Berinkarnasi

Berinkarnasi
Kisah lama


__ADS_3

Ketua bandit itu menoleh pada Xuan.


" Aku bukan Sifeng yang dulu." ia lalu membuka penutup wajahnya, terlihat pemuda seusia Xuan dan Yuan. ia lalu melanjutkan.


" Walaupun begitu, aku tau cara berterima kasih pada orang yang sudah mengajariku beladiri sehingga aku bisa melindungi orang yang kusayangi." ia menoleh pada kereta, Jiang keluar dari kereta, saat pandangannya jatuh pada Sifeng Jiang tersenyum hangat.


" Lama tidak bertemu." kata Jiang, Sifeng berjalan mendekati Jiang, membuat Zhang Han waspada, tetapi Xuan dan Yuan segera memberi jalan pada Sifeng, Zhang Han mengerti jadi ia ikut membuka jalan.


Mata Sifeng berkaca-kaca saat ia mendekati Jiang.


" Ibu, bagaimana keadaanmu? kudengar ibu sakit?" Sifeng mengulurkan tangan, Jiang menyambut uluran tangan itu lalu turun dari kereta.


" Bagaimana aku akan baik-baik saja jika putraku yang lain jauh dariku." Jiang mengelus kepala Sifeng.


" Maaf." ia menunduk kepala, Jiang langsung memeluknya.


" Aku rindu ibu." Tangis Sifeng pecah. " Tetapi aku tidak berani mendekati ibu, aku takut ibu akan terkena masalah jika aku bertemu ibu "


" Ah ...putraku Sifeng...ibu tau kau tidak melakukan kesalahan apapun." Jiang mengelus punggung putra angkatnya.


Sifeng adalah anak yatim, ia tinggal bersama ibunya, dari kecil ia suka bermain bersama Xuan dan Yuan dan membantu Jiang, mereka seperti keluarga, suatu hari Sifeng dituduh membunuh seseorang karena ia bisa beladiri dan kejadian saat itu Sifeng melihat korban sudah mati dan ia tidak tau siapa pelakunya.


Gubernur Gu lalu memerintahkan untuk menghukum mati Sifeng karena korban yang meninggal adalah putra pejabat kecil, keluarga Jiang ikut terlibat karena memiliki hubungan dengan Sifeng tetapi Gubernur Gu tidak bisa menghukum Jiang karena ia adalah tabib istrinya, jadi semua hukuman dilimpahkan pada Sifeng, tetapi Jiang memohon agar mengampuni Sifeng.


Untuk membalas budi Jiang, Gubernur Gu mengampuni Sifeng tetapi ia diusir dari kota dan tidak boleh kembali lagi selama-lamanya, sejak saat itu Sifeng pergi dan tidak pernah menampakkan diri lagi.


Sifeng lalu melepaskan pelukannya.


" Aku akan mengantar ibu untuk selamat sampai tujuan, tetapi kemana ibu akan pergi?" tanya Sifeng bingung.


Saat penyergapan sebenarnya Sifeng tidak tau karena saat itu ia ada di markas, tiba-tiba anak buahnya memberi tahu bahwa mereka menyergap sekelompok orang yang membawa barang mahal, jadi ia bergegas untuk melihat. tetapi ia tidak menyangka bahwa ia melihat Xuan dan Yuan, ia ingin menghentikan anak buahnya menyerang tetapi anak panah yang ditembakkan membuat Sifeng ikut terkejut jadi untuk menghentikan mereka, Sifeng memberi kode agar berhadapan langsung dengan mereka.


" Yang kau hadapi adalah yang mulia Zhang Han, kaisar kerajaan Qing." Jiang menunjuk pada Zhang Han, Sifeng terpaku ia mematung sejenak lalu ia segera berlutut dihadapan Zhang Han.


" Maafkan hamba, kesalahan bodoh karena tidak bisa mengenali kaisar..." ia bersujud memberi hormat.


" Berdirilah." kata Zhang Han, Anak buah Sifeng tercengang mereka tidak tau harus melakukan apa atau bagaimana. Sifeng lalu berdiri.


" Si Shi adalah istriku, nama aslinya adalah Jiang." Sifeng terkejut mendengarnya.

__ADS_1


" Si Shi...bu-kan-kah... Jiang adalah selir pengkhianat..." Sifeng bingung, Yuan lalu menarik kerah baju Sifeng, lalu menarik bajunya agar terbuka.


" Apa yang kau...?" Yuan melihat luka panjang didada Sifeng, terlihat jelas Sifeng merasa malu segera membenarkan pakaiannya.


" Ternyata benar itu kau." jawab Yuan, ia mengingat saat perperangan lalu seseorang menggunakan tubuhnya melindungi Yuan, saat itu andai saja tidak ada orang itu pasti Yuan terluka parah, saat itu Yuan tidak memperhatikannya tetapi saat melihat Sifeng ia jadi teringat jadi ia ingin memastikan bahwa itu adalah Sifeng atau bukan.


" Kenapa kau merampok para pejabat yang lewat?" tanya Zhang Han. Sifeng memberi hormat lalu menjawab.


" Maafkan hamba, kami merampok sebagian untuk kami dan sebagian lagi untuk penduduk yang miskin, pejabat yang dirampok adalah pejabat korup yang mengambil pajak dengan paksa, mereka bahkan menguras harta pendukung yang sudah tidak punya apapun, kelaparan dimana-mana, tapi tidak ada yang perduli, lalu haruskah aku berdiam diri menonton?"


