
Jiang membuka matanya saat matahari menembus jendela fentilasi, ia melihat Zhang Han masih tidur, ia berniat pergi tetapi tangannya digenggam Zhang Han.
" Mau kemana?" Zhang Han membuka matanya, Jiang tersenyum.
" Sudah pagi, aku akan kembali kekediaman." Jiang berdiri karena tangannya sudah dilepaskan Zhang Han.
" Hari ini aku ingin makan masakan buatanmu." Jiang berhenti mendengar perkataan Zhang Han, ia lalu berbalik badan menghadap Zhang Han.
" Kenapa tiba-tiba? " tanya Jiang sedikit terkejut, sejujurnya Jiang sama sekali tidak bisa masak dari dulu, Dimasa depan segala teknologi canggih membuat makanan cepat saji sedangkan didunia yang ia tinggali menggunakan kayu dan tungku, dimasa depan saja ia tidak pernah masak, apalagi sekarang.
" Kenapa?" tanya Zhang Han balik.
" Apa kau yakin? Sejujurnya aku tidak bisa masak sama sekali." cicit Jiang, Zhang Han langsung duduk.
" Benarkah?" Jiang mengangguk yakin, pasalnyaa waktu ia membuka kue yang diwariskan ibunya pertama kali, itu sebenarnya dibantu oleh pelayan dapur, ia hanya menyebutkan bahannya dan sisanya dibuat oleh pelayan dapur, jadi ia benar-benar tidak bisa masak.
" Hmmm... aku akan kecewa jika seperti ini." Zhang Han terlihat lesu membuat Jiang tidak tega.
" Baiklah, aku akan mencobanya." jawab Jiang akhirnya, Zhang Han tersenyum.
" Aku akan menemanimu, tetapi aku hanya menjadi penonton saat istriku masak, hari ini aku akan menjadi sebagai suami, bukan kaisar" Zhang Han tersenyum, Jiang mengangguk, ia lalu pergi kekediamannya untuk bersihkan badan, setelah itu ia baru akan kedapur untuk memasak.
Saat berada dalam kamar, Lian dan Yuan terkejut mendengar cerita Jiang, mereka berdua memang belum pernah melihat Jiang memasak, tetapi setau mereka Jiang bisa, saat mereka mendengar Jiang tidak bisa mereka tidak terlalu yakin.
" Kalian dilarang membantuku, jadi doakan saja aku pandai memasak." ucap Jiang saat ia bersiap akan kedapur, Zhang Han memang melarang Jiang dibantu oleh siapapun, hari ini secara Khusus Jiang akan memasak sendiri. Zhang Han mendatangi Jiang untuk pergi ke dapur bersama-sama.
Wei Chan dan Lan Huan bersama beberapa prajurit bersama mengikuti mereka dari belakang. " Untuk apa mereka ikut?" Tanya Jiang.
__ADS_1
" Untuk berjaga-jaga." Jiang mengagguk walaupun ia tidak tau apa kegunaan mereka nanti. Mereka sudah sampai di dapur, seluruh pelayan dapur memberi hormat, untuk pertama kalinya mereka melihat Kaisar mereka menginjak dapur.
Mereka sudah diberitahu bahwa hari ini Jiang akan memasak untuk Kaisar jadi mereka langsung mengundurkan diri setelah Zhang Han datang. Jiang berdiri memandang semua bahan makanan untuk dimasak, ia hanya tinggal memikirkan menu apa yang ingin ia masak karena bahannya sudah lengkap tersedia, Zhang Han duduk tak jauh dari perapian untuk masak, ia duduk dikursi yang bisa ditempati dua orang, ia akan memperhatikan Jiang memasak.
" Menu apa yang akan kumasak? aku sama sekali tidak tau." Batin Jiang masih berdiri mematung.
" Tunggu apa lagi?" tanya Zhang Han yang berada dibelakangnya, Jiang lalu mengambil pisau yang besar diantara banyak pisau yang sudah disiapkan, Zhang Han melihat Jiang mengangkat pisau itu untuk mulai memotong sayuran.
Jiang mulai memotong sayuran secara sembarangan, sayur apapun ia potong, melihatnya Zhang Han merasa sedikit menyesal menyuruh Jiang masak. " Entah seperti apa rasanya nanti." batin Zhang Han, ia menelan ludah membayangkan masakan Jiang.
Jiang lalu memanaskan minyak, tiba-tiba apinya mati, Jiang lalu meniup tungku itu, tetapi yang keluar malah abu yang menyembur ke wajahnya, ia menjadi terbatuk-batuk, matanya terasa perih, ia lalu berdiri menggosok matanya.
" Ah... kenapa sulit begini." teriak Jiang frustasi saat rasa perih dimatanya hilang, Zhang Han tertawa kecil melihat wajah Jiang yang hitam tetapi Zhang Han tidak mengatakan apapun pada Jiang.
