Berinkarnasi

Berinkarnasi
Gelap dan terang kebenaran


__ADS_3

Fang Yin menjelaskan bahwa terdapat banyak orang melewati perbatasan selatan, mereka memiliki tanda pengenal tetapi yang mengherankan adalah mereka setelah masuk tidak keluar lagi dan mereka sepertinya menetap karena sesuatu dan setelah Fang Yin selidiki, mereka menyebar diseluruh kerajaan Qing.


Ada yang masuk membawa dagangan tetapi mereka tidak berdagang, mereka seperti pasukan yang disiapkan , Fang Yin mencari tau bahwa mereka adalah pasukan asing dari kerajaan lain, mereka masuk secara bertahap tanpa orang lain curiga, dan itu terus terjadi selama ia menjabat menjaga perbatasan.


" Aku sudah menduga ini, mereka berpencar dan akan bereaksi saat waktunya tiba." Zhang Han memandang wajah mereka bertiga.


" Akan terjadi perang yang besar nanti, sekarang bahkan kita tidak mengetahui istana ini sudah mereka masuki atau belum, sekarang sulit mengetahui apakah prajurit kita sekarang kawan atau lawan." Wei Chan dan Lan Huan saling menoleh.


" Jadi untuk mengantisipasi mereka, kita juga akan melakukan perang gerilya, tapi takutnya kita tidak bisa memperkirakan jumlah lawan sehingga kita perlu bantuan dari luar." ucap Wei Chan, Zhang Han menganguk.


" Hanya ada 2 kerajaan saat ini yang hanya bisa kita percayai." mereka bertiga tidak mengerti siapa yang Zhang Han maksud.


" Tidak perlu bingung, kalian akan segera mengetahuinya, sekarang kita hanya perlu mengetahui siapa lawan dan siapa kawan dalam kerajaan, segera mereka akan kita ringkus." mereka bertiga mengangguk mantap.


Jiang tidak bisa tidur jadi ia berjalan-jalan sendiri keliling istana sambil memakan permen loli, Jiang melihat seseorang berdiri ditepi danau tempat dulu dimana ia menceburkan diri, Jiang mengenal orang tersebut yaitu Lu Xiang. Lu Xiang berdiri ditepi kolam dibawah sinar bulan purnama, Jiang datang menghampiri Lu Xiang.


" Bulan itu dekat seperti dalam jangkauan, tetapi siapa sangka bahwa ia tidak dapat digapai, ia menipu kita semua dengan keindahannya." Lu Xiang menyadari kedatangan Jiang, Jiang lalu berdiri tak jauh dari Lu Xiang yang tidak bergeming bahkan setelah mendengar perkataan Jiang.


" Apa yang coba ingin kau katakan, Jiang." Kata Lu Xiang setelah beberapa saat mereka diam sambil memandang danau itu tanpa menoleh Jiang.


" Aku mengatakan bahwa kau tidak akan selamanya berada diatas angin, kau akan jatuh pada akhirnya." Jiang menoleh pada Lu Xiang yang sama sekali tidak menoleh padanya.


" Kau sudah kalah, untuk apa bersikap sombong didepanku, kau sudah kehilangan segalanya, baik itu posisimu dan juga sahabatmu." Ia lalu menoleh pada Jiang, satu hal yang ditangkap Jiang dari ekspresi Lu Xiang yang sekilas menoleh padanya sebelum ia kembali menoleh danau yaitu tidak ada rasa senang.


" Apa yang dapatkan dari balas dendam ini? selain kehancuran untuk dirimu sendiri tidak ada hal yang lain, aku memang kehilangan sahabatku tetapi aku tidak akan membiarkan kau menang lagi, aku sudah bersumpah bahwa aku pasti menuntut balas kematian kakakku dan Dao-Dao, hanya masalah waktu saja yang akan menjawabnya." Jiang mengepalkan tangannya menatap Lu Xiang.


