Berinkarnasi

Berinkarnasi
Perang


__ADS_3

Jiang mendengar kebisingan dipagi hari dari tendanya, terdengar dentingan senjata yang beradu diluar tenda.


" Apa mereka sedang berlatih?atau..." terlintas dipikirannya, ia segera bangun dan memakai pakaian luarnya, ia lalu mengambil pedang diatas mejanya, begitu tirai tenda dibuka, pertempuran sudah terjadi, ia terkejut melihat pemandangan itu.


Bai Yunfei berlari kearah Jiang.


" Jiang..." tubuh Bai Yunfei terdapat bercak-bercak darah pertempuran.


" Apa yang terjadi?"


" Sepertinya Bai Qian sudah mengetahui persembunyian kita, mereka menyerbu dengan pasukan besar."


" Bagaimana itu bisa terjadi?"


" Ada pengkhianat diantara kita."


beberapa prajurit musuh mendekati Jiang dan Bai Yunfei, Bai Yunfei segera menghabisi mereka yang mendekat.


" Kita harus segera pergi." Jiang mengangguk.


" Mundur." Teriak Bai Yunfei, Prajurit yang masih Bertahan mendengar teriakkan itu segera mundur, mendengar arahan yang ditunjukkan Bai Yunfei.


Mereka segera berlari keluar hutan dengan pasukan yang tersisa, jumlah musuh tiga kali lipat dari jumlah pasukan Jiang, ditambah yang gugur, jumlah pasukan Jiang sangat minim.


Mereka berlari tetapi juga bertahan dari para prajurit yang mengejar mereka, Jiang dan Bai Yunfei menuju jalan yang memiliki banyak jebakan untuk mengurangi jumlah mereka.


Banyak dari prajurit musuh masuk dalam jebakan yang sudah mereka buat untuk pertahanan, sehingga selisih jumlah mereka kecil, Jiang dan pasukan yang tersisa berlari keluar hutan, tetapi begitu ia keluar, sebuah pasukan yang jumlahnya berkali-kali lipat lebih banyak dari pasukan yang menyerang tempat persembunyiannya.


Jiang berhenti, seluruh pasukan Jiang yang tersisa langsung siaga melihat pasukan besar didepan mereka, walaupun kaki mereka bergetar karena takut melihat pasukan besar itu, lari pun mereka sama saja akan mati karena Sumpah dan janji sudah dilakukan, hidup atau mati harus setia.


Jiang melangkah beberapa langkah, mendekati salah satu dari pemimpin yang duduk diatas kuda.


" Aku terkejut, kau harus menghabiskan usaha sebesar ini hanya untuk membuat kami keluar dari sarang." Jiang tertawa.


" Tentu saja, tetapi ini aku tunjukkan bukan untuk mereka, hanya untukmu...." Bai Qian tersenyum, ia menunjuk pada Jiang.


" Kau terlalu tinggi memandangku, aku hanya wanita lemah, bukankah kau sudah tau itu..."


" Menyerahlah, aku akan membuatmu mati dengan cepat, tetapi jika kau melawan...aku tidak akan berbelas kasihan lagi."


Jiang melihat sekitar, deru angin berbeda.


" Pasukan lain menuju kemari." batin Jiang.

__ADS_1


" Saat seperti ini kau masih bisa melamun?" Jiang lalu menoleh pada Bai Qian.


" Tidak, aku hanya sedang berfikir bagaimana..." Jiang tidak melanjutkan kata-katanya karena melihat dari arah berbeda sebuah pasukan berkuda datang, pasukan itu tidak terlalu besar.


" LU XIANG..." Bai Qian dan Jiang serempak menyebut nama itu, mereka juga terkejut melihat kedatangan Lu Xiang.


" Lindungi Jiang Huan." Teriak Lu Xiang, pasukan yang dipimpin Lu Xiang segera bergabung dan berdiri siaga seperti pasukan Jiang, Lu Xiang dan beberapa komandan bawahannya yang memakai kuda mendekati Jiang yang berdiri tak jauh dari Bai Qian.


