
Wanita berbaju hitam memakai penutup memasuki kamar, ia tersenyum melihat seorang pria baru selesai mandi yang sedang bertelanjang dada,ia memeluk pria itu dari belakang. pria itu melepaskan pelukan wanita itu lalu mengambil pakaian dalamnya.
" Kau memperingatkannya? "
" Dari mana kau tau."
" Aku paling mengenal dirimu." Gadis berbaju hitam itu hanya tersenyum.
" Aku tidak suka cara yang digunakan wanita iblis itu, Jiang yang kita hadapin sekarang berbeda. tupai yang sudah sekali terjebak tidak akan masuk kedalam perangkap yang sama."
" Siapa yang kau bilang wanita iblis." suara seorang wanita datang tiba-tiba membuat mereka menoleh orang tersebut.
" Menurutmu siapa?" jawab gadis berbaju hitam itu acuh.
" Kau bicara seolah kau lebih baik dariku, Ruyue." wanita itu tertawa mengejek.
" Paling tidak, aku tidak bermuka dua, seperti dirimu yang serigala berbulu domba."
" Beraninya kau mengatakan itu padaku, kau kira dirimu lebih baik, kau yang mengkhianati keluargamu sendiri hanya demi seorang laki-laki."
" Kau... biar ku jahit mulutmu." gadis berbaju hitam itu berniat menyerang wanita itu tapi segera dihentikan oleh Zhang Luhan.
" Hentikan, kenapa kalian bertengkar, kita berada didalam perahu yang sama, jika bocor kita bertiga yang juga akan tenggelam. jadi buang jauh-jauh perselisihan kalian." menengahi mereka, Zhang Luhan sedikit tersinggung atas ucapan wanita itu tapi ia jika ia marah maka hanya akan memperkeruh suasana.
" Lain kali jaga ucapanmu, jika tidak aku sendiri yang akan menjahit mulutmu itu." ucap Zhang Luhan pada wanita itu.
" Daripada kau marah padaku, lebih baik kau urus kekasihmu itu sebelum ia menghancurkan rencana yang sudah kita bangun bertahun-tahun." Wanita itu lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
" Beraninya dia mengancamku." gadis berbaju hitam itu berniat mengejar wanita itu." Sudah cukup Ruyue, kau tau setiap rencana yang ia lalukan tidak pernah gagal. Kita lihat cara apa yang akan ia lakukan kali ini." Ruyue langsung pergi meninggalkan Zhang Luhan tanpa mengucapkan sepatah katapun setelah mendengar penjelasan Zhang Luhan.
Ia menghilang dikegelapan malam menuju hutan yang terdapat satu gubuk kecil yang tak tidak pernah dijamah orang lain yang berada dibelakang istana karena menurut mereka sangat angker, Gadis itu sangat kesal.
pagi harinya Jiang baru membuka mata, ia menguap lebar, Lian dan Yuan sudah menyiapkan kebutuhannya seperti biasa." Apa kegiatan kita hari ini." tanya Jiang yang sedang berpakaian rapi setelah mandi.
" Tidak ada." jawab Lian tersenyum kecil.
" Akan sangat membosankan kalau begitu." Wajah Jiang cemberut." Andaikan mereka bertiga datang kemari, pasti sangat seru, aku sangat merindukan mereka." Batin Jiang.
" Nona." panggil Yuan karena melihat Jiang melamun, Jiang langsung tersadar, iya tersenyum nyengir kearah Yuan.
" Apa yang sedang ada fikirkan?, nona."
" Tidak ada, siapkan sarapanku, Aku hari ini tidak akan kemana-mana jadi aku akan berdiam diri saja di kediaman." setelah sarapan Jiang hanya duduk ditaman belakang kediaman yang menurutnya sangat indah.
Ia hanya seorang diri, Lian dan Yuam disuruhnya pergi, kadang ia memetik bunga, bermain kupu-kupu, dan hal apapun tapi itu membuatnya semakin bosan" Ahhhhhhhh sangat membosankan." teriaknya frustasi.