Apinya hidup kembali, minyaknya sudah panas, Jiang lalu memasukkan sayuran, tiba-tiba apinya naik keatas karena terlalu panas, Jiang terkejut dan panik, ia ingin menyiram api itu, karena terlalu panik ia salah malah memasukan Minyak yang membuat api itu semakin besar, asapnya sudah membumbung tinggi, Jiang termundur, Zhang Han masih ditempatnya.
" Apa kau mencoba ingin membakar dapur ini?" komentar Zhang Han, Jiang lalu menoleh padanya.
" Wei Chan, Lan Huan." teriak Zhang Han, mereka yang ikut tadi sudah siap dengan ember ditangannya, mereka lalu membantu Jiang hingga apinya padam, Ruangan dapur penuh asap, Jiang sampai batuk, Saat Jiang menoleh Zhang Han, ternyata ia masih duduk ditempat yang sama dengan kain penutup basah yang menutup hidung dan mulutnya karena asap, Jiang menjadi kesal. sekarang Jiang mengetahui untuk apa mereka dibawa ternyata Zhang Han menduga bahwa ini akan terjadi.
Setelah asapnya menghilang, ia melihat dapur sangat berantakan yang berarti ia harus mengulang perkerjaannya, kali ini ia akan bersungguh-sungguh.
" Setelah ini selesai, aku akan membalasmu Zhang Han, tunggu saja." gumannya kesal sambil memotong sayuran.
setelah selesai, pertama ia menggoreng ikan, ternyata sedikit gosong, Setelah itu ia masakan sayur, dan macam jenisnya, Zhang Han hanya tertawa kecil menonton Jiang memasak. Akhirnya ia selesai juga memasak, ia lalu menghidangkan masakannya dimeja Zhang Han duduk.
Ia menyiapkan mangkuk dan sumpit untuk Zhang Han cicipi masakannya, Jiang berharap masakannya akan luar biasa lezat walaupun ini yang pertama baginya.
__ADS_1
Zhang Han mengambil sumpit lalu mencoba ikan setengah gosong Jiang, ia tidak berkomentar apapun, ia lalu mencoba sayuran itu hingga semua ia cicipi, mata Jiang berbinar-binar melihat Zhang Han seperti menikmati makanannya.
" Apakah sangat lezat?" Jiang terlihat senang dan bahagia melihat Zhang Han menikmati makanan.
" Um... sangat asin." jawab Zhang Han dengan ekspresi tersenyum bangga, ekpresi Jiang langsung berubah, secara tak langsung Zhang Han mengejeknya. ia menjadi kesal.
" Kalau begitu jangan dimakan." Jiang lalu ingin mengambil semua hidangannya karena kesal dengan jawaban Zhang Han, Zhang Han langsung menahannya.
" Walaupun sangat asin, selagi itu masakan istriku, aku akan tetap memakannya dan menghabiskannya, karena aku tidak ingin mengecewakan usaha istriku yang sudah memasaknya dengan penuh cinta, bahkan hampir menyebabkan dapur ini terbakar, ini adalah kejadian yang sangat langka." Jawab Zhang Han ia melanjutkan makannya, Jiang terlihat menahan senyum mendengar perkataan Zhang Han.
" Kalau begitu habiskan semua." Kata Jiang senang walaupun dalam kata-kata Zhang Han ada ejekan untuknya.
Jiang lalu duduk didepan Zhang Han sambil memperhatikan Zhang Han yang sedang makan, ia bertumpu pada dua tangannya didagu, Zhang Han lalu melirik Jiang yang memandang wajahnya.
" Ada apa?" Tanya Zhang Han yang masih makan.
" Tidak, aku hanya penasaran seperti apa anak kita nanti? apakah ia akan seperti aku yang baik hati atau seperti kau yang menyebalkan?" Zhang Han berhenti makan, ia lalu meletakkan sumpitnya.
" Jika dia laki-laki maka ia akan dijadikan putra mahkota, tetapi jika ia perempuan maka ia adalah jantungku karena aku menyukai anak perempuan." jawab Zhang Han.
" Kenapa kau menyukai anak perempuan? apa kau tidak ingin anak laki-laki?"
" Sama saja, hanya aku sangat menyukai anak perempuan, karena menurutku saat anak perempuan dilahirkan ia akan membawa kehormatan keluarganya saat ia dewasa nanti."
" Ah maaf... sepertinya aku akan membuatmu kecewa karena anak yang aku lahirkan nanti pasti anak laki-laki." jawab Jiang.
" Bagaimana bisa kau begitu yakin bahwa anak yang kau kandung laki-laki?"
__ADS_1
" Aku punya firasat soal itu." Jawab Jiang tersenyum, Zhang Han hanya membalas senyum, ia lalu mengeluarkan sapu tangan kemudian membersihkan wajah Jiang yang terdapat noda hitam bekas tadi ia masak.
" Semoga yang kau katakan itu benar." jawab Zhang Han tersenyum hangat, Jiang menikmati apa yang dilakukan Zhang Han yang membersihkan wajahnya penuh kasih sayang.