" Aku terkejut melihat kedatanganmu." Kata Bai Qian mengepalkan tangannya, ia tidak bisa gagal kali ini Karena kejadian tidak terduga seperti ini, konsekuensi tidak akan tertangguh lagi. Zhang Luhan dan Ruyue hanya memandang kesal Lu Xiang dari kuda tanpa mengatakan apapun.


" Aku tidak tau harus mengatakan apa bertemu dengan kalian seperti ini, tetapi aku hanya bisa mengucapkan selamat tinggal padamu Bai Qian, bagaimanapun kita pernah berbagi hidup dan mati bersama."


" Aku tidak tau racun apa diberikan Jiang yang mempengaruhi otakmu sehingga kau berkhianat padaku dan lebih mendukungnya."


" Lu Xiang, kenapa kau juga bisa tau tempat ini?" tanya Jiang, Lu Xiang lalu menoleh pada Jiang.


" Jika kau bisa mencari informasi tentang kami, bagaimana kau bisa berfikir bahwa kami tidak bisa mencari informasi tentang dirimu?" jawab Lu Xiang tersenyum.


" Tidak perlu banyak bicara, serang ..." teriak Bai Qian.


" Serang...." teriak Lu Xiang, kedua pasukan itu bertempur, Lu Xiang tau jumlah pasukan mereka tidak bisa sebanding dengan jumlah pasukan Bai Qian.


tetapi walau bagaimanapun, kelemahan dari pasukan besar adalah pemimpin mereka untuk menggoyahkan pasukan, jadi Lu Xiang menyerang Bai Qian, Zhang Luhan menyerang Bai Yunfei, dan Zhang Ruyue menyerang Jiang, pertempuran itu sangat sengit, seseorang dari atas pohon yang tak jauh dari pertempuran itu memakai topeng hanya menonton pertarungan besar itu.


" Zhang Han sudah datang." guman pria bertopeng itu, tetapi pertempuran itu masih sengit, jumlah pasukan Lu Xiang mulai banyak yang gugur, mereka masih bertaruh, Jiang melihat sekitarnya dan sudah banyak prajurit mati dari pihaknya maupun pihak lawan.


" Kalau ini terus berlanjut, kami akan mati sia-sia." batin Jiang memandang sekelilingnya.


Jiang melihat pertarungan Lu Xiang dan Bai Qian, Pertarungan tidak seimbang itu karena terlihat Lu Xiang berjuang mati-matian tetapi Bai Qian tidak benar-benar ingin menyakitinya, Bai Yunfei sudah babak belur tetapi masih bisa bertahan, tiba-tiba sebuah panah meluncur, beruntung Jiang bisa menghidari panah itu tepat waktu.


" Saat sedang bertarung, seharusnya kau tidak menonton pertarungan orang lain, nyawamu belum tentu selamat." Ruyue tersenyum dibalik cadar hitamnya.


Ruyue lalu berlari menyerang Jiang, karena kondisi hamil, itu tidak bisa maksimal bertarung sehingga beberapa serangan mengenai dirinya karena ia terus menghindari serangan yang mengarah pada perutnya.


Tiba-tiba sakit kepala menyerang Jiang, " Kenapa racun ini harus bereaksi sekarang?" batin Jiang. kepalanya mulai pusing, selama ini ia meminum ramuan untuk menekan racun itu, sekarang efeknya kembali dan dia harus meminum obat itu.


" Kenapa? kau kesakitan?..." Ruyue melihat reaksi Jiang, penglihatan Jiang menjadi kabur, Ruyue langsung menyerang dada Jiang Hingga ia terlempar, ia segera mengorbankan punggungnya untuk menyelamatkan perutnya agar tidak terbentur. Saat ada kesempatan, ia segera mengambil obat yang sudah diraciknya dibalik pakaiannya dan meminumnya.


Perlahan pusing itu menghilang, saat matanya jernih dan penglihatan tajam, ia segera menghidari pisau yang dilemparkan Ruyue tepat kearah lehernya.


Ia lalu menyerang Ruyue, Zhang Han terkejut melihat pertempuran itu, Lu Xiang sudah tergeletak tidak berdaya, Jiang masih bertahan walaupun tubuhnya penuh luka kecil.


" Beraninya... SERANG MEREKA DAN LINDUNGI SELIR JIANG..." teriak Zhang Han marah melihat pertempuran itu.