" Tetapi apapun alasanmu, yang kau lakukan tetap sebuah kejahatan dan merugikan orang lain."


" Yang mulia, jika aku harus dihukum maka aku akan menanggungnya tetapi lepaskan semua anak buahku, mereka dibawah perintahku, lagipula kami tidak pernah membunuh, tetapi biar aku katakan bahwa aku bukan satu kali saja mengirim surat pada anda tentang kejadian ini."


" Aku tidak pernah mendapatkan berita tentang ini." jawab Zhang Han.


" Sifeng..." Jiang memanggil, Sifeng menoleh pada Jiang.


" Mari ikut Ibu keistana." Sifeng terdiam.


" Kau bisa membawa ibumu juga."kata Jiang merujuk pada ibu kandung Sifeng.


" Ibu sudah lama meninggal karena kelaparan." Jiang terdiam, Sifeng berkaca-kaca, dadanya sesak mengingat kejadian itu.


Zhang Han menghela nafas lalu menoleh pada Sifeng karena tatapan Jiang.


" Katakan pada bawahanmu, kau akan ikut aku, ini perintah..." kata Zhang Han. Sifeng menoleh Jiang lalu mengangguk kepala.


" Aku membebaskan kalian semua, tetapi aku juga tidak melarang kalian untuk ikut denganku, aku memberi memberi pilihan pada kalian." teriak Sifeng.


" Kami mengikuti ketua." teriak mereka serentak.


" Fikirkan kembali, aku tidak memaksa kalian."


" Kami tetap mengikuti ketua." jawab salah satu dari mereka.


" Mereka ikut denganku." jawab Sifeng menoleh pada Zhang Han dengan hormat.


" Baiklah, kuberi waktu sampai satu batang dupa (3jam setengah) untuk membereskan apa yang perlu kalian lakukan sebelum berangkat."

__ADS_1


Mereka segera mengemaskan barang mereka, dan teman-teman mereka yang tewas segera dikubur, setelah selesai mereka melanjutkan perjalanan. saat akan hari gelap mereka beristirahat membangun tenda, ternyata peti-peti mewah yang dibawa berisi tenda untuk berkemah dan bahan makanan.


*****


Pasukan Wei Chan bersama Hua Rong sampai diistana, Saat pangeran Zhang Hou menyambut ia mencari-cari Zhang Han, tetapi ia tidak melihatnya. Wei Chan memberi hormat saat Zhang Hou menyambut mereka.


" Pangeran..." Wei Chan memberi hormat.


" Dimana yang mulia?" tanya Zhang Hou. Wei Chan menceritakan semua yang terjadi, hampir saja Zhang Hou mengamuk karena kesal karena Zhang Han tidak ada dalam rombongan, tetapi kemarahannya mereda saat melihat Hua Rong.


" Ying Hua Rong..." Zhang Hou langsung menghampiri Hua Rong.


Hua Rong tersenyum lalu memberi hormat.


" Ah..maaf." Zhang Hou membalas hormat Hua Rong karena ia melupakan formalitas sebagai bangsawan.


" Lama tidak bertemu." jantung Zhang Hou berdebar saat melihat Hua Rong.


" Apakah pangeran hanya menyapaku saja tetapi tidak mempersilahkan aku masuk?" tanya Hua Rong riang tertawa kecil. Zhang Hou menjadi salah tingkah saat melihat Hua Rong tertawa.


" Ah...maaf, silahkan masuk..." Mereka masuk bersama, ternyata raja Jin Timur dan Yan Utara sedang mengobrol pondok istana untuk tamu kerajaan.


Saat mereka masuk, Zhang Hou memberi tahu bahwa raja Jin Timur ada diistana jadi Hua Rong dengan semangat menghampiri ayahnya tetapi secara tidak sengaja menabrak seseorang, Hua Rong termundur lalu jatuh terduduk saat menabraknya sedangkan orang itu masih berdiri tegak.


Zhang Hou segera membantu Hua Rong berdiri.


" kamu tidak apa-apa?" tanya Zhang Hou khawatir.


" Tidak apa-apa." jawabnya lalu berdiri sambil membersih menepuk-nepuk pakaiannya.


Hua Rong menatap wanita cantik yang baru pertama kali dilihatnya, terlihat ia tidak suka melihat Hua Rong karena dibantu oleh Zhang Hou.


" Lama tidak bertemu putri." dia adalah Putri Yan Utara, Yu Qiaoyin. Lama Hua Rong mengingat wajah wanita didepannya.


" Putri Qiaoyin..." Wajah Hua Rong menjadi cerah dan bersemangat. Hua Rong langsung memeluknya.


" Lama tidak bertemu, kamu semakin cantik..." puji Hua Rong, terakhir kali mereka bertemu saat kecil dan Qiaoyin saat itu Gemuk tetapi tahi lalat kecil didekat matanya tentu saja Hua Rong sangat mengingatnya.


" Tentu saja aku tidak boleh kalah lagi darimu." jawab Qiaoyin datar, ia membalas pelukan Hua Rong walaupun ia enggan.

__ADS_1


Hua Rong melepaskan pelukannya, dengan senyum bahagia.


" Kemari, aku ingin menceritakan petualanganku." ia lalu menarik paksa Qiaoyin, Qiaoyin terpaksa mengikutinya. Zhang Hou hanya menghela nafas lalu ia pergi karena tidak ingin ikut campur dalam urusan wanita.


__ADS_2