
Flass Back
Saat hari kematian Dao-Dao.
" Siapa yang melakukan ini padamu Dao-Dao?" isak Jiang memeluk Dao-Dao yang terus memuntahkan darah. Dao-Dao menggenggam tangan Jiang.
" Ingatlah Jiang, untuk mencapai sesuatu yang besar, pengorbanan memang harus perlu dilakukan dan aku siap untuk itu."
" Apa yang kau katakan?" Jiang tidak tau untuk mengatakan apa lagi, obat hanya satu untuk Zhang Han atau Dao-Dao.
" Zhao An." Dao-Dao lalu mengeluarkan beberapa kertas surat dari balik sakunya.
"kau akan mengetahui kebenaran setelah membacanya." Jiang menggenggam surat itu dan apa yang terjadi setelah itu.
Hari setelah dimakamkan Dao-Dao, Jiang dan Zhang Han bersama setelah Jiang dinyatakan hamil, Jiang menyerahkan kertas informasi dari Dao-Dao.
" Setelah semua yang terjadi, aku mengerti, tetapi aku kecewa bahwa bahkan setelah kau tau bahwa itu jebakan kau membiarkan rencana mereka berhasil dan membuat Dao-Dao menjadi korbannya." kata Jiang.
" Aku juga tidak menyangka bahwa Dao-Dao yang menjadi kambing hitamnya." jawab Zhang Han geram.
" Yang mulia, aku tidak bisa membiarkan mereka mati sia-sia, aku mempunyai rencana."
" Apa?"
" Gerilya."
" Gerilya? kau sudah gila? aku tidak akan mengizikan kau melakukannya." Zhang Han tidak setuju dengan ide Jiang. Jiang lalu menggenggam tangan Zhang Han.
" Yang mulia, jika bukan aku yang harus melakukannya, lalu siapa lagi? apakah kita hanya menonton dan membiarkan mereka berbuat seenaknya, mereka harus diadili, untuk mencapai tujuan yang besar, kadang pengorbanan perlu dilakukan."
" Tapi...aku..."
" Dalam hal ini tidak ada tawar menawar." Jiang tersenyum, Zhang Han menghela nafas, lalu memeluk Jiang.
" Berjanjilah satu hal padaku, kau harus mengutamakan keselamatan dirimu sendiri terlebih dahulu."
" Aku tau..."
" Lalu apa rencanamu?"tanya Zhang Han melepaskan pelukannya.
" Xuelan sudah bersedia membantuku, Bai Yunfei sudah bergerak mengumpulkan informasi, kita hanya perlu mengumpulkan para penjahat itu disatu tempat dan membiarkan mereka membuka kejahatan mereka sendiri." Zhang Han mengangguk.
" Aku akan selalu mengirimkan surat rahasia padamu."
" Baiklah."
__ADS_1
Beberapa hari sebelum perang dimulai.
Lan Huan setelah mendapat peringatan bahwa Yanli ditangan mereka, ia secara pribadi menemui Jiang setelah ia bertengkar dengan Wei Chan dan menceritakan semua yang terjadi.
" Jika itu keinginan mereka maka lakukan apa yang mereka pinta."
" Tapi selir Jiang? apa rencana anda?"
" Kau lakukan apa yang mereka pinta, sisanya serahkan padaku." jawab Jiang
" Baiklah, jaga diri anda." Lan Huan lalu pergi menutup kepala menggunakan jubah tudung tebal.
Flass Off
" Kau pasti bercanda Jiang, kakekku sangat membenciku." Zhao An tersenyum licik.
" Kalau kakekmu membencimu , mungkinkah ia akan membiarkan cucu kesayangannya tewas dan cucu yang ia benci tetap hidup? tidak bisakah ia membedakan kedua cucunya?" tanya Jiang, Jiang sebenarnya berbohong, semua yang Jiang ketahui adalah surat informasi dari Dao-Dao dulu.
" Kau berbohong." Zhao An menatap tajam Jiang. " Jika ia menyayangiku, dia tidak akan menyiksaku, mencambukku, memukuliku setiap hari, bukankah yang aku lakukan adalah benar..." teriak Zhao An marah.
" Benar?... jika benar seluruh keluargamu tidak akan mati...kau memang benar menolong banyak orang, tetapi cara yang kau gunakan salah...kau membunuh, merampok, memperkosa menggunakan nama besar ayahmu, menumpuk harta, mempersiapkan perang memberontak...apa itu benar?" teriak Jiang marah.