" Jika kau ingin menuntut balas kematian Dao-Dao, maka Zhang Han ikut bertanggung jawab atas hal itu karena ia harusnya sudah tau itu akan terjadi tetapi ia membiarkannya begitu saja." Jiang sedikit merasa terkejut dengan perkaataan Lu Xiang.


" Aku tidak akan termakan perkaataan kalian lagi, aku sangat mempercayai Zhang Han." kalau boleh jujur, Jiang merasa bahwa perkaaan Lu Xiang benar tetapi ia tidak mau ada salah paham lagi antara dirinya dengan Zhang Han jadi ia lebih memilih untuk tidak mempercayai perkaataan Lu Xiang.


" Terkadang, orang yang paling kita percayai adalah orang yang akan mengkhianati kita, aku peringatkan, jangan pernah percaya pada siapapun selain dirimu sendiri karena hidup diistana lebih kejam daripada hidup diluar sana. Aku tau kau seperti orang lain, aku tidak melihat dirimu yang dulu lagi, kau seperti orang asing dimataku, kau berbeda, kau lebih kuat dan berani." Jiang tertawa kecil.


" Apa yang kau tertawakan?" Lu Xiang menatap heran Jiang.

__ADS_1


" Aku sedang berfikir, apakah kau sedang menasehatiku atau memujiku?" Jiang masih tertawa, tetapi Lu Xiang tau tawa yang Jiang keluarkan seperti ejekan baginya.


" Jangan khawatir tentang aku, kau harus khawatir pada dirimu sendiri karena aku pasti akan bisa membuatmu mengakui semua kejahatanmu, aku akan membawa bukti kejahatanmu dipengadilan." Lu Xiang tersenyum miris, ia lalu menghadap kearah Jiang.


" Sudah berapa banyak kejahatanku? tapi tidak ada satupun yang berhasil kau ungkap, aku memang kehilangan segalanya, tapi aku tidak akan pernah membiarkan Zhang Han bahagia, ia juga akan kehilangan segalanya." Lu Xiang lalu berbalik badan dan pergi meninggalkan Jiang, Jiang hanya melihat kepergian Lu Xiang.


" Berapa lama kau berniat untuk bersembunyi disana dan mendengar pertengkaran kami." Jiang melirik arah dikegelapan malam, lalu seseorang tertawa kecil dan keluar dari persembunyiannya.


" Padahal aku berusaha untuk tidak diketahui, ternyata kau tetap bisa menyadari keberadaanku." kata orang itu tak lain adalah Ruyue.


" Kukira kau akan terus mengekor pada Zhang Luhan?" Ruyue terkejut mendengar perkataan Jiang. Jiang menatap danau itu tanpa menoleh pada Ruyue.


" Apa dia sudah mengetahui identitasku?" batin Ruyue.


" Aku sudah lama menunggumu datang, Ruyue." Ruyue menatap tajam mendengar perkataan Jiang.


" Kau... Bagaimana kau bisa tau...?" ia tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.


" Diam kau..." teriak Ruyue marah.


" Kau mengkhianati kakakmu, kau membiarkan ibumu yang amat sayang padamu disakiti oleh mereka yang kau dukung, apa yang kau dapatkan..."


" Aku bilang diam...." teriak Ruyue marah, ia menutup kedua telinganya tidak ingin mendengar perkataan Jiang.


" Kenapa kau marah? itu adalah kenyataan yang ada."


" Kenyataan kau bilang? kenyataan yang sebenarnya adalah aku hanya akan bahagia jika Zhang Han digulingkan dari tahtanya dan Jika Zhang Luhan menjadi raja maka aku akan bisa menikah dengannya." Ruyue menjadi geram, Jiang tertawa mendengar perkataannya.


" Kau sudah ditipu oleh mereka, karena kau dibutakan oleh cinta, mereka memanfaatkan cintamu."


" Diamlah..." Ruyue kehilangan kesabarannya, ia langsung menyerang Jiang, Jiang langsung menghindari serangan Ruyue.


