datang kekerajaan Qing.


Ying Zheng lalu duduk, kemudian memandang Zhang Han. " Aku yakin, yang hanya bisa membuatmu marah seperti ini pasti karena Jiang." Zhang Han tersenyum lalu ikut duduk.


" Kenapa? karena kau mengetahui aku sedang bertengkar jadi kau ingin merebutnya dariku?"


" Kurasa aku tidak akan memperebutkan wanita lagi denganmu, aku ingin belajar melupakannya sehingga aku tidak berlarut-larut seperti ini, tenggelam dalam halusinasiku sendiri, aku rasa aku tidak akan bisa memaksa takdir yang sudah ditetapkan."


" Baguslah kalau begitu, karena aku bisa memenggalmu jika kau berbohong tentang ini."


" O.. ho... barusan kau mengatakan aku tidak pandai berbohong, Sekarang kau menuduhku sedang berbohong, sekarang aku tau, kau memang pantas dimarahi Jiang." Ying Zheng menepuk pundak Zhang Han saat Zhang Han terlihat lesu, ia bahkan terlihat tidak bersemangat dan sedih.


" Sekarang apa yang terjadi denganmu dan Jiang?" Zhang Han lalu memandang Ying Zheng kemudian menarik nafas panjang.


" Sebenarnya aku tidak mengerti, Jiang mencintaiku atau tidak, aku bertengkar dengannya dan dia mengakui bahwa selama ini ia hanya berpura-pura mencintaiku." Ying Zheng tertawa besar sehingga Zhang Han langsung memukul kepalanya.


" Aduh..." Ying Zheng mengelus kepalanya yang sakit, ia lalu berhenti tertawa.


" Wanita memang seperti itu, dan aku baru menyadarinya sekarang ..." Ying Zheng tersenyum penuh makna.


" Maksudmu?" Ying Zheng lalu berdiri tanpa menjawab pertanyaan Zhang Han.


" Ayo... pergi." Ying Zheng lalu berjalan, Zhang Han mengejar Ying Zheng.


" Aku sampai lupa bertanya, kenapa kau datang kemari?"


" Menjadi dewa penolongmu." Ying Zheng tertawa kecil.


" Kurasa kau sudah gila." Zhang Han perhatian sudah lama ia tidak melihat Ying Zheng seperti sekarang yang banyak tertawa tidak jelas.


" Aku akan menjelaskan seperti apa itu wanita?" Ying Zheng tersenyum penuh makna, Zhang Han memandang Ying Zheng aneh.


" Kau bicara seolah kau memiliki cinta sejati saja." Zhang Han mendengus, Ying Zheng kemudian berhenti.


" Bukankah kau harus berterima kasih karena aku mau membantumu bukan mengejekku dibelakang." Ying Zheng lalu melanjutkan perjalanan, Zhang Han hanya mengangkat bahu kemudian mengikuti Ying Zheng.

__ADS_1


"


__ADS_2