" Aku melakukan semua itu untuk menggulingkan Kaisar tirani itu, ia merugikan rakyat, lalu apa aku salah? aku hanya mengambil harta milik para pejabat yang berkuasa, membunuh mereka, memperkosa putri mereka agar mereka tau penderitaan yang rakyat terima juga mereka rasakan, apa aku salah? mengapa aku harus dihukum atas hal baik yang sudah aku lakukan? itu tidak adil, Langit tidak adil padaku..."
" Hal baik? kau merugikan orang lain, kau dipukuli bukan karena mereka benci, tetapi mereka melindungimu, kenapa kau tidak bertanya kenapa mereka tidak memberontak saat mereka dinyatakan berkhianat padahal mereka tidak melakukan apapun? karena mereka tau akar kesalahan ada padamu tetapi mereka menerimanya."
" Kaisar yang ingin kau balas dendam sudah tiada, apa yang ingin kau capai pada putranya yang tidak tau apapun, leluhurmu hanya ingin kau hidup dengan baik, mereka sudah menembus kesalahan yang kau lakukan dimasa lalu." Jiang lalu melemparkan surat kecil dihadapan Zhao An.
" Kau mengenali tulisan tangan itu." Zhao An memungut surat kecil itu kemudian membacanya.
" A-yah..." Zhao An terbata-bata membaca surat peninggalan ayahnya yang Jiang dapatkan dari Dao-Dao.
Selesai membacanya ia tertawa seperti orang kehilangan akal, ia meraung-raung, menangis sejadi-jadinya memeluk surat itu, isinya adalah petisi cap jari seluruh orang yang ia sayangi, dan tertulis bahwa mereka menerima hukuman.
" Zhao Xinchen putraku, ayah bangga dengan apa yang sudah kau capai, tetapi itu bukan jalan yang benar, ayah senang kau membantu rakyat kecil tetapi bukan dari hasil merampas harta orang lain, kau dihukum dengan berbagai cara agar kau sadari kesalahanmu, tetapi jika memang kehilangan orang yang kau sayangi dapat membuatmu sadar, maka itu dapat diterima, ayah tidak mampu mengganti kerugian yang sudah kau lakukan sehingga hanya kepala ini yang dapat menggantinya, setelah ini hiduplah dengan baik, ayah hanya ingin kau hidup dengan baik tanpa kami." ia meraung-raung memeluk surat itu.
" Bagaimana kau mendapatkan surat ini?" suara Zhao An terdengar pilu. ia mulai menyadari kesalahannya, ia lalu jatuh berlutut dihadapan Zhang Han.
" Maafkan aku, aku mengakui kesalahanku, tolong hukum aku yang mulia..." Zhao An bersujud membenturkan kepalanya tiga kali ditanah.
Zhang Han ingin melangkah mendekati Zhao An tetapi ditahan Jiang, Saat ia mengangkat kepalanya lagi, Zhao An tersenyum licik.
" Kau berharap aku akan bersikap seperti tadi? hahahaha...apa kau fikir aku tidak tau surat ini dari mana?" Zhao An tertawa besar, Xuelan menggelengkan kepala.
" Jiang Huan...aku bertanya-tanya bagaimana kau mengetahui bahwa aku sedang bersandiwara? yang mulia Zhang Han saja hampir tertipu, mereka yang berada di sini juga ikut tertipu, lalu bagaimana kau bisa mengetahuinya?" ia tersenyum penuh makna, perang masih berlanjut.
__ADS_1
" Kita telah bersama sejak lama, bagaimana aku tidak mengetahuinya?"
" Ah... kau benar, aku hampir lupa itu." ia tertawa kecil. " Kalau begitu tidak perlu basa basi lagi, mari kita tuntaskan ini." Ia lalu menyerang Zhang Han, Zhang Han tepat waktu menghindari serangannya.
Wei Chan sudah kalah oleh Zhang Luhan, ia lalu datang menyerang Zhang Han, Melihat Zhang Han didesak, Lan Huan ingin membantu tetapi dihadang Ruyue.
" Aku tidak bisa membiarkan kau menyakiti Zhang Luhan."
