
Zhang Han menuju kediaman Jiang tetapi ia diberitahu bahwa Jiang pergi kekuil, Zhang Han menghela.
" Selalu pergi kesana setiap kali aku mencarinya, apakah dewi mengabulkan keinginannya? mengapa dia harus percaya hal Yang seperti itu." Zhang Han keluar ruangan, saat ia menuju kediamannya sendiri Wei Chan berlari mengejar Zhang Han.
" Yang mulia, berita buruk..." Wei Chan sangat khawatir dari raut wajahnya.
" Berita apa yang bisa membuatmu berlari seperti ini?"
" Terjadi huru hara diluar istana, banyak para penduduk memberontak menginginkan pangeran Zhang Hou segera diangkat menjadi putra mahkota." Zhang Han menyipitkan matanya.
" Bagaimana mungkin itu terjadi?"
" Saat mendengar anda membawa selir Jiang bersama putranya mereka tidak setuju jika harus mengangkat putra mahkota dari seorang selir, jadi mereka memberontak dan berfikir bahwa anda menunda kenaikan pangeran Zhang Hou karena putra dari selir Jiang."
" Siapa yang menyebarkan berita seperti itu? sepertinya ada yang memanfaatkan keadaan."
" Yang mulia, aku juga sebenarnya penasaran, apakah mungkin putra selir Jiang akan menjadi penerus? bukan maksudku meragukan pilihan, hanya saja walaupun putra selir Jiang tertua tetapi penerus memang harus dari permaisuri."
" Dimana para pangeran?" Zhang Han tidak ingin menjawab apa yang ditanyakan padanya, ia pun bimbang karena hal itu, dia memikirkan dari banyak pandangan.
" Aku tidak melihat mereka, yang mulia."
" Jangan biarkan mereka mendengar berita ini."
" Hamba mengerti."
Zhang Han lalu melanjutkan langkahnya diikuti Wei Chan.
Xuan, Yuan dan Zhang Hou kembali keistana setelah memeriksa tempat itu, mereka tidak jadi berlatih karena mereka memperbaiki pondok itu, saat kembali Hua Rong tersenyum lalu berlari menghampiri Yuan tetapi Zhang Hao melangkah maju lebih dulu.
" Putri Hua Rong..." Sapa Zhang Hou.
" Pangeran Zhang Hou..." Hua Rong Tersenyum tetapi matanya melihat Yuan yang berdiri dibelakang Zhang Hou sehingga ia terlihat melihat Zhang Hou, tetapi Xuan dapat melihat arah mata Hua Rong.
" Apa yang ada di tanganmu itu?" Tanya Zhang Hou melihat sapu tangan yang sudah disulam Hua Rong, Hua Rong terkenal pandai menyulam kain, dan hasilnya sangat indah.
" Ah ini ...aku ingin memberikannya pada seseorang." jawab Hua Rong tersipu malu, ia tersenyum bahagia.
" Untukku?" kata Zhang Hou, Hua Rong ingin menjawab tetapi Yuan melangkah pergi.
" Ayo kakak, kita pergi." ajak Yuan pada Xuan lalu mereka pergi, Zhang Hou bersinar melihat sapu tangan buatan Hua Rong, ia sangat menyukai apapun yang Hua Rong berikan padanya.
__ADS_1
Hua Rong terlihat kecewa saat melihat Yuan pergi begitu saja, ia menjadi sedih, ia memandang Zhang Hou lalu menyerahkan sapu tangan itu.
" Untukmu saja..." jawabnya lalu pergi dengan perasaan kecewa, Zhang Hou sangat senang.
" Terima kasih." jawab Zhang Hou, hatinya berbunga-bunga menerima sapu tangan itu.
Seseorang melihat dari kejauhan, ia merasa kecewa melihat Zhang Hou senang menerima sapu tangan dari Hua Rong, sedangkan apapun yang coba ia berikan tidak pernah diterima Zhang Hou , dia adalah Yu Qiaoyin.
Yu Qiaoyin senang berlatih beladiri sehingga ia tidak mengerti hal-hal berkaitan dengan wanita, hal itu karena saat kecil karena gemuk ia berlatih sehingga bentuk tubuhnya sangat ideal tetapi pakaiannya tertutup seperti pakaian pria, hanya saja saat ia melihat Zhang Hou ia mencoba menjadi wanita pada umumnya tetapi ia tetap tidak dapat menyembunyikan karakternya yang keras.
" Mungkin aku juga harus belajar menyulam." Guman Yu Qiaoyin, ia lalu pergi.
Pagi-pagi sekali Yu Qiaoyin memanggil beberapa penyulam terbaik untuk mengajarinya, berita itu membuat Xuelan heran, saat ia ingin bertanya pada putrinya, Qiaoyin serius belajar, jadi ia tidak mau mengganggu, Hua Rong mendengar berita itu juga jadi dia menemui Qiaoyin.
Hua Rong duduk mengikuti pelajaran itu bersama Qiaoyin dan Qiaoyin tidak keberatan. Hua Rong sebenarnya juga heran karena ia tau Qiaoyin tidak menyukai hal yang membosankan seperti ini.
Saat belajar tangan Qiaoyin sering tertusuk dan berdarah, Hua Rong meminta Qiaoyin belajar menyulam pada dirinya saja, karena para penyulam itu tak lebih baik dari Hua Rong, akhirnya setelah dibujuk Hua Rong, Qiaoyin luluh dan mengusir mereka dan Hua Rong dengan sabar mengajari Qiaoyin.
