Berinkarnasi

Berinkarnasi
Pertemuan Jiwa Jiang


__ADS_3

Jiang berdiri ditepi kolam memandang pantulan bulan dikolam, hari sudah gelap dan besok adalah hari pernikahan Xuelan, Jiang fikir semua orang akan sibuk mempersiapkan pernikahan jadi ia berdiam diri memandang dirinya sendiri dikolam.


" Wajahku..." Jiang menyentuh wajahnya sendiri.


" Apa sebenarnya tujuan aku datang kemari? apa yang aku dapatkan?... kenapa harus aku yang kau undang untuk datang? beri aku jawaban Jiang Huan...aku tau kau belum benar-benar pergi meninggalkan tubuh ini... kau berbohong padaku..." Jiang memandang pantulan dirinya sendiri dikolam.


" Beri aku jawaban atau aku tidak akan pernah membantumu, beri aku jawaban apakah aku bisa kembali keduniaku?... jika kau tidak memberikan jawaban padaku, aku akan bunuh diri...dan pengorbanan yang kau lakukan hanya akan sia-sia."


Jiang langsung menceburkan diri kedalam kolam itu, lama ia memejamkan mata begitu ia memejamkan mata jiwa Jiang yang sebenarnya muncul dihadapannya.


" Kau datang?"


" Kau yang memaksaku datang." Jawab jiwa Jiang, mereka berbicara lewat fikiran.


" Jawab aku."


" Kau dapat kembali keduniamu hanya jika kau menyelesaikan apa yang menjadi tujuanmu datang kemari, dan kau sudah tau tujuanmu."


" Bagaimana aku mampu melakukannya? takdirmu bahkan lebih buruk dari takdirku, bahkan tubuh ini hampir mati karena racun... hidupku ini setiap hari dipertaruhkan, kalau bukan karena pengetahuan darimu dan pengetahuan bertahan hidupku, mungkin aku sudah lama menjadi bangkai."


" Karena itu aku mengundang dirimu, hanya kau yang mampu melakukannya, Jika kau terbunuh maka Jiang Huan benar-benar mati dan Jiwamu tidak akan bisa kembali ke tubuhnya, kau tetap akan mati dalam tubuh ini, jadi percuma kau bunuh diri karena itu sama saja kau membunuh dirimu sendiri." jawabnya


" Tolong aku... aku tidak dapat melakukannya...kau... hanya kau...aku bergantung padamu..."jiwa Jiang menangis.


" Berapa banyak waktu yang akan ditentukan?"


" Tidak dibatasi, semakin lama maka tubuh aslimu semakin menderita, perbedaan waktu duniamu mungkin berbeda dengan duniaku, aku tidak tau tentang duniamu karena kita berada dimensi yang berbeda."


" Aku memiliki pertanyaan terakhir."


" katakan, kita tidak memiliki banyak waktu."


" Apakah kau dapat kembali ketubuhmu ini? kau sudah melakukan segalanya untuk orang yang kau cintai, jika kau tidak kembali maka aku akan merasa ini tidak adil."


" Jiwaku sudah hancur...aku bukan saja melakukannya untuk Zhang Han tetapi juga untuk seluruh negeri ini karena itu adalah tugasku sebagai permaisuri...dan aku tidak menyesalinya jika aku tidak kembali ke tubuhku, aku sudah puas jika kau sudah berhasil melakukannya..."


" Seberapa besar kau mencintainya?" Jiang sudah merasa sesak dan dia harus segera kembali, ia memandang Jiwa Jiang yang masih berdiri sedangkan ia sudah berenang keatas untuk naik.


" Sebesar kau mencintainya..." Jiang langsung mengambil nafas tetapi ia dapat mendengar perkataan Jiwa Jiang yang rasanya di telinganya, ia segera berenang ketepi. kepalanya berdengung, dan merasa sesak.


Jiang melihat dua orang berlari kearahnya, penglihatannya sedikit kabur jadi ia tidak dapat melihat dengan jelas kedua orang itu.


" Jiang..."


" Jiang.. .apa yang terjadi?"


" Jiang."


kedua orang itu terus memanggil Jiang, Jiang dapat mendengar panggilan kedua orang itu, mereka berdua membantu Jiang naik ke darat, perlahan Jiang mulai sadar dan dapat melihat kedua orang itu adalah Zhao An dan Xuelan.

__ADS_1


mereka berdua membantu Jiang berdiri.


" Aku baik-baik saja." jawab Jiang menoleh pada dua orang itu bergantian.


" Kenapa kau bisa tercebur kedalam kolam?" tanya Xuelan.


" Aku melompat sendiri."


" Hah...?" Zhao An dan Xuelan serentak menoleh Jiang heran.


" Ayo duduk dulu." Zhao An membantu Jiang duduk di bangku yang dekat dari kolam.


Xuelan lalu melepaskan jubahnya untuk menutupi tubuh Jiang yang kedinginan.


" lebih baik kau berganti pakaian terlebih dahulu, nanti kau sakit." Xuelan meletakan jubahnya dipundak Jiang. Jiang menggelengkan kepala.


" Aku baik-baik saja, jangan khawatir." Jiang tersenyum pada dua orang itu.


" Jangan keras kepala Jiang, kau sedang sakit... ayo biar kubantu kau masuk kedalam." Zhao An ingin membantu Jiang berdiri tetapi Jiang enggan, ia sudah lama tidak merasakan rasa dingin ini.


Mereka bertiga terdiam sejenak. " Kenapa kau ada disini Xuelan? bukankah kau harus mempersiapkan pernikahanmu besok." tanya Jiang membuka suara pertama.