__ADS_1


" Aku menginginkan kepala Bai Qian dan Zhang Luhan..." ucap Zhang Han pada Lan Huan dan Wei Chan. mereka berdua mengangguk dan ikut menyerang.


Lan Huan segera menyerang Bai Qian, dan Wei Chan menyerang Zhang Luhan, Bai Yunfei sudah tidak berdaya begitu juga Lu Xiang, Zhang Han berlari membantu Jiang .


" Yang mulia." lirih Jiang memandang Zhang Han karena tiba-tiba sudah berdiri didepannya.


" Berdirilah dibelakangku, aku akan melindungimu." Zhang Han berdiri membelakangi Jiang menghadap Ruyue.


Ruyue terpaku memandang Zhang Han, bibirnya bergetar hebat dibalik cadarnya, segera ia mengendalikan dirinya.


" Matamu..." Kata Zhang Han memandang Ruyue. Ruyue memalingkan wajahnya.


" Aku tidak akan belas kasihan lagi." ia lalu menyerang Zhang Han, setiap serangan yang dilancarkan Zhang Han dengan mudah menghindarinya seolah ia sudah tau serangan apa yang akan diluncurkan padanya.


Serangan demi serangan dengan mudah ditangkis Zhang Han.


" Aku orang yang mengajarimu beladiri, bagaimana kau bisa berfikir untuk menang dariku?" mata Zhang Han berkaca-kaca memandang Ruyue saat mereka memiliki jarak tarung, Ruyue berhenti menyerang mendengar perkataan Zhang Han.


" Kau sudah mengetahuinya? kapan kau...?" Ruyue tidak melanjutkan kata-katanya karena seseorang tiba-tiba muncul diantara mereka, pria bertopeng itu berdiri membelakangi Zhang Han mengadap Ruyue.


" Tentu saja dia menyadarinya sebab ia sudah lama mengetahui tentang kematian palsumu." ucap pria bertopeng itu, ia lalu berbalik memandang Zhang Han, ia tersenyum tipis dibalik topeng kayunya.


" Aku berfikir akan menjebakmu dengan menangkap Jiang, tetapi aku tidak menduga bahwa salah satu orangku datang dan membuat semua menjadi kacau." Suara orang bertopeng Terdengar serak sehingga tidak bisa mengenali siapa pemilik suara Itu.


" Mungkin kau kurang beruntung." Zhang Han tersenyum, Ia lalu menyerang Pria bertopeng itu. keduanya bertempur sengit.


Mereka terlihat imbang, Mau tidak mau Zhang Han akhirnya mencabut pedang dari sarungnya, pria itu tersenyum.


" Baru beberapa jurus kau sudah ingin mencabut pedangmu, kufikir akan butuh lama untuk itu, ternyata kau tidak sehebat yang kukira." pria itu tertawa keras.


" Aku tidak pernah meremehkan musuhku, pertarungan tangan kosong adalah awal untuk mengukur kekuatan fisikmu, aku sudah tau jadi aku tidak bisa lengah." Zhang Han bersiaga.


" Kau harus merasakan senjata rahasiaku." Pria bertopeng itu tersenyum penuh makna, Zhang Han menaikan sebelah alisnya saat senjata rahasia disebutkan.


" LAN HUAN..." teriak pria bertopeng itu, Lan Huan langsung berhenti bertarung, Bai Qian sudah ia kalahkan dan jatuh pingsan, ia ingin membunuhnya kalau saja pria bertopeng itu tidak memanggilnya.


Lan Huan lalu berjalan menuju pria bertopeng itu dengan patuh, Zhang Han terkejut.


" Lan Huan... kau?..." Zhang Han memandang Lan Huan tidak percaya karena ia langsung datang saat dipanggil pria bertopeng itu.


" Maafkan aku..." hanya kata itu terucap dari bibirnya, ia lalu segera menyerang Zhang Han. pria bertopeng itu tersenyum.


" Selamat menikmatinya." Pria bertopeng itu ikut menyerang, ia mengeluarkan sebuah pedang mata dua dari balik punggungnya menyerang Zhang Han.

__ADS_1


__ADS_2