" Ada apa prajurit, bukankah aku menyuruh kalian untuk tidak mengganguku." jawab Jiang malas tanpa menoleh mereka
" Jiang." panggil prajurit itu lagi, sangat halus saat memanggil dirinya, Jiang langsung menoleh, ketiga prajurit itu tersenyum melihat Jiang.
" Akhhhhh." teriak Jiang senang, mereka bertiga langsung menyuruh Jiang diam, Jiang langsung menutup mulutnya sendiri, ia sangat senang melihat mereka yang tak lain adalah para teman-temannya.
" Ayo duduk." ajak Jiang, ia sangat senang sekarang.
mereka bertiga mengeluarkan 5 buah kendi berukuran sedang yang sejak tadi ditenteng mereka. " Aku memang memikirkan kalian, berharap datang kemari, tapi bagaimana kalian bisa masuk kemari?" tanya Jiang penasaran.
__ADS_1
Xuelan mengeluarkan cangkir juga." Wah kalian benar-benar mempersiapkan segalanya." Jiang bertepuk senang, Xuelan menuangkan arak itu dicangkir mereka masing-masing.
" Ayo kita minum sepuasnya." Zhao An mengangkat cangkirnya.
" Hei jawab dulu pertanyaanku." Jiang penasaran bagaimana merek bisa masuk.
" Tentu saja menyamar, kau lupa kalau Dao-Dao dan Zhao An pernah tinggal diistana ini, jadi bagaimana mungkin mereka tidak mengetahui seluk beluk istana ini." Jawab Xuelan menarik alisnya lalu meneguk arak itu.
Jiang tertawa kecil" aku hampir lupa akan hal itu." jawabnya lalu ikut meneguk arak itu.
" Ini adalah arak terbaik, dimana kalian mendapatkannya?" jawabnya karena begitu segar saat masuk kedalam tenggorokan mereka.
" Siapa lagi yang bisa membuat arak sebaik ini." Jawab Zhao An, Jiang langsung bisa menebak pembuat arak pastilah Dao-Dao.
" Bagaimana bisa tanganmu begitu ajaib Dao-Dao?" memuji Dao-Dao sambil bertepuk tangan.
" Jangan coba-coba menjilatku Jiang." jawab Dao-Dao tersenyum senang akan pujian Jiang, sambil menuangkan arak lagi kecangkirnya." Ayo kita minum sepuasnya." Dao-Dao mengangkat cangkirnya, mereka semua lalu bersulang.
Sudah 4 kendi mereka habiskan, mereka semua sudah mabuk dan kata-kata yang mereka lontarkan sudah tidak karuan." Kalian benar-benar tidak kuat minum ya." Jiang tertawa sempoyongan. padahal dirinya juga sudah mabuk.
" Dengar, Dengar, aku ingin memberitahukan sesuatu rahasia pada kalian." ucap Xuelan yang juga sudah mabuk berat.
" Shutttttt, ini rahasian kita,sini...sini... mendekat." lanjutnya." Apa yang ingin kau ceritakan Xuelan, apakah sangat menarik."kata Zhao An yang tak kalah mabuknya.
" Aku sebenarnya seorang pangeran." kata Xuelan tertawa kecil, ketiga orang itu melongo lalu mereka tertawa terbahak-bahak.
" Bagaimana mungkin kau seorang pangeran, kau sedang bermimpi ya, saat kami menemukanmu tabib mengatakan begitu sadar kau akan mengatakan hal yang aneh, ternyata penyakitmu belum sembuh sampai sekarang." Kata Dao-Dao tertawa lagi.
__ADS_1
" Ya ya aku ingat, saat kita menemukannya, ia dibawa arus sungai." sambung Jiang ikut tertawa. Xuelan lalu berdiri, ia berdiri dibangku duduknya sambil sempoyongan.
" kalian harus percaya padaku, kalau aku ini putra mahkota Yan Utara, Yu Xuelan." katanya sambil menepuk dadanya.