" Kalau begitu, maafkan ketidaksopanan diriku." Lan Huan menyerang Ruyue, Zhang Han bertarung dengan Luhan, Zhang Han tidak bisa mengampuni Zhang Luhan lagi, begitu ada kesempatan ia langsung menebas Leher Zhang Luhan, seakan waktu terhenti didunia Ruyue, ia berhenti mematung melihat tubuh Zhang Luhan yang sudah bersimbah darah, ia memandang kakaknya tidak percaya.
" Kau membunuhnya?" air mata dan sesak di dadanya tidak tertahankan, ia jatuh berlutut didekat mayat Luhan, ia mencoba membangunkannya tetapi mustahil, Zhang Han mendekati Ruyue.
" Dia pantas mati Ruyue, terlalu banyak kejahatan yang sudah dia lakukan." Zhang Han mencoba menenangkan Ruyue.
" Kakak benar, sudah terlalu banyak kejahatan yang sudah ia lakukan." Zhang Han menepuk pelan pundak Ruyue.
" Mari kembali bersamaku, kita bisa memperbaiki segalanya." Zhang Han berbalik badan ingin pergi menghadapi Zhao An.
Ruyue lalu mengambil pedang milik Luhan yang tergeletak didekatnya, ia lalu berdiri menghadap Zhang Han yang berjalan menjauhinya.
" Tapi kakak, aku sangat mencintainya, aku tidak bisa hidup tanpanya." Ruyue menodongkan pedang itu pada lehernya sendiri, Zhang Han yang mendengarnya lalu berbalik.
" Tidak...jangan lakukan, kumohon..." Ruyue tersenyum.
" Maafkan aku kakak, aku bukan adik yang baik untukmu, dikehidupan selanjutnya kuharap aku masih bisa menjadi adikmu yang baik, dan kuharap aku akan bersatu dengan Luhan." ia tersenyum kemudian memejamkan mata.
" TIDAK..." Zhang Han berlari ingin menghentikannya tetapi terlambat, pedang itu sudah merenggut nyawanya, Ruyue jatuh disamping Zhang Luhan.
" Ckckck Cinta yang dramatis." komentar Zhao An, Zhang Han memeluk tubuh Ruyue yang tidak bernyawa lagi, ia menangis.
Disaat semua orang lengah, Zhao lalu menyerang Jiang dengan pedangnya, Jiang tidak sempat menghindar sehingga pedang itu menebus dadanya, kini ia benar-benar luka tanpa sandiwara, ia didorong oleh Zhao An, jika Jiang menahan serangan Zhao An maka pedang itu semakin dalam menancap di dadanya, tetapi ia didorong menuju ketepi jurang didekat pertempuran itu, mau tidak mau ia terdorong, Zhang Han terkejut bahwa ia akan membunuh Jiang dengan melemparnya kejurang.
" Aku mengerti, untuk membunuh Zhang Han aku tidak butuh fisiknya, aku cukup menghancurkan hidupnya yaitu dirimu." ia tersenyum licik.
Tiba-tiba sebuah pedang menusuk Zhao An dari belakang, ia adalah Lan Huan, Xuelan terkejut, Zhang Han juga terkejut, Yang lebih terkejut adalah Zhao An, ia lalu menendang Lan Huan hingga terlempar kebelakang, ia lalu menatap Jiang, yang memutahkan seteguk darah, begitu juga dirinya.
" Lepaskan Jiang, kumohon." Zhang Han Takut apa yang ada dalam fikiran Zhao An terjadi, ia tidak bisa kehilangan segalanya. Zhao An menoleh pada Zhang Han.
" Kau juga harus merasakan apa arti dari sebuah kehilangan." ia tersenyum menampakkan giginya yang memerah karena darah yang ia muntahkan, ia lalu menoleh pada Jiang lagi.
" Mari mati bersama." Ia lalu mendorong Jiang bersama dirinya kedalam jurang.
" TIDAK...." Zhang Han berlari ingin menyusul tetapi sebelum ia Ingin melompat kedalam jurang, Wei Chan sudah lebih dulu menahannya, kekuatan Wei Chan tidak mampu, Lan Huan dengan cepat membantunya, Zhang Han meraung-raung ditepi jurang menangisi Jiang yang jatuh
Karena terlalu sedih, ia memuntahkan seteguk darah kemudian langsung jatuh pingsan. Bai Yunfei, Xuelan memandang jurang yang tak berujung itu.
__ADS_1
Maaf saya dalam bulan Agustus ini benar-benar sibuk, jadi saya tidak sempat up, maaf membuat kalian semua menunggu. selama membaca.