Qiaoyin frustasi belajar menyulam karena ia benar-benar tidak tau caranya dan hanya menyakiti tangannya saja, karena itu Hua Rong menyuruh Qiaoyin berhenti.
" Kenapa kau tiba-tiba ingat belajar menyulam? ini seperti bukan dirimu." Hua Rong merasa protes dengan sikap Qiaoyin yang tiba-tiba.
" Aku... aku.. hanya ingin belajar saja." jawabnya gugup.
" Omong kosong." Qiaoyin menghempaskan tangan Hua Rong.
" Lalu? biar aku beritahu, jika dia menyukaimu dia tidak akan perduli seperti apa dirimu dan akan menerimamu apa adanya , tetapi jika dia tidak menyukaimu walau bagaimanapun kau berusaha ia tidak akan memandangmu, tidak perduli sekeras apa kau mencoba mendapatkan hatinya, pada akhirnya dirimu sendiri yang akan menderita." Hua Rong menyentuh pundak Qiaoyin.
" Diamlah...kau tidak akan mengerti apapun." Ia menepis tangan Hua Rong, lalu mulai belajar menyulam.
Setelah seharian akhirnya sebuah kantong jadi, ia menyulam seekor kelinci, tetapi sulamannya sangat buruk dan tidak rapi, bahwa bisa dikatakan gambarnya sama sekali tidak mirip kelinci tetapi Qiaoyin bersikeras menyebut bahwa itu adalah kelinci, Hua Rong hanya bisa ikut senang melihat kebahagiaan diwajah Qiaoyin.
" Akan kau berikan pada siapa sulaman pertamamu yang sudah kau kerjakan dengan keras, bahkan jari tanganmu terluka." Hua Rong menunjuk pada Jari Qiaoyin yang diperban pada kelima jarinya karena semua terluka oleh jarum.
" Pada seseorang." Qiaoyin tersenyum saat memikirkan seseorang.
" Lagipula ini hanya luka kecil, tidak masalah, yang penting kantongku selesai." ia tersenyum sumringah lalu melepaskan semua perban itu.
" Baiklah, sudah sore...ayo kembali kekediaman..." ajak Hua Rong. Qiaoyin mengangguk.
" Katakan padaku, pada siapa kantong itu ingin kau berikan?" tanya Hua Rong disela-sela perjalanan mereka, Hua Rong sangat penasaran, Qiaoyin berhenti lalu menatap Hua Rong.
__ADS_1
" Tapi kau tidak boleh cemburu."
" Baiklah."
" Pada pangeran Zhang Hou."
" Pangeran Zhang Hou? benarkah?..."Hua Rong sangat senang mendengarnya.
" Mengapa kau begitu senang, harusnya kau marah karena kau juga menyukainya." Qiaoyin cemberut.
" Kata siapa? aku... hanya menyukai Yuan..." pipi Hua Rong memerah dan merasa malu saat ia menyebutkan nama Yuan.
" Benarkah? tetapi mengapa kau memberikan sulamanmu pada Zhang Hou, aku melihatnya kemarin."
" Itu karena... Yuan... sangat bodoh..." Hua Rong menjadi kesal mengingat kejadian kemarin. Qiaoyin tertawa kecil, ia Sekarang mereka lega mendengar ucapan Hua Rong dan sangat senang.
" Kapan kau akan memberikannya?"
" Besok..." Hua Rong mengangguk lalu mereka berpisah saat mereka sampai dikediaman masing-masing.
Xuan duduk memandang bulan ditepi kolam, ia melihat Zhang Hou duduk sendiri di pandopo tak jauh dari kolam, ia ingin menghampiri Zhang Hou tetapi tidak jadi karena ia melihat Qiaoyin berjalan menuju Zhang Hou, Qiaoyin tidak sabar menunggu besok untuk memberikan kantong itu jadi tidak sengaja memilih Zhang Hou jadi ia menghampirinya.
" Pangeran." sapa Qiaoyin, Zhang Hou menoleh.
" Putri Yu...."
" Boleh aku duduk?"
" Ah... silahkan."
" Ada apa?" Qiaoyin menggigit bibirnya saat ditanya, Xuan melihat mereka dan masih dapat mendengar apa yang mereka katakan karena Xuan bersembunyi dibalik batu.
" Ini." Qiaoyin menyerahkan kantong yang ia buat tadi.
" Apa ini?" tanya Zhang Hou sambil melihat-lihat kantong itu.
" Kantong." jawab Qiaoyin polos.
" Aku tau ini kantong, tetapi aku tanya siapa yang membuat kantong yang sangat jelek seperti ini? ini bahkan kantong yang paling buruk yang pernah aku liat." komentar Zhang Hou sangat menyakiti perasaan Qiaoyin, ia membuatnya sepenuh hati dan penuh cinta tetapi apa yang ia harapkan ternyata jauh, matanya berkaca-kaca mendengar perkataan Zhang Hou.
" Ah...aku menemukannya diperjalanan kemari, kufikir ini milikmu, jadi aku mengembalikannya... ternyata bukan milikmu." Qiaoyin mengambil kembali kantong itu dengan tangan sedikit gemetar, ia menahan air matanya agar tidak tumpah didepan Zhang Hou.
__ADS_1
" Ckckckck terlalu kejam." guman Xuan pelan menggelengkan kepala.
" Kalau begitu aku pergi." Qiaoyin berdiri lalu pergi, begitu ia berbalik badan air matanya jatuh. Xuan pergi dari sana diam-diam dan mengikuti Qiaoyin