" Kau sekarang sudah menjadi tidak sabaran." Jiang tersenyum lalu membalas serangan Ruyue. karena malam, hanya sedikit prajurit yang berjaga jadi belum ada yang menyadari adanya pertarungan.

__ADS_1


Zhang Han, Wei Chan, Lan Huan dan Fang Yin yang sedang berdiskusi mendengar pertarungan karena kediaman Zhang Han tak jauh dari danau itu, karena sunyi malam pasti terdengar pertarungan.


" Siapa yang sedang bertarung?" Zhang Han pertama kali menyadarinya, mereka memasang telinga dan memang benar adanya pertarungan. Zhang Han langsung bergegas keluar diikuti mereka bertiga.


Mereka terkejut melihat Jiang yang bertarung dengan seseorang yang menutup wajahnya dengan kain hitam, Pertarungan itu terlihat bahwa Jiang lebih unggul.


" Selir Jiang." Wei Chan lebih dulu bereaksi, Zhang Han segera berlari kesana.


" Kau lebih hebat sekarang, pantas saja kau berani memprovokasi diriku." Ruyue sudah bertukar serangan dan ia bisa merasakan bahwa ia akan kalah jika dilanjutkan tetapi ia tidak mau mengalah sebelum ia dapat membalas serangan pada Jiang.


" Terima kasih atas pujiannya." Ruyue menjadi kesal, ia lalu ingin menyerang Jiang lagi, tetapi tiba-tiba seseorang memblokir serangannya dan memukul dirinya hingga Ruyue termundur dan memuntahkan seteguk darah.


Orang itu setelah memukul Ruyue, ia berdiri dihadapan Jiang menghadap Ruyue. " Zhang Han." guman Jiang, ia sedikit terkejut melihat Zhang Han sudah berdiri didepannya.


Zhang Han menatap datar Ruyue, mereka berdua saling berpandangan, Ruyue masih memegang dadanya yang terkena pukulan Zhang Han, Ruyue berbalik dan pergi dari sana, Wei Chan dan Lan Huan berniat ingin mengejar Ruyue tetapi segara dihentikan Zhang Han.


" Tidak perlu dikejar." Wei Chan dan Lan Huan berhenti, Zhang Han lalu berbalik menghadap Jiang.


" Kau baik-baik saja?" kata Zhang Han dengan wajah datarnya memandang Jiang. Jiang lalu melangkah mendekat pada Zhang Han.


" Kau lagi-lagi tidak mau jujur padaku? kapan kau akan mempercayaiku dalam hal ini?" Jiang marah karena Zhang Han sama sekali tidak percaya padanya, ia tidak mau menceritakan semua rencananya, seberapa banyak Zhang Han tau ia sama sekali tidak mau menceritakannya.


" Kau sudah tau dia siapa bukan?" kata Jiang, nada suaranya tinggi.


" Kau sedang hamil, tidak baik bagi kandunganmu jika kau marah-marah seperti ini." Zhang Han mengelus kepala Jiang dengan lembut. Jiang menepis tangan Zhang Han.


" Jangan suka mengalihkan pembicaraan." Secara reflek Zhang Han menarik Jiang lalu memeluknya, Wei Chan dan Lan Huan berbalik badan.


" Kenapa kau suka meluapkan amarahmu? aku tidak ingin kau terluka, jika kau terluka aku akan khawatir, lalu aku akan merasa sedih apalagi kau sedang hamil, istriku tercinta." Zhang Han bermanja seperti anak kucing, Jiang menatap Zhang Han aneh, Zhang Han seperti anak kecil.


" Kau kenapa?" Jiang menatap aneh pada Zhang Han yang hanya tersenyum lebar, ia membuat Jiang lupa tentang kemarahannya.


" Kurasa kau salah makan." Jiang lalu pergi meninggalkan Zhang Han seolah ia melupakan kekesalannya pada Zhang Han. ekpresi Zhang Han berubah menyeramkan saat Jiang sudah hilang dari pandangannya.

__ADS_1


__ADS_2