" Sudah para pelayan yang mengurusnya, untuk apa aku ikut campur." jawab Xuelan tersenyum.


" Kau benar-benar baik-baik saja?" Zhao An merasa khawatir pada kondisi Jiang.


" Baiklah." Zhao An tau Jiang sedikit keras kepala.


" Kenapa kau menceburkan diri ke kolam? kau sedang tidak berniat untuk bunuh diri bukan?" tanya Xuelan.


" Mencari jawaban."


" Jawaban apa?" tanya Zhao An.


" Didalam kolam ini?" sambung Xuelan.


Jiang hanya tersenyum melihat kedua orang itu.


" Xuelan, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku." kata Jiang tiba-tiba.


" Apa yang kau ingin aku lakukan untukmu?"


" Aku ingin menghadiri pernikahanmu besok."


" Hah...?" Zhao An terkejut, Xuelan tersenyum.


" Dikabulkan." jawab Xuelan senang.


" Tapi...akan berbahaya jika kau datang, ada Lan Huan disana, pasti ia akan melaporkan hal ini pada yang mulia Zhang Han, dan juga keadaanmu sedang buruk, yang aku khawatirkan yang mulia saat mendengar kau ada disini ia pasti langsung datang seperti daun yang ditiup angin. Banyak yang mencarimu Jiang, Yang mulia, Bai Qian, Lu Xiang mereka gencar mencari keberadaan dirimu."

__ADS_1


" Jangan khawatir Zhao An, aku tidak akan biarkan itu terjadi, dan aku juga sudah mempersiapkan segalanya untuk hal itu." jawab Xuelan.


" Keadaanku sudah membaik, setelah pernikahan Xuelan, aku segera meninggalkan Yan Utara, aku sudah mengirimkan surat pada Bai Yunfei, harusnya surat itu sudah sampai besok padanya dan kami akan bertemu ditempat persembunyian biasa." jawab Jiang


" Hah..?" Zhao An terkejut.


" Hah apa?" tanya Jiang.


" Tidak ada." jawab Zhao An lesu. " Aku hanya sedih karena pertemuan kita sesingkat ini." lanjutnya.


" Selama Jiang berada disini, aku menjamin dengan nyawaku sendiri untuk keselamatannya, jadi aku memang menginginkan Jiang menghadiri pernikahanku." jawab Xuelan. Zhao An memandang Jiang sedih.


" Jiang... mengapa kau harus memilih untuk berperang? apakah tidak ada jalan lain?" tanya Zhao An memandang Jiang. Jiang menatap Xuelan lalu menatap Zhao An.


" Perang memang bukan jalan keluar satu-satunya Zhao An, tetapi perang ini aku lakukan untuk masa depan anak-anak kita dimasa mendatang agar mereka bisa hidup tentram dan damai, walaupun tidak selamanya, paling tidak untuk beberapa puluh tahun kedepan."


" Aku mengerti." jawab Zhao An, Jiang tersenyum lalu ia berdiri.


" Aku ingin kembali, kalian beristirahatlah " Jiang lalu berjalan.


" Aku temani." kata Zhao An dan Xuelan serentak. mereka berjalan bertiga beriringan.


" Kau sangat mencintai yang mulia, Jiang?" tanya Xuelan.


" Mencintai? tidak mungkin..." ia tersedat untuk melanjutkan kata-katanya karena ia teringat perkataan Jiwa Jiang yang masih terngiang di telinganya, sebesar kau mencintainya adalah kata yang masih ia ingat.


" Tidak mungkin, aku sudah membencinya dan itu sudah tidak dapat diperbaiki lagi, aku sangat membencinya... sangat benci... hingga tak tertahankan." jawab Jiang menyakinkan dirinya sendiri.


" Kau bukan membencinya tetapi kau sangat mencintainya, kau hanya kecewa pada dirimu sendiri Karena kau tidak berada disampingnya untuk menghadapi bersama masalah ini, kau kecewa, marah dan kesal padanya." jawab Xuelan tertawa kecil, Jiang terdiam mencerna perkataan Xuelan.


" Itu lebih tidak mungkin." jawab Jiang akhirnya.


" Saat orang jatuh cinta, ia tidak akan menyadarinya tetapi orang sekitarnya yang merasakannya." Jiang terdiam, ia tidak mau melanjutkan pembicaraan yang ia sendiri juga tidak mengerti.


Mereka sudah sampai didepan pintu kediaman Jiang, Zhao An dan Xuelan berpamitan ingin pergi, saat mereka berdua berbalik badan, Jiang memanggil mereka berdua.


" Zhao An, Xuelan." mereka berdua berhenti lalu berbalik badan menghadap Jiang, Jiang berlari kearah mereka lalu secara tiba-tiba memeluk kedua orang itu.


" Aku tidak pernah melupakan kalian berdua di manapun aku berada nanti, kalian berdua yang paling aku rindukan nanti." Guman Jiang yang semakin mempererat pelukannya, Zhao An dan Xuelan terheran tetapi mereka tetap membalas pelukan Jiang.


Jiang kemudian melepaskan pelukannya, menatap kedua orang itu, matanya berkaca-kaca seolah ini adalah pertemuan terakhir mereka.


" Ada apa? " tanya Xuelan.


" Tidak ada, pergilah." Jiang menarik nafas karena air matanya hampir jatuh, Zhao An dan Xuelan saling berpandangan heran.


" Kau yakin?" tanya Zhao An.


" Ini sudah malam, pergilah." mereka berdua mengangguk walaupun masih heran, kemudian mereka pergi, Jiang masuk kedalam untuk berganti pakaian